"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berburu buah liar
"loe belum puas gue tampar waktu itu?" bisik Lusi menahan kesal
"justru karena tamparan itu, gue gak akan berhenti jadi masalah buat loe! sekarang loe adalah mainan gue, selamat di permainkan.. gadis manis rasa cocopandan!" balas Deva dengan senyum lebar
obrolan mereka tak ada yang dengar karena mereka memang sedang berbisik. Arsha menarik nafas sebelum memisahkan keduanya
"Dev?"
Deva berbalik dan meninggalkan Lusi di belakang, teguran Arsha yang memanggil namanya membuatnya berhenti untuk menggoda Lusi untuk sementara itu
"kita bagi tugas, tiga orang mengamati, tiga lainnya mengambil gambar dan sisanya bertugas untuk mencatat" ucap Arsha mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung karena Lusi dan Deva sebelumnya
"gue bagian mengamati deh" sahut Lusi
"gue juga" celetuk Deva
"loe ngambil gambar aja Dev!" potong Arsha yang berusaha memisahkan keduanya, Deva kesal tapi menurut saja dia masih mempertahankan image nya sebagai 'siswa teladan', katanya?
sepanjang pagi ini Deva sudah sangat banyak tersenyum, namun senyum itu terus tertuju pada Lusi. banyak yang terkejut karena seorang Deva yang selalu berwajah datar itu menunjukkan senyumnya Marsha tak fokus pada kelompoknya karena terus menguntit pada Deva mendengar Deva yang memanggil Lusi sayang sebelumnya membuat jiwa nya ingin mencekik Lusi saat itu juga
"ah.. baik, tapi aku bingung karena sebelumnya kamu tak pernah ikut campur pada kegiatan Deva di sekolah.. apa ada sesuatu yang terjadi, Lian?" tanya Dharma pada Lian yang berada jauh di seberang sana
*tidak terjadi apa-apa hanya saja aku baru tau di sana ada anak dari sahabat ku juga, dulu juga mereka bersahabat tapi Deva dan dia sudah lama gak ketemu takutnya mereka gak saling kenal
jawab Lian yang saat ini berada di kantornya, semalam Lian menerima telepon dari Surya jika Deva dengan nya sebelumnya sekilas bertatap muka hanya saja Deva memalingkan wajahnya setelah itu. takut Deva akan memaki Lusi jika tau Lusi adalah Aru itu sebabnya Lian ingin tau kegiatan Deva selama di perkemahan itu
'bocah itu gak pernah mau dengarkan penjelasan ku, terlebih semenjak Sera dan aku menikah dia semakin mejauhiku.. sekarang dia masih dendam dengan Surya kalau tau Lusi adalah Aru dia mungkin akan melukai gadis itu' batin Lian di ujung sana
"kalau begitu katakan saja jika teman nya juga bersekolah disini?" sahut Dharma
*jangan sampai dia tau.. anu.. jika bisa kalau sampai Deva melakukan sesuatu yang buruk pada Lusi kamu tegurlah dia dengan keras, jika bisa ancam dengan nilainya.
jawab Lian khawatir
"ahh.. sudahlah aku juga tak tau urusan kalian, aku akan menurut saja. nanti ku ingatkan pada guru-guru yang lain agar lebih tegas pada Deva, mereka terlalu takut pada mu" ucap Dharma. obrolan mereka terhenti sampai disana Dharma menatap jauh Deva yang masih beradu mulut dengan Lusi, murid baru yang belum satu minggu ini masuk ke Lentera Ilmu
'asal tidak keterlaluan, biarkan saja mereka berinteraksi seperti itu toh juga anak SMA memang sudah seharusnya punya kisah mereka sendiri' batin Dharma yang seakan mengingat masa mudanya
Deva tiba-tiba terdiam saat matanya tertuju pada pohon dengan ayunan yang masih sama di 7 tahun yang lalu, tak ada yang sadar dengan kebungkaman nya Lusi pun berfikir jika Deva lelah mengoceh didepannya
"masih ada danau kecil di dalam hutan di depan sana, danaunya udah ada sejak sebelum perbukitan ini di sumbangkan ke desa.. di danau kecil itu banyak ikannya ekosistem nya juga sangat terjaga karena jarang banget warga desa mancing kesana.. bukan karena takut ada buanya tapi karena tempatnya yang sedikit jauh didalam hutan dan jauh juga dari jalur utama menuju desa" ucap Lusi menjelaskan, kali ini tanpa drama dari Deva yang selalu menyambut ucapannya di luar pembahasan, Deva masih menatap dari jauh pohon dengan ayunanya tangannya pun beberapa kali mengambil gambar pohon itu
