Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Lamaran di Rumah Nirankara
Sore itu, kediaman keluarga Nirankara tampak lebih sibuk dari biasanya.
Aroma masakan memenuhi hampir seluruh bagian rumah. Dari arah dapur, terdengar suara piring beradu pelan, desis minyak panas, dan langkah kaki yang mondar-mandir dengan ritme cepat. Lampu-lampu ruang makan sudah dinyalakan meski langit di luar belum sepenuhnya gelap.
Di dapur besar yang bersih dan hangat, Zahra Nirankara berdiri di depan meja marmer, memeriksa beberapa hidangan yang baru saja selesai disiapkan.
Ada nasi kebuli, ayam panggang rempah, sop iga bening, tumis brokoli, sambal goreng kentang, puding susu, dan beberapa piring kecil berisi kurma serta buah potong. Semuanya tertata rapi, tetapi Zahra masih terlihat belum puas.
“Bi Nani, tolong cek lagi sop iganya. Jangan terlalu asin,” ujar Zahra lembut.
“Baik, Bu,” jawab Bi Nani, asisten rumah tangga keluarga Nirankara yang sudah bekerja sejak Abizar dan Jenna masih kecil.
Zahra menata ulang piring saji, lalu melirik ke arah meja makan.
“Sendok dan garpunya sudah lengkap?”
“Sudah, Bu. Taplak meja juga sudah diganti yang putih gading.”
Zahra mengangguk, tetapi tangannya tetap bergerak memastikan semuanya sempurna.
Ia bukan sedang menerima tamu biasa.
Malam ini, keluarga Kalandra akan datang.
Dan meskipun ia berusaha tenang, tetap ada rasa gugup kecil di hatinya. Bukan karena nama besar keluarga Kalandra, melainkan karena kedatangan mereka membawa maksud yang tidak sederhana.
Lamaran untuk putrinya.
Tidak lama kemudian, suara pintu utama terdengar dibuka.
“Assalamu’alaikum,” suara Abizar terdengar dari ruang depan.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Zahra dari dapur.
Abizar masuk dengan jas kerja yang sudah ia buka dan diletakkan di lengannya. Wajahnya tampak lelah setelah seharian di kantor, tetapi langkahnya berhenti ketika ia melihat suasana rumah yang tidak biasa.
Ia memperhatikan meja makan yang sudah tertata lengkap, bunga segar di vas tengah meja, dan beberapa hidangan yang jumlahnya jelas lebih banyak daripada makan malam keluarga biasa.
Abizar mengernyit.
“Bu,” panggilnya sambil berjalan mendekat ke dapur. “Ini ada acara apa?”
Zahra menoleh, tersenyum kecil.
“Keluarga Kalandra akan datang malam ini.”
Abizar terdiam sebentar.
Lalu senyum perlahan muncul di wajahnya.
“Oh.”
Zahra menatap putranya curiga. “Jangan mulai.”
“Abi belum bilang apa-apa.”
“Tapi wajahmu sudah bilang banyak.”
Abizar tertawa kecil, lalu mengambil segelas air putih dari meja.
“Jadi mereka benar-benar datang?”
Zahra mengangguk. “Bu Aruna tadi menghubungi Ibu. Katanya mereka ingin bersilaturahmi.”
“Bersilaturahmi,” ulang Abizar dengan nada menggoda. “Atau membawa misi khusus?”
Zahra menggeleng pelan. “Abi.”
Sebelum Abizar sempat menjawab, Jenna muncul dari arah ruang tengah.
Ia mengenakan gamis rumahan berwarna hijau sage dengan kerudung senada. Cadar belum ia kenakan karena masih berada di dalam rumah bersama keluarga. Wajahnya yang lembut tampak penasaran saat melihat kesibukan di dapur.
“Ibu, kok masakannya banyak sekali?” tanya Jenna.
Abizar langsung menoleh kepada adiknya dengan senyum yang semakin lebar.
“Nah, pemeran utamanya datang.”
Jenna menatap kakaknya dengan alis sedikit terangkat.
“Kak Abi kenapa?”
“Tidak apa-apa, Dek. Kakak cuma sedang menyaksikan awal dari babak baru kehidupanmu.”
Jenna makin bingung. “Maksudnya?”
