NovelToon NovelToon
Terlambat Sudah

Terlambat Sudah

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Contest / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: heni

Seorang perempuan yang berstatus istri, pastinya ingin di cinta sang suami. Tapi Takdir kehidupan Fidiya begitu unik. Mendapatkan suami, mendapat status social yang mapan, tapi tidak mendapatkan kedudukan di hati dan di mata suaminya.

Di mata seorang Ridwan, hanya ibunya dan kedua adiknya, sedikitpun dia tidak memandang Fidiya. Ridwan hanya mendengari apa kata kedua adiknya, dan hanya mendengari kemauan kedua adiknya. Tanpa mau tau apa mau wanita yang menjadi istrinya.

Saat Fidiya menyerah dengan takdirnya, dia dipertemukan dengan Fadlan, seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Ridwan sadar dari kebodohannya, datang dengan segala penyesalannya, meminta Fidiya kembali.

Bagaimana kehidupan Fidya, Fadlan, dan Ridwan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Fidiya merapikan map yang berserakan di atas meja itu. Melihat majikannya sudah berdiri, Fidiya segera menyimpan semuanya di rak tempat berkas yang lainnya tersimpan.

"Mau kemana setelah ini?" tanya Fidiya.

"Ke Restoran di pusat kota, setelah itu kita kembali ke rumah," jawab Nyonya Raya.

"Baik bu."

"Sebelum pergi, kita temui dulu para ikatan pengusaha muda yang melakukan rapat di sini. Sekadar memberi mereka semangat atas usaha mereka. Mereka adalah pengusaha-pengusaha kecil yang baru memulai, ada juga sudah lama, maka mereka memberi semangat pada yang baru merintis." Nyonya Raya berjalan lebih dulu, sedang Fidiya melangkah mengekori majikannya itu.

Dua orang yang berjaga di depan pintu langsung membuka pintu ruangan itu selebar-lebarnya saat Fidiya dan Nyonya Raya semakin dekat dengan pintu itu. Hingga Fidiya bisa melihat orang-orang yang ada di dalam ruangan sana. Seketika senyuman Fidiya lenyap, saat melihat laki-laki yang paling bodoh yang pernah ia temui, Ridwan.

"Bu ...." Fidiya menepuk lembut lengan Nyonya Raya.

"Bersikap biasa saja, jangan terlihat membencinya atau terlihat masih sayang dengannya." Nyonya Raya faham dengan apa yang Fidiya khawatirkan.

"Saya tidak sayang padanya, dulu saya hanya menghormati dia, karena dia imam dalam rumah tangga."

"Baguslah, bersikap biasa saja, kalau dia kurang ajar padamu, aku yang turun tangan," ucap Nyonya Raya.

Fidiya berulang kali menghela napasnya, agar terlihat lebih tenang menghadapi orang yang punya jantung tapi tak punya hati itu.

"Selamat siang semua," salam Nyonya Raya.

Seketika semua yang ada dalam ruangan itu langsung berdiri, menyambut seorang wanita yang sangat banyak membantu mereka.

"Selamat siang juga Nyonya."

Gemuruh suara itu terdengar.

"Asisten saya yang lama mengundurkan diri karena menikah, jadi perkenalkan ini Asisten pribadi saya yang baru, namanya Fidiya." Nyonya Raya memperkenalkan Fidiya pada semua orang.

Fidiya tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Disambut hangat oleh para pengusaha muda yang terbanyak kaum adam yang ada di sana.

"Sebentar lagi Nyonya pasti akan cari Asisten baru lagi, diperkirakan hitungan minggu wanita cantik ini akan ada yang mempersunting," goda salah satu pemuda yang ada di sana.

"Itu tidak mungkin, karena dia masih menjalani proses cerai," sela Nyonya Raya.

"Wah, wanita cantik gini dicerai, ck! ck! Bodoh banget tu orang."

Seketika wajah Ridwan geram, mendengar kalau laki-laki bodoh yang melepas Fidiya begitu saja.

"Hooh, kalau biniku begini, aku kekepin dah dalam rumah, gak aku izinin keluar rumah."

