Terlambat Sudah
Menerima pernikahan ini, tidak ada jaminan bahagia. Namun, menolak pernikahan ini, hanya membuatnya hidupnya semakin susah. Laki-laki bernama Barim itu hanya uang dan uang, dia tidak perduli siapapun. Daripada Fidiya menikah dengan pemuda pemabuk teman-teman pamannya, lebih baik dirinya meng-iyakan lamaran yang datang. Agar bisa jauh dari laki-laki yang dia panggil paman itu. Menolak lamaran itu juga tidak bisa, paman Barim terlihat sangat menginginkan pernikahan ini terjadi, Fidiya menolak atau menerima, pernikahan itu juga pasti akan terjadi.
Seminggu berlalu. Resepsi sederhana pun diselenggarakan.
Kebaya putih itu membalut tubuh kecil itu, lengkap dengan konde juga bunga melati yang menghiasi kepalanya. Saat ini dia sudah mengenakan kebaya pengantin.
Fidiya masih menganggap semua ini mimpi, kenapa begitu mudah seorang pengusaha pabrik textil yang bernama Ridwan Renardi menjatuhkan pilihan pada dirinya untuk menjadi calon istrinya. Tapi, ini bukan mimpi.
Tas jinjing yang berisi pakaiannya ada di dekatnya. Setelah acara selesai, dirinya akan mengikuti keluarga barunya.
Fidiya berulang kali menghela napasnya, berusaha menguatkan dirinya. Dia tidak memiliki keberanian untuk menolak lamaran ini, hanya harapan yang menguatkan Fidiya. Semoga tidak ada Barim yang lain di tempat tinggal suaminya nanti.
Selain pamannya yang tidak punya hati itu, Fidiya juga tidak berdaya untuk menolak lamaran yang datang. Yang kaya yang berkuasa, sedang dirinya hanya gadis miskin yatim piatu yang selama ini hanya hidup bersama neneknya. Tapi, wanita yang begitu berjasa bagi hidup Fidiya sudah istirahat di bawah batu nisan yang bertuliskan nama wanita tua tersebut.
Rasanya Fidiya sudah putus asa, keluarga yang sayang padanya juga tidak ada di desa ini, hanya keluarga sahabatnya yang terasa menyayangi dirinya.
Paman Barim, hanya memiliki ikatan darah dengannya, tapi tidak pernah perduli padanya. Dengan menikahkan Fidiya, pastinya rumah neneknya yang selama ini Fidiya tempati, akan menjadi milik pamannya yang serakah itu. Barim juga yang paling bahagia atas pernikahan Fidiya ini.
Fidiya menatap lekat pantulan dirinya yang ada pada cermin yang ada tepat di depannya. Sungguh tidak percaya kalau itu dirinya, memakai lipstik saja tidak pernah, cukup taburan bedak bayi yang sehari-hari dia pakai untung merias wajah ala dirinya.
Tok! tok tok!
Suara ketukan pintu, menyadarkan Fidiya dari lamunannya, perlahan pintu itu terbuka.
"Fidiya ...." Gadis cantik itu berusaha menahan suaranya. Saat melihat sahabatnya begitu cantik dengan balutan busana pengantin yang dia kenakan.
"Ismi ...." Fidiya sangat bahagia, Ismi bisa berhadir di acara akad nikahnya. Padahal kehidupan sahabatnya sebelas dua belas dengan dirinya, namun Ismi lebih beruntung, karena memiliki kedua orang tua lengkap dan punya dua adik cantik, sedang dirinya, hanya neneknya hal yang berharga yang dia miliki, namun hal berharga itu sudah pergi untuk selamanya.
"Makasih ya Is, kamu bisa berhadir di sini." Fidiya langsung memeluk sahabatnya itu.
"Sama-sama."
Belum puas rasanya memeluk sahabatnya itu, tapi pintu kembali diketok, terlihat dua wanita cantik yang melewati pintu itu.
"Kakak ipar, ayo kita menuju meja akad sekarang."
Fidiya dan Ismi melepaskan pelukan mereka.
"Kalau begitu, aku duluan keluar, sampai ketemu lagi, Fid," ucap Ismi.