Zahra menarik napas pelan, lalu menghampiri putrinya.
“Nak, keluarga Kalandra akan datang malam ini.”
Jenna diam seketika.
“Keluarga Kalandra?”
“Iya,” jawab Zahra lembut. “Pak Aditya, Bu Aruna, dan putranya.”
Jenna merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Putranya juga datang?”
Abizar menyandarkan bahu ke kusen pintu dapur.
“Harus datang, dong. Masa yang mau dilamar tidak datang?”
Wajah Jenna langsung memerah.
“Kak Abi.”
Abizar tersenyum puas. “Apa? Kakak cuma menyampaikan kemungkinan.”
“Bukan begitu caranya.”
“Lalu bagaimana? Harus pakai surat resmi?”
Jenna menatap kakaknya dengan kesal, tetapi Abizar justru terlihat semakin senang menggodanya.
Zahra menahan senyum melihat kedua anaknya.
“Sudah, Abi. Jangan ganggu adikmu.”
“Abi cuma membantu Jenna mempersiapkan mental, Bu.”
“Lebih baik kamu mandi dan ganti baju.”
Abizar mengangkat kedua tangan. “Baik, Bu. Tapi sebelum itu, Abi mau tanya satu hal.”
Jenna menatapnya waspada.
Abizar mencondongkan tubuh sedikit ke arah adiknya.
“Jenna penasaran tidak, seperti apa calon yang dipilih Bu Aruna?”
Jenna terdiam.
Pertanyaan itu mengenai pikirannya dengan tepat.
Ia memang penasaran.
Sejak pagi, nama Arshaka Zayd Kalandra sesekali muncul di kepalanya. Ia tidak tahu laki-laki itu seperti apa. Apakah ramah? Apakah dingin? Apakah benar-benar setuju dengan rencana keluarganya? Atau justru datang hanya karena diminta orang tuanya?
Namun tentu saja, Jenna tidak ingin memberikan bahan tambahan untuk kakaknya.
“Jenna naik dulu,” ucapnya, menghindari pertanyaan itu.
Abizar tertawa pelan. “Tidak menjawab berarti iya.”
“Kak Abi menyebalkan.”
“Tapi jujur.”
Zahra menyentuh lembut bahu putrinya.
“Nak, kamu bersiap, ya. Pakai pakaian yang nyaman saja. Jangan merasa terbebani. Mereka datang dengan cara baik, kita sambut dengan baik. Jawaban tetap ada di tanganmu.”
Jenna menatap ibunya.
Kata-kata itu menenangkan, tetapi juga membuat dadanya terasa berat. Sebab ia tahu, apa pun yang akan terjadi malam ini bukan hanya sekadar pertemuan biasa.
“Iya, Bu.”
Jenna kemudian berjalan menuju tangga dan naik ke kamarnya.
Begitu pintu kamar tertutup, keheningan langsung menyambutnya.
Kamar Jenna bernuansa lembut, didominasi warna putih, krem, dan cokelat muda. Di dekat jendela, ada meja kecil dengan vas berisi baby’s breath kering. Rak bukunya tertata rapi, sementara di atas meja rias terdapat beberapa botol parfum kecil dan kotak perhiasan sederhana.
Jenna duduk di tepi tempat tidur.
Ia menatap kedua tangannya yang bertaut di pangkuan.
Malam ini, ia akan bertemu dengan laki-laki yang keluarganya ingin melamarnya.
Arshaka Zayd Kalandra.
Nama itu terasa asing, tetapi mulai masuk ke dalam ruang pikirannya tanpa permisi.
Seperti apa dia?
Apakah dia datang dengan hati terbuka?
Apakah dia baik?
Apakah dia menghargai perempuan?
Apakah dia menerima dirinya yang bercadar bukan sebagai keanehan, tetapi sebagai pilihan?
Jenna menghela napas perlahan.
Ia bukan gadis yang bermimpi terlalu tinggi tentang cinta. Ia tidak pernah mencari kisah yang berlebihan, tidak pernah berharap bertemu laki-laki sempurna seperti dalam cerita dongeng. Baginya, pernikahan adalah ibadah, tanggung jawab, dan perjalanan panjang yang membutuhkan akhlak lebih dari sekadar rasa suka.
