Bianca menyukai Devano sejak kelas 8 dan akhirnya menyatakan perasaannya saat mereka di kelas 11 lewat surat cinta.
Meski menerima surat cinta Bianca, Devano tidak pernah memberikan jawaban yang pasti tentang perasaannya.
Bianca di-bully habis-habisan oleh Nindi, fans berat Devano di SMA Dharma Bangsa. Apalagi saat Nindi menemukan surat cinta Bianca untuk Devano.
Devano tidak memberikan tanggapan apapun saat Bianca mengalami pembullyan sebelum kelulusan mereka. Ketidakperdulian Devano menciptakan rasa benci di hati Bianca yang membuatnya belajar melupakan Devano.
Tapi seolah alam menolak keinginan Bianca untuk melupakan Devano. Mereka dipertemukan kembali setelah 4 tahun dan Bianca harus menjadi anak magang di perusahaan milik keluarga Devano. Sikap Devano tidak berubah bahkan menjadi-jadi di mata Bianca. Dan setelah 3 bulan berlalu, Bianca memutuskan untuk melepaskan Devano dan menghapus semua tentang Devano dalam hidupnya.
Apakah Bianca dan Devano benar-benar tidak berjodoh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Selepas Putih Abu-abu
Masa SMA telah berlalu. Rentang penantian memasuki jenjang kuliah masih 3.5 bulan lagi.
Bianca mengambil tawaran sebagai pelayan cafe milik teman mamanya Mia. Di akhir pekan, Bianca menjadi penyanyi di tempat yang sama.
Kondisi papa Indra belum ada perubahaan apa-apa. Bertiga masih bergantian berjaga di rumah sakit, menunggu papa Indra yang masih terbaring koma lebih dari 3 bulan.
Mia sedang mengunjungi rumah oma opanya dari kedua pihak orangtuanya secara bergantian. Menghabiskan waktu liburannya sebelum berangkat melanjutkan studinya ke Australia.
Della sempat liburan dua minggu ke rumah keluarga mama Dina di daerah Bandung.
Apa kabarnya lima sekawan ? Devano, Arya, dan Ernest meneruskan kuliah di luar negeri dengan pilihan negara yang berbeda. Leo meneruskan kuliah di salah satu PTN di Bandung lewat jalur mandiri, dan terakhir sosok yang paling absurd, Joshua, meneruskan kuliah di perguruan tinggi swasta yang sama dengan Della.
Devano dan Arya mengisi liburan mereka dengan bekerja di perusahaan keluarga masing-masing. Sesekali Arya masih datang bertemu dengan Bianca sambil makan di cafe tempatnya bekerja.
“Bi, nanti malam kamu ngisi acara seperti biasa kan ?” Juan, anak pemilik cafe menghampiri Bianca yang sedang membersihkan meja.
“Iya kak. Nanti aku mulai jam 7 seperti biasa.”
“Kalau gitu kamu nggak usah lanjut kerjaan pelayan. Istirahat dulu, biar suara kamu maksimal nanti malam.”
“Tapi aku hari ini shift sampai jam 4, Kak. Esti tidak masuk karena sakit makanya kurang tenaga di area tamu.”
Juan mengambil nampan dan peralatan pembersih yang ada di tangan Bianca.
“Sudah pulang sana,” Juan memberi kode dengan tangannya. “Nanti malam ada bookingan tamu spesial buat 20 orang. Mereka request kamu sebagai penyanyi tunggalnya.”
“Wah lumayan booking langsung 20 orang.” Wajah Bianca berbinar .
“Makanya pulang sana, istirahat. Persiapkan diri dengan baik buat nanti malam.”
Juan mendorong pelan bahu Bianca. Menyuruhnya untuk menyudahi pekerjaannya dan pulang.
“Siipp kalau begitu, Kak. Aku pasti memberikan yang terbaik dan nggak bikin malu kakak.” Bianca tersenyum dan memberi tanda jempolnya.
