Ig: @nabilakim28
"Bukan mau gua jadi brandalan kayak begini!" -Hera-
Hera adalah seorang siswi SMA yang dikenal sebagai badgirl, langganan pindah sekolah dan hobi berantem sama cowok.
Bukan karena brokenhome, bukan karena dihianati, bukan karena dendam .... Terus kenapa dia jadi bad girl? Apa alasannya?
"Gue gak bisa janji untuk bahagiain lo selamanya, ataupun bersama lo untuk selamanya. Tapi gue janji cinta gue cuma milik elo" -Sean-
Sean cowok dingin yang paling ganteng, irit ekspresi dan bicara, ngomong lebih dari lima kata aja adalah satu kejadian yang langka!
Terus ngimana jadinya kalo bad gril kayak Hera ketemu sama ice kayak Sean?
Note: ini bukan cerita dimana cewek berusaha untuk mencairkan si pria es ..., tapi si pria es yang berusaha untuk membuat si bad girl tobat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketigapuluhdua
Saat masa lalu mulai mengubah masa depan
-Brian-
S E L A M A T M E M B A C A
Brian menatap kosong ke arah handphonenya yang dari tadi terus bunyi karena notifikasi. Pesan terus masuk, namun Brian tidak ada niatan untuk membalasnya atau bahkan sekedar melihatnya. Brian memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Kenangan buruk terus terputar di ingatannya, bagaikan kaset rusak. Tanpa di sadari air mata keluar begitu saja. Sial! Padahal dia udah berusaha untuk untuk berubah, tapi akhirnya dia malah begini lagi.
"Tuan muda, saatnya anda berangkat ke sekolah," ujar pelayan yang bekerja di rumahnya itu.
Dengan engggan Brian bangun dari kasurnya dan melangkah ke kamar mandi untuk membasuh diri. Walaupun dia enggan, dia tetap harus ke sekolah ... setidaknya dia harus melakukan hal itu supaya teman-temannya yang lain tidak khawatir.
😍😍😍
"Pagi!" sapa Hera riang sambil memamerkan kontong kresek yang sepertinya berisi beberapa kotak susu strawberry kesukaan Hera. Sean otomatis tersenyum ketika melihat wajah kekasihnya itu menyembul dari balik pintu.
Tampaknya Hera sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, buktinya saja dia sudah memakai seragamnya. "Kamu kenapa ke sini pagi-pagi," tanya Sean sambil meminum susu strawberry yang di bawa Hera. Hera langsung cemberut, dia menggembungkan sebelah pipinya. "Jadi kamu gak suka kalau aku datang ke sini?" tanya Hera sedikit ngegas. Sean tertawa melihat tingkah Hera, "maksud aku tuh, aku cuma takut kamu telat ke sekolah sayang ...," jawab Sean sabar menghadapi pacarnya yang suka ngambek ini. Sean mengacak-ngacak rambut Hera, dan hal itu membuat Hera langsung ngomel-ngomel nggak jelas.
"Oh ya, kamu tau kan masalah Frans sama Brian?" tanya Hera penasaran. Sean menghentikan kegiatan minum susunya, dia menatap Hera serius---dan hal itu membuat Hera merinding.
"Rahasia ya?" tanya Hera. Dia tau sebaiknya dia tidak terlalu kepo akan masalah itu ... karena sepertinya itu masalah serius. Sean menggelengkan kepalanya, "bukan rahasia ... cuma aku gak enak aja ceritainnya ..., karena ini masalah Brian."
"Tapi kamu ada ambil adil dalam masalah ini kan?" tanya Hera. Sean mengangguk, dia memang ambil andil dalam memasukkan Frans ke dalam penjara.
"Frans dulu kakak kelas nya Brian, Brian dulu bukan seperti Brian yang sekarang ... dulu dia anak yang patuh banget dan gak ngelawan sama orang tua, dia rajin belajar---walau nilainya gak naik juga. Namun akibatnya, dia kurang pergaulan. Dia lebih milih hidup dengan di dunia fantasinya, dan itu membuat Frans memanfaatkan Brian ... Brian kan anaknya yang punya sekolah, jadi Frans manfaatin dia," jelas Sean panjang lebar.