Namun tetap saja, hati manusia tidak bisa sepenuhnya tenang ketika masa depannya mulai diketuk oleh orang asing.
Jenna bangkit dan berjalan menuju lemari.
Ia memilih gamis berwarna champagne lembut dengan potongan sederhana. Tidak terlalu mewah, tetapi anggun. Ia memadukannya dengan khimar panjang warna senada dan cadar bersih yang biasa ia kenakan untuk menerima tamu.
Setelah bersiap, ia duduk sebentar di kursi dekat jendela.
Di luar, langit mulai menggelap.
Jenna menatap cahaya senja yang tersisa, lalu berbisik pelan dalam hati.
Ya Allah, jika ini jalan yang baik, mudahkan. Jika bukan, jauhkan dengan cara yang paling lembut.
Malam tiba dengan tenang.
Kediaman Nirankara tampak hangat di bawah cahaya lampu. Di halaman depan, beberapa lampu taman menyala lembut, memantulkan warna keemasan di antara tanaman hijau yang tertata rapi.
Sekitar pukul tujuh malam, sebuah mobil hitam memasuki halaman.
Tidak lama kemudian, keluarga Kalandra turun.
Aditya Kalandra tampil rapi dengan kemeja putih dan jas gelap. Di sampingnya, Aruna Ravindra Kalandra tampak anggun dalam busana muslimah berwarna dusty blue. Wajahnya terlihat cerah, nyaris tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Di belakang mereka, Arshaka Zayd Kalandra melangkah dengan wajah tenang.
Malam itu ia mengenakan kemeja hitam dengan jas abu-abu gelap. Posturnya tegap, ekspresinya dingin seperti biasa. Namun di balik wajah datarnya, pikirannya tidak sepenuhnya tenang.
Ia akan bertemu Jenna lagi.
Bukan sebagai pelanggan.
Bukan di balik meja toko bunga.
Melainkan di rumahnya, di hadapan keluarga mereka.
Pintu utama terbuka.
Reza Nirankara muncul menyambut mereka dengan senyum lebar. Usianya memang sudah tidak muda, tetapi wibawanya tetap kuat. Di sampingnya, Zahra berdiri dengan wajah ramah.
“Aditya,” ucap Reza hangat.
Aditya langsung tersenyum dan melangkah maju. Mereka berdua bersalaman erat, lalu saling menepuk bahu seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu lagi setelah sekian waktu.
“Reza, lama sekali kita tidak bertemu santai seperti ini,” kata Aditya.
Reza tertawa kecil. “Sejak perusahaan kita serahkan ke anak-anak, seharusnya kita punya lebih banyak waktu. Tapi ternyata tetap saja sulit bertemu.”
“Benar. Dulu sibuk membangun perusahaan, sekarang sibuk pura-pura pensiun.”
Mereka berdua tertawa.
Zahra menyambut Aruna dengan pelukan ringan.
“Selamat datang, bu Aruna.”
“Terima kasih banyak sudah menerima kami malam ini, Bu Zahra.”
“Justru kami senang sekali.”
Abizar yang berdiri di dekat ayahnya ikut menyalami Aditya dan Aruna dengan sopan.
“Mas Abizar, kita bertemu lagi,” ujar Aruna ramah.
“Iya, Bu. Selamat datang.”
Lalu pandangan Aruna bergerak mencari seseorang.
Zahra menyadarinya dan tersenyum.
“Jenna sebentar lagi turun. Mari masuk dulu.”
Mereka semua masuk ke ruang tamu utama.
Ruangan itu luas, tetapi terasa hangat. Sofa krem tersusun menghadap meja kayu besar. Di sudut ruangan, ada rak foto keluarga yang memperlihatkan kebersamaan keluarga Nirankara dari masa ke masa. Tidak ada kesan dingin seperti rumah pameran. Rumah itu hidup, penuh jejak keluarga.
Reza dan Aditya duduk bersebelahan, langsung larut dalam percakapan tentang masa lalu.
“Masih ingat waktu kita rapat di Bandung dan listrik hotel mati?” tanya Reza.
Aditya tertawa. “Bagaimana bisa lupa? Kamu tetap presentasi pakai senter dari ponsel.”
