NovelToon NovelToon
Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Anak Yatim Piatu / Identitas Tersembunyi / Dokter / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: mbu'na Banafsha

Blurb :

Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.

Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.

Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Restoran Mewah

"Aku bayar dulu di kasir, ya. Kamu tunggu di mobil. Ini kunci, kamu buka sendiri." Luthfie melempar tiba-tiba kunci mobil, membuat Shasha kelabakan menangkapnya.

"Kartunya, Kak." Shasha merogoh kartu debit yang ia selipkan di tas selempang. Namun, Luthfie sudah berjalan menuju antrean kasir.

"Kamu pegang kartu itu. Mulai sekarang jangan lupakan tanggal lahirmu."

"Apa hubungannya, tanggal lahirku sama kartu ini?" gumam Shasha sambil memasukkan kembali kartu itu ke dalam tas. Dia akan mengembalikannya setelah tiba di rumah. Beberapa saat kemudian, Rena keluar dari area kasir setelah melakukan pembayaran. Dia selesai lebih cepat karena masuk antrean sejak Luthfie mengubah isi belanjaan Shasha.

"Abis ini, Kak Rena mau ke mana? Masih ada urusan, atau mau langsung pulang?"

"Langsung pulang keknya. Gak tahan pengen mandi," jawab Rena seraya mencium bau tubuhnya.

"Ya udah, yuk. Pulang bareng aku." Shasha menggandeng tangan Rena sambil melangkah menuju parkiran.

"Ngerepotin, gak, nih?" tanya Rena malu-malu.

"Gitu doang mah, gak ngerepotin. Kalau Kakak minta aku gendong, baru ngerepotin."

"Hahaha! Kamu bisa bercanda juga, Sha? Kamu lucu." Rena tergelak. Sampai mereka tiba di parkiran, mereka menunggu di dalam mobil. Akan tetapi, lima belas menit kemudian, Shasha keluar setelah dia melihat Luthfie kerepotan Mambawa banyak belanjaan.

"Berat, ya, Kak? Banyak banget belanjaannya. Kamu tambahin, ya?" Shasha sudah berdiri di belakang, bersiap membukakan pintu bagasi.

"Bukan cuma ditambahin, ini namanya diganti semua," ketusnya membuat Shasha mengangkat bahu sambil mengernyit.

Luthfie menutup kembali pintu bagasi setelah belanjaan masuk semua. Dia tak merespon ucapan Shasha ketika ia mengatakan bahwa dirinya akan duduk di belakang menemani Rena. Lelaki itu hanya menoleh sekilas ke belakang sebelum melajukan mobilnya. Dalam jarak satu kilo meter, dia berhenti di depan resto ternama di kawasan itu.

"Kok, berhenti di sini?"

"Makan dulu."

"Kenapa makan di sini? Bisa cari tempat lain, gak?" Shasha tidak suka dengan tempat mewah seperti ini. Sama sekali tidak terbiasa.

"Nyari tempat lain?" Luthfie menatap sekeliling. "Nanti keburu laper," imbuhnya sambil bergegas turun, setelah membuka seatbelt. Dia menunggu Shasha yang masih enggan makan di tempat seperti itu.

"Aku lebih suka makan masakan sendiri, Kak. Aku kan pinter masak." Gadis itu bersikeras karena dia pikir, terlalu banyak pengeluaran Luthfie seharian ini. Belum lagi harus bayar sewa mobil yang mereka pakai.

"Udah cape begini, mana ada tenaga buat masak. Ayo turun dulu." Luthfie membukakan pintu mobil dan menarik tangan Shasha.

"I-iya. Tapi makannya dikit aja, ya. Di sini mahal, loh. Nanti uangmu abis."

Luthfie hanya mengangguk demi membuat Shasha turun untuk makan.

"Di tempat seperti ini, makanannya gak enak. Harganya aja yang selangit." Shasha masih menatap sekeliling restoran yang selama dia tinggal di kota ini, hanya mampu melewatinya saja.

"Enak, kok, Sha. Aku sering makan di sini," sahut Rena yang ikut turun dari mobil.

