Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP
Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.
Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Kenapa diem aja.? Kehabisan batre.?" Nicho melirik Sisil sekilas. Pagi itu Nicho mengajak Sisil untuk berangkat ke kampus bersama. Sudah setengah perjalanan, tapi keduanya hanya diam saja sejak tadi. Terutama Sisil yang biasa cerewet, tiba - tiba diam seribu bahasa hingga membuat Nicho keheranan.
Sisil menghela nafas berat. Dia merubah posisi duduknya dengan sedikit menyamping ke arah Nicho. Kini Sisil bisa menatap wajah Nicho lebih jelas. Wajah yang terlihat datar dan serius menatap jalanan.
"Kak Nicho yakin dengan keputusan yang sudah kakak ambil.? Aku nggak mau kakak cuma jadiin aku sebagai jaminan agar kafe kakak tidak di tutup."
"Kalau kak Nicho nggak yakin bisa melanjutkan hubungan ke arah yang serius, sebaiknya nggak usah diterusin."
"Kita hanya akan buang - buang waktu untuk saling mengenal satu sama lain kalau nggak ada kepastian nantinya."
Nicho terlihat menjadi pendengar yang baik. Dia terus diam menyimak ucapan Sisil yang lumayan panjang itu.
Dia baru tau kalau Sisil tipe wanita yang benar . benar memikirkan segala sesuatu dengan matang meski hal sekecil apapun.
Padahal dia hanya meminta pada Sisil agar mau melakukan pendekatan lebih dulu, tapi wanita itu sudah berfikir jauh ke depan.
"Kenapa harus dibuat pusing.?" Nicho bersuara setelah beberapa saat hanya diam saja.
"Sejak awal aku udah bilang, aku serius untuk saling mengenal satu sama lain. Tidak menutup kemungkinan kalau pada akhirnya kita bisa ke arah yang lebih serius bukan.?"
"Kalau pada akhirnya kita saling memiliki perasaan, kenapa tidak.?"
"Kalaupun perasaan itu tidak ada di antara kita, bukan sesuatu hal yang harus disesali.! Dan sama sekali bukan sesuatu yang merugikan."
Nicho memang tidak memikirkan dampak negatif yang akan terjadi nantinya. Dia menganggap bahwa proses pendekatan adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh 2 orang untuk menuju ke hubungan yang lebih serius. Kalaupun tidak bisa berlanjut ke hubungan yang serius, itu hal yang wajar.
"Bagaimana kalau kak Nicho jatuh cinta sama aku, tapi aku nggak punya perasaan sama kakak sedikitpun. Apa kakak nggak akan kecewa dan merasa sia -sia kalau akhirnya hubungan ini cuma sebatas saling mengenal,?" Sisil bertanya dengan wajah yang serius, dia ingin tau jawaban seperti apa yang diberikan oleh Nicho untuknya.
"Cinta tidak bisa di paksakan. Jadi untuk apa harus kecewa.?"
"Memaksa orang untuk mencintai kita juga bukan hal yang baik kan.?"
Nicho melirik Sisil, saat itu juga keduanya saling pandang untuk beberapa detik.
Sisil hanya diam saja. Dia seperti enggan untuk menanggapi jawaban Nicho yang tidak sesuai dengan pemikirannya.
Bagi Nicho mungkin bukan hal yang mengecewakan, tapi Sisil akan merasa kecewa jika berada di posisi seperti itu. Bayangkan saja, setelah banyak menghabiskan waktu bersama dan memiliki perasaan, tapi pada akhirnya tidak bisa melanjutkan hubungan yang lebih serius.
Sisil lebih pusing memikirkan hal ini dibanding saat dia mengakhiri hubungannya dengan Dave. Karna pada dasarnya Sisil tidak memiliki perasaan sedikitpun pada Dave. Bahkan setelah 2 tahun bersama, perasaan cinta itu tetap tidak tumbuh di harinya. Nicho memang benar, cinta tidak bisa di paksakan.
"Kamu pulang jam berapa.?" Nicho memarkirkan mobilnya, kemudian melepas seatbelt.
"Jam 10, cuma ada satu mata kuliah hari ini,,"
"Aku bisa pulang sendiri kalau kakak pulang siang,,," Sisil keluar dari mobil, begitu juga dengan Nicho.
"Aku selsai jam 11, tetap disini sampai aku selsai.!" Pinta Nicho.
"Kita makan siang di kafe nanti,,"
Sisil mengangguk patuh.
"Aku duluan ya kak, takut telat,,," Sisil bergegas pergi setelah melihat jam di tangannya. Dia bahkan tidak menunggu jawaban dari Nicho dan sudah berjalan cepat meninggalkan tempat parkir.
...****...
