Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pagi itu, suasana di sekolah terasa seperti hari-hari biasa. Matahari bersinar cerah, siswa-siswa berdatangan dengan langkah riang, dan suara tawa serta obrolan memenuhi halaman sekolah. Seperti biasanya, Elio dan Alena tiba bersama, berjalan berdampingan sambil sesekali bertukar senyum dan mengobrol ringan. Bagi mereka, hari ini terasa sama seperti hari-hari sebelumnya—tenang, menyenangkan, dan penuh kehangatan. Namun, mereka tidak menyangka bahwa hari ini akan membawa kejutan yang tidak terduga dan sedikit mengganggu kenyamanan mereka.
Setelah meletakkan tas dan duduk di bangku masing-masing, bel tanda masuk berbunyi. Beberapa menit kemudian, guru wali kelas masuk ke dalam ruangan dengan senyum di wajahnya. Di belakangnya, berdiri seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah yang sama, dengan rambut panjang terurai rapi dan penampilan yang terlihat sangat rapi serta menarik. Begitu melihat sosok itu, mata Alena sedikit terbelalak, sementara Elio langsung mengerutkan dahi—ternyata gadis itu adalah Jena.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru yang akan bergabung dengan kita mulai hari ini,” ujar guru itu dengan suara ramah. “Silakan perkenalkan dirimu, Nak.”
Jena melangkah maju dengan langkah percaya diri, lalu menatap sekeliling kelas dengan pandangan yang seolah sedang mencari sesuatu, hingga akhirnya matanya tertuju tepat pada Elio. Senyum lebar dan penuh arti terukir di bibirnya.
“Halo semuanya, nama saya Jena. Saya pindah ke sekolah ini karena orang tua saya memindahkan tempat tinggal dan pekerjaan mereka ke daerah ini. Semoga kita bisa berteman dengan baik,” ucapnya dengan nada lembut dan manja, yang sengaja dibuat semenarik mungkin.
Beberapa siswa memberikan tepuk tangan, sementara yang lain saling berbisik-bisik membicarakan kehadiran gadis baru itu. Guru kemudian menunjuk satu bangku kosong yang tidak jauh dari tempat duduk Elio dan Alena. “Silakan duduk di sana, Jena. Kalau ada hal yang tidak dimengerti, silakan tanya teman-teman di sebelahmu.”
Jena mengangguk senang, lalu berjalan menuju tempat duduknya sambil terus melirik ke arah Elio. Begitu duduk, ia segera menoleh ke belakang dan menyapa Elio dengan nada yang sangat akrab, seolah mereka sudah bertemu kemarin saja.
“Hai Elio, ternyata kita satu kelas lagi ya? Rasanya memang takdir mempertemukan kita terus,” katanya dengan nada ceria, berusaha menarik perhatian semua orang.
Elio hanya mengangguk singkat tanpa menoleh sepenuhnya, lalu menjawab dengan nada datar dan dingin. “Ya, kebetulan saja. Semoga kamu bisa menyesuaikan diri di sini.”
Jena merasa sedikit kecewa mendengar jawaban dingin itu, namun ia tidak menyerah. Ia yakin, selama ia berada di sekolah yang sama, ia akan memiliki banyak kesempatan untuk mendekatkan diri kembali kepada Elio dan menyingkirkan Alena dari sisi pria itu.
Setelah jam pelajaran pertama selesai, saat jam istirahat tiba, Jena segera bergerak. Ia tidak membuang waktu dan langsung berjalan mendekati Dinda dan dua orang temannya yang sedang duduk di kantin. Sejak tadi, Jena sudah memperhatikan bahwa Dinda sering menatap Alena dengan pandangan penuh kebencian, sehingga ia tahu gadis itu bisa menjadi sekutu yang tepat.
“Permisi, bolehkah saya duduk di sini?” tanya Jena dengan nada sopan, namun matanya menatap tajam ke arah meja tempat Alena dan Elio sedang duduk sambil tertawa.
Dinda mengangkat wajahnya, awalnya terlihat curiga, namun setelah mendengar bahwa Jena adalah teman lama Elio dan mengetahui tujuan gadis itu, wajahnya langsung berubah menjadi ramah dan penuh harapan.
“Tentu saja boleh duduk. Aku Dinda, dan ini teman-temanku. Aku melihat kamu sepertinya juga tidak suka melihat keakraban Elio dan Alena itu, kan?” tanya Dinda langsung ke intinya.
Jena tersenyum miring, mengangguk setuju. “Benar sekali. Elio itu sudah lama menjadi temanku, bahkan lebih lama dari Alena. Gadis itu datang tiba-tiba dan mengambil tempat di hati Elio seolah-olah dia satu-satunya wanita di dunia ini. Aku tidak bisa membiarkannya terus seperti ini.”
“Kita punya tujuan yang sama,” sambung Dinda dengan semangat. “Aku sudah mencoba mengganggunya berkali-kali, tapi Elio selalu membela gadis itu sampai ke ubun-ubun. Kita harus bekerja sama, Jena. Kalau kita bersatu, pasti kita bisa membuat Alena terlihat buruk di mata Elio dan membuat hubungan mereka hancur.”