Bianca sedang rebahan di kamarnya selepas dari cafe. Jam 3.30 sore. Masih ada waktu 2 jam aebelum jadwal Bianca balik ke cafe. Biasanya dia akan melakukan tes sound dulu dengan para pemain musik dan memyiapkan lagu-lagu yang akan dibawakan sesuai tema yang diberikan pemilik cafe setiap minggunya.
Bianca membuka aplikasi pesan di handphone. Sudah beberapa hari ini tidak ada percakapan dengan kedua sahabatnya di grup. Sepertinya mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bianca menarik nafas panjang. Ada kerinduan pada masa-masa sekolahnya. Dengan suasana ramainya kelas, banyolan dan kekonyolan teman-temannya yang membuat guru geleng-geleng kepala, belum lagi suara cempreng Mia yang kalau ngomong kayak commuter 12 gerbong.
Tanpa sadar buliran air mata keluar dari kedua sudut matanya. Suasana sepi membuat hati Bianca jadi melow. Kangen papa dan keramaian yang ada di dalam rumahnya. Kangen teman-temannya dan segala kekonyolannya. Tiba-tiba Bianca merasa sendirian saat ini.
Cepar-cepat Bianca bangun dan menghapus air matanya.
“Semangat Bi ! Semangaf !” Bianca bermonolog.
Dia membuka lemari pakaian dan mencari pakaian terbaiknya untuk tampil malam ini. Dipilihnya dress peach kesukaannya dengan hiasan renda di beberapa bagiannya. Bianca memutuskan untuk pergi lebih awal ke cafe daripada terjebak dalam perasaan melow karena suasana yang sepi.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 17.15 saat Bianca sampai di depan pintu cafe. Di salah satu sudut ruangan yang dekat dengan panggung mini, beberapa meja sudah tersusun rapi dan di atasnya terpasang tulisan RESERVED.
Bianca berjalan ke arah dapur dan meletakkan tasnya di dalam locker, sementara handphonenya dimasukan ke kantong dressnya.
“Sudah balik aja Bi.” Juan yang baru saja turun dari lantai 2 menyapanya.
“Iya Kak, gabut di rumah. Mending nunggu di sini aja.” Bianca tertawa kecil.
“Heri dan yang lainnya sudah datang ?” Juan mengedarkan pandangannya tapi belum mendapati orang yang dimaksud.
“Bentar lagi mungkon, Kak. Masih jam segini juga.”
“Oke kalai gitu aku tinggal dulu ya.” Juan melewati Bianca sambil menepuk pelan bahu gadis itu.
Jam 6 sore Heri, yang menjadi koordinator para pemain musik di cafe mulai melakukan tes sound dengan tim nya dan Bianca. Mereka juga memilih lagu-lagu yang akan dibawakan hari ini.
“Bibi Bian !” Panggilan dengan suara nyaring itu membuat Bianca tersenyum tanpa menoleh. Saat ini dia sedang menyesuaikan nada dengan Mas Eka yang memegang keyboard.
“Dih sombong amat !” Mia menepuk bahu Bianca cukup keras.
“Sakit Mia !” Omel Bianca.
“Mas istirahat dulu ya. Ini ada tamu super bawel yang perlu diladeni.”
Mas Heri tersenyum dan memberi kode oke lalu bangun meninggalkan keyboardnya.
“Cantik amat. Tumben.” Mia mencibir sambil memperhatikan Bianca dari atas ke bawah.
“Memangnya selama ini elo nggak lihat kecantikan tersembunyi gue ?” Bianca mengerlingkan matanya sambil melenggak lenggok di tempatnya.
“Duh salah ngomong gue !” Mia menepuk jidatnya.
“Emang kapan sih elo bener ngomongnya ?” Suata Della sudah terdengar di dekat mereka.
“Della !” Bianca dan Mia sama-sama berpekik saat melihat sosok sahabat mereka ada di sana juga.
Ketiganya langsung berpelukan. Sudah hampir sebulan ini mereka tidak bertemu.
