NovelToon NovelToon
Lelakimu

Lelakimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Dikelilingi wanita cantik / Cinta beda status / Tamat
Popularitas:154.3k
Nilai: 5
Nama Author: syafridawati

Dylan pemuda berhati luhur, baik, polos juga tampan. Ia memiliki kepintaran yang luar biasa juga hobbi yang suka berganti-ganti mengikuti mood-nya. Dylan juga tidak pernah membanggakan diri sebagai putra konglomerat.

Karena suatu skandal ia di buang papanya ke daerah terisolir jauh dari kata modern sebagai hukuman, ia hanya boleh kembali bila ia sudah berhasil.

Di dusun ini Dylan bertemu gadis cantik yang bernama Lili seorang guru yang mengabdikan diri di pedalaman, Lili tunangan Defri Kakak sepupu Dylan yang sudah meninggal. Hingga karena suatu kesalahpahaman keduanya menikah, tanpa cinta.

Ayu seorang gadis cantik putri seorang pria terkaya di dusun sangat membenci Lili dan terobsesi dengan Dylan. Ayu dan komplotannya berusaha menghancurkan rumah tangga Dylan dan Lili.

Mampukah Dylan menjadi seorang lelaki yang penuh kasih dan tanggung jawab? Untuk Lili, papa dan penduduk dusun.
Mampukah Dylan meraih cinta, kehormatan dan kepercayaan....

Nb: Maaf jika banyak kesalahan, karena saya baru mencoba untuk menulis.
Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi di balik pernikahan

Pernikahan Ayu dan Madar digelar meriah, seluruh warga berkumpul di kediaman Rawin, pesta pora tiga hari tiga malam benar-benar pertama kali terjadi di Dusun Puak. Seluruh rumah warga kosong, yang tinggal hanyalah Lili seorang diri.

"Alhamdulilah akhirnya Ayu menikah juga, semoga mereka bahagia. Madar ... siapa pemuda itu?" batin Lili.

Lili hanya beberapa kali melihatnya dan tidak pernah bertegur sapa, ia juga tidak mengenal ataupun mengetahui dengan jelas siapa pria tersebut. Ia tahu nama Madar karena pria itu pernah membeli hasil tangkapan kerang Bu Romlah ibunya Anisah Putri salah satu muridnya.

Beberapa tahun lalu ....

"Hanya ini hasil tangkapan saya Bang Madar, saat sekarang badai sedang banyak apa lagi bulan sedang terang jadi, sedikit kerang yang bisa saya hasilkan. Maaf saya belum bisa melunasi hutang saya?" Bu Romlah mengiba.

Pria bernama Madar itu hanya diam, menimbang semua hasil tangkapan Bu Romlah dan membayarnya.

Pria bernama Madar itu hanya menatap Lili lama dan berlalu.

"Siapa pria itu Bu?" tanya Lili, ada secuil rasa takut di batinnya.

"Dia Madar, rumahnya di tebing. Dia pembeli hasil tangkapan saya Bu Guru, ayo masuk Bu!" ucap Bu Romlah.

"Apakah Ibu berhutang banyak kepada pria itu?" tanya Lili kembali ia takut akan terjadi apa pun kepada seorang janda dan anak yatimnya.

"Tidak Bu, dia pria yang baik. Dia akan memotong hasil tangkapan kerangku bila hasilnya banyak. Kalau sedikit dia tidak pernah memotongnya, hanya saja sikapnya memang sangat dingin seperti itu." Bu Romlah menjelaskan, Lili sedikit lega.

Kenangan berganti ....

Saat Lili dan Mak Upik ke ladang menanam jagung dan ubi jalar, Madar melintasi ladang mereka membawa sebuah karung di pundaknya. Mereka saling bertatap muka, pria yang bernama Madar itu melihat Lili sedang kesulitan memperbaiki cangkulnya yang sedang rusak. Tanpa banyak bicara Madar memperbaikinya dan meninggalkan mereka, " Terima kasih! Makanlah dulu, Nak?" tawar Mak Upik akan tetapi pria itu hanya menoleh sekilas dan berlalu melintasi semak yang berduri meninggalkan mereka.

