Hi! Namaku Sarah Gibran, aku akan menceritakan kepada kalian tentang kehidupanku dan...kehidupan intimku, aku bisa mengatakan bahwa diriku adalah kriteria yang diinginkan oleh semua mahluk yang bernama laki-laki yang hidup di dunia ini, dikarenakan bentuk tubuhku yang proposional dan wajah yang manis dan menarik, tetapi...
Apakah dengan kelebihan yang aku miliki ini aku dikatakan sebagai seorang wanita penggoda?
Apakah salah juga jika aku memanfaatkannya ?
Atau sebenarnya kelebihanku ini merupakan kekuranganku?
Semua tergantung dari penilaian kalian, aku hanya bisa mengatakan...
“Don’t judge book by its cover”
BENTUK CINTA
“Pernahkah kau bertanya. Seperti apa bentuk air tanpa wadah? Pernahkah kau mengira. Seperti apa bentuk Cinta?” Referensi lagu Bentuk Cinta oleh Eclat Story.
Setelah kami puas bermain di lapangan Basket itu dan hari sudah menunjukkan pukul empat sore, aku dan Indra memutuskan untuk pulang. Saat aku berada di dalam mobil Edgar yang terpakir di Parkiran Sekolah, aku melihat satu mobil hitam yang sangat aku kenal.
Edgar? “Kenapa Sar?” Tanya Indra yang mengejutkanku. “Hmmm Kak, itu mobilnya Kak Edgarkan?” Ucapku menunjuk kearah mobil hitam yang berada di ujung Parkiran Sekolah. “Iya itumobil Edgar, ngapain anak itu jam segini belum pulang, terus kemana dia?” Indra melepaskan seat belt yang sudah digunakannya, tetapi aku menahan tangannya.
“Kak, kita pulang saja ya, ini udah kesorean, aku ada janji sama Ibu Aisyah buat nemenin Adik-Adikku di Panti, karena Ibu mau ada acara pengajian.” Alasanku karena tidak mau bertemu dengan Edgar, tetapi memang benar adanya kalau Ibu Aisyah akan pergi ke pengajian dan memintaku untuk menjaga Panti dulu malam ini. Indra pun mengikuti keinginanku, dia memasangkan kembali seat beltnya dan langsung menyalakan mobil dan menjalankannya.
Hampir saja. Setelah itu Indra melajukan mobilnya keluar dari SMA XYZ dan memasuki keramaian jalanan Ibukota menuju ke Panti Asuhan tempat tinggalku, setelah menempu perjalanan kurang lebih enam puluh menit mobil Indra sudah terpakir di depan Panti Asuhan, saat kami tiba matahari sudah menyembunyikan sinar hangatnya, digantikan oleh sinar rembulan yang tertutupi oleh cahaya kota Jakarta ini.
Sebelum kami pulang, Indra membelikan makanan-makanan kecil untuk Adik-Adikku di Panti. “Alhamdulillah kamu sudah sampai Nak, Ibu langsung berangkat ya, soalnya sudah agak terlambat.” Ucap Ibu Aisyah yang sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat.
“Ibu mau saya antar, Bu.” Ucap Indra setelah aku dan dia bersalaman dengan Ibu Aisyah. “Gak usah Nak Indra ngerepotin, rumahnya deket juga kok, Ibu langsung berangkat ya.” Ibu Aisyah pun langsung pergi meninggalkanku dan Indra di depan Pintu Panti.
Kami pun masuk ke dalam Rumah Panti dan di sambut oleh adik-adikku, tidak lupa mereka juga ikut menyalami Indra. Aku tersenyum saat melihat Indra begitu dengan mudahnya mengakrabkan diri dengan Adik-Adikku di Panti, dia tertawa, bermain dan bercanda dengan mereka tanpa membedakan status sosial yang dimilikinya dengan kami yang tinggal di Panti Asuhan.
Aku pamit dengan Indra untuk membersihkan tubuhku yang terasa lengket karena akifitas sore tadi bersama Indra. Setelah aku membersihkan tubuhku dari keringat yang aku hasilkan dari Sekolah hari ini, aku bergabung dengan Indra yang sedang bermain dengan Adik-Adikku yang lain.
“Kak, Kak Indra mau mandi dulu?” Ucapku saat ikut bergabung dengan mereka, karena aku melihat baju yang digunakannya juga basah dengan keringat setelah kami bermain basket tadi. “Ehmm boleh Sar, badan aku juga agak gerah.” Ucap Indra mencium baju yang digunakannya juga.
“Ya udah Kak, mandi di Kamar Mandi aku aja, kebetulan di Kamar Mandinya ada di dalam Kamar.” Aku pun menunjukkan Kamarku kepada Indra, setelah dia berpamitan dengan Adik-Adikku dan mereka juga balik ke Kamar mereka masing-masing.
