Cerita ini berlatar belakang seribu tujuh ratus tahun setelah pertarungan dewa, batu-batu sakral kini tersebar ke berbagai penjuru dunia, setiap kaum yang memilikinya memanfaatkan batu tersebut untuk kepentingan kaum mereka, Zeel Greenlight seorang pemuda dari kota benteng Clever kehilangan kedua orang tuanya saat peristiwa malam darah, inilah awal dari perjalanannya untuk mencari siapa dan kenapa pembunuhan itu terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefrie Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11 : Perpustakaan
19 september tahun 1700, istana Bluelight, kota benteng Haven.
Pagi hari itu kota benteng Heaven sedang mengalami badai salju.
Wushhh ....
Angin bertiup dengan kencang sehingga butiran salju membatasi pandangan.
Aktivitas seluruh penduduk kota benteng Clever terganggu, tidak terkecuali istana Bluelight.
Pada pagi hari itu, Zeel dan Clare serta Sophia sedang sarapan bersama di ruang makan istana.
Sembari menyantap hidangannya, Clare tampak cemberut.
“Ada apa Clare?” tanya Zeel yang duduk di sebelahnya.
“Apa makanannya tidak enak?” tanya Sophia yang duduk di hadapan Clare.
Clare berkata, “bukan begitu … makanannya enak.”
“Lalu?” Zeel bertanya.
Clare berhenti mengunyah lalu berkata, “hari ini aku ingin keluar lagi … tapi badai salju turun.”
“Badai salju ya … bagaimana lagi,” tutur Sophia.
“Sophia … Ketika badai salju seperti ini, apa yang biasa kamu lakukan? Tanya Zeel.
Sophia berhenti mengunyah lalu menatap Zeel.
Seketika pipi Sophia memerah lalu memalingkan pandangannya dari Zeel.
“Be ... bekerja,” tutur Sophia dengan nada rendah.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.
Tiba-tiba Clare teringat akan sesuatu.
“Bagaimana kalau kalian membaca buku di istana?”
Setelah sarapan, Zeel dan Clare mengikuti langkah Sophia dari belakang.
Lorong-lorong istana mereka telusuri, beberapa saat kemudian langkah Sophia berhenti di hadapan sepasang pintu.
Kemudian Sophia mengetuk pintu.
Pintu terbuka dari dalam.
Terlihat sosok wanita menggunakan pakaian ala pelayan istana Bluelight.
“Selamat pagi Roselia,” ucap Sophia.
“Selamat pagi tuan putri,” kata Roselia.
Sophia berkata, “Zeel dan Clare … perkenalkan ini Roselia, ia adalah pustakawan di perpustakaan istana ini
Sophia menoleh ke belakang lalu berkata, “masuklah.”
Kemudian Zeel dan Clare mengikuti Roselia dari belakang.
Zeel dan Clare di bimbing pada sebuah meja.
Pada permukaan meja tampak sebuah buku tebal, lalu Roselia membuka buku tebal itu secara perlahan.
“Ini adalah buku nama pengunjung … silahkan tuan dan nyonya untuk menuliskan nama,” ucap pelayan itu dengan lembut.
Tepat pada sisi kiri buku, tersedia sebuah pena bulu dengan bulu berwarna merah.
Pena bulu itu berada pada sebuah wadah transparan berisi tintah berwarna hitam.
Umumnya pena bulu terbuat dari bulu burung berukuran besar.
Tidak semua orang memiliki alat tulis
ini, hanya orang kaya saja.
Kemudian Zeel mengambil pena bulu lalu menuliskan namanya pada buku nama pengunjung.
Setelah selesai menuliskan namannya, Zeel mengembalikan pena bulu kembali ke wadahnya.
Kemudian Zeel peri sedikit menjauhi meja guna memberikan ruang bagi Clare untuk menulis.
Namun untuk beberapa saat Clare hanya berdiri terdiam.
“Zeel … kamu bisa menulis?” bisik Clare pelan.
Zeel menjawab, “aku bisa … kenapa?”
“Nyonya silahkan,” tutur pelayan itu sembari tersenyum ramah pada Clare.
“Maaf!” ucap Clare dengan nada tinggi sembari sedikit menundukkan kepala.
“Ada apa nyonya?” tanya Roselia.
Clare berkata, “aku tidak bisa menulis.”
Sang pelayan Roselia menunjukan ekspresi kaget untuk sejenak.
Ia tidak menduga gadis secantik Clare tidak bisa menulis.
“Tidak apa-apa nyonya,” tutur Roselia ramah.
“Biar aku saja,” ucap Zeel.
Kemudian Zeel kembali mendekati meja lalu menulis nama Clare di bawah namanya.
