NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Di saat yang bersamaan, tepat di balik tirai putih jendela kamar yang temaram tersiram cahaya bulan, bayangan putih dan tinggi perlahan-lahan bergerak.

Deg!

Sekilas, di balik kain tipis tirai tersebut, tampak sesosok figur wanita berambut panjang terurai berantakan dengan pakaian putih yang sudah kusam dan penuh noda kecokelatan. Sepasang mata merah menyala menatap tajam menembus kaca, menyeringai mengerikan ke arah mereka berdua.

Tiara yang melihat penampakan itu langsung menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan sementara air matanya tumpah seketika karena terlampau takut. Theo memeluk istrinya erat-erat, memaksa dirinya berdiri melindungi Tiara di tengah teror nyata yang kini tepat berada di hadapan kamar mereka.

Bukan hanya Tiara yang membeku, darah di tubuh Theo seolah berhenti mengalir saat ia menatap langsung ke balik tirai jendela kamar tersebut. Di sana, tepat di balik kaca yang berembun karena hawa dingin, sosok itu berdiri tegak melayang di balik jendela besar kamar yang berada di lantai dua tersebut.

Sosok wanita berambut panjang awut-awutan dengan pakaian putih penuh noda tanah dan darah kering itu menyeringai lebar. Bibirnya yang pucat pasi tertarik ke samping, memperlihatkan deretan gigi hitam yang tajam, menatap lurus penuh kebencian tepat ke arah mata Theo.

Seketika itu juga, keheningan malam dipecahkan oleh suara tawa yang melengking tinggi.

*"Hihihihihi… hihihihihi… !"*

Suara tawa itu begitu nyaring dan memekakkan, terdengar seperti gesekan logam berkarat yang dipaksa beradu.

Tiara yang sudah tak kuasa menahan rasa takutnya langsung jatuh bersimpuh di atas kasur. Ia menatap ke arah sosok kuntilanak itu sampai tubuhnya gemetar hebat dalam dekapan erat Theo.

"Mas... Ya Allah, Makhluk apa itu?! Aku takut, Mas!" ucap Tiara parau di sela tangisannya, mencengkeram erat lengan suaminya seolah itu adalah satu-satunya perlindungan di dunia.

Theo sendiri nyaris kehilangan kendali atas rasa paniknya. Keringat dingin bercucuran deras membasahi pelipisnya. Napasnya memburu tak beraturan, sementara dadanya bergemuruh hebat antara rasa takut yang luar biasa dan insting melindungi sang istri.

Meski kakinya terasa lemas dan pandangannya sempat berkunang-kunang akibat teror gaib yang begitu pekat, Theo memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegap di hadapan Tiara. Ia merangkul istrinya semakin erat, mendekap tubuh wanita yang dicintainya itu dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.

Theo tahu ia tidak boleh ikut runtuh. Jika ia ikut panik, siapa yang akan melindungi wanita yang kini mendekapnya erat-erat?

Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan di tengah udara malam yang membeku, Theo menarik napas dalam-dalam. Ia merenggangkan sedikit dekapannya, lalu menangkup wajah Tiara yang basah oleh air mata dengan kedua tangannya yang berkeringat dingin.

"Tiara... hei, lihat aku, Sayang," ucap Theo dengan suara yang berusaha ia tegar-tegarkan, meski bergetar hebat. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya demi menenangkan sang istri.

Tiara menggelengkan kepalanya panik, matanya menatap nanar ke arah jendela kamar yang tirainya masih tertutup bayangan mengerikan itu. "Mas... di luar... makhluk itu masih di sana! Suaranya..." isak Tiara tertahan, suaranya nyaris hilang karena ketakutan yang teramat sangat.

"Sssst... jangan dilihat ke sana," bujuk Theo lembut namun tegas. Ia mengusap air mata di pipi istrinya dengan penuh kasih sayang, mencoba menyalurkan kehangatan di tengah hawa dingin yang luar biasa menusuk tulang. "Dengar suaraku, Tiara. Fokus ke aku. Jangan takut, ada aku di sini... Selama aku masih ada di samping kamu, aku nggak akan biarkan apa pun menyentuh kamu."

Theo kembali mendekap kepala Tiara, menyembunyikan wajah istrinya di dadanya agar tak lagi melihat sosok mengerikan di balik tirai jendela. Sembari memeluk erat sang istri, sebelah tangan Theo terulur merengkuh pundak, sementara bibirnya mulai melafalkan ayat-ayat suci dan doa perlindungan dengan suara lirih namun penuh keyakinan.

Ia tahu rumah ini menyimpan misteri besar yang mengerikan. Namun, malam ini, di dalam kamar masa kecilnya yang penuh kenangan, Theo bertekad untuk berdiri sebagai pelindung bagi Tiara, melawan rasa takut yang mencengkeram demi keselamatan wanita yang paling dicintainya.

Di tengah debaran jantung yang masih bertalu-talu dan doa-doa yang terus dirapalkan Theo dalam dekapannya, teror mengerikan itu perlahan-lahan mulai memudar. sosok wanita mengerikan nan kusam yang berdiri di balik kaca jendela itu tidak lagi menunjukkan wujudnya yang menyeringi.