Sean menatap sendu ke arah langit-langit rumah sakit. Tak tau apa yang sedang di pikirkannya. Hera dapat melihat bahwa Sean itu sangat memperdulikan sahabatnya. Ternyata di balik sikap dinginnya Sean dia dapat memiliki sisi hangat seperti ini.
"Aku denger ada siswi yang bunuh diri karena Frans," tanya Hera untuk memastika. Sean mengangguk mengiyakan hal itu, "Tania ... pacarnya Brian." Hera membolakan matanya, jadi benar, baik Brian ataupun pacarnya sama-sama korban Frans.
"Eh kamu gak sekolah?" tanya Sean. Hera langsung tersadar kalau dia sudah hampir terlambat ke sekolah. Dia langsung berlari namun sebelum itu dia sempat-sempatnya mencium pipi kanan Sean, "aku pergi dulu."
😄😄😄
Hera menaruh pensil di antara hidung dan bibirnya, dia sengaja memonyongkan bibirnya supaya pensil itu tidak jatuh dari tempatnya. Sekarang Hera lebih fokus menyeimbangkan pensil itu dibandingkan mendengarkan penjelasan guru di papan tulis.
"Baik, untuk minggu depan kalian harus presentasi kelompok masalah kesetimbangan kimia, lengkap dengan pembahasan soalnya. Dan untuk anggota kelompok akan bapak bagikan di grub chat kelas. Sekian." Setelah mengatakan hal itu, pak guru langsung pergi.
Hera akhirnya dapat bernafas lega. Dia merenggangkan tangannya yang sudah pegel dari tadi. Dua jam mendengar penjelasan dari guru sudah cukup untuk membuat otaknya bekerja keras, walau akhirnya perhatiannya teralihkan oleh pensil. Hera tidak terlalu bisa persoalan kimia, jika bisa memilih dia lebih baik memilih fisika dan matematika daripada kimia.
Ting!
Suara notifikasi dari handphonenya. Ah, sepertinya pak guru telah membagikan daftar nama anggota kelompok. Hera langsung memeriksa nama anggota kelompoknya, dia hanya berharap kalau dia ingin satu kelompok dengan Gina. Tidak ada keinginan lainnya, setidaknya Gina lebih mengerti kimia dibanding dirinya. Dan ... sepertinya permohonannya terkabul, dia satu tim dengan Gina. Hera langsung bersorak di dalam hati.
Eh tapi kan satu tim itu harus ada tiga orang, Hera langsung mengscroll layar handphonenya dan ..., "Siska Rayana?" Hera menaikkan sebelah alisnya bingung. Dia tidak tau siapa itu.
"Itu Siska," ujar Gina yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Hera. Gina menunjuk ke gadis suram yang ditemuinya di kantin kemarin, Hera dapat mengingat gadis berambut panjang yang tak terurus itu. Baginya gadis itu sangat menarik, mungkin dia tipe orang yang akan cocok dengan Hera yang bar-bar.
Gina yang dapat melihat Hera sepertinya menaruh perhatian kepada Siska, langsung berkata, "aku tau kamu mau kenalan sama Siska ... tapi udah satu tahun aku sekelas sama dia, dan aku belum pernah liat dia ngomong sama siapapun." Gina menjelaskan. Hera mangut-mangut mengerti. Tapi dia malah melakukan hal yang tidak terduga, Hera malah mendatangi meja Siska yang terletak di paling pojok lalu dengan seenak jidat malah main gebrak meja orang---emang Hera cewek terbar-bar yang pernah ada.
Siska yang terkejutnya langsung melepas headset yang semula terpasang di telinganya. Dia menatap horor ke arah Hera, menurutnya Hera adalah tipe orang yang harus dijauhi.
"Lo udah tau gak kalau kita satu tim?" tanya Hera, Siska hanya mengangguk lalu meneruskan kegiatannya mendengar musik. Hera yang merasa di abaikan langsung menggebrak meja lagi untuk ke dua kalinya. Gina yang dari tadi berdiri di belakang Hera hanya bisa menyembunyikan wajahnya---dia malu dengan tingkah luar biasa Hera.
