Rumah tangga diibaratkan sebuah perahu yang tengah berlayar di lautan lepas! Dimana suami sebagai nahkodanya, sementara isteri dan anak berperan sebagai penumpangnya. Nahkoda bertugas mengemudikan perahu agar perahu bisa sampai ditujuan dengan selamat, sementara penumpang akan mengikuti kemanapun perahu itu berlayar.
Terkadang dalam perjalanan berlayar kita dibuat bahagia dengan keindahan di lautan, angin sepoi-sepoi dan ikan-ikan yang berenang di lautan menjadi kebahagiaan yang akan kita dapatkan selama berlayar.
Lalu bagaimana jika ditengah perjalanan perahu dihadapkan dengan hantaman keras gelombang ombak dan juga badai di lautan?
Sama halnya dengan rumah tangga, gelombang ombak bisa kita artikan pihak ketiga atau wanita idaman lain.
Perahu akan bisa bertahan dari terjangan badai dan ombak besar, jika nahkoda sekuat tenaga mempertahankan kemudinya agar tetap seimbang, meski dihantam ombak dahsyat sekalipun. Tapi jika nahkoda memutuskan untuk tidak mempertahankan kemudi perahunya.
Maka yang akan terjadi adalah! Badan perahu akan retak lalu perlahan akan dimasuki oleh debit air laut yang semakin lama akan semakin menenggelamkan perahu hingga membuat PERAHU KARAM.
Begitu juga dengan rumah tangga, jika ditengah perjalanan dalam kehidupan berumahtangga, seorang suami tidak bisa tahan dengan godaan dari wanita lain, dan tidak mau mempertahankan pernikahannya!
Membiarkan wanita idaman lain untuk terus memasuki kehidupan rumah tangganya.
Maka yang akan terjadi adalah pernikahan itu akan hancur dan berujung dengan perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopi_sopiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Selama makan siang, Darren dan Qiara tidak banyak obrolan, hanya Darren yang menanyakan kabar Wili dan Wilo, lalu setelahnya Qiara dan Darren kembali diam.
Hingga keduanya selesai makan siang bersama, Qiara pun pamit pulang karena dia membawa mobil sendiri sementara Darren memilih mengantarkan Qiara mengawalnya sampai ke rumah. Mobil keduanya beriringan, didalam mobil Darren malah senyum-senyum sendiri mengingat momen makan siangnya dengan Qiara.
Setelah Qiara masuk ke halaman rumahnya, barulah Darren memutar balik mobilnya. Sesampainya Qiara di rumah, Mbok Ning membukakan pintu rumahnya.
"Aduh Mi, daritadi mbok telpon engga diangkat-angkat!" kata Mbok Ning.
"Ada apa si mbok? Saya gak lihat handphone tadi?" tanya Qiara.
"Itu Tuan sama Nyonya berantem," kata Mbok Ning.
"Mamah sama Papah berantem?" tanya Qiara lalu berjalan terburu-buru untuk menemui orangtuanya.
Hiks, hiks, hiks.
Terlihat mamahnya Qiara tengah menangis sementara Papahnya justru terlihat masa bodo.
"Pah, Mah ada apa si ini?" tanya Qiara.
"Papah sudah bilang pada Mamahmu! Kalau dia rela menjual harga diri anaknya hanya demi berlian baru, lebih baik Papah berpisah juga dengan Mamahmu, selama ini kita sudah banyak mengalah dengan sikap matre Mamahmu itu Qia," kata Papahnya Qiara.
"Kenapa si mah? Mamah masih ngotot minta Qiara untuk engga cerai sama mas Dimas? Karena mas Dimas kasih mamah berlian baru, iya?" tanya Qiara.
"Mamah cuma engga mau kita semua jatuh miskin Qia," kata Mamahnya, sambil terus terisak tangis.
"Mah, Qiara masih sehat! Dan perusahaan M.Q Entertainment itu juga milik Qiara, jadi mamah tenang aja! Qiara akan tetap ngasih uang bulanan sama mamah," kata Qiara.
"Kalaupun perusahaan itu jatuh ketangan kamu! Memang kamu bisa menjalankannya, Qiara mamah trauma atas kebangkrutan Papah kamu," kata Mamahnya Qiara.
"Bisa mah! Pasti bisa, intinya mamah hanya perlu doakan Qia agar bisa kuat menjalani ini semua, sisanya biar Qia yang urus, please mah restu mamah itu sangat penting untuk Qia menang di persidangan nanti!" kata Qiara.
"Kalau kamu masih ngotot agar Qiara tidak bercerai dari laki-laki yang sudah jelas-jelas mengkhianatinya, menyakitinya sampai seperti ini! Maka lebih baik kita berpisah Mah," ujar Papahnya Qiara.
"Ya udah, ya udah mamah nyerah! Oke Mamah dukung kamu Qia! Tapi ingat ya, uang bulanan mamah ga boleh kurang jika nanti kamu resmi bercerai dari Dimasta," kata Mamahnya Qiara.
"Iya mah, Qiara akan usahakan apapun untuk memenuhi kebutuhan mamah dan papah," kata Qiara.
Setelah mendapatkan jaminan dari Qiara, orangtua Qiara pun kembali pulang ke rumah mereka di Bandung. Meskipun Mamahnya Qiara masih setengah hati merelakan Qiara menceraikan Dimasta. Dimasta mendapatkan pesan singkat dari mamahnya Qiara, yang berisi dia tak akan lagi membujuk Qiara untuk membatalkan perceraiannya.
Dimasta pun meraih gelas yang ada di meja, lalu melemparkannya ke lantai.