Mulai saat itu, terbentuklah rencana licik di antara kedua gadis itu. Mereka berjanji akan saling membantu, menggunakan segala cara untuk menjatuhkan nama baik Alena dan membuat Elio berpikir bahwa gadis itu bukanlah pasangan yang baik untuknya.
Hari-hari berikutnya, aksi mereka mulai dimulai. Jena menggunakan keakraban masa lalunya sebagai modal. Setiap kali ada kesempatan, ia akan mendekati Elio, meminjamkan buku, membawakan makanan kesukaan Elio, atau sekadar mengajak bicara hal-hal masa lalu, seolah ingin membangkitkan kenangan lama yang mungkin bisa membuat Elio luluh. Namun, setiap kali ia melakukannya, Elio selalu bersikap dingin dan menjaga jarak, bahkan sering kali dengan sopan memintanya untuk tidak terlalu dekat.
Suatu siang, saat Elio sedang berjalan sendirian menuju ruang guru, Jena melihat kesempatan emas. Ia sengaja berlari kecil, lalu seolah-olah tersandung dan jatuh tepat ke dalam pelukan Elio. Ia berpegangan erat pada lengan Elio, wajahnya dibuat terlihat ketakutan dan lemah.
“Aduh… maafkan aku, Elio. Kakiku terasa sakit sekali, sepertinya terkilir karena terjatuh,” keluh Jena sambil menahan air mata, berusaha terlihat sangat menyedihkan.
Elio segera melepaskan pegangan gadis itu dengan hati-hati, lalu berdiri sedikit menjauh. “Apakah serius terkilir? Kalau begitu, sebaiknya duduk saja di bangku itu sebentar, nanti aku panggil petugas kesehatan sekolah.”
Belum sempat Elio memanggil siapa pun, Jena langsung meraih tangan Elio dan menahannya agar tidak pergi. “Jangan pergi dulu, tolong bantu aku berjalan sebentar saja. Aku tidak kuat berdiri sendiri. Lagipula, kamu kan sudah lama mengenalku, masa tidak mau menolong teman lama?”
Namun, di saat yang sama, Alena yang baru saja keluar dari perpustakaan melihat kejadian itu dari kejauhan. Ia tertegun sejenak, namun sebelum perasaan curiga sempat tumbuh di hatinya, Elio segera menarik tangannya keluar dari genggaman Jena dengan tegas.
“Maaf, Jena. Aku tidak bisa memegangmu terlalu lama. Lebih baik aku memanggilkan temanmu atau Dinda untuk menemanimu. Aku harus menemui Alena sekarang,” ujar Elio tanpa ragu, lalu segera berjalan menghampiri Alena dan menggenggam tangannya erat-erat, seolah ingin meyakinkan gadis itu bahwa tidak ada apa-apa.
“Kamu tidak apa-apa kan? Dia hanya jatuh dan meminta bantuan, tapi aku tidak melakukan hal yang melampaui batas,” bisik Elio segera, takut Alena salah paham.
Alena hanya tersenyum tenang dan menggeleng. “Aku tahu, aku percaya padamu. Kamu tidak perlu menjelaskan panjang lebar.”
Melihat usahanya gagal, Jena semakin kesal. Ia lalu menyusun rencana yang lebih berani. Ia dan Dinda sepakat untuk memfitnah Alena agar Elio berpikir bahwa gadis itu bersikap buruk di belakangnya.
Suatu sore, saat Elio sedang duduk sendirian di bawah pohon di halaman sekolah, Jena mendekatinya dengan wajah sedih dan terlihat kecewa. Ia duduk di sebelah Elio dengan jarak yang cukup jauh, lalu menghela napas panjang.
“Elio… sebenarnya aku merasa berat untuk bicara ini, tapi sebagai teman lama, aku merasa harus memberitahumu,” ucap Jena dengan nada pelan dan ragu-ragu.
Elio menoleh sebentar, lalu menjawab singkat. “Bicara saja apa yang ingin kamu katakan.”
Jena menunduk, seolah tidak sanggup melanjutkan, lalu perlahan mengangkat wajahnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. “Tadi siang, aku melihat Alena berbicara dengan seorang siswa laki-laki dari kelas sebelah. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan dia tertawa sangat lepas dan memegang lengan siswa itu. Aku khawatir, jangan-jangan dia tidak sebaik yang kamu kira. Mungkin dia hanya berpura-pura baik di depanmu saja.”
Belum sempat Jena melanjutkan kata-katanya, Elio langsung tertawa kecil, membuat gadis itu tertegun bingung. Elio menatapnya dengan pandangan yang tenang namun penuh keyakinan, seolah tidak percaya sedikit pun pada cerita yang baru saja didengarnya.
“Apakah itu yang ingin kamu katakan?” tanya Elio dengan nada santai. “Kalau begitu, aku sudah tahu apa yang terjadi. Siswa laki-laki itu adalah sepupu Alena yang baru pindah sekolah ke sini hari ini. Mereka memang sudah lama tidak bertemu, jadi wajar saja kalau terlihat sangat akrab. Bahkan Alena sudah menceritakannya padaku sejak pagi.”