"Mahal dikit gapapa, aku punya kartu diskon. Kalian duduk di sebelah sana. Kamu pesan makanan apa aja. Terserah." Luthfie menunjuk meja kosong yang biasanya diperuntukkan bagi tamu spesial di restoran ini. "Aku ke toilet sebentar."

"Aku boleh pilih sendiri makanannya? Apa nanti gak salah lagi?"

"Aku dah kasih tau, makanan apa yang boleh dan tidak. Masa harus diulang-ulang."

Setelah, Shasha dan Rena benar-benar masuk dan duduk di kursi yang ia tunjuk, Luthfie benar-benar pergi ke toilet yang ada di bagian dalam. Ada beberapa hal yang harus dia lakukan di tempat ini. Sementara Rena, semakin penasaran dengan sosok Luthfie yang begitu baik memperlakukan Shasha.

"Kamu sama dokter Luthfie akrab banget, ya, Sha. Sampe dia atur makanan buat kamu."

"Gak seakrab itu, Kak. Dia emang baik sama semua pasiennya."

"Kamu pasien? Kakak gak pernah tau kamu sakit." Rena menatap penasaran.

"Maksudku, Kak Luthfie

selalu memperlakukan aku seperti pasien, padahal aku gak sakit," jawabnya sambil tergelak. Beberapa menit kemudian, Luthfie datang. Dia memesankan banyak makanan. Akan tetapi, Shasha nampak tidak berselera. Alih-alih menghabiskan makanan, Shasha hanya menatap hidangan sebanyak itu karena tak ada satu pun yang pas dengan seleranya.

"Makan aja. Gak usah mikirin gimana bayarnya, aku bisa ngutang, kok. Bayarnya besok-besok." Luthfie asik mengunyah makanan sambil melirik Shasha sesekali. Ucapan Luthfie kembali memancing tawa Shasha karena terdengar konyol.

"Ngaco! Mana ada ngutang di restoran berbintang? Dikira restoran milik nenek moyangmu, ya, Kak?"

"Tapi makanannya sudah dipesan. Sayang banget kalau gak diabisin, Mubazir," timpal Luthfie datar.

Dipaksa bagaimana pun, Shasha tidak bisa memakannya. Dia mengaku lebih suka nasi goreng di tempat langganan mereka. Atau makanan sederhana yang dia masak sendiri di rumah.

"Di sini mana ada makanan seperti itu. Tanya aja sama pelayan."

"Padahal makanan nya enak-enak, lho Sha. Ini semua makanan favorite-ku." Mata Rena selalu berbinar sejak makanan mahal itu dihidangkan di atas meja.

"Lidahku gak cocok sama makanan ini kali, ya. Kalian ajalah yang makan."

"Ya udah, pulang sekarang aja kalau gak mau makan." Luthfie menatap jam tangannya. " Nanti aku belikan makanan lain buat kamu biar makan di rumah."

Tanpa berdebat, mereka bertiga pun kembali ke mobil. Meskipun Shasha mau menunggu sampai mereka menyelesaikan makan, tetapi Luthfie tidak suka jika Shasha hanya duduk menunggu. Terlebih, hari sudah semakin sore.

"Duduk di depan, ya, Na." Luthfie sudah membukakan pintu depan. Sebelum Shasha menolak, lelaki itu sudah mendorong dan memaksanya masuk.

Sesekali, Shasha menoleh ke belakang karena Rena duduk sendiri di sana. Kaki Shasha tak sengaja menyentuh sebuah paperbag yang diletakkan di depan kakinya. Spontan ia bertanya karena hampir menginjaknya benda itu tak sengaja.

"Apa ini, Kak? Kenapa taro di bawah, sih?" Shasha mengangkat bungkusan tersebut.

"Oh. Itu buat kamu," ucap Luthfie setelah melirik sekilas lalu fokus mengemudi.

"Buat aku? Apaan, sih, ini?" Dia membuka sambil mengeluarkan isinya.

"Cuma seragam baru. Coba lihat ukurannya, pas, gak?"