Prang...
Suci yang saat itu sedang berada di dapur untuk memasak makan siang, langsung kaget dengan suara lemparan gelas itu.
"Ya ampun mas, kamu kenapa si?" tanya Suc.
"Orangtua Qiara sudah nyerah membujuk Qiara membatalkan perceraian itu.. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana sekarang," kata Dimasta sambil memegangi kepalanya saking kepusingan.
"Mas, udah dong! Kamu bisa sakit nanti, sudah takdirnya kamu dan Bu Qiara cerai," kata Suci.
"Tapi aku engga mau harta Gono gini itu dibagi dua, apalagi jika Qiara mendapatkan lebih banyak, dan hak asuh anak-anakku bagaimana? Aku ingin mereka tinggal bersama kita," kata Dimasta.
"Mas kamu jangan pesimis dulu! Kita akan hadapi sidang itu sama-sama, aku yakin kamu masih bisa menang atas harta gono-gini itu mas, dan kita bisa kok mengajak Wili dan Wilo tinggal di sini! Kamu kan masih Papahnya mas," kata Suci.
"Ya ya sudah kalau seperti ini jadinya! Itu berarti aku sudah harus terima dengan perceraian aku! Yang penting sekarang adalah hak asuh Wili dan Wilo serta pembagian Gono gini harus adil," kata Dimasta.
"Nah gitu dong mas, besok kan hari Minggu mas! Gimana kalau kita ajak Wili dan Wilo jalan-jalan?" tanya Suci.
"Em, boleh! Ide bagus itu, lagian kamu kan udah harus dekat dengan Wili dan Wilo sebagai Mimi kedua mereka," kata Dimasta.
"Aku seneng deh mas, jadi Ibu dari anak-anak kamu yang lucu itu," kata Suci.
"Makasih ya! Kamu udah selalu bikin aku tenang, udah mau menerima aku apa adanya, benar-benar wanita idaman kamu tuh," kata Dimasta.
Suci pun beralih duduk dipangkuan Dimasta, dengan kedua tangannya yang melingkar pada leher Dimasta.
"Jadi kapan dong mas, kamu nikahin aku?" tanya Suci.
"Begitu keputusan cerai diketuk sama hakim, hari itu juga aku akan nikahin kamu," kata Dimasta.
"Emm, mas bener ya! Aku seneng banget tau dengernya," kata Suci.
Keesokan harinya, Suci dan Dimasta pergi ke rumah Qiara untuk menjemput Wili dan Wilo. Sebelumnya Dimasta telah menelpon Qiara terlebih dahulu untuk menyampaikan ingin mengajak Wili dan Wilo jalan-jalan dengannya. Qiara pun berhasil membujuk Wili dan Wilo agar mau diajak jalan oleh Papih mereka, Qiara juga menasihati Wili dan Wilo agar tidak membenci Papih mereka.
Sampai di rumah Qiara! Wili dan Wilo langsung kegirangan menyambut Dimasta didepan rumah bersama dengan Qiara.
Qiara berdandan sangat cantik dan memakai pakaian terbaiknya! Dimasta yang melihat Qiara dari dalam mobil saja langsung terpesona dengan perubahan Qiara yang tampil mempesona seperti masih remaja.
"Papih!" teriak Wili dan Wilo.
Dimasta keluar dari mobil, disusul dengan Suci yang malu-malu untuk turun dari mobil.
"Hei, krucil Papih! Papih kangen banget sama kalian," kata Dimasta lalu memeluk Wili dan Wilo.
"Kita juga kangen Papih!" kata Wili dan Wilo.
"Mi, makasih ya udah ngebolehin aku ajak Wili dan Wilo," kata Dimasta.
"Sama-sama mas," kata Qiara tersenyum manis.
Sementara itu Suci hanya bisa berdiri dan terdiam jauh dari Dimasta.
"Kita mau jalan-jalan kemana Pih?" tanya Wili.
"Kok ada mba Suci si Pih, kan kita maunya pergi sama Papih sama Mimi?" kata Wilo.
"Em itu! Kan Mimi engga bisa ikut jalan-jalan sama kita, jadi Papih ajak mba Suci, engga apa-apa kan?" tanya Dimasta.
"Aku ikut kok mas, kan kita masih orangtua Wili dan Wilo. Masa aku tinggal anak-anak pergi sama kamu dan pengasuhnya, engga etis lah!" kata Qiara.
Degg, seketika raut wajah Suci terlihat kesal mendengar Qiara akan ikut.
"Kamu mau ikut, Mi?" tanya Dimasta.
"Kenapa mas, engga boleh? Kamu itu masih suami aku, engga baik kalau nanti ada karyawan yang lihat kamu pergi sama pengasuh anak-anak kita kan bisa jadi omongan orang di kantor!" kata Qiara.
"Boleh kok! Iya kamu benar Mi, kamu memang harus ikut takutnya Wili dan Wilo juga rewel kalau engga ada kamu,"kata Dimasta.
"Mas, kamu apa-apaan si!" kata Suci.
"Udahlah ini masih pagi, jangan nyari ribut didepan anak-anak aku! Qiara akan ikut sama kita," kata Dimasta.
♥️♥️♥️
Jangan Lupa dukung terus novel ini dengan cara Like terus ya🙏
memang ya pelakor semakin di depan
cerita enak' di baca
pisah adalah jalan yang terbaik.
yang menabur benih kejahatan dia juga yang menuai hasilnya siapa yg berselingkuh dia juga yg nemuin kehancuran dihidupnya.