Seren hanyalah gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang pelacur. Hidup dan tumbuh dari hasil keringat seorang pelacur tak membuat Seren termotivasi untuk menjadi salah satu di antaranya.
Dalam 18 tahun kehidupannya, Seren selalu bertekad tidak ingin menjadi seperti sang ibu. Karena ia sangat tahu di balik kehidupan mewah seorang Pelacur tersimpan sebuah hal berbahaya yang bahkan satu orang pelacur- pun belum dapat keluar darinya.
"Hmm- Kamu percaya kalau aku ini bajingan, bukan?"
peringatan: mengandung percakapan orang dewasa, disarankan untuk bijak memilih jenis bacaan anda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang-jun!!!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Jangan bermain
Seren masuk ke dalam rumah, perasaannya jadi membaik setelah bertemu dengan Geo. Tidak bisa terlupakan juga saat pemuda itu mencium keningnya.
Seren menyentuh keningnya, mengusap dengan pelan lalu mencoba menahan rasa yang kian membara di hati. Seren menggigit bibir bawah agar suaranya tidak menganggu. Tak lupa ia juga merapatkan kedua kaki lalu melompat dengan pelan.
"Ehkmmmm!" Suara Seren tertahan.
.......
.......
.......
.......
.......
...SADNESS...
...33...
...Jangan bermain...
.......
.......
.......
POV 3
Seren semakin berbunga-bunga, rasanya seperti tak ada lagi beban berat yang hinggap di punggung gadis muda itu. Ia kemudian berjalan sambil berjinjit, sesekali melakukan gerakan dansa sederhana yang ia ketahui.
Berputar, berbelok, kanan, kiri, lalu berputar lagi, kanan dan.
"Senyam senyum aja kamu kayak ODGJ!"
Senyum merekah Seren langsung turun seturun-turunnya saat mendengar suara orang ini. Dengan malas Seren menatap ke lantai dua.
"Emang ya, kamu gak bisa liat orang lain senang. Syirik aja kayak ibuk-ibuk gak kebagian sembako!" Balas Seren semakin memancing perkelahian.
Empat imajiner kedutan langsung muncul di jidat William.
"Aku gak butuh pembagian sembako, aku bisa beli sendiri! Aku kaya!"
"Wah, akhirnya sang tuan menyetujui dirinya ibuk-ibuk!" Sindir Seren menjentikkan kedua jarinya. yang di arahkan pada wajah William.
"Kau ini! Siapa pria itu?!"
"Bukan urusanmu, dia siapapun juga tidak akan mengubah apapun." Celetuk Seren naik ke lantai dua, tepatnya ke kamarnya sendiri yang sialnya bersebelahan dengan kamar William.
"Tentu ada, bagaimanapun aku adalah wali sah mu sekarang!"
"Wali seharusnya bersikap layaknya orang tua saja." Balas Seren.
"Bukankah orang tua juga harus tau apa yang dilakukan anaknya." Hardik William meletakkan kedua tangan di pinggang.
Seren yang sudah melewati William tidak menggubris, ia hanya ber-ekspresi masam.
"Berhenti disitu, dan berbalik." Perintah William, namun Seren tidak menanggapi. Ia terus melangkah hingga sampai ke depan pintu kamar.
"Kau tidak berhak mengaturku!" Ucap Seren menaikkan nada suaranya.
William tak senang, Seren benar-benar semakin melunjak. Ia berjalan cepat, menahan tangan Seren yang sudah memegang knop pintu.
cklek!
Pintu kembali tertutup dengan kasar. William tanpa basa-basi langsung meraih kedua tangan Seren dan menggegamnya erat dengan satu tangan, mengunci pergerakan tangan itu di atas kepala Seren sendiri.
Badan Seren ditekan kuat ke pintu, terasa lebih menyakitkan lagi saat tubuh William menekan. Seren dapat merasakan tubuh sixpack yang terbalut kain kini menempel di punggungnya.
Semua tonjolan itu terasa begitu menekan, apalagi sesuatu yang besar di bawah sana. Seren langsung ketakutan.
"Rumahku, peraturanku." Bisik William tepat di telinga Seren.
Matanya menatap tajam, tangan lainnya menangkup pipi Seren dengan kasar, mengarahkan wajah itu untuk balik menatap William yang sudah tersulut emosi.
"Apa kau paham?" Tanya William pelan, namun menekan.
Cengkraman sedikit melonggar saat William berfikir Seren akan menyerah, namun disaat fikiran pria itu salah, dengan cepat, Seren menampar pipi William, hingga jarak diantara mereka kembali terbentuk, "Jika bukan karena kau yang seenaknya mengurungku disini, mungkin aku sudah keluar dari sangkar emas ini!" jerit Seren, ia mengeluarkan isi hatinya.