Fidiya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan. Gadis yang bernama Ismi itu sudah pergi, Fidiya pun diapit oleh kedua adik dari laki-laki yang akan menjadi suaminya.
Saat Fidiya terlihat, semua mata tamu undangan yang berhadir hanya menyorot satu arah, di mana Fidiya dan dua wanita cantik lain itu ada. Semua mengagumi kecantikkan mempelai wanita itu.
Fidiya duduk di samping seorang laki-laki tampan, yang terlihat lebih dewasa darinya, dia adalah Ridwan, laki-laki yang mempersunting dirinya.
Tanpa membuang waktu, acara pun segera di mulai, rangkaian demi rangkaian acara di lewati, hingga saat detik yang paling menegangkan yaitu pengucapan akad.
Dengan satu sentakkan tangan, Ridwan begitu lancar dan lantang mengucap akad nikah, suara 'sah!' dari kedua saksi terdengar, bagaikan angin sejuk yang berhembus membuat hati setiap orang di sana ikut merasa tenang.
Suasana tegang berganti dengan suasana nan hangat, Fidiya dan Ridwan bersanding di pelaminan, menyalami para tamu yang datang dan mengucapkan selamat atas pernikahan kepada kedua mempelai.
Tatapan sayu dari sepasang bola mata milik perempuan paruh baya itu selalu ter-arah pada kedua mempelai.
"Ibu kenapa?" Ismi bingung melihat reaksi wajah ibunya.
"Fidiya, apakah keluarga kaya itu akan memperlakukan dia seperti manusia?" Lidia mengusap air mata yang telanjur menetes.
Keluarga Ismi tidak mempunyai ikatan darah dengannya, tapi kekuarga Ismi sangat menyayangi Fidiya.
Ismi terdiam, keluarga mempelai pria terlihat begitu dingin, bahkan rasanya mereka tidak memandang Fidiya.
Fidiya terus tersenyum menyambut tamu yang menyalaminya, Ismi hanya bisa memandangi dari kejauhan. Sedang paman Barim, terus tersenyum melihat amplop yang terus dimasukkan tamu undangan dalam kotak yang tersedia. Sok pasti semua untuknya, karena Fidiya langsung pergi setelah resepsi sederhana selesai.
Acara resepsi terus berjalan, di akhir acara, Fidiya pergi bersama keluarga barunya, meninggalkan desa yang menjadi saksi bisu pertumbuhannya, kenangannya semasa kecil, kebahagiaannya bersama almarhumah neneknya.
Ismi dan warga yang berhadir di resepsi pernikahan Fifdiya, hanya bisa menatap mobil yang terus menjauh membawa Fidiya meninggalkan desa itu
*****
Perjalanan panjang di tempuh Fidiya menuju rumahnya yang baru. Pertama kali dalam hidupnya naik pesawat terbang, melihat wajah-wajah itu begitu dingin, Fidiya hanya bisa diam.
Saat duduk di kursi penumpang, Fidiya bingung, bagaimana memakai sabuk pengaman, laki-laki yang menjadi suaminya sungguh tidak perduli padanya.
Ingin menangis, tapi tidak tau menangis karena apa. Fidiya melihat keadaan sekitar, memerhatikan mereka yang memakai sabuk pengaman. Senyuman terukir di wajah Fidiya, akhirnya dia tau cara memasang sabuk pengaman.
Pesawat itu perlahan terbang ke udara, bermacam rasa bergemuruh dalam diri Fidiya, bahagia dirinya bisa merasakan bagaimana naik pesawat terbang, tapi sedih, laki-laki yang menjadi suaminya sama sekali tidak melihat dirinya. Laki-laki itu hanya memerhatikan kedua adiknya dan wanita paruh baya yang dia panggil ibu.
Fidiya berusaha mengalihkan pikirannya, agar tidak memikirkan semua ini terlalu jauh. Perlahan matanya terpejam, dia larut kealam mimpi.
"Kakak ipar, kakak ipar ...." Berulang suara itu samar Fidiya dengar, perlahan Fidiya membuka matanya, keadaan terlihat sepi. Entah berapa lama dirinya tertidur.
