Masalah yang sili berganti, kejadian buruk yang hadir dalam bahtera rumah tangganya berhasil membuat Clarissa bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Gagal menikah di masa lalu dan rumah tangga yang dipenuhi oleh dendam suaminya membuatnya ingin lari dari kenyataan, namun dia harus tetap bersikap baik-baik saja di hadapan sang Ayah.
Felix, pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Clarissa, datang dalam hidupnya, bukan untuk serius kepadanya melainkan untuk membalas dendam. Kehidupan rumah tangga Clarissa terasa bak di neraka. Karma masa lalu ibundanya, kini datang menimpa dirinya.
"Kenapa mama yang berbuat, tapi aku yang menanggungnya? Kenapa tuhan? Kenapa?"
Jeritan keputusasaan itu selalu menggema saat tidak ada orang di rumah.
Bagaimana kelanjutan kisah kasih Clarissa? Akankah dia bertahan dan mendapatkan manisnya pernikahan atau malah berujung pada perceraian?
Ikutin terus perkembangan ceritanya🤗🤗
Sequel kedua dari "Tuhan, Beri Aku Kekuatan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajeng Rizqita Bukowski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Pertunangan
Pesta akan diadakan beberapa menit lagi. Terdapat banyak wartawan dan orang penting disana, tentu saja ada beberapa teman Andrew dan Karen juga.
"Pa, ini bener kan alamatnya?" Tanya mama Andrew.
"Kalau sesuai alamat gedung yang diberikan oleh Karen bener harusnya ma," ucap Papa Andrew.
"Ehh,tapi sepertinya papa pernah kesini."
"Iya. Keknya waktu itu papa bawa Andrew kesini, ke rumah rekan bisnis papa yang katanya mau dijodohkan dengan Andrew. Atau jangan-jangan...," sahut Andrew.
Mereka bertiga menerka-nerka tempat seperti apakah itu dan apa hubungan Karen dengan pria yang namanya selama ini begitu harum di layar kaca.
Beberapa saat kemudian...
Andrew dan keluarganya telah tiba di rumah Karen. Rumah yang begitu besar dan megah bak istana terpampang di depan mereka. Hamparan tanah yang luas berisikan bunga-bunga cantik disekitarnya. Air mancur kecil dengan gambar seorang wanita yang diduga sebagai mendiang istri sang empunya rumah pun menjadi ikon unik disana. Ya, Eren memang sengaja memahatkan patung Kaira di halaman rumahnya, ditengah-tengah air mancur yang menambah kesan aestetik rumah megah tersebut yang mampu membuat setiap orang yang lewat berdecak kagum dibuatnya.
"Bener pa. Ini rumahnya om Eren. Andrew inget benar dengan patung itu," ucap Andrew.
Eren sangat jarang mengundang seseorang untuk datang ke rumahnya,kecuali mereka-mereka yang menjalin hubungan dekat dengannya termasuk juga Wisnu dan keluarganya. Jika ada yang bertanya tentang Andrew sekeluarga, maka pastilah jawaban Eren karena dia tahu Andrew adalah orang yang dapat mencuri hati anaknya yang sangat anti dengan pria akibat trauma masa lalu ayah dan ibundanya itu.
Papa Andrew memarkirkan mobilnya di halaman utama,karena ada tulisan yang mengarahkannya kesana. Mereka bertiga turun bersamaan. Dengan decak kagum dan masih bertanya-tanya, Andrew dan kedua orang tuanya menginjakkan kakinya ke rumah Eren dengan status yang berbeda.
"Ini... kita ga salah masuk kan? Mana mungkin anak ingusan yang miskin itu bisa mendapatkan akses ke rumah yang gedong begini. Bahkan, rumah kita kalah jauh dari ini," ucap mama Andrew.
"Selamat datang Tuan Muda Andrew. Silahkan masuk ke dalam," ucap beberapa pria yang berseragam hitam di depan mereka.
"Gak mungkin salah ma. Dia bahkan mengerti namaku," ucap Andrew.
"Tuan muda, silahkan anda ikut kami," ucap pelayan rumah Eren.
Wisnu dan Clarissa sedang berdiri menanti acara dimulai sambil berbincang kepada beberapa orang disana.
"Ma, itu kan tuan Wisnu. Papa kesana dulu ya. Mungkin aja papa bisa bangun bisnis. Kamu juga Andrew, harus pintar-pintar cari relasi," ucap papa Andrew.
"Btw, nanti papa nyusul ya. Mama sama Andrew ikut pak pelayan itu dulu," lanjutnya
Papa Andrew berpencar dengan Andrew dan mamanya. Pria itu memilih untuk mendekati dan mengambil hati Wisnu yang sedang memintu anggur bersama anaknya.
"Sasa, kamu ga boleh minum alkohol banyak-banyak," ucap Wisnu menasihati.
"Mana ada banyak? Kata Karen ini non alkohol kok," elak Clarissa.
"Hai tuan Wisnu, nona muda Wijaya," sapa Papa Andrew.