Awalnya, Shasha heran. Kenapa harus seragam baru, padahal seragamnya yang dulu masih bagus. Setelah dia sadar, senyumnya nampak melebar. Tidak terpikir olehnya akan membutuhkan seragam panjang yang lebih tertutup dengan jilbab putih polos khusus anak sekolah.

Rena lebih banyak diam melihat keakraban Shasha dengan Luthfie. Di dalam mobil seperti hanya ada mereka berdua karena obrolannya cukup mendominasi. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka tiba di rumah.

"Aahhh ... home sweet home ...," ucap Shasha sambil menggeliatkan tubuhnya lalu membuka pintu mobil. Dia tak sabar ingin beristirahat di dalam rumah.

Sementara Luthfie segera membuka bagasi dan mengeluarkan barang-barang belanjaannya.

"Kunci rumah di mana, Kak?"

"Tolong kamu ambil di saku celanaku." mata Luthfie mengarah pada saku celana karena tangannya begitu repot dengan belanjaan.

"Hhaah?! Gak mau ah, ambil sendiri aja pake tanganmu." Shasha bergidik sambil memalingkan wajah.

"Gak lihat, ya, aku bawa belanjaan?"

"I-iya, tapi aku gak mau."

"Banana ... please. Ini berat banget. Kalau aku taro dulu, nanti susah lagi ngangkatnya."

"Ck! Akh! Gimana, sih? Masa tanganku masuk ke sana?"

Luthfie memberi isyarat supaya Shasha tidak membuang waktu. Akhirnya, dengan terpaksa gadis itu merogoh kunci ke dalam saku celana Luthfie. Sementara Luthfie hanya melirik dengan sudut matanya sambil menepikan senyum kecil. Hampir lupa di dekat mereka ada Rena yang masih berdiri menunggu.

"Ya udah. Saya juga mau masuk rumah. Makasih traktiran sama tumpangannya, ya." Rena sempatkan melirik Luthfie sambil menunjuk rumahnya. "Oh ya, Kak Luthfie, rumah saya di sana," terangnya dengan senyum yang menawan.

Luthfie hanya tersenyum sambil mengangguk lalu masuk setelah Shasha memutar anak kunci.

BERSAMBUNG...

1
albyan
hadir membaca baru nih
albyan: yahh si dia..huum ini😁
total 2 replies
anna
entah lah, sudah kali ke berapa yg ku baca, belum bisa move on dari cerita mu ini Thor 😅
Ryana Ana
assalamualaikum mbu..apa kbr ny... aku mengulang membaca lgi... dan ini sudah kesekian kali ny aku baca..dan tetep aja aku senyam senyum membaca.. " kita mau tunangan apa konser sih sbnr ny?"
ᴹᴮ𝓕𝓐𝓜✿𝔐𝔟𝔲𝔫𝔞: Waalaikumussalam.
Terima kasih sudah baca ulang novel ini. 🙏😘
total 1 replies
Anonimous
👍👍👍
Memyr 67
tidak ada zidan dan junaedi di "terjebak cinta polisi"
Memyr 67
akad nikah langka. mahar setengah gelas air putih
Memyr 67
boomerangnya seperti apa? nggak kebaca?
Memyr 67
kok nggak ada keterangn. alasan tante mira menyewakan rumah sasha. dan kemana uang sewa rumah keponakannya? nggak jelas gini ya?
Memyr 67
memang bodoh itu banana. kenapa nggak dilaporin ke kakaknya, zidan? kelakuan sadis tante mira?
Rosmawati/jnr
Bagus
Indri Ani40
awal cerita kynya seru👌👌👌
Samsuna
maharnya Laen dr yg Laen 😂luar binasa😂🤭
Yani Ladutana
gimana dengan mimin siapa suaminya
Yani Ladutana
langsung lamar aja
Yani Ladutana
janju ciritanya bagus
Yani Ladutana
ceritanya bagus
Yani Ladutana
kerkini bangat
Yani Ladutana
kirkin
Yani Ladutana
tante tidak baik
Yani Ladutana
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!