"Dek, minta nomer ponselnya boleh?"

Bermacam tanggapan pengusaha muda itu saat melihat Fidiya, Fidiya hanya menanggapinya dengan senyuman. Semua orang menyambut Fidiya begitu ramah dan terus tersenyum. Berbeda jauh dengan laki-laki yang sok cool itu.

"Bang Rid, nggak mau kenalan sama pegawai baru Nyonya Raya?" Seorang laki-laki yang berada di samping Ridwan menepuk bahunya.

"Bukan tipeku." Ridwan kembali fokus dengan berkas yang dia pegang, tidak menoleh kearah Fidiya.

"Oh iya, abang 'kan udah nikah."

Ridwan ingin mengatakan kalau dia duda, mengingat hanya sedikit saja yang tau dia menikah, Ridwan membatalkan niatnya untuk bicara.

"Sudah gombalnya, lagian Fidiya mau saya jodohkan dengan anak saya, sudah ... kubur saja harapan kalian untuk memiliki dia," ucap Nyonya Raya.

Seketika kedua bola mata Ridwan membulat sempurna. Ara dan Melly di tolak mentah-mentah oleh Fadlan, mantan istrinya malah akan di jodohkan dengan laki-laki impian kedua adiknya.

"Nyonya tidak salah?" sela Ridwan.

"Tidak salah, Fidiya wanita terbaik, saya sangat berterima kasih pada keluarga yang membawa Fidiya ke kota ini," jawab Nyonya Raya.

"Apa Fadlan mau menikahi dia?" Ridwan meng-isyarat kearah Fidiya dengan gerakan bola matanya.

"Tidak salah, bahkan dari awal Fadlan sudah terpesona padanya, tapi Fidiya menolak. Ternyata ... rezeki Fadlan sangat bagus, MANTAN suami Fidiya malah membuangnya begitu saja." Nyonya Raya sengaja mengucapkan kata 'Mantan' dengan penuh penekanan.

Terlihat Ridwan masih ingin mengajak wanita itu berdebat.

"Saya kemari untuk bahas bisnis kalian, bukan bahas cerita saya," ucap Nyonya Raya cepat, dia langsung mengajak bicara salah satu pengusaha muda yang ada di dekatnya.

Fidiya meraih kursi yang ada, dan duduk di sana sambil menyimak motivasi yang Nyonya Raya beri pada kaula muda yang mulai mengembangkan sayap untuk usaha mereka.

Selesai dengan kegiatan di Restoran itu, Fidiya dan Nyonya Raya langsung pergi dari sana, segera menuju Restoran yang lain, dengan tujuan yang sama, memeriksa perkembangan Restorannya, sekaligus mendengarkan tanggapan para pekerja yang bekerja di sana.

Melihat bagaimana Nyonya Raya, Fidiya sangat kagum, untuk seorang perempuan yang hampir berusia 60 tahun, Nyonya Raya masih sangat bugar.

Selesai survei di Restoran kedua, mobil yang mereka tumpangi langsung menuju kediaman Nyonya Raya. Perlahan mobil itu melewati gerbang yang menjulang tinggi, hingga berhenti tepat di depan pintu utama rumah itu.

"Mulai besok, kamu akan dijemput ke kost-an kamu. Kamu masih ingat bukan, tugas kamu apa?" Nyonya Raya memastikan.

"Ingat bu." Fidiya mengikuti langkah kaki wanita yang berjalan di depannya.

"Saya ini butuh teman ngobrol, menjadi Asisten saya, lebih tepatnya bekerja menjadi pendengar saya. Di usia saya yang tidak muda lagi begini, saya butuh teman. Fadlan ada di rumah kalau malam, sedang siang saya kesepian, makanya saya survei 2 atau 3 Restoran sehari, sisanya saya habiskan bersantai di rumah."

"Anak ibu, Tuan Fadlan seorang?" Fidiya bingung dengan kalimat apa yang tepat untuk bertanya.

"Iya, saya cuma dikasih satu, untung juga ada, daripada enggak."

"Maaf bu."

"Tidak perlu minta maaf, kamu nanya hal yang wajar kok."