Wisnu mengubah arah pandangannya ke hadapan papa Andrew disana.
"Hai tuan..."
Wisnu terlihat kebingungan untuk memanggil namanya.
"Oh ya. Perkenalkan saya adalah Tuan Alexander Rivaldo." Tuan Alex menjulurkan tangannya dan Wisnu pun dengan canggungnya menjabat tangannya.
"Oh. Salam kenal tuan Alex," ucap Wisnu.
Apakah dia adalah calon besan dari Eren? Oh astaga, semoga kedepannya engkau akan baik-baik saja sahabatku.~Batin Wisnu menertawakan Eren dalam hati.
"Tuan Wisnu datang kemari untuk apa?" Tanya Alex.
Oh ternyata Eren belum memunculkan dirinya hingga detik ini? Kuat juga dia.~Batin Wisnu.
"Saya hanya mendatangi undangan saja. Anda?" Tanya Wisnu.
Bolehkah aku kabur dari sini? Aku benar-benar tidak bisa berbasa-basi.~Batin Wisnu.
Kenapa papa terlihat gelisah? Apa papa tidak nyaman? Jika iya, lebih baik aku ajak dia untuk pergi. ~Batin Clarissa.
"Saya... Saya hanya mendampingi anak saya bertunangan. Katanya tunangannya hanya memiliki rumah kecil di dekat kampus. Tapi, entah bagaimana dia bisa memilih tempat ini," ucap Alex.
"Pa. Aku kebelet nih. Anterin yuk," ucap Clarissa memotong percakapan mereka.
"Oh baiklah," ucap Wisnu.
Anak ini ternyata peka juga.~Batin Wisnu.
"Tuan, maaf ya. Saya harus pergi mengantarkan anak saya," ucap Wisnu.
"Oh silahkan silahkan."
Wisnu dan Clarissa pergi meninggalkannya sendirian.
Huftt. Seorang pria yang sayang anak. Alangkah baiknya jika Andrew menarik hati anaknya.~Batin Alex.
...*...*...
Beberapa teman sekolah Karen telah nampak disana, juga teman satu kampus dengannya.
"Apa benar ini rumah Karen? Bukankah dia adalah si cupu miskin yang mengandalkan beasiswa itu? Dia bahkan tidak mampu membeli motor," ucap seorang teman Karen.
"Kalian ya, ga peduli di kelas maupun diluar juga sukanya gosipin Karen terus. Sebenarnya, apa salah Karen sama kalian huh?" Ucap Rose membela Karen.
"Salahnya? Salahnya yang terlalu miskin, tapi malah kuliah di Harvard," timpal mereka.
Semua orang masih saja tak percaya dengan status Karen yang merupakan nona besar keluarga William. Mungkin sebagian dari mereka telah berpikir demikian,namun memilih untuk mengelak kenyataan yang ada.
"Baiklah semuanya. Selamat datang di acara pertunangan Tuan Andrew Rivaldo dengan Nona Karen William. Mari kita sambut Tuan muda dari keluarga Rivaldo, Andrew Rivaldo," ucap seorang MC yang dibayar oleh Eren.
Andrew didampingi oleh kedua orang tuanya. Setiap langkahnya disambut dengan tepuk tangan yang meriah.
"Bagaimana perasaan anda hari ini, tuan muda?" Tanya MC.
"Bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya, saya bisa bertunangan dengan seseorang yang saya cintai sejak lama. Sesuai dengan janji saya kala itu," jawab Andrew.
Kilasan memori diantara mereka pun terekam di kepalanya. Beberapa foto Karen dan dirinya pun terpampang di layar proyektor di depan sana.
Cihh, darimana si miskin itu mendapatkan semua biaya ini?~batin kedua orang tua Andrew.
"Apa kesan tuan kepada Nona Karen?" Tanya MC lebih lanjut.
"Dia wanita yang lucu dan sederhana, pekerja keras dan ambisius pada mimpinya yang katanya ingin menjadi duta besar."
Beberapa kekehan lirih terdengar memenuhi ruangan, namun tak ada yang berani menggelagarkannya setelah melihat bahkan para menteri serta duta besar pun turut hadir dalam kesempatan kali ini. Di tambah dengan Wisnu dan beberapa pengusaha tersohor lainnya, serta wartawan yang meliputnya seakan ini adalah pertunangan nona besar yang masih disembunyikan oleh keluarga ternama di dunia.
"Awww so sweet sekali..."
Karen tersipu malu saat mendengar perkataan yang dikatakan oleh Andrew.
"Beruntung banget ya cewek cupu begitu bisa dapatin tuan muda Andrew," ucap seseorang lagi.
"Kalian bisa diem gak?" Bentak Rose.
"Baiklah. Saat ini adalah yang kita tunggu-tunggu. Mari kita sambut pihak wanita, Nona Karen." Sorak sorai tepuk tangan terdengar disana hingga sosok wanita yang tak asing bagi mereka muncul dari atas tangga.