William mengusap pipi yang memerah, "Sh.. , Jadi ini yang disebut perlawanan, "
"Iya!!!! Dasar pria jahat! Perebut kebebasan! Kau seenaknya mengambil keputusan dan menculikku hingga ibuku mati tanpa seorangpun yang menolongnya, " Seren menangis, ia kembali teringat akan sang ibu.
"Andai saja, andai waktu itu kau tidak datang, mungkin aku dan ibu masih bersama– mungkin ibu masih hidup!"
William hanya mendengarkan, ia tersenyum miring dan menggeleng,
Naif sekali
Keluh hati William, hatinya tergelitik ingin memukul gadis ini dengan fakta. Namun ia urungkan.
"Jika saja kau memberiku kebebasan, mungkin aku akan hidup dengan lebih baik dan dapat melunasi hutangku tanpa harus berhutang padamu,
kau membuatku jadi orang yang termakan budi, keparat! "
William langsung terkejut, matanya melebar, "Kau ingin melunasi hutangmu padaku? "
"Ya, dan aku ingin bebas darimu! " jawab Seren dan menunjuk William.
"Kau tidak suka kemewahan yang ku berikan?"
Seren menggeleng dengan cepat, "Tidak, sama sekali tidak. Aku bukan wanita murahan, semakin cepat aku dapat membayar hutang padamu, maka akan semakin cepat kebebasan aku dapatkan. "
William mengangguk, ia berjalan pelan mendekati Seren.
"Kau mau apa? " tanya Seren gemetar.
William memperhatikan lekuk wajah Seren cukup lama, ia mendengus pelan. Dan dengan cepat tangan William langsung menekan kedua pipi Seren.
"Kau membuatku tertawa," suara William pelan, hampir seperti bisikan.
Tanpa aba-aba William langsung membuka pintu kamar Seren dan menyeret gadis itu untuk ia lempar ke ranjang.
"K-kau mau apa?" Tanya Seren gemetar.
William tidak menjawab, ia lebih memilih membuka bajunya dan melempar asal. Lalu mantap Seren dengan lapar.
"Menurutmu?"
.
.
.
"Akh... akh... t-tolong, kumohon..." suara Seren nyaris tak terdengar, melemah seiring napasnya yang tersengal.
Tubuhnya terikat pada kepala ranjang, kedua tangannya dililit sabuk kulit yang tadi digunakan William. Ia sempat berusaha menolak, namun tenaganya tak sebanding. Ia hanya bisa menatap dengan mata berkaca, ketakutan dan ketidakberdayaan berbaur jadi satu.
William menatap hasil “karyanya” di tubuh Seren, senyum tipis muncul di wajahnya—senyum yang membuat bulu kuduk meremang.
Seren hanya bisa diam, matanya berusaha mencari celah untuk lepas, namun yang ia temui justru sorot mata William—tajam, gelap, dan sulit diselami. Seolah tidak ada hati di balik tatapan itu.
Dari saku celananya, William mengeluarkan sesuatu—sebutir pil kecil. Ia meletakkannya di mulut, lalu menatap Seren lekat-lekat, seolah sedang mempertontonkan sesuatu yang tak bisa dicegah.
"Aku ingin kau mencoba sesuatu," ucapnya pelan, nada suaranya seperti angin dingin yang menyelinap sampai ke tulang sum-sum.
Seren menggeleng panik, namun sebelum ia sempat bersuara, William telah mendekat dan menutup mulutnya dengan ciuman paksa. Napas Seren tercekat. Segalanya terasa begitu dekat, terlalu sempit, terlalu menekan.
Dalam jarak yang sedekat itu, Seren bisa melihat dengan jelas mata William—kosong, tak tergoyahkan. Saat William memperdalam ciumannya, pil yang tadi disimpan di mulutnya dipaksa masuk.
Seren mencoba menahan, namun tubuhnya tak memberi kekuatan untuk melawan. Dalam hitungan detik, pil itu tertelan bersama air liur dan sisa ketakutan yang belum sempat hilang.
Setelahnya, William menjauh sedikit. Napasnya tenang, seakan semua itu hanyalah rutinitas biasa. Ia menyentuh dagu Seren, memaksa mulut itu kembali terbuka, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
"Bagus. Sudah tertelan."
Awalnya, tidak ada yang terasa. Hanya keheningan. Hanya napas yang terengah pelan dan dada Seren yang naik turun dalam tempo tak beraturan.
Namun beberapa menit kemudian, ada yang berubah.