"Khm.. pohon itu tempat bermain?" tanya Deva menunjuk pada pohon itu
"ya.. anak-anak desa masih senang bermain ke sana.. gak cuma main ayunan, karena dekat sungai mereka juga terkadang mandi dan menangkap ikan di sana" jawab Lusi, kali ini Deva cukup normal
"oh ya, karena masih banyak hewan yang hidup liar di hutan ini banyak banget yang mengincar mereka, dari pemburu ilegal ada juga yang secara terang-terangan ingin mebeli tanah disini katanya sih untuk di jadikan lapangan berkuda tapi kepala Desa masih was-was, ada lebih dari lima orang yang sudah datang dengan alibi yang sama dan mereka semua hanya ingin memanfaatkan hutan dan hewan liar disini demi kepentingan mereka sendiri" ucap Lusi lagi
"lapangan berkuda?" Deva teringat dengan papanya yang memang berniat menjadikan salah satu lahan di perbukitan ini sebagai lapangan berkuda
"iya" jawab Lusi yang menghela nafas lega, pada akhirnya Deva juga lelah mengganggunya
"loe banyak tau juga, gak sia-sia loe tinggal di sini" ucap Deva menganggukan kepala
"maksud loe gak sia-sia apa? loe ngeremehin gue?" tanya Lusi yang sedikit menyesal dengan kelegaan nya yang sebelumnya
Deva tak menjawab, dan Lusi pun ikut diam. kelompok yang lain juga sibuk dengan tugas mereka hanya Marsha dan dua temannya yang masih tak berhenti memantau Lusi dari kejauhan
"baik, waktu sudah siang.. kita istirahat di depan" ucap Dharma mengarahkan para siswanya untuk beristirahat di bawah pohon yang cukup besar
"Ucii, loe bawa apa?" tanya Yulia dari kejauhan
Lusi menunjukkan pisang yang di bawanya
"ngapain bawa makanan banyak-banyak di sini banyak buah kan" ucap Lusi
"hah? oh ya? buah apa aja? ajakin ngebolang dong!" sahut Claudia yang semangat
"di sini ada jambu air, jambu biji dan ada alpukat loh.. didepan sana tepatnya" tunjuk Lusi
"kalian kalau mau boleh ngambil, itu semua tumbuh liar dan siapapun boleh ngambil tapi jangan rusakin pohonnya ya!!" sahut Yulia juga, para siswa yang yang tertarik untuk berburu berlari, mereka berlomba berebut untuk naik ke pohon
"lah anj*rr!! selama ini gue pendiem di sekolah gara-gara nyembunyiin jiwa liar gue, takut di kira aneh sama orang-orang lah ternyata gue gak sendirian ya? tau gini dari dulu gue gak usah sok jadi kalem!!" celetuk Claudia yang juga berlari mengikuti mereka, berburu buah adalah hobinya naik pohon pun menjadi hobinya juga
Lusi tertawa melihat kerusuhan teman-teman nya itu, dia tidak menyangka jika anak kota juga manusia biasa, mereka juga bisa liar. anak kota yang dalam fikirannya akan jauh dari kata rusuh itu benar-benar runtuh sekarang
"loe bisa naik pohon kan?" tanya Deva pada Lusi
"iya, kenapa?" tanya balik Lusi yang menikmati pisangnya tanpa curiga dengan pertanyaan Deva
"ambilin gue jambu air" tarik paksa Deva, Lusi memberontak menarik kembali tangannya yang di tarik Deva
"gak mau!! loe pikir gue siapa? pesuruh loe??" tolak Lusi keras
"loe mainan gue! udah nurut aja!" Lusi semakin kesal dengan jawaban Deva
Samudra dan Alvin melongo menatap Deva yang ikut tertarik pada buah liar di hutan itu
"ini... kayaknya kita gak perlu kaget deh, dia lahir disini anj*rr" bisik Samudra
Alvin mengangguk setuju, benar juga mereka tak pernah tau Deva seliar apa waktu kecil dulu dengan kembalinya dia ke tempat ini mungkin saja Deva tak lagi ingat dengan imagenya yang selalu terjaga di sekolah
"udah biarin aja.. asal dia gak murung kayak pagi tadi" lanjut Samudra juga
"loe kok tau? bukannya loe sibuk nikmatin sunrise? kok loe tau Deva murung? perasaan loe jauh didepan, dan juga gak keliatan malah" tanya Alvin heran
"loe pikir gue temen macam apa? gue sadar tapi gue gak mau ganggu, emangnya gue kayak lo? suka ikut campur!" jawab Samudra
"ye.. itu namanya gue peka! gue harus ngehibur dia kalo dia sedih, loe aja yang gak solid!" gerutu Alvin menoel kepala Samudra
"yee.. berisik loe si paling peka!" imbuh Samudra kesal