Sisil langsung pergi ke taman begitu selesai mengikuti mata kuliah. Dia harus menunggu Nicho selama 1 jam. Waktu yang tidak sebentar dan pastinya akan membuatnya bosan.
"Kamu disini ternyata.!" Nathan mengacak rambut Sisil dan ikut duduk disebelah sepupunya itu. Seperti biasa, Sisil akan memasang wajah cemberut setiap kali di usili oleh Nathan.
"Apaan si.! Rese banget pengantin baru.!" Sisil menggerutu sambil membenarkan rambutnya.
Nathan menghela nafas, sepertinya dia tidak suka mendengar Sisil memberikan julukan pengantin baru padanya.
Wajahnya terlihat sendu dan penuh beban.
"Maaf,,," Pada akhirnya Sisil meminta maaf karna menyadari raut wajah Nathan yang tiba - tiba tidak bersahabat setelah dia menyebutnya pengantin baru.
"Aku harap oppa bisa bahagia, nggak harus dalam waktu dekat, karna aku tau semua itu nggak gampang,,"
"Aku tau oppa kaki - laki yang baik, begitu juga dengan kak Fely. Kalian hanya butuh waktu saja untuk saling menerima, mengenal dan kemudian saling mencintai,,"
Sisil berbicara dengan raut wajah yang serius dan penuh harap. Dia ingin yang terbaik untuk kakak sepupunya. Meski perbuatannya memang salah, tapi Nathan juga berhak untuk bahagia.
"Sok dewasa banget kamu.!" Nathan tertawa geli. Dia kembali mengacak rambut Sisil.
"Iiissst,,,! Jangan kayak gini,,," Sisil menepis kasar tangan Nathan.
"Udah sana pergi, gangguin orang aja." Protesnya kesal. Nathan hanya tertawa saja. Dia terlihat senang membuat Sisil kesal.
"Oia,, dimana kak Fely.?"
Sisil baru ingat dengan Fely, harusnya Fely juga ada di kampus karna satu kelas dengan Nathan.
"Dia nggak masuk hari ini, tadi pagi demam jadi aku melarangnya ke kampus." Sisil mengangguk paham.
"Kamu bukannya udah kelar.? Kenapa masih disini.?"
"Tolong anterin makan ke apartemen, makanannya masih ada di mobil. Aku harus ke kelas 15 menit lagi,,," Ujarnya sambil melihat jam di tangannya.
"Buat kak Fely.?" Tanya Sisil.
"Memangnya buat siapa lagi.?" Sahut Nathan cepat.
"Buruan ikut ke parkiran. Aku beli beberapa jadi nggak bisa di bawa - bawa kesini, ribet.!" Nathan beranjak dari duduknya, begitu juga dengan Sisil. Mereka bergegas ke parkiran.
"Sebanyak ini.?" Seru Sisil. Dia melongo melihat 3 paperbag yang penuh dengan makan.
"Hemm,,,"
"Buat dia makan siang, ada dessert, jus, sama buah,,"
"Aku belum sempet isi kulkas kemaren, jadi nggak banyak stok makanan di apartemen,,,"
"Sekalian bilangin sama dia, aku pulang jam 1,,"
Sisil terlihat mengerutkan keningnya. Kenapa tidak menelfon atau mengirim pesan saja pada Fely, pikirnya.
"Emang oppa nggak punya nomor kak Fely.?"
Nathan terlihat mengulas senyum sinis.
"Sepertinya panggilan telfon dan pesanku nggak bisa kebaca di ponselnya,,!" Sahutnya ketus.
"Maksudnya nomor oppa di blokir.?"
Sisil makin penasaran saja.
"Di abaikan.!" Serunya kesal.
"Puas kamu.?" Geram Nathan.
Sisil hanya bisa menahan tawa. Merasa kasian 0ada Nathan, tapi merasa lucu juga dengan hubungan kakak sepupu dan istrinya itu.
"Aku duluan.!" Nathan beranjak dari sana.
"Tunggu oppa.! Tapi aku nggak bisa pulang sekarang, lagi nungguin temen."
"Paling 30 menit lagi baru cabut dari sini,,,"
Nathan mengangguk, lalu mengacungkan jempol pada Sisil.
"Asal nggak lewat dari jam 1.! Itu sih percuma aku titipin ke kamu.!" Teriak Nathan, lalu bergegas pergi.
Sisil hanya bisa menatap sendu. Dia ingat 3 hari lalu saat acara pernikahan kakak sepupunya itu. Fely terlihat begitu membenci Nathan, dan tidak mengharapkan pernikahan itu terjadi.
...*****...
Belum pada vote yah.?
BTW kemaren yang menang give away masih ada 2 orang lagi yang belum klaim.
Langsung DM othor di ig @r.wulland yah.