Kenangan lain lagi ....

Lili dan Mak Upik berboncengan dengan mengendarai sepeda ontel ke tepi pantai, mereka melihat Madar sedang terjun bebas dari atas tebing ke laut yang dalam.

Jantung Mak upik dan Lili hampir copot, mereka tertegun dan terkesiap.

"Mak apakah pria itu bunuh diri?" tanya Lili tidak percaya.

"Emak tidak tahu, Ayo kita lihat!" balas Mak Upik.

Lili dan Mak Upik ingin berlari namun, seketika mereka menghentikan langkahnya. Pria yang bernama Madar itu mencul ke permukaan laut dengan berenang ke tengah lautan dengan cepatnya, dengan membawa sesuatu. Entah apa yang ia bawa, Mak upik dan Lili saling pandang lega dan kembali ke tempat semula.

**

Lili termenung mengingat kenangan demi kenangan tentang Madar, warga Puak menganggap Madar antara ada dan tiada. Tak seorang pun yang benar-benar mengenal siapa sebenarnya Madar? selain pembeli kerang dan hasil tangkapan nelayan, warga pun tidak tahu di mana Madar menjual hasil pembeliannya warga menjulukinya," Hantu Penunggu Tebing" karena sikap dingin dan tertutupnya dari warga.

Krriieett ....

Pintu depan terbuka, "Mak, Abang ....!" panggil Lili namun, tiada jawaban.

"Bang Ucok! Emak!" Lili memanggil dan terus memanggil tetap tiada jawaban.

Lili mencoba turun dari tempat tidur, melangkah berlahan ia membuka pintu kamarnya, "Aaaaaaa!" teriak Lili saat sebuah tangan kekar menjambak rambutnya yang tergerai panjang, Lili mencoba memegang tangan yang menjambak rambutnya. Pria itu terus menyeret Lili di lantai rumah, " Lepaskan! Tolong lepaskan aku! Kasihanilah bayiku!" pria itu tidak melepaskan Lili, ia semangkin kuat menyeret Lili dan mendorong Lili sekuatnya ke lantai.

Bruuuk!

"Aakkhh! Perutku, bayiku! Tidak, jangan sakiti anakku? Kumohon?" Lili terus menangis dan mengiba, Lili melihat seorang pria bertopeng mendekatinya. Lili beringsut menjauh, berusaha melindungi perutnya.

Plak! Plak! Plak!

Berulang-ulang pria itu menampar dan menendang perut Lili hingga Lili pingsan pria bertopeng itu pun pergi tanpa belas kasihan darah mulai merembes dari sela kedua belah paha Lili dan bibirnya.

Sementara Dylan dan Mak Upik gelisah, Rawin terus saja menyuguhkan hidangan dan meminta tolong pada Mak Upik untuk memberikan sekapur sirih kepada pengantin dan banyak hal lainnya.

"Mak aku pulang dulu, kasihan Lili! " ucap Dylan.

"Emak juga mau pulang, ayolah!"

Akhirnya keduanya pulang, Dylan sedikit ngebut mengendarai sepeda motornya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Lili.

Sesampainya di rumah, Dylan dan Mak Upik terkejut, pintu rumah terbuka.

"Mak, bukankah tadi kita mengunci pintu Mak?"

"Iya Emak yang menguncinya!"

Dylan berlari menaiki tangga dengan tergesa, begitu juga dengan Mak Upik.

"Lili!" Dylan menghampiri Lili yang sedang pingsan, bermandikan darahnya sendiri.

"Sayang, sayangku. Ayo bangun! Jangan tinggalkan aku!" teriak Dyalan histeris, "Darah ....!" tangannya memegang darah hangat di sekujur tubuh Lili.