"Kakak ipar, ayo turun, kita sudah sampai," ucap Ara, adik dari Ridwan.
"Bagaimana melepas ini?" Fidiya sungguh tidak tau bagaimana melepas sabuk pengaman itu.
"Dasar udik!"
Hardikkan itu begitu menyayat hati Fidiya, bukannya membantu dirinya, laki-laki itu malah menghardik dirinya karena kegaptekkan dirinya.
"Tekan ini kak, nah tarik saja."
Benar saja sabuk pengaman itu terlepas. Fidiya segera bangkit, mengambil tasnya dan segera mengikuti langkah kaki Ara, laki-laki itu sudah tidak terlihat lagi di depan matanya.
Ya Tuhan, bagaimana hidupku dengan laki-laki yang sama sekali tidak menganggap aku ada. Gerutu hati Fidiya.
Akhirnya mereka keluar dari pesawat itu, terlihat di depan sana, laki-laki itu begitu manis memperlakukan ibu dan adiknya, entah kenapa kemanisan itu tidak didapatkan oleh Fidiya.
Fidiya terus melangkahkan kakinya, pikirannya terbang entah kemana, melihat laki-laki itu terus menggadeng adik perempuannya, sedang dirinya di abaikan.
Cemburu?
Fidiya tersenyum sendiri dengan pertanyaan yang dia tujukan untuk dirinya sendiri.
Dia adiknya, Fid. Tidak pantas kamu cemburu.
Fidiya hanya bisa menyemangati dirinya sendiri.
Dua buah mobil ada di depan sana terlihat, Ridwan membantu ibunya masuk kedalam mobil itu, diikuti oleh Melly, dia juga adik Ridwan.
"Kak, kak Ridwan sama kakak ipar di mobil itu, biar kami menaiki mobil milik kak Mel," ucap Ara.
"Aku juga bersama kalian, biar dia bersama supir di mobil itu." Tanpa memandang perempuan yang menjadi istrinya itu.
Senyuman kaku terukir diwajah Fidiya, sakit mendapatkan perlakuan seperti di awal pernikahan ini. "Iya, aku tidak mengapa, kalian lanjutkan saja, aku akan naik mobil itu kan?" Jari telunjuk Fidiya menunjuk kerah mobil yang satunya.
Bukan jawaban yang Fidiya dapat, laki-laki itu malah menutup pintu mobilnya, perlahan mobil itu pergi lebih dulu.
Dengan lemas, Fidiya melangkahkan kakinya menuju mobil yang satunya. Kali ini air matanya tidak bisa ditahan lagi, Fidiya memasuki mobil itu. Tanpa memandang sopir yang berada di kursi depan, Fidiya bersandar pada sandaran kursi dan memandangi pemandangan lewat kaca mobil yang ada di sampingnya. Tapi, air matanya terus mengalir mengingat keadaannya saat ini.
"Nyo--" Laki-laki yang berpakaian sopir itu tidak bisa meneruskan kata-katanya, saat melihat sosok wanita yang duduk di kursi bagian belakang mobil itu.
"Aaa---"
Suara deringan handphone yang ada di saku-nya, membuat laki-laki itu batal meneruskan perkataannya, laki-laki itu langsung menggeser icon bewarna hijau mengangkat panggilan telepon itu.
"Iya Pak."
"Fariz, langsung bawa istriku pulang! Dan cepatlah!" titah dari ujung telepon sana.
Tanpa menyapa wanita yang duduk di bagian belakang, laki-laki yang bernama Fariz itu segera melajukan mobilnya. Ada kata yang sangat menggores jiwanya, 'Istriku' Artinya wanita di belakangnya itu sudah menikah dengan majikannya.
Dengan perasaan kacau, Fariz melajukan mobil yang dia kendarai menuju kediaman bos-nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Dewa Rana
ada apa, kenapa fariz kacau
2023-01-18
0
Lim Dany
ABSURB dua duanya dipaksa nikah, apa cuma ceweknya saja yg dipaksa wkwkwkwwk
2022-03-15
0
Ika Iskandar
Masih awal rasany ud nyesss
2022-01-07
0