Secara perlahan, sosok kuntilanak berambut panjang itu melayang mundur, menjauh dari sisi luar jendela kamar lantai dua tersebut, melebur ke dalam pekatnya kegelapan malam.

Seiring dengan perginya sosok itu, hawa dingin yang tadinya menusuk tulang berangsur-angsur menipis, digantikan oleh keheningan malam desa yang kembali sunyi. Bau busuk mayat dan melati layu yang sempat menyesakkan dada pun perlahan lenyap, menyisakan aroma kayu jati tua yang khas di dalam kamar.

Theo menghela napas panjang, merenggangkan dekapannya perlahan untuk melihat kondisi istrinya. Peluh dingin tampak membasahi kening Tiara yang masih memejamkan mata rapat-rapat, napasnya naik turun dengan cepat karena kelelahan dan ketakutan yang luar biasa.

"Tiara... sayang, dia sudah pergi," bisik Theo lembut, mengusap punggung istrinya dengan penuh ketenangan. "Udah nggak ada, Sayang... kita aman."

Tiara membuka matanya perlahan, menatap sekeliling kamar yang kini kembali normal, meski bayangan seringai mengerikan itu masih membekas di benaknya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia merengkuh pinggang suaminya erat-erat, seolah takut makhluk itu akan kembali muncul jika ia melepaskannya.

Meskipun teror malam itu mereda, kejadian tersebut meninggalkan satu kenyataan yang tak terbantahkan bagi Theo: rumah warisan kakeknya benar-benar menyimpan rahasia kelam dan ancaman gaib yang sewaktu-waktu bisa datang menguji keteguhan hati mereka berdua.

Meskipun suasana di dalam kamar telah kembali tenang dan wangi melati busuk itu perlahan sirna, batin Theo berkecamuk hebat. Ia kembali merenung dalam diam, menatap kosong ke arah langit-langit kamar sementara Tiara tertidur lelap dalam dekapan tangannya karena kelelahan menangis.

Keraguan yang sempat mencair oleh kehangatan warga desa kini mendadak membeku kembali, berubah menjadi ketakutan yang mencengkeram jantungnya.

"Apakah keputusanku untuk tinggal di sini benar-benar tepat...?”gumam Theo dalam hati, suaranya bergetar di tengah keheningan malam.

Bayangan seringai mengerikan sosok berwajah pucat tadi terus berputar-putar di kepalanya. Janji dan wasiat sang kakek memang sakral, pengabdian kepada keluarga adalah hal utama, tetapi keselamatan Tiara jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Bagaimana jika suatu saat nanti, saat ia sedang pergi ke Jakarta untuk mengurus pekerjaannya, makhluk itu kembali datang dan tidak ada siapa pun yang bisa melindungi istrinya?

Kecemasan itu merayap pelan, menggerogoti keyakinannya sedikit demi sedikit. Theo menunduk, menciumi puncak kepala Tiara yang tertidur pulas dengan napas teratur, sementara beban berat seketika menghimpit dadanya. Rumah warisan ini menyimpan rahasia kelam yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan, dan malam ini, Theo harus menghadapi dilema besar di antara rasa baktinya pada sang kakek atau keselamatan istri tercintanya.

Malam yang tadinya mulai mereda tidak serta-merta memberikan kedamaian sepenuhnya bagi Theo. Selepas ketegangan meruncing akibat penampakan di jendela, kelelahan akhirnya merenggut kesadaran Theo dan membuatnya terlelap di samping sang istri.

Namun, teror di rumah tua itu ternyata belum mau berhenti.

Di dalam alam bawah sadarnya, Theo mendadak merasa terseret ke sebuah dimensi yang gelap dan pengap. Suasana di sekelilingnya berubah menjadi hutan belantara yang dipenuhi kabut pekat, tempat di mana ia pernah mengalami kejadian paling mencekam saat masih duduk di bangku SMP.

Dari balik rimbunnya pohon kelengkeng besar yang menjulang tinggi di samping rumahnya, sepasang mata merah menyala menatapnya tajam. Suhu udara mendadak menjadi sangat panas, beraroma belerang dan bulu terbakar.

Perlahan-lahan, sesosok bayangan hitam raksasa berbulu lebat dan kasar muncul dari balik kegelapan. Posturnya begitu tinggi besar hingga hampir menutupi kanopi pohon, dengan taring tajam yang menyembul di antara seringai bengisnya.

Itulah genderuwo hitam—makhluk mengerikan yang dulu pernah mengejar, meneror, dan meninggalkan trauma mendalam di masa remaja Theo.

Dalam mimpi buruk itu, makhluk tersebut melangkah mendekat dengan suara tanah yang berderak di bawah kakinya yang besar. Napasnya menderu berat, bagaikan embusan angin neraka. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tangan besar berbulu pekat itu terulur, mencengkeram kuat seolah hendak menyeret Theo kembali ke dalam cengkeraman masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.

*“Arghh…!”

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!