Keduanya terus melangkah memasuki rumah besar itu, hingga mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

"Fadlan itu, sudah 33 tahun, masih saja setia membujang, alasan dia belum ada wanita yang membuat dia jatuh hati." Nyonya Raya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang empuk.

"Kenapa ibu tidak jodohkan saja? Ridwan saja menikahi saya karena permintaan ibunya, sedang dalam hidupnya sudah dipastikan tidak ada tempat bagi wanita lain, selain si trio itu."

"Pernikahan itu Fadlan yang menjalani, bukan saya. Biarkan dia memilih sendiri pasangan hidupnya."

"Anda ibu yang luar biasa." Fidiya tersenyum memandangi wajah majikannya.

Fidiya teringat akan drama yang majikannya lakukan saat bertemu Ridwan, hal itu sangat membuatnya tidak nyaman. "Bu ...." panggil Fidiya.

"Iya."

"Kenapa ibu bilang Tuan dijodohkan dengan saya, jujur saya risih bu. Sebagai wanita yang belum di talaq ini sangat tidak nyaman bu, wanita yang sudah menjanda saja tidak boleh menerima lamaran jika iddahnya belum sampai, lah saya? Harga diri saya rasanya kembali tergadai bu." Kekecewaan jelas terlihat di wajah Fidiya.

"Maaf, drama ini sudah di atur oleh sahabat anak saya. Fadlan juga turut andil melakukan semua ini, dia ingin membuat nama sahabatnya kembali bersih."

"Drama sahabat Tuan, sama aja sama drama yang diatur kak El."

"Elvina sahabat Fadlan."

Degggg!

Fidiya sungguh terkejut menyadari kalau Elvina wanita yang ingin dibantu Fadlan.

Nyonya Raya menceritakan tentang persahabatan Fadlan dan Elvina, tidak banyak yang tau tentang persahabatan keduanya.

Nyonya Raya juga menceritakan bagaimana El jatuh cinta pada Ridwan, hingga menikahi laki-laki itu.

Cerita hal itu Fidiya mengetahui sedikit, saat bertemu dengan El dulu.

"Keinginan Fadlan, Ridwan mengakui pernikahannya dan El dulu, hanya itu."

Fidiya meraih tangan wanita itu. "Saya akan bantu semampu saya," tekad Fidiya.

1
Ummi Na Ssya
tega banget ih....amit2
Ummi Na Ssya
kalo di reallife ada gak laki kaya gitu?
Ummi Na Ssya
apa laki2 rata2 suka wanita karena enak di pandang????
Diah Ratna
erlanz adalah fadlan
rain03
❤️❤️❤️❤️❤️
Sulaiman Efendy
SEKARANG RASAKAN MMANEN BUAH BUSUK YG KAU TANAM..
IDA WILDAKHRINI
ceritanya asyik.. setiap masalah solusinya bagus banget jd ga bikin pembaca naik pitam, seperti cerita diana permata dari desa semoga cerita berikutnya lebih seru lg
Chelsea Aulia
Kehancuran seorang nadine
Chelsea Aulia
Nadine merasa kesindir g tuch
Tatiraihan
terimakasih atas karya hebat ini, keren 👍👍👍👍👍
ρuʝi ¢ᖱ'D⃤ ̐🌻
astaga, pengen ketawa liat tingkah Fadlan yang malu-malu 🤣🤣🤣
Tatiraihan
keren.... alurnya g tetduga bgt, baru x ini baca novel yg berbeda dr yg biasa ad pemaksaannya👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌷🌷🌷🌷🌷
Dewa Nara
katanya gak punya hp malanya dikasih hp sama elvina
Dewa Nara
kok senandung thor? senandung kan lagu ya
Dewa Nara
fidiya hanya utk pelampiasan
Dewa Nara
ada apa, kenapa fariz kacau
Istiqomah
Thor knp Fadlan meninggal gax asik pemeran utama mati
Zuraida Zuraida
heran gua, ceo kok goblok
Zuraida Zuraida
keluarga gila
Tuti Dwie
rasain Lo Ridwan gembel gembel Lo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!