Di dalam Kamarku, Indra menyapu penglihatannya ke setiap sudut Kamarku yang terbilang kecil. “Maaf ya Kak, Kamarnya sempit kayak gini.” Ucapku merasa tidak enak melihat ekspresi Indra saat melihat Kamarku. Dia tersenyum kearahku dan mengusap kepalaku. “Kenapa kamu minta maaf? Kamarnya bagus kok dan rapi juga.” Ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu dia masuk ke dalam Kamar Mandi untuk membersihkan tubuhnya, sementara aku mempersiapkan peralatanku untuk Sekolah besok hari. “Sar!” Teriak Indra dari dalam Kamar Mandi dengan pintu yang masih tertutup. “Eh, iya Kak.’ Ucapku sedikit berteriak. “Boleh pinjam handuk?” Teriaknya lagi yang membuatku lupa bahwa aku belum memberikan handuk kepadanya. “Bentar Kak!”
Aku langsung berlari menuju lemari pakaianku dan mencari handuk bersih, setelah ketemu aku langsung mengetuk pintu Kamar Mandi. “Kak, ini handuknya!” Pintu Kamar Mandi itu pun terbuka dan muncullah sebagian dari tubuh Indra yang polos tanpa ada yang menutupinya.
“Eh!” Aku langsung cepat-cepat menutup mataku dengan tangan kiriku dan mengulurkan tangan kananku yang memegang handuk bersih untuknya. “Ini Kak!” Ucapku tergesa-gesa. “Hahaha, kamu kenapa? Kenapa mukanya jadi merah gitu?” Ucapnya yang aku tahu dia sedang tertawa mengejekku. “Gak pa-pa, ini Kak.” Aku mengulurkan lagi handuk tersebut kepadanya, dimana akhirnya dia mengambilnya setelah membuat wajahku memerah. Setelah pintu itu tertutup lagi, aku melepaskan tangan kiriku dari wajahku dan menghembuskan napasku.
Kenapa aku jadi salah tingkah begini. Tidak lama kemudian Indra keluar dari Kamar Mandi tersebut, dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Dimana aku bisa melihat tubuhnya yang terpahat sempurna berjalan mendekatiku dengan aroma tubuhnya yang bercampur dengan sabun dari Kamar Mandi ku. Jantungku berdegup kencang saat dia sudah berada dekat denganku yang hanya berjarak lima centimeter lagi.
Perasaan ini lagi dan kenapa jantungku tambah berdegup kencang. “Kamu kenapa? Kamu demam?” Ucap Indra yang melihat diriku mematung di hadapannya dengan wajah yang mungkin sudah berwarna merah muda. Dia menempelkan punggung tangannya di keningku. “Agak panas, kamu sakit?” Ucapnya lagi. “Ha? enggak kok Kak.” Aku langsung mundur beberapa langkah dan menunduk. “Ehmm, aku keluar dulu ya Kak, mau siapain makan malam, Kak Indra bisa ganti baju disini.” Ucapku dan langsung segera keluar dari Kamarku.
Sarah sadar Sarah, kenapa kamu jadi salah tingkah seperti ini. Aku pun langsung menuju dapur dan menghangatkan makanan yang sudah dimasak Ibu Aisyah untuk makan Adik-Adikku. Setelah aku selesai menyiapkan semua makanan dan piring diatas meja makan, Indra juga keluar dari Kamarku dengan pakaian bersih yang sudah digunakannya. “Kak, makan dulu ya.” Ucapku. Dia pun tersenyum dan mengangguk kepadaku.
Setelah itu aku memanggil Adik-Adikku, dan kami semua termasuk aku dan Indra sudah duduk bersama mengitari meja makan yang sudah aku siapkan tadi. Bibirku tersenyum dengan sendirinya saat melihat Indra duduk diantara Adik-Adikku, dia memimpin doa makan untuk kami semua dan yang membuatku menjadi lebih bahagia saat melihat keakrabannya dengan Adik-Adikku, tanpa membedakan status sosialnya.
Perasaan ini lagi. “Sarah?” Indra memanggilku yang membuatku sadar dari lamunannku. “Eh, iya Kak, kenapa?” Ucapku dengan salah tingkah, dia hanya tersenyum kearahku dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku pun berpura-pura melanjutkan makanku dengan kondisi yang masih canggung. Indra pun melanjutkan makannya dengan sesekali bercanda dengan Adik-Adikku. Dan tidak terasa bibirku membentuk senyum dengan sendirinya.
Apakah ini? Setelah kami selesai makan, dan membersihkan semua peralatan yang kami makan tadi, aku dan Indra duduk di depan Panti setelah Adik-Adik sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Cahaya bintang di langit yang terkadang tertutupi oleh cahaya lampu Kota Jakarta ini menemaniku dan Indra. “Terima kasih ya Kak.” Ucapku memecahkan keheningan. Dia tersenyum dan mengusap kepalaku. Malam itu kami lalui dengan keheningan dan pikiran masing-masing, ditemani taburan bintang di gelapnya malam ini.
BERSAMBUNG
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
knp gak di lanjutin bang ceritanya?
ku kira up ternyata bukan 🤧🤧🤧
baru tau kalo novel ini lanjut