Suhu tubuhnya meningkat perlahan, seperti aliran hangat yang menjalar dari perut ke ujung jari. Pandangannya mulai kabur, seolah batas antara cahaya dan gelap perlahan kabur di matanya. Suara di sekitarnya pun menjadi jauh dan bergema, seolah dunia bergerak lebih lambat.
Seren mulai menggigit bibir bawahnya, mencoba mempertahankan kesadaran.
“Apa yang kau—” suaranya tercekat, kata-kata itu tak mampu diselesaikan.
William mengamati perubahan itu dengan tenang, duduk di sisi ranjang seperti penonton yang menikmati pertunjukan. Tangannya bertumpu di lutut, matanya tak lepas dari Seren yang mulai bergelut dengan tubuhnya sendiri.
"Aku bilang ini barang baru, kan?" gumam William sambil mencondongkan tubuh. "Efeknya… sangat cepat. Tapi tenang, tidak akan membunuhmu. Hanya… mengaburkan realita."
Seren memejamkan mata kuat-kuat, berusaha melawan sensasi aneh yang menyerbu tubuh dan pikirannya. Tapi kepalanya terasa ringan. Ia merasa melayang, tapi juga berat. Dingin, namun berkeringat. Rasanya seperti mimpi buruk yang disadari sepenuhnya.
“Kenapa… kau lakuin ini…?” lirihnya, nyaris seperti bisikan yang terlepas tanpa sadar.
William tak menjawab. Ia hanya menatapnya, lalu berbisik pelan, nyaris menyentuh telinga Seren.
"Agar kau tidak lupa… siapa yang benar-benar menguasai hidupmu."
Kata-kata itu menghantam seperti palu, membuat Seren membuka matanya dalam kepanikan. Tapi ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar. Tali di pergelangan tangannya memang tidak terlalu kuat—bisa saja ia melepaskan diri… kalau saja tubuhnya tidak terasa seperti boneka kayu yang kehilangan kendali.
Tubuh Seren mulai kehilangan keseimbangan antara sadar dan tidak. Dunia terasa jauh, dan waktu seperti melambat. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri—keras, lalu samar, lalu keras lagi. Seolah-olah hidupnya sedang ditarik keluar dari dirinya.
William mendekat, gerakannya seperti bayangan dalam mimpi yang kabur. Seren tidak tahu lagi mana yang nyata, mana yang ilusi. Yang pasti, ia merasa terjebak di antara perasaan takut dan ketidakberdayaan yang tidak bisa ia namai.
Seseorang menyentuh pipinya atau mungkin hanya angin. Lalu suara berat William berbisik di telinganya, begitu dekat.
"Kau akan mengingat malam ini, bahkan saat kamu ingin melupakannya."
Seren tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menutup mata, membiarkan tubuhnya melayang dalam ketidakpastian. Tangannya gemetar, jari-jarinya menggenggam seprai seakan itu satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap di dunia ini.
Tak ada jeritan, tak ada perlawanan. Hanya keheningan dan rasa asing yang terus menyusup, menciptakan luka yang tak terlihat, tapi akan membekas selamanya.
.
.
.
Dengan santai William menghisap cerutunya, di tangannya terdapat sebuah tablet yang menampilkan banyak coretan.
"Hmmm... Afrodisiak lv3. Masih kurang sempurna," gumam William melirik Seren yang masih lelap tertidur.
Dari kursi meja rias, William menatap tubuh Seren yang sudah berbalut piyama. Barusan ia memerintah beberapa pelayan untuk memandikan Seren dan memakaikannya pakaian.
William menghela nafas panjang, ia sedikit tersenyum, "Hidupmu,"
William beranjak dari kursi, ia melangkah pelan menuju bibir ranjang dan berhenti tepat di depan wajah tidur Seren.
Sinar bulan begitu terang di luar sana, suara hewan malam juga ikut bersautan, "Malam ini sungguh tenang,"
William menunduk, wajahnya tersenyum. Ia mengarahkan jari telunjuk untuk mengusap wajah tidur Seren, terus hingga mencapai bibir yang sudah membengkak, bekas permainan kasar mereka beberapa jam lalu.
William belum melakukan 'perbuatan' yang sesungguhnya, ia hanya mencoba memberikan pelajaran pada Seren. Membuat gadis itu tersiksa sampai paling dasar keterpurukan hingga meminta mati rasanya tidak pantas untuk menjadi pertimbangan.
William tersenyum miring, mengenang permainan yang mereka lakukan beberapa jam lalu.
Menepuk pipi Seren beberapa kali, William dengan pelan mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka saling bertemu.
"Bukankah aku sudah pernah menegaskan, Semua yang kau miliki, bahkan sehelai rambutmu adalah milikku. Bahkan jika nafas bisa dibeli, aku sudah menakarnya untukmu."
.......
.......
.......
.......
.......
...TBC...