Akibat pernikahan paksa dan kesalahan satu malamnya dengan wanita lain membuat rumah tangga Sandi Prayoga dan Aulia Permata menjadi semakin tak terarah.
Keteguhan iman dan kesabaran hati Aulia harus diuji ketika mendapati perselingkuhan sang suami dengan kekasihnya yaitu Renata Putri hingga membuatnya hamil.
Disaat rasa cinta Sandi untuk sang istri mulai tumbuh, dia harus bertanggung jawab terhadap anak yang di kandung oleh Renata.
Bagaimana kisah rumah tangga Sandi dan Aulia setelah kehadiran Renata? Dan siapakah yang akan di pilih oleh Sandi?
Pilih Aku, Suamiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navizaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 (Cinta Sendiri)
Happy Reading 😊
Adam berjalan ke arah ruang kerjanya, berusaha menahan hati yang bergejolak menahan rasa sakit yang dalam karena harus merelakan gadis yang di cintainya selama ini.
Dari arah berlawanan terlihat dokter Fitria menatap pria yang beberapa bulan ini selalu memenuhi hatinya itu sedang berjalan ke arahnya dengan pandangan kosong.
"Dokter Adam, apa anda baik-baik saja?" Sapa dokter Fitria saat mereka hampir berpapasan.
Adam menghentikan langkahnya ketika di sapa oleh Fitria dengan senyum khasnya. Adam sedikit terkejut ketika Fitria bertanya seperti itu padanya.
"Dokter Fitria, saya tidak apa-apa, apa menurut anda saya terlihat berbeda." Jawab Adam terkekeh.
"Tidak, maksud saya iya, tadi anda berjalan dengan pandangan kosong lurus ke depan, jadi saya pikir anda sedang ada masalah." Ucap Fitria tersenyum.
"Oh, itu, aku hanya sedikit memikirkan keadaan beberapa pasien yang sedikit buruk kondisinya." Jawab Dokter Adam.
Dokter Fitria hanya mengangguk, kemudian dia kembali akan bertanya tapi ia urungkan setelah melihat Adam mendapatkan panggilan telepon.
"Maaf, saya mau mengangkat telepon dulu." Dokter Fitria mengiyakan.
"Halo, emmm,, baiklah,," Adam berlalu meninggalkan gadis itu sambil berbicara dengan seseorang di balik telepon.
'Apakah dokter Adam sudah memiliki kekasih?' batin Fitria.
Sepertinya dia akan patah hati kalau sampai pria pujaan hatinya itu memiliki seorang kekasih. Bahkan gadis itu berfikir kalau mungkin dokter Adam tidak tertarik padanya.
Menyukai seseorang tanpa bisa mendapatkan balasan itu sangatlah sakit, apalagi wanita seperti Fitria yang sangat sulit untuk bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ya, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu memang tipe yang tidak bisa sembarang jatuh cinta pada pria-pria tampan yang berkeliaran di sekitarnya.
Fitri memang cantik, banyak pria yang ingin mendapatkan balasan cintanya, tetapi belum ada seorang pria pun yang berhasil mencuri hati wanita berhijab itu.
Adam adalah laki-laki pertama yang berhasil merebut perhatiannya, tetapi nyatanya cintanya seperti bertepuk sebelah tangan.
Fitria merasa bahwa Adam memiliki wanita lain yang sudah ada di dalam hatinya.
'Apakah aku harus mundur sebelum berperang?'
'Tapi bagaimana kalau ternyata Adam masih single? Bolehkan Fitria berusaha untuk mendapatkan hati Adam?? Entahlah hanya Tuhan yang tahu.
Saat ini Sandi merasa keadaannya menjadi lebih baik, kesehatannya juga sudah pulih, apalagi selalu mendapatkan mood booster dari gadis cantik yang saat ini sudah menjadi istrinya.
Sandi merasa Tuhan begitu baik kepadanya dan ia sangat bersyukur bisa memiliki Aulia sebagai istrinya yang benar-benar tulus padanya.
Aulia baru saja menutup mushaf Al-Qur'an yang selalu iya bawa kemanapun apalagi saat Sandi di rawat di rumah sakit.
Al-Qur'an itu berukuran kecil dan ada terjemahannya, biasanya di sebut sebagai tafsir atau Al-Qur'an terjemah. Tidak lupa juga dengan mukena yang selalu menghiasi tasnya yang tidak terlalu besar itu.
