NovelToon NovelToon
MAINAN RANJANG TUAN

MAINAN RANJANG TUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: PC. Priyanka Chandler

Bukan bacaan anak di bawah umur, mengandung kata-kata kasar dan adegan ranjang.

Gadis berusia 18 tahun itu nekat mendatangi mansion Tuan Leonel Dankar, demi kebebasan kakaknya yang telah dijebloskan ke dalam penjara usai menggelapkan dana perusahaan Dankar Company. Dan sebagai imbalannya, gadis muda itu harus merelakan keperawanannya untuk direnggut oleh Tuan Leonel.

Namun bagaimana jadinya jika gadis itu malah jatuh cinta pada Tuan Leonel? Sedangkan ia hanyalah dianggap sebagai mainan ranjang tuan. Akankah gadis itu mampu merebut hati Tuan Leonel? Atau justru harus menanggung sakit akibat cinta yang tak berbalas.

~~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PC. Priyanka Chandler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ucapan selamat tinggal

Udara Minggu pagi berhembus sejuk, memasuki kamarku lewat jendela kecil yang kubuka, waktu libur adalah waktu yang paling ditunggu untuk bersantai, mengistirahatkan diri dari sibuknya aktifitas.

Ingin rasanya aku hanya tiduran saja seharian di kamar, rebahan di atas ranjangku yang tak begitu empuk. Namun pesan Crishtie seketika membuatku bangkit.

Crishtie

"Shopping,,,, aku sudah di depan rumah kamu,"

Seketika aku berlari keluar, Kak Rachel dan Kak Harry nampak nonton tv bersama di ruang tengah. Seperti biasa, mereka selalu nampak romantis, nonton tv saja Kak Rachel rebahan berada di pangkuan Kak Harry. So sweet.

"Mau ke mana?" teriak Kak Rachel.

"Ada Crishtie di depan!" sahutku masih sambil berlari.

Pintu kubuka dan kudapati Crishtie yang sudah berdiri di depan rumahku, bersandar pada badan mobilnya yang ia parkir di tepi jalan.

"Ayo!" seru Crishtie.

"Bentar, aku mandi dulu!"

"What?" teriak Crishtie.

Skip.

***

Aku dan Crishtie memasuki salah satu mall di pusat kota, Crishtie ingin melihat barang-barang tentang bayi, sekedar melihat-lihat.

"Aku mau beli yang ini," Crishtie mengangkat sepasang sepatu bayi berwarna merah, ada bulu-bulunya, dan terdapat gambar Mickey mouse di atasnya.

"Hei, itu setidaknya untuk usia 2 tahun," sahutku yang tengah melihat sarung tangan dan kaos kaki untuk bayi yang baru lahir.

"Tidak apa-apa, Re. Aku akan menyimpannya terlebih dulu, aku suka," jawab Crishtie sambil tersenyum senang. Ia membawa sepasang sepatu itu ke meja kasir, aku mengikutinya.

Setelah membayar, kami keluar.

"Makan dulu, aku tadi belum sarapan," ujar Crishtie.

"Iisshh,,, kau nih," kupukul pelan bahu Crishtie.

"Harusnya lebih perhatian sama perut kamu, kalo si bayi lapar gimana?" kesalku.

Crishtie menampakkan senyum cengir kuda.

"Habisnya kalau aku makan pagi, biasanya suka muntah, Re. Rasanya nggak enak banget."

Yah, pada masa three semester pertama beberapa ibu mengalami hal seperti itu, meski aku tak begitu memahami tentang ibu hamil, tapi kalau sekedar muntah di pagi hari, sering kali aku mendengarnya.

Kami berjalan menuju restoran mall yang ada di lantai 3, saat kami menaiki tangga eskalator, di sana kami berpapasan dengan Erdhan yang tengah menuruni tangga eskalator di sebelah kami, ia sedang bersama seorang wanita muda yang mungkin seusia dengannya, dan pandangan mata Crishtie dan Erdhan saling bertemu, tajam, dalam diam.

Crishtie segera memalingkan muka, kulihat matanya yang mulai berkaca-kaca merah.

"Are you okay?" tanyaku sambil memegang tangannya yang menggenggam di bawah sana.

Crishtie mencoba tersenyum, kaku. Dan mengangguk sebagai jawaban pertanyaanku.

Sejak Crishtie bertemu Erdhan di tangga eskalator tadi, raut mukanya berubah, bahkan ia sangat diam, beberapa kali aku mengajaknya bicara dan dia tidak mendengarku.

Saat ini yang dilakukan Crishtie adalah memainkan sepatu bayi yang baru ia beli tadi, mengelusnya dengan jari telunjuknya.