“Kontraknya jadi juga, kan?”
“Karena kamu keras kepala.”
“Dalam bisnis, keras kepala kadang perlu.”
“Sekarang anak-anak kita yang mewarisi keras kepalanya.”
Reza melirik Abizar, sementara Aditya melirik Shaka.
Abizar tersenyum santai. Shaka hanya diam dengan ekspresi datar.
Aruna dan Zahra berbincang lebih lembut. Mereka berbicara tentang keluarga, kesehatan, dan sedikit tentang Jenna’s Bloom Café. Aruna tidak henti-hentinya memuji suasana kafe itu.
“Jenna mengelolanya dengan sangat baik,” ucap Aruna. “Saya benar-benar terkesan.”
Zahra tersenyum bangga. “Anak itu memang ingin mandiri. Ayahnya sempat menyuruh memakai tim promosi NK Media, tapi Jenna menolak halus.”
Shaka yang duduk diam mendengar kalimat itu.
Ia menunduk sedikit, menyembunyikan reaksi kecil di wajahnya.
Jadi benar.
Jenna memang memilih jalan sendiri.
Beberapa menit kemudian, suara langkah halus terdengar dari arah tangga.
Semua mata menoleh.
Jenna turun perlahan.
Malam itu, ia terlihat anggun dalam balutan gamis champagne lembut dan khimar panjang yang jatuh rapi. Cadarnya menutupi wajahnya, menyisakan sepasang mata cokelat terang yang tenang. Langkahnya pelan, tidak dibuat-buat, tetapi setiap gerakannya memancarkan kelembutan yang sulit diabaikan.
Shaka terdiam.
Mata itu lagi.
Mata yang sejak sore tadi mengganggu pikirannya.
Jenna mendekat ke ruang tamu. Ia lebih dulu menyalami Aruna dengan sopan.
“Assalamu’alaikum, Tante.”
Aruna langsung menggenggam tangan Jenna dengan penuh kasih.
“Wa’alaikumussalam, Jenna. Masyaallah, kamu cantik sekali malam ini.”
Jenna menunduk malu. “Terima kasih, Bu.”
“Tante senang sekali bisa bertemu kamu lagi.”
Jenna tersenyum melalui matanya. “Jenna juga senang Ibu datang.”
Setelah itu, Jenna menyalami Aditya.
“Assalamu’alaikum, Om.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Aditya ramah. “Jadi ini Jenna. Papa kamu sering cerita tentang anak bungsunya, tapi baru malam ini Om bertemu langsung.”
Jenna menunduk sopan. “Senang bertemu dengan Om.”
Tiba giliran Jenna menyalami Shaka.
Ia mengangkat wajah.
Dan seketika tubuhnya hampir membeku.
Laki-laki di hadapannya adalah pelanggan yang membeli buket bunga untuk ibunya tadi sore.
Pria dingin bermata tajam yang duduk di dekat rak lavender.
Jenna tidak langsung bicara.
Shaka pun sama.
Mereka saling menatap beberapa detik dalam diam.
Di mata Jenna, ada keterkejutan yang jelas, meski ia berusaha menyembunyikannya. Di mata Shaka, ada sesuatu yang lebih dalam: rasa mengenali, rasa penasaran, dan sedikit ketegangan yang tidak biasa.
Aruna memperhatikan keduanya dengan senyum yang mulai sulit ditahan.
“Jenna,” ucap Aruna lembut, “ini putra Tante. Arshaka Zayd Kalandra. Biasanya dipanggil Shaka.”
Jenna segera menundukkan pandangan dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan sopan.
“Assalamu’alaikum.”
Shaka menatap tangan Jenna sesaat, lalu menyambutnya dengan sangat singkat dan hati-hati.
“Wa’alaikumussalam.”
Sentuhan itu hanya berlangsung sebentar.
Namun cukup untuk membuat keduanya sama-sama sadar bahwa pertemuan sore tadi bukan lagi kebetulan kecil yang bisa diabaikan.
Jenna menarik tangannya dan menunduk sopan.
Dalam hati, pertanyaannya mulai bertambah.
Jadi dia putra Bu Aruna?
Sementara Shaka menatap Jenna yang kini duduk di samping ibunya.
