Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXXII
Katakan jika kamu rindu
Katakan juga jika kamu masih ada rasa
Biarkan dunia juga tahu
Jika rasaku bukan fatamorgana
Aku insan yang merindu
Menantikan kehadiran hatimu
Bila memang masih ada waktu
Aku ingin selalu bersamamu
Tapi sepertinya ini bukan nyata
Halusinasi ini benar seperti yang kurasa
*****
Jalanan Bintaro yang ramai membuat beberapa pengendara memaki dan mengumpat, karena mobil om Tio yang berhenti secara mendadak. Bahkan ada beberapa supir yang jelas-jelas mengancam sambil berlalu meninggalkan lokasi.
"Hai, kalau mau berhenti kira-kira!"
"Bisa nyetir kagak sih!"
"Buset... untung kagak nabrak!"
"Setan. Mau bikin kecelakaan beruntun!"
"Pernah di jejelin sepatu kagak tuh otak!"
Begitulah kira-kira sumpah serapah beberapa pengendara yang terkejut karena ulah om Tio. Larry yang mendengar semua cacian tersebut hanya tertawa-tawa, karena wajah om Tio yang kaget bercampur kesal namun juga ada rasa bersalahnya.
"Sial kau boy!" Ganti om Tio yang berkata dengan kesalnya.
"Lho kok aku yang salah? kan om Tio yang nyetir!" Larry berusaha membela diri dan menyadarkan om Tio akan kesalahannya.
"Makanya lihat-lihat juga kalau mau berhenti. Minggir dulu kek, apa cari warung gitu. Bisa sekalian makan kitanya!" Larry masih saja berkata dengan maksud mengejek om Tio yang menjadi keki dan salah tingkah.
"Terus gimana nih?" tanya om Tio meminta pendapat.
"Terserah om lah... yang pegang setir kan om!" Larry kembali menyandarkan tubuhnya agar lebih rileks. Om Tio tampak mengeleng melihat tingkah keponakanya yang terlihat acuh dan tidak juga peka dengan apa yang terjadi.
"Jika kita langsung pulang, yakin kamu akan baik-baik saja?" tanya om Tio berusaha memancing lagi.
"Sudah deh om, kalau mau ke panti ya ke panti saja. Kalau mau pulang ya ayok pulang. Kalau mau makan ya sudah Larry juga lapar nih!" Akhirnya Larry memberikan beberapa pilihan, agar om Tio bisa mengambil keputusan dari salah satunya.
"Oh... sedari tadi itu lapar? kenapa gak langsung bilang saja?" tanya om Tio menyadari jika apa yang dia pikirkan tadi semua salah.
"Siapa yang bilang?" tanya Larry dengan wajah masa bodohnya.
"Gak ada!" Om Tio pun ikut menjawab masa bodoh, mengimbangi sikap acuh Larry.
Dengan tersenyum tipis, Larry pun hanya mengangkat kedua tangannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kita cari warung apa boy?" tanya om Tio saat mobil sudah kembali berjalan dengan pelan.
"Terserah Om saja!" jawab Larry singkat. Padahal om Tio sangat benci dengan jawaban dari seseorang jika sedang di tanya dan hanya bilang "TERSERAH."
Dengan mengerutu kecil om Tio akhirnya menghentikan mobilnya di sebuah warung makan yang tidak terlalu besar tapi terlihat ramai.
"Kata orang jika sedang mencari warung makan, carilah yang dalam keadaan ramai. Sebab bisa dilihat jika warung tersebut di sukai orang banyak karena masakannya yang mungkin saja enak." Dengan berbekal pengalaman yang om Tio miliki dia memang selalu bisa mencari warung yang enak jika sedang makan di luar, meskipun warung tersebut bukanlah warung yang besar seperti restoran.
Larry hanya diam mengamati keadaan warung tersebut. Warung yang tidak terlalu besar dan berada di antara deretan ruko kecil pinggir jalan tersebut memang terlihat ramai dan banyak yang mampir untuk makan atau memesan untuk dibawa pulang. Banyak juga para eksekutif yang mampir sepulang dari kantor. Terlihat dari pakaian yang mereka kenakan saat ini.