"Mas, Lia mau mengatakan sesuatu." Ucap Aulia ke arah sang suami yang beberapa hari lalu pernah ia gugat itu.
"Mau mengatakan apa sayang?" Tanya Sandi tersenyum lebar perlihatkan daratan gigi putihnya.
"Tiga minggu yang lalu, aku telah mendaftarkan rancanganku yang bertema busana pengantin muslimah ke acara fashion show yang ada di kota Jogja ini." Sandi masih menyimak.
"Alhamdulillah mas, ternyata hasil desainku itu bisa masuk juara umum,, padahal aku sama sekali tidak berharap lebih, apalagi aku tidak bisa menghadiri malam puncak acara penjurian itu." Ucap Aulia dengan mata yang berbinar.
"Alhamdulillah ya Allah, selamat ya, sayang.. aku tidak menyangka ternyata istriku ini benar-benar wanita yang hebat, mas sangat bangga padamu, sayang." Jawab Sandi membelai pipi mulus istrinya itu.
Tiba-tiba ponsel Aulia bergetar. "Sebentar mas,, Aulia mau mengangkat telepon dulu." Aulia melihat layar siapa yang meneleponnya.
"Mas Evan." Gumam Aulia ketika melihat nama yang sedang menelponnya. Kemudian gadis itu segera mengangkatnya.
Sandi mendengar bahwa Aulia menyebut nama seorang pria ketika ia melihat di layar ponsel. Hatinya sedikit tidak rela ketika Aulia memanggil pria lain dengan sebutan 'Mas' seperti Aulia memanggil dirinya.
"Oh, iya mas, terima kasih banyak ya,, nanti malam saya akan datang ke sana."
Setelah itu Aulia menutup panggilan teleponnya.
"Siapa yang menelpon, sayang?" Tanya Sandi memicingkan matanya.
"Oh,, itu tadi mas Evan, dia adalah salah satu panitia acara fashion show dan mengatakan bahwa aku harus pergi ke Grand Ambarrukmo malam ini." Ucap Aulia biasa saja, tanpa ia sadari ada seseorang yang hatinya memanas hanya karena mengatakan akan menemuinya di sebuah hotel.
"Kenapa harus menemuinya segala sih, aku nggak mau ya, ditinggal malam ini sama istriku apalagi bertemu dengan seorang pria tanpa diriku." Aulia sedikit melotot ketika mendengar logat suaminya yang terlihat seperti sedang cemburu.
"Tentu saja aku harus minta izin darimu dulu mas sebelum aku pergi, ya meskipun aku sudah menyetujui untuk bertemu dengan mas Evan, tapi tentu saja aku tetap harus minta izin padamu dulu." Jawab Aulia membuat telinga Sandi semakin panas.
Entah Aulia peka atau tidak bahwa suaminya itu sudah terlihat seperti kepiting rebus yang memerah wajahnya menahan amarah.
"Aulia, aku ingin panggilan-mu untuk-ku di ganti saja." Ucap Sandi dengan nada yang tegas.
Aulian sampai terkejut melihat ketegasan sang suami dengan mata yang menatap tajam ke arahnya.
'Mas Sandi kenapa ya?? kenapa tiba-tiba dia terlihat berbeda dan lebih menyeramkan?' Batin Aulia.
"Memangnya Aulia harus memanggil mas Sandi dengan sebutan apa?" Aulia bertanya sambil mengerjabkan matanya. Bulu mata lentik itu bergerak naik turun hingga membuat Sandi luluh.
'Cantik sekali istriku ini'
Sandi berdehem sebentar sebelum menjawab. "Mulai saat ini kamu harus manggil mas dengan sebutan sayang, dan mas juga akan memanggilmu sayang, sepertinya itu lebih cocok untuk kita, sayang."
"Hah??" Aulia melongo.
Kenapa tiba-tiba suaminya itu bertingkah aneh, sampai sebutan harus di permasalahkan.
"Memangnya kenapa mas, eh sayang?" Aulia reflek ketika Sandi langsung melotot tajam ke arahnya.
"Aku tidak suka kalau sebutan untukku juga kamu pakai untuk menyebutkan pria lain."
Aulia tambah melongo bahkan bibirnya yang sudah membentuk seperti huruf O.
'Duh, makin gemes aku yank.'
Bersambung