Jadi perempuan yang merangkai buket untuk Mama tadi adalah perempuan yang akan dilamar malam ini.
Takdir, pikir Shaka, terkadang memiliki cara yang terlalu rapi untuk terlihat kebetulan.
Makan malam berlangsung lancar.
Keluarga Nirankara dan Kalandra duduk bersama di meja makan panjang yang tertata hangat. Percakapan mengalir dengan sopan. Reza dan Aditya banyak berbagi cerita tentang masa-masa awal membangun usaha. Abizar sesekali menimpali dengan humor ringan. Zahra dan Aruna berbincang tentang keluarga, sementara Jenna lebih banyak mendengarkan.
Shaka juga tidak banyak bicara.
Namun diamnya malam itu berbeda.
Ia tidak sepenuhnya kosong. Sesekali matanya bergerak ke arah Jenna, memperhatikan bagaimana perempuan itu menjawab pertanyaan dengan lembut, bagaimana ia membantu ibunya memastikan tamu mendapat makanan, bagaimana ia tidak berusaha menarik perhatian, tetapi justru membuat orang nyaman berada di sekitarnya.
“Jenna, kafenya sudah berjalan berapa lama?” tanya Aditya.
“Sudah hampir dua tahun, Om,” jawab Jenna.
“Dikelola sendiri?”
“Iya, Om. Dibantu lima karyawan. Tapi untuk konsep dan operasional utama, Jenna masih ikut mengurus langsung.”
Aruna tersenyum bangga seolah Jenna sudah menjadi menantunya.
“Buket yang tadi kamu rangkai untuk Tante sangat cantik. Tante suka sekali.”
Jenna sempat menoleh ke arah Shaka tanpa sengaja.
Shaka juga sedang melihatnya.
Jenna segera menunduk.
“Alhamdulillah kalau Tante suka.”
Rafa tidak ada di sana. Namun jika ia hadir, ia pasti akan langsung membaca perubahan tipis di wajah Shaka.
Setelah makan malam selesai, mereka kembali ke ruang tamu. Teh hangat dan beberapa hidangan penutup disajikan di meja.
Suasana yang semula santai perlahan berubah menjadi lebih serius.
Aditya menatap Reza.
“Reza,” ucapnya pelan, “sebenarnya ada maksud utama kami datang malam ini.”
Reza meletakkan cangkir tehnya.
“Iya. Silakan, Ditya.”
Aruna menggenggam tangan di pangkuannya. Wajahnya terlihat penuh harap. Shaka duduk tegak, rahangnya sedikit mengeras. Jenna menunduk, jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Aditya menarik napas, lalu melanjutkan.
“Kami datang untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan niat baik keluarga kami. Saya dan Aruna ingin melamar Jennaira Hanania Mecca untuk putra kami, Arshaka Zayd Kalandra.”
Ruangan itu menjadi sangat hening.
Meski semua orang sudah menduga arah pembicaraan itu, mendengarnya diucapkan secara resmi tetap memberi rasa berbeda.
Zahra menatap putrinya dengan lembut.
Abizar yang biasanya mudah menggoda kini memilih diam, menghormati keseriusan momen itu.
Reza menatap Aditya, lalu Aruna, kemudian Shaka.
“Ditya,” ucap Reza dengan tenang, “aku menghargai niat baik keluargamu. Aku juga mengenalmu sejak lama. Aku tahu keluargamu keluarga yang baik.”
Aditya mengangguk pelan.
“Namun,” lanjut Reza, “Jenna bukan barang yang bisa Ayahnya putuskan begitu saja. Dia anak Ayah, tapi hidupnya milik dia. Jadi jawaban untuk lamaran ini, Ayah serahkan kepada Jenna.”
Semua mata kini tertuju kepada Jenna.
Jenna merasa dadanya sesak, tetapi bukan karena tertekan. Justru karena ia sadar keluarganya benar-benar memberinya ruang untuk menentukan.
Ia mengangkat wajah perlahan.
Matanya sempat bertemu dengan mata Shaka.
Laki-laki itu menatapnya tenang. Tidak ada senyum. Tidak ada bujukan. Tidak ada isyarat memaksa. Namun ada sesuatu di balik tatapannya, seperti ia sendiri pun sedang menunggu jawaban yang belum ia pahami.