Mak upik jatuh terduduk, ia tidak menyangka Lili yang sudah dianggap putrinya akan mengalami tragedi mengenaskan ini.

" Ya Allah yang Maha Melihat, siapakah yang sudah berbuat jahat kepada putriku? Cukup sudah Engkau ambil anak-anaku jangan lagi Lili kumohon" tangisnya.

"Mak bagaimana ini Mak?" Dylan hilang akal.

"Ayo kita bawa ke Bidan Naijam!" Mak Upik bangkit begitu juga Dylan yang langsung membopong Lili.

Dylan tidak peduli jarak tempuh antara rumah Mak Upik dan Bidan Naijam, ia terus berlari di belakangnya Mak Upik terseok-seok dengan rentanya mengikuti Dylan, ia lupa bahwa ia sudah tua hanya semangatnyalah yang menginginkan anak dan cucunya selamat.

Sesampainya di rumah Bidan Naijam, sang bidan terkejut langsung memeriksa Lili, memberikan infus penambah darah dan memeriksa kandungannya. Ia menarik napas lega, bayinya masih selamat hanya saja kritis.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Cok?" tanya Naijam dengan marah.

"A-aku tidak tahu Bu, aku dan Emak pergi ke pesta Pak Rawin begitu pulang kondisi Lili seperti ini." Dylan begitu bingung.

"Naijam, apa yang dikatakan Ucok benar adanya?" Mak Upik sudah terduduk di lantai rumah Bidan Naijam dengan napas yang masih tersengal, sang bidan mengangsurkan segelas minuman kepada Mak Upik dan Dylan.

"Mari kita bicara di Luar saja! Biarkan perawat membersihkan darah yang menempel di tubuh Lili. Bayinya selamat hanya saja mereka berdua masih kritis, kita hanya bisa berdo'a meminta mukjizat dariNya kali ini Lili tidak boleh bergerak ataupun di tinggal sendiri. Tidak peduli! Apakah ia mau ke kamar mandi ataupun makan." Naijam menegaskan karena ia tahu sekali lagi Lili mengalami seperti ini, keduanya tidak akan selamat.

Mereka bertiga ke luar ruangan.

"Ucok apakah selama ini kamu punya musuh?" tanya sang Bidan.

"Musuh?" Dylan menggelengkan kepalanya. Ia berusaha di dalam hidupnya agar ia tidak memiliki seorang musuh pun di mana pun ia berada.

"Saya rasa saya tidak pernah memiliki musuh Bu! Memang ada apa bu?" Dylan penasaran.

Bidan Naijam menarik napas panjang,

"Sepertinya, ada yang ingin melukai Lili, di pipi dan di perutnya sedikit merah mungkin beberapa jam lagi akan membiru, kalau ia jatuh ia tidak akan mengalami beberapa tamparan di wajahnya, juga helaian rambut yang berguguran. Kalau prediksi ibu tidak salah, kita lihat di dalam beberapa jam lagi bila lebam-lebam itu ada, Lili sudah mengalami tindak kekerasan. Semoga saja tidak! Ya Allah puskesmas lama sekali di bangun!" umpat sang bidan menggerutu kembali ke ruangan Lili.

"Mak? Aku tidak punya musuh Mak! Siapa yang tega menyakiti anak dan istriku Mak?" Dylan menangis di pelukan Mak Upik begitu juga dengan Mak upik.

"Sabarlah, Nak! Setiap ujian pemberianNya pasti ada hikmahNya Nak." Mak Upik berusaha menghibur Dylan walaupun, ia sendiri butuh penghibur kala duka menyelimutinya. Hanyalah Dylan dan Lili yang selama ini di sisinya memberikan cinta dan kasih sayang dari seorang anak yang tidak pernah ia dapatkan. Keduanya menangis sesenggukkan.

**

Sementara Rawin begitu semangatnya menghisap pipa rokoknya, ia sudah membayangkan kabar berita bahagia yang akan ia peroleh.