“Eh tunggu, kok tumben kalian bisa samaan kemari ?” Bianca menatap keduanya setelah melerai pelukan mereka.
Alis mata Bianca terangkat sebelah sambil menatap Mia dan Della minta penjelasan.
Mia dan Della saling melempar pandangan sebelum menjawab pertanyaan Bianca.
“Ya diundang lah.” Mia yang menjawab duluan.
“ Diundang siapa ? Kok bisa barengan ?” Bianca mengerutkan keningnya.
“Tuuh sama yang punya acara.” Della menunjuk arah pintu masuk dengan dagunya.
Bianca menoleh dan mendapati sosok Arya dan Ernest yang baru saja memasuki cafe.
“Jangan bilang kalo Arya yang booking meja ini.” Bianca menunjuk pada deretan meja dekat situ.
“Halo Bianca !” Arya melambaikan tangannya saat sudah dekat dengan ketiga gadis itu.
“Apa kabar, Bianca ?” Ernesr ikut menyapanya.
“Haaaiizz yang disapa Bianca doang,” gerutu Mia.
”Apa gue sama Della nggak kelihatan udah gede begini.” Sungutnya dengan bibir mengerucut.
“Dih ngambek.” Ernesr mencibir.
“Bodo !” Mia dengan mode kesalnya berbalik dan mengambil tempar duduk di meja panjang yang sudah disiapkan.
“Baru sebulan nggak ketemu udah bikin pangling aja, Bi. Kok jadi cantik begini ?” Goda Ernest menatap Bianca sambil mengedipkan matanya sebelah.
“Wooii !” Arya menyikut lengan Ernest. “Jangan dibikin ge-er dulu, nanti nyannyinya nggak fokus.”
Bianca tertawa melihat kelakukan dua cowok di depannya. Hatinya sedikit senang melihat Arya sudah tidak sekaku dan dingin seperti di SMA.
“Nggak pengaruh Ya, udah biasa penyanyi dipuji.”
Jawab Bianca sambil tertawa pelan.
“Tapi beneran Bi,” Ernest menangkat jempolnya.
“Hai bro, udah duluan aja.” Suara Joshua yang mirip dengan Mia kalau ngomong susah pelan menyela percakapan Bianca dengan Arya dan Ernest.
Tidak jauh ternyata Leo juga berdiri di belakang Joshua. Mereka saling memberikan salam tos dan pelukan ala cowok-cowok Dan ternyata bukan hanya mereka grup lima sekawan minus Devano yang datang. Arya juga mengundang teman-teman satu tim basket yang sekarang sama-sama sudsh jadi alumni. Sebagian dari mereka ada yang datang dengan pasangannya.
“Bianca ?” Revan salah satu anggota tim basket menyapa Bianca yang berdiri agak menjauh karena ramainya rombongan yang baru masuk tadi.
“Apa kabar Revan ?” Bianca mengangguk sambil tersenyum.
“Kok belum lama nggak ketemu elo beda banget ya ?” Revan masih terpesona menatap Bianca.
“Biasa aja kali Bro,” Leo menyikut bahu Revan. “Awas ngeces nih.”
“Sialan lo !” Omel Revan.
Bianca dan Leo serrta beberapa orang yang berdiri dekat situ ikut tertawa
Dan acara makan pun dimulai. Para pelayan cafe mulai sibuk bahkan Kak Juan pun sampai ikut turun tangan. Dan ternyata istri kak Juan ikut membantu juga malam itu karena situasi di cafe cukup ramai selain karena pesanan Arya.
Bianca naik ke panggung dan mulai bersiap-siap menyanyi. Ternyata list lagu yang sempat diberikan oleh Kak Rendi, manager cafe, adalah lagu-lagu pesanan Arya.
Mereka menikmati suasana kebersamaan malam itu Bianca pun sedang mempersiapkan lagu ketiga yang akan dibawakannya. Saat Bianca sedang siap-siap di depan mic, matanya menatap sosok yang baru saja masuk di pintu cafe.
“Devano !” Batinnya.