Wajah Jena seketika memucat, tidak menyangka bahwa fitnahnya justru diketahui kebenarannya oleh Elio. Namun, ia mencoba memutar keadaan lagi. “Tapi… bagaimana kalau ada hal lain yang dia sembunyikan? Bagaimana kalau suatu saat dia akan menyakitimu?”
Elio langsung mengubah ekspresinya menjadi serius dan tegas, membuat Jena terdiam ketakutan. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang tajam, membuat Jena merasa tidak nyaman dan ingin segera pergi.
“Dengarkan baik-baik, Jena,” ujar Elio dengan suara yang jelas dan tegas. “Tidak peduli apa pun yang kamu katakan, apa pun cerita yang kamu buat, atau berapa kali kamu mencoba mencurigai Alena, percayalah—aku tidak akan pernah percaya pada hal buruk tentang dia. Aku mengenal Alena lebih baik daripada siapa pun sekarang. Aku tahu hatinya, aku tahu sifatnya, dan aku tahu dia adalah wanita yang paling tulus dan setia.”
Elio melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menegaskan batasan. “Aku tidak tahu mengapa kamu tiba-tiba pindah sekolah ke sini, dan aku juga tidak ingin menebak-nebak niatmu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat: aku sudah memiliki Alena, dan aku sangat mencintainya. Tolong jangan lagi mencoba mengganggu atau memfitnahnya. Kalau kamu ingin berteman dengan baik, aku menyambutnya. Tapi kalau niatmu hanya ingin memisahkan kami, lebih baik kamu mengurungkan niat itu mulai sekarang, karena hal itu tidak akan pernah berhasil.”
Mendengar ucapan yang sangat jelas dan tegas itu, Jena merasa seluruh tubuhnya terasa lemas dan malu. Semua rencana yang ia susun dengan Dinda seolah runtuh dalam sekejap. Ia sadar, tidak ada satu pun cara yang bisa membuat Elio berubah pikiran, karena keyakinan dan rasa cintanya pada Alena sudah terlalu kuat.
Di sisi lain, Dinda yang menunggu hasil rencana itu pun menerima kabar yang sama—usaha mereka sia-sia belaka. Setiap kali Dinda mencoba menyindir atau mengganggu Alena, Elio selalu datang tepat waktu untuk membela dan melindungi gadisnya. Bahkan, ia pernah dengan santai mengatakan di depan banyak siswa bahwa siapapun yang berani menyakiti hati Alena, berarti sedang berhadapan dengannya.
Suatu hari, saat jam istirahat, Dinda mencoba menuangkan air es ke lantai di depan jalan Alena, berharap gadis itu terpeleset dan terlihat memalukan. Namun, sebelum Alena melangkah, Elio sudah melihatnya dan segera menarik tubuh Alena ke dalam pelukannya dengan cepat, lalu menatap tajam ke arah Dinda.
“Berhati-hatilah, Dinda. Kalau kamu masih terus melakukan hal-hal konyol seperti ini, aku tidak akan ragu untuk melaporkan kelakuanmu kepada guru. Ingatlah, kesabaran itu ada batasnya,” peringan Elio dengan nada yang cukup keras, membuat semua orang yang melihatnya langsung menatap Dinda dengan pandangan curiga.
Dinda hanya bisa menunduk ketakutan, lalu berjalan pergi dengan langkah tergesa-gesa, tidak berani melakukan hal serupa lagi.
Malam harinya, saat mereka sudah pulang ke rumah dan beristirahat, Alena bertanya pada Elio dengan nada bercanda sambil tersenyum. “Kamu tadi sangat tegas dan galak sekali menghadapi mereka. Apakah kamu tidak lelah harus terus membela aku seperti ini?”
Elio tertawa, lalu menarik Alena duduk di pangkuannya dan memeluk pinggang gadis itu erat-erat. Ia mencium kening Alena dengan lembut, lalu menjawab dengan nada lembut namun penuh keyakinan.
“Kenapa harus lelah? Membela dan melindungi orang yang aku cintai itu adalah kewajiban dan kebahagiaanku. Lagipula, mereka tidak tahu seberapa besar rasa percayaku padamu. Tidak ada fitnah, tidak ada rencana jahat, dan tidak ada orang lain yang bisa memisahkan kita. Bahkan kalau seluruh dunia mencurigaimu, aku tetap akan menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisimu dan percaya padamu sepenuhnya.”
Kata-kata itu membuat hati Alena terasa hangat dan penuh rasa syukur. Ia memeluk leher Elio erat-erat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
“Terima kasih, Elio. Berkat kamu, aku merasa sangat aman dan tenang. Mereka boleh saja berusaha apa pun, tapi selama kita saling percaya, tidak ada yang bisa merusak hubungan kita,” gumam Alena lembut.
Elio tersenyum puas, lalu mencubit pipi Alena dengan nakal. “Tentu saja. Lagipula, sebentar lagi kita akan bertunangan. Sudah resmi menjadi pasangan yang akan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Mau bagaimana pun mereka berusaha, mereka tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan itu.”