"APAAN SIH?!" seru Siska ngegas, Gina langsung kaget dong ... ini pertama kali dia mendengar suara Siska, walau mereka udah satu kelas selama setahun. Hera tersenyum penuh kemenangan, "gue kira lo gak bisa ngomong." Siska mendengus kesal, acara bersantainya benar-benar dirusak oleh Hera.
"Udah lo cepat bilang lo mau apa?" tanya Siska.
"Lo bisa kimia?" tanya Hera tiba-tiba. Siska langsung terbengong, jadi maksudnya Hera ngegebrak meja dia berkali-kali cuma untuk nanyain itu?
"Gak," jawab Siska singkat.
"Kamu bohong, kamu kan dulu pernah menang olimpiade kimia," ujar Gina. Siska langsung menatap Gina selidik.
"Lo tau darimana?" tanya Siska bingung. Karena dia yakin tidak ada yang mengetahui hal itu selain guru. Ini malah ada gadis yang gak dikenalnya tau masalah itu.
"I-itu ...." Gina ingin menjawabnya tapi dia takut dengan tatapan Siska.
"Eh lo jangan buat temen gue takut!" ujar Hera ngegas. Siska hanya mengerlingkan matanya. "Udah kamu jelasin aja gak usah takut."
"Itu ... aku masuk ke sini dengan jalur beasiswa, jadi aku lihat siswa lain yang lulus dengan jalur yang sama. Dan nama kamu salah satu, di tulis kamu masuk jalur beasiswa karena menang olimpiade pas SMP." Gina menjelaskannya dengan hati-hati, suapa dia gak menyinggung Siska.
"Emang kenapa sih? Lagian itu bukan hal yang perlu di rahasiain kan," ujar Hera sambil menepuk bahu Gina.
"Gue cuma gak suka aja kalau rame yang tau."
🤗🤗🤗
Hari ini baik Gina dan Siska tidak pulang ke rumah mereka sepulang sekolah. Mereka langsung ke rumah Hera dengan niatan ingin buat tugas. Mereka akhirnya pergi ke rumah Hera dengan supir pribadi Hera.
"Eh yang ini maksudnya gimana?" tanya Hera bingung. Jujur di antara mereka bertiga hanya dia yang tidak mengerti apa yang tertulis di buku itu. "Setarakan dulu reaksinya," ujar Siska sambil membuat tugasnya menggunakan labtop, sepertinya gadis itu sedang membuat ppt.
"Nanti kamu ikutan presentasi kan?" tanya Gina ragu. Dia tau kebiasan Siska ketika kalau presentasi kelompok, dia hanya akan menjadi operator yang bekerja di balik labtopnya. Dan dia tidak mau membuka suara sama sekali---namun entah kenapa nilai praktiknya selalu tinggi.
"Gue operator." Gina menghela napas, dia tau akhirnya akan seperti ini.
"Gak boleh! Enak aja lo. Pokoknya lu harus ikutan presentasi." Hera mengatakan itu dengan tegas. Tapi sepertinya pihak Siska juga tidak mau ngalah ... ingin rasanya Gina kabur dari dua macan betina ini.
Perkelahian mereka terhenti karena ada ketukan pintu dari arah luar. "Masuk aja!" teriak Hera. Setelah itu masuk lah sesosok manusia yang tidak asing lagi, "Chandra? Ngapain lo ke sini?" tanya Hera ngegas karena acara perkelahiannya dengan Siska terganggu dengan kedatangan cowok blasteran itu.
"Sensi banget lu Her. Gue mau jemput tunangan gue nih," ujar Chandra. Cowok itu lalu duduk di samping Gina.
"Udah siap belum?" tanya Chandra lembut kepada Gina. Gina langsung menatap yang lain, dia minta jawaban ... kan gak enak kalau dia main kabur aja waktu mereka lagi ngerjain tugas.
"Udah kok," ujar Siska lalu menutup bukunya. Selanjutnya dia menelepon supir pribadinya untuk menjemputnya.
"Kalian mau kencan kan? Kencan aja duluan."
"Kata siapa mau kencan? Kita mau jenguk pacar lu kok." Gina langsung menganggukinya.
-TBC-
ps: maaf telat up, aku ketiduran huhu
tapi aku ingin mereka berdua putus aja dulu.