"Ayo boy, kita coba soto Betawi ala pinggir jalan ini. Kalau enak bisa nagih tentunya, dan kita bisa pastikan kembali besok-besok lagi untuk datang!" Ajak om Tio untuk segera turun dari mobil.
Larry hanya diam dan mengikuti perkataan om Tio. Dia yakin jika pilihan om Tio soal makanan jarang yang salah tebak. Semua enak dan memang itu terbukti di setiap mereka pergi bersama.
Mereka berdua pun masuk ke dalam warung makan, memesan dan menunggu pesanan datang.
"Hemm... ternyata tidak salah ya boy. Memang benar-benar enak!" kata om Tio memuji makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
"Bang bungkus sepuluh ya sekalian nasinya!" Larry berseru pada penjual yang sedang membersihkan meja di sebelahnya.
"Siap tong!" jawab Abang penjual soto tersebut.
"Hahahaha... entong lagi doyan makan!" Ejek om Tio melihat Larry yang makan dengan lahap dan masih memesan untuk di bungkus juga.
"Eh boy, banyak banget kamu pesan untuk di bungkus. Buat siapa?" tanya om Tio kaget setelah sadar jika Larry memesan soto tidak hanya sebungkus.
"Katanya mau ke panti? Atau jika tidak ya bisa di kasi ke orang rumah kan?" tanya Larry dengan memicingkan matanya bingung dengan apa yang ditanyakan oleh om Tio. Dengan tersenyum masam om Tio pun mengangguk meskipun terlihat ragu.
"Sudah sana om, bayar ya!" kata Larry saat pesannya datang diantar oleh abang penjual. Larry tersenyum karena berhasil mengerjai om Tio yang sekarang terbengong kaget. Dia mengeleng melihat tingkah keponakanya yang kadang tidak terduga, sedangkan abang penjual tersenyum dengan senangnya.
*****
"Hai Anna!" sapa Larry begitu turun dari mobil dan melihat Anna yang sedang menyapu terasa depan.
Anna yang tadi sempet kaget karena melihat ada mobil yang sudah dia kenal masuk lebih kaget lagi karena ternyata dugaannya benar adanya.
"Eh, hai juga..." jawab Anna gugup.
"Aku pikir tadi siapa yang datang" kata Anna berusaha berbasa-basi menghilangkan rasa terkejutnya.
"Kamu pikir pangeran mana yang datang?" tanya Larry bergurau karena melihat Anna yang terkejut tadi.
"Hehehe bisa saja!" Anna pun mempersilahkan tamunya tersebut untuk masuk ke dalam, tapi Larry justru menolaknya.
"Kita ke samping saja yuk Om! Adem di sana." Larry berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu jawaban dari om Tio.
"Mari Om!" ajak Anna tersenyum. Om Tio pun balik tersenyum dan mengangguk mengikuti langkah Anna yang menyusul Larry.
"Oh ya Ann, ini ada soto. Bagi ya sama yang lain!" Larry menyerahkan bungkusan soto yang tadi dia bawa pada Anna. Dengan gerakan ragu Anna menerima bungkusnya yang di sodorkan Larry padanya.
"Terima kasih. Tapi kalau mau kesini tidak perlu harus repot seperti ini." Anna berkata dengan pelan takut menyingung Larry yang sudah berbaik hati.
"Bukanya kami menolak, tapi tidak enak jika kamu datang harus repot terus." Anna kembali berkata memberikan penjelasan.
"Bukan aku yang beli, om Tio tuh!" Larry menunjuk pada om Tio yang masih berdiri di belakang Anna.
"Eh, si Om ya? Terima kasih ya Om, jadi merepotkan!" kata Anna dengan tersenyum canggung.
"Ya gak apa-apa. Larry memang begitu kok. Jangan di ambil hati ya!" Om Tio pun tersenyum dan ikut duduk disebelah Larry.
"Ann, ada mobil didepan. Siapa tamunya?" Dari pintu samping tampak ibu Ayu yang kaget setelah bertanya pada Anna dan malah melihat om Tio yang juga sedang melihat ke arahnya.
***Hai apa kabar semuanya? Semoga tetap sehat dan semangat ya!!!! 😘😘😍
lanjut...