Jenna menundukkan pandangan kembali.
“Terima kasih atas niat baik Om Aditya, Tante Aruna, dan keluarga Kalandra,” ucap Jenna lembut. “Jenna sangat menghargainya.”
Aruna menatapnya penuh harap.
Jenna melanjutkan dengan suara tetap tenang.
“Tapi pernikahan adalah keputusan besar. Jenna tidak ingin menjawab hanya karena terbawa suasana atau karena menghormati keluarga. Jenna ingin meminta petunjuk kepada Allah terlebih dahulu.”
Reza menatap putrinya dengan bangga.
“Jadi,” lanjut Jenna, “Jenna ingin sholat istikharah dulu. Jika nanti sudah ada jawaban yang mantap, Jenna akan mengabari keluarga Kalandra melalui Ayah dan Ibu.”
Hening yang muncul setelah itu terasa berbeda.
Bukan hening canggung.
Melainkan hening yang penuh penghormatan.
Aditya mengangguk perlahan.
“Itu jawaban yang sangat baik, Jenna. Om menghargainya.”
Aruna tampak sedikit menahan rasa harapnya, tetapi ia tetap tersenyum lembut.
“Tante akan menunggu, Nak. Tidak perlu terburu-buru.”
Shaka menatap Jenna dalam diam.
Jawaban itu tidak ia duga.
Sebagian dirinya mengira Jenna mungkin akan langsung menolak karena semua terlalu cepat. Sebagian lain mengira ia akan menyerahkan keputusan kepada orang tuanya. Namun Jenna memilih jalan yang tenang, dewasa, dan tidak gegabah.
Ia tidak menolak.
Tetapi juga tidak menerima tanpa berpikir.
Untuk alasan yang tidak ingin Shaka akui, ia menghormati itu.
Bahkan lebih dari sekadar menghormati.
Ia semakin penasaran.
Setelah pembicaraan resmi itu selesai, suasana kembali dibuat lebih ringan. Mereka berbincang sebentar tentang hal-hal umum, meski masing-masing menyimpan pikirannya sendiri.
Tidak lama kemudian, keluarga Kalandra pamit pulang.
Di depan pintu utama, Reza dan Aditya kembali bersalaman.
“Kami tunggu kabarnya,” ujar Aditya.
Reza mengangguk. “Insyaallah. Apa pun jawabannya nanti, semoga tetap membawa kebaikan untuk dua keluarga.”
Zahra memeluk ringan Aruna.
“Terima kasih sudah datang.”
“Terima kasih sudah menerima kami dengan sangat baik,” jawab Aruna.
Jenna berdiri di samping ibunya, menyalami Aruna sekali lagi.
Aruna menggenggam tangan Jenna lebih lama.
“Tante senang sekali bisa bertemu kamu malam ini.”
“Jenna juga, Tante.”
Lalu Jenna menoleh kepada Shaka.
Mereka kembali saling menatap.
Kali ini, Shaka lebih dulu bicara.
“Terima kasih untuk makan malamnya.”
Suaranya rendah dan datar, tetapi tidak sedingin sebelumnya.
Jenna menunduk sopan.
“Sama-sama.”
Ada jeda kecil di antara mereka.
Lalu Shaka berkata lagi, lebih pelan, “Dan terima kasih untuk buket tadi sore. Mama menyukainya.”
Jenna terdiam sesaat, lalu matanya melengkung lembut.
“Alhamdulillah.”
Sederhana.
Hanya satu kata.
Namun Shaka membawa kata itu masuk ke mobilnya, ke dalam perjalanan pulang, dan entah bagaimana, ke dalam pikirannya sepanjang malam.
Mobil keluarga Kalandra perlahan meninggalkan halaman rumah Nirankara.
Jenna berdiri di depan pintu, menatap lampu belakang mobil yang semakin jauh.
Di sampingnya, Abizar berbisik pelan.
“Jadi, Dek… pelanggan sore tadi ternyata calon yang datang malam ini?”
Jenna langsung menoleh.
“Kak Abi.”
Abizar tersenyum tipis. “Menarik.”
Jenna tidak menjawab.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Malam ini memang men