"Crish,,,," panggilku yang tak ia dengar.

"Crishtie,,,,," kusentuh tangannya dan Crishtie mendongak.

"Hah? Iya, Re?"

"Makanan kamu, belum kamu sentuh, ayo makan dulu, kasihan bayinya lapar, makanannya juga keburu dingin nanti,"

"Oh, iya."

Skip.

_

Sampai kami dalam perjalanan pulang, Crishtie masih terus diam, sangat diam, aku benar-benar takut sekarang, seperti air sungai yang tenang itu menghanyutkan, seperti itu pula yang kutakutkan terjadi pada Crishtie.

Dalam kasus mental seperti yang dialaminya, diam adalah sesuatu yang mengerikan, karena di dalam pikirannya sendiri yang tak dapat dibaca orang lain, ia memikirkan banyak hal. Yang tak terduga.

Justru aku akan lebih senang jika Crishtie menangis, marah, berteriak, memaki, dengan begitu sakit di dalam hatinya bisa ia luapkan.

_

"Kamu nggak mampir dulu?" tanyaku saat kami telah sampai di rumah.

"Lain kali, ya, Re? Aku mau tiduran di rumah sekarang,"

"Oh, okay, hati-hati," kulambaikan tanganku sebagai salam perpisahan.

"Selamat tinggal, Re!" ucap Crishtie lembut.

"Iya, bye,,,," aku masih melambaikan tangan sambil mengulas senyum. Sedangkan di wajah cantik sahabatku itu, nampak kesenduan yang mendalam.

***

Jam menunjukkan pukul 3 sore kala aku bangun dari tidur siang, masih menikmati libur di hari Minggu.

Aku menguap beberapa kali, duduk dengan malas di tepian ranjang, tubuh lelah, kuraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, membukanya. Beberapa pesan masuk.

Dari sekian banyak pesan itu, tentu tak ada pesan dari Tuan Leonel yang kurindukan, karena aku telah memblokir nomornya. Ada Erick, Sisil, dan yang menjadi perhatian adalah pesan dari Nory, assisten rumah Crishtie.

Nory

"Nona Re, apa Nona Crishtie mengatakan pada Nona Re ke mana dia akan pergi?"

Pesan dikirim sekitar satu jam yang lalu, disertai panggilan tak terjawab yang berderet.

"Non, Nona Crishtie keluar dari rumah, membawa koper, saya sudah tanya mau ke mana, tapi Nona Crishtie hanya diam, saya khawatir,"

Masih ada lagi pesan dari Nory.

"Beberapa hari yang lalu, saya sempat dengar perdebatan Nona Crishtie dengan nyonya, nyonya meminta non Crishtie untuk ikut bersamanya, tapi dengan syarat, non Crishtie harus bersedia menggu.gurkan kandungannya,"

DEG.

Jantungku berhenti berdetak sesaat kala aku membaca pesan terakhir dari Nory. Segera aku bangun, mandi kilat, ganti baju cepat, berlari keluar dari rumah menuju halte bus.

Selama dalam perjalanan, aku terus mencoba menghubungi Nory, tersambung namun tak kunjung diangkat.

Crishtie sudah keluar dari rumah satu jam yang lalu, bahkan mungkin sekarang sudah menjadi dua jam yang lalu, jika dia akan pergi ikut ibunya yang tinggal di Amerika, maka_

"Halo, Nory?"

Aku berbicara pada Nory, ia menceritakan semua yang ia tahu meski tak begitu detail, namun dugaan yang menguatkan jika pasport dan surat penting lainnya milik Crishtie yang tersimpan di lemari dokumen telah kosong, Crishtie membawanya pergi.

***

Aku sampai di depan pintu sebuah apartemen yang pernah kudatangi bersama Tuan Leonel dulu, apartemen Erdhan.

Setelah beberapa kali membunyikan bel, akhirnya pintu itu dibuka, dengan malas Erdhan membuka pintu, menguap, menggaruk tengkuk yang mungkin tak gatal.

Erdhan keluar hanya dengan celana bokser tanpa kaos, melihat tanda kepemilikan hampir di seluruh leher dan dadanya membuatku, jijik.

"Kau?" seru Erdhan dengan suara parau yang malas, matanya masih sedikit menyipit.

Tanganku terkepal, ingin rasanya aku menamparnya dengan keras, tapi aku sadar itu bukan penyelesaian, jadi aku hanya bersabar dengan menahan diri.

"Sayang?" suara perempuan yang memanggil dari dalam.