Seorang pria masuk berpakaian serba hitam, membuka topengnya.

"Bagaimana tugas yang aku berikan Tony?" tanya Rawin.

"Sudah beres! Tinggal dengarkan saja beritanya besok." Ucap Tony.

"Nah! Seperti janjiku." Rawin melemparkan uang segepok seratus ribuan.

"Yang penting wanita itu tidak mati! Aku ingin menyiksa pasangan itu berlahan, hingga mereka menyesal pernah menginjakkan kakinya di Puak ini. Sekalian aku ingin, kau membakar sekolah SD itu." Perintah Rawin.

.

"Sekolah SD?" Tony tidak percaya, anaknya sangat suka bersekolah di situ, kalau tidak karena ia sudah terlalu banyak berhutang pada Rawin ia juga tidak tega melukai Lili yang sangat baik itu apa lagi anaknya sangat memuja guru itu.

"Mengapa kau takut? Aku tidak ingin ada sekolah apa pun di sini! Aku benci kepandaian mereka, aku tidak ingin Puak maju apa lagi penduduknya. Bila perlu aku akan menghancurkan Puak tak tersisa." Ucap Rawin.

"Apakah Tuan mau warga menjadi murka?" tanya Tony .

"Jangan sampai kau ketahuan bodoh! Percuma aku menggajimu besar, bila tak kau gunakan otakmu!" maki Rawin.

"Baiklah!" jawab Tony berat.

"Lakukan malam ini juga, di saat semua warga kelelahan dari pestaku. Ucok tidak akan pergi ke sekolah karena ia juga sedang hancur melihat anak dan istrinya."

"Bagaimana dengan warga perkebunan?" tanya Tony lagi.

"Kau memamang benar-benar bodoh! Bakar sekaligus semua gedung sekolah. Dengan begitu para warga perkebunan akan sulit memadamkan api, karena jarak tiap afdeling sangat jauh!" umpat Rawin.

"Baik Tuan!" Tony pun berlalu.

Bersambung ....

Terima kasih! Jangan lupa like, comen, hadiah dan vote-nya 😘🤗

1
Suyatno Galih
ceritanya kampung terisolir jadi heboh dg dtgnya toke sawit yg mau mbangun kampung, semangat
Vita Anggraini
ditunggu thor..... kelanjutannya okeeee
syafridawati: insya Allah kak
total 1 replies
Vita Anggraini
gank Kabir kreennn aku udah baca samai tamat happy ending.... pulau kematian
syafridawati: makasih kak
total 1 replies
Vita Anggraini
hahaha aku yg baca aja ketawa....
syafridawati: hahaha
total 1 replies
Vita Anggraini
papa Andrian kreeennn
syafridawati: ya aku juga suka kisah ini sebenarnya
total 1 replies
Vita Anggraini
kreennnn jln cetitanya
syafridawati: terima kasih kak, tapi itu pun nggak selesai season keduanya belum buat juga
total 1 replies
Vita Anggraini
edan Rawin
Tyara Lantobelo Simal
Lanjut Thor
menarik
syafridawati: mungkin suatu saat nanti aku buat sekuelnya. sekarang lagi sibuk
total 1 replies
Auditor
hm gk bisa brkata kata ih 😊
Hiatus
semangat kak
PanggilsajaKanjengRatu
Hy kak, yuk mampir di novel baruku "Lihat Aku, Dan buka Hatimu"
Nm@
"My Brother" hadir, Kak!
Juefioritah Fun Min Wah
semangat sis..saya like..
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
4 like+rate 5 dan komen sudah mendarat kaka😘😘
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
like
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
😍😘
𝔸𝕝𝕖𝕖𝕟𝕒 𝕄𝕒𝕣𝕊
Hai kaka, aleena mampir nih😍
Hiatus
aku mampir kak
Nona Kos Anjani
like😍
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
Tante kesayangan tuan muda mampir, semangat up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!