Selepas itu Clare menghampiri Zeel kemudian mengamati Zeel yang sedang menulis.
“Tulisanmu bagus ya Zeel,” ucap Clare
dengan ekspresi kagum.
Zeel belajar membaca dan menulis di militer, sehingga ia memiliki kemampuan itu.
Namun tidak semua orang memiliki kemampuan itu, termasuk Clare.
Kemudian Sophia menghampiri mereka.
“Sudah?” tanya Sophia.
Zeel menjawab, “sudah.”
“Roselia, biar aku saja yang mengurus mereka, ucap Sophia.
“Baik tuan putri,” tutur Roselia.
“Zeel silahkan kamu lihat-lihat dulu, aku ingin mencari buku untuk Clare,” kata Sophia.
Zeel menoleh ke sekitarnya, tampak kedua sisi ruangan itu memiliki rak-rak buku dengan ukuran besar.
Tepat di tengah kedua sisi rak-rak buku itu, tersedia sebuah meja berbentuk persegi dengan sejumlah kursi pada setiap sisinya.
Cahaya masuk melalu jendela berukuran cukup besar, jendela itu berada pada sisi yang bersebrangan dengan pintu masuk perpustakaan.
Kemudian Zeel memutuskan untuk duduk di salah satu kursi.
Sementara itu Sophia sedang menemani Clare untuk mencari sebuah buku.
“Kalau tidak salah … kamu ingin membaca buku dongeng bunga es kan?” tanya Sophia.
“Iya,” tutur Clare tampak bersemangat.
Kemudian Sophia berjalan di sepanjang rak-rak buku.
Tampak Clare mengikutinya dari belakang.
Tak lama kemudian Sophia berhenti pada salah satu bagian rak buku.
“Kalau tidak salah … ini,” tutur Sophia sembari menarik sebuah buku dari rak.
“Ini,” kata Sophia sembari menyodorkan buku itu pada Clare.
“Terima kasih,” ucap Clare sembari menerima buku itu.
Kini Clare sedang memegang sebuah buku dengan kedua tangannya, pandangan Clare tertuju pada sampul buku itu.
Pada bagian sampul buku tersebut, terdapat sebuah gambar bunga yang tumbuh di antara es.
Bunga pada sampul buku itu tampak begitu dingin, seakan-akan bunga itu bagian dari es.
Selepas itu Clare menghampiri kursi kosong yang berada di sebelah Zeel
Sreeet ....
Clare menarik kursi itu, lalu ia duduk.
Zeel menatap Clare yang kini duduk disampingnya.
Mata Clare tampak bersemangat.
“Zeel,” terdengar oleh Zeel seseorang menyebut namanya.
Lalu Zeel menoleh ke belakangnya, tempat suara berasal.
Ia melihat Sophia sedang berdiri di belakangnya.
Terpandang oleh Zeel sosok Sophia yang sedang memegang sebuah piring kecil dengan tangan kanannya.
Pada permukaan lilin itu nampak sebuah lilin sedang menyala.
“Ikuti aku,” tutur Clare.
Zeel bangkit dari kursi mengikuti Sophia, sementara Clare masih menatap sampul buku dengan mata berbinar-binar.
Sophia membimbing Zeel kepada salah satu sisi rak buku.
Sophia kini berdiri di hadapan rak buku.
Sementara itu Zeel berdiri di belakang Sophia.
Lalu Sophia mendorong rak buku itu, kemudian rak buku itu tergeser ke sisi lain.
“Keren … ini apa?” tanya Zeel.
“Ini pintu rahasia ... masuklah,” ajak Sophia.
Bersama lilin yang ia bawa, Sophia masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan.
Ruangan itu begitu gelap, kini Zeel paham kenapa Sophia membawa sebuah lilin.
Kemudian Zeel ikut masuk ke dalam.
Zeel menatap sekitar, kini ia berada di sebuah ruangan kecil.
Terpandang oleh Zeel Sejumlah rak buku mengelilinginya serta sebuah meja yang berada pada tengah ruangan.
Pandangan Zeel tidak begitu jelas, ia tidak mampu melihat isi ruangan itu secara keseluruhan.
Cahaya yang di hasilkan lilin yang di bawa oleh Sophia tidak begitu terang.
Sophia yang terlebih dahulu memasuki ruangan, kini sedang meletakan lilin yang ia bawa pada sebuah meja.
“Kalau tidak salah … ada di bagian ini,” tutur Sophia dengan nada rendah.
Kini Sophia tampak sedang meraba-raba buku pada rak.
Sementara itu Zeel sedang berdiri sembari mengamati Sophia.
..."Bunga ini."...
...-Clare-...
kak jangan lupa mampir do novel ku NEGRI JIRAN.
mohon dukungannya