Perempuan itu keluar, hanya menggunakan selimut yang menutup mulai dada hingga ke bawah, kuyakin dia tak memakai baju di balik selimut itu. Erdhan menggerakkan tangan meminta agar wanita yang hanya berselimut itu kembali ke kamar.

Kuabaikan rasa sakit hatiku dan kembali fokus pada tujuan utama.

"Crishtie pergi," ucapku dengan suara yang bergetar, bahkan aku sudah menangis sekarang.

Erdhan mulai mendapatkan kesadarannya sepenuhnya.

"Apa maksudmu?"

"Kau pasti puas sekarang, Crishtie memilih pergi untuk tinggal bersama ibunya di Amerika, dan kau tahu apa yang akan dia lakukan?" aku berteriak, menangis, Erdhan nampak cemas.

"Dia akan menggu.gurkan kandungannya,"

Kedua mata Erdhan membulat seketika mendengar apa yang kukatakan. Tubuhnya menegang, dan urat wajahnya menonjol ke luar.

"A-a apa yang kau katakan?" pria muda itu mulai panik.

"Kau puas sekarang? Apa kau puas sekarang? Bukan kah kau mengatakan jika kau tidak peduli bahkan meski bayi itu mati? Beginikah caramu Erdhan? Kau_"

Erdhan masuk ke dalam dengan cepat.

"Tunggu aku di sana?" teriak Erdhan padaku.

***

Aku berada dalam mobil Erdhan yang melaju sangat kencang, sangat kencang, bahkan bangunan-bangunan tinggi yang kami lewati sampai nampak tak jelas, bagai angin yang berlalu.

Kami dalam perjalanan menuju bandara, untuk mencari Crishtie.

Kususun puzzle yang berserakan, mulai hari itu saat Crishtie mengantarku ke Nasional Library, banyaknya pertanyaanku yang tak Crishtie jawab. Sepatu bayi yang Crishtie beli, untuk anak usia dua tahun, bukan untuk bayi yang baru lahir, yang dia bilang akan menyimpannya, diamnya Crishtie yang kuyakin berperang melawan pikirannya, dan,,,, ucapan selamat tinggal yang Crishtie katakan saat mengantarku pulang.

Tangisku semakin membanjir membayangkan sahabatku pergi, aku tidak mau dia meninggalkanku, aku tidak mau dia sampai menggu.gurkan kandungannya. Aku ingin Crishtieku kembali, di sini, bersamaku, menanti kelahiran bayi kecilnya. Bayi kecil kami.

"Kumohon jangan pergi, aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, Crish, kumohon jangan pergi."

Kudengar Erdhan yang terus mengatakan itu, yang sama persis dengan yang kurapalkan dalam hati, Crish, jangan pergi.

***

1
Musrini
crtakok nggantung
Kak Min: Saya penulisnya kak, lupa email sandi akun jadi nggak bisa masuk buat lanjut nulis lagi. 🙏
total 1 replies
heylo
Luar biasa
Siti Ramlah
ngagantung nih..thoor lanjut 🤩
dita18
thoorrr padahal ceritanya baguss bngt,,,, apa gak di lanjutkan lg ya thoorrr??
Nurus Shofiah89
Luar biasa
Lnaa
Next
Rangga Sonjaya
apakah akan ada lanjutannya?
Rangga Sonjaya
bagusss dan sangat bagus
Ati Sumariati
walaupun bacanya telat tapi aku suka banget thor
Ati Sumariati
assalamu'alaikum wah saya terlambat membacanya ya thor
Rose
tinggl kn pria yg suka celup2
Esih Nuraeni
Luar biasa
Vie Desta
rachel tor knpa jd kak laura 🤭
Love 💞💞💞
ceritanya keren 👍👍
inlen
agak aneh sih

emang klw dilihat dari sufut pandang orang ketiga kelakuan re itu keterlaluan sama tuan leon dan nyonya annora pasti sakit hati banget
ya tapi gimana ya pilih jalan yg terbaik buat kedua sisi ajah
re dan tuan leon saling mencintai
nyonya annora jga gak kan publikasi pernikahannya karena jadi model
Anis Nisa
Biasa
Urus Baen
iyah nih seru bagat😁
Darsini Bbt
saling memendam rasa,,😊
Nur Fasyhin
x ini aq pingin komen....anjr jg liat si Renata....kok bisa2 ny sich balek lgi dgn Erick 🙄🙄🙄🙄🙄....kasihan jg liat tuan kaya, udh mutusin Annora....eehhhhh malah ketiban sial re lgi berdua dgn erick, ap sich mau kamu re 😣😣😣😓
nov
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!