Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.
Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Hope
Dua minggu kemudian,
Zürich, Switzerland ....
Sagata Putra Raharsya,
CEO of Volkswagen International Corp.
Sagata, ialah adik Gara yang tak pernah terekspos keberadaannya. Ia lelaki yang jarang banyak bicara. Ia tertutup, penurut dan selalu patuh pada kedua orang tuanya. Berbeda dengan Sagara, yang memang malas dan urakan. Sagata, yang selalu dipanggil Gata itu, adalah orang yang datar, dan tak banyak bicara. Siapa sangka, dibalik sikap Gata yang dingin, ternyata Gata juga menyimpan rahasia yang tak satupun keluarganya mengetahui.
Kini, ia tengah sibuk menjalankan perusahaan besar milik Ayahnya. Gata tahu, kabar tentang Gara, namun ia hanya diam saja, tak memberikan respon atas apa yang dialami kakaknya. Gata terkesan misterius, dan terlihat datar-datar saja. Ia tak akan menghubungi keluarganya, jika tak keluarganya lebih dulu yang menghubunginya.
Seperti hari ini, ponselnya berdering, Gata pun melihat layar ponselnya. Ia menyadari, bahwa sang Bunda lah yang meneleponnya. Gata pun segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Bun?" sapa Gara dengan ponsel yang menempel ke telinganya.
"Gata, sayang ... apa kamu sedang sibuk, Nak? Bunda rindu," terdengar suara merdu Tira dari balik ponsel Gara.
"Gata baru selesai meeting bersama Mr. Paul. Ada apa, Bunda?" tanya Gata.
"Bisakah kamu meluangkan waktumu untuk datang ke acara peresmian Kakakmu?" tanya Tira dengan sangat hati-hati.
"Bukankah Kakak begitu membenciku? Aku tak ingin merusak harinya," jawab Sagata.
"Tidak, Gata. Kakakmu tak membencimu. Apa kamu tak kasihan padanya? Dia butuh dukungan kita sebagai keluarganya, dia baru saja kehilangan anaknya, apa kamu tak mau menyemangatinya? Kakakmu sudah menerima semua, ia tak marah lagi padamu, Gata." Ujar Tira.
"Bagaimana hubungannya dengan Bianca?" tanya Gata tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya mengenai Bianca?" Tira sedikit heran.
"Bukankah Kakak baru kehilangan bayinya? Bayi itu bukan dari Bianca, kan? Lalu, jika bukan, bagaimana kelanjutan hubungan Kakak? Apa dia akan tetap bersama Bianca? Apa Kakak akan bersama Ibu dari bayinya?" pertanyaan Gata sedikit menyentil Tira.
Tira heran, sejak kapan adiknya begitu peduli tentang hal-hal seperti itu. Apalagi, menyinggung tentang hal pribadi sang Kakak.
"Kita sudah membatalkan pertunangan dengan Bianca, dan Kakakmu lebih memilih Ibu dari bayinya yang meninggal. Kasihan Kakakmu dan wanita itu. Bunda sudah mencoba mengatasi trauma mereka, dengan terapi oleh psikolog profesional. Semoga perlahan keadaan mereka mulai membaik." Ucap Tira.
Jadi, Kakak sudah tak bersama Bianca lagi? Syukurlah, Batin Sagata.
"Baiklah, aku akan datang ke acara peresmian nanti, katakan tanggalnya dan aku akan bersiap," ucap Sagata.
"Benarkah? Sayang, Gata ... ternyata kamu mau datang. Terima kasih, Gata. Bunda akan menantimu disini." Tira semangat.
"Iya, Bunda."
Telepon pun ditutup. Gata merenung sendiri. Entah apa yang ada dibenak Gata, ketika ia merenung sendiri. Hingga lamunannya tersadar, ketika sekretarisnya masuk dan meminta tanda tangan dirinya.
...❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤...
Menjelang peresmian jabatan Gara, ia terus mengajak Hila terapi, agar disaat nanti Hila dikenalkan pada umum, keadaan Hila mulai membaik. Seperti hari ini, Gara menyempatkan mengantar Hila terapi. Gara tetap sabar melihat Hila menjalani serangkaian pemeriksaan. Hingga akhirnya, terapi pun selesai, dan Gara mengajak Hila untuk pulang.
Didalam mobil, Hila sedikit rileks, karena setiap Hila telah mendapat terapi, suasana hatinya perlahan-lahan membaik. Gara tersenyum pada Hila, dan Hila pun membalas senyumannya. kondisi kesehatannya pun mulai membaik, karena Gara terus mendukung dan menyemangati Hila.
Gara mengajak Hila makan siang di sebuah restoran. Ia ingin membuat Hila kembali membuka dunianya, bukan terus-menerus terpuruk akan kesedihannya. Hila pun mulai sedikit demi sedikit bisa menerima kenyataan dan membuka dirinya.
"Kamu cantik kalau tersenyum, Hil." Ucap Gara.
"Makasih," Hila membalas sekenanya.
"Jangan bersedih terus. Ingatlah, ada aku yang ingin melihatmu kembali tersenyum bahagia, aku ingin kamu seperti dulu. Menjadi Hila yang kuat dan selalu semangat," Gara memegang tangan Hila.
"Aku hanya selalu merindukannya. Ketika aku sedang sendiri, dadaku selalu sesak, aku teringat akan bayiku, yang aku perjuangkan mati-matian didepan keluargaku. Sedih rasanya, jika aku ingat perjuanganku kini berakhir sia-sia." Ucap Hila.
"Depresi dan trauma mu belum sembuh dengan baik, aku bisa memahami setiap perubahan sikapmu. Kamu masih dalam masa pemulihan, dan kita juga akan rutin memeriksakan kondisi mu ke psikiater juga, agar kamu mendapat obat penenang. Aku mengerti, Hila. Kamu begitu terluka. Tenanglah, ada aku yang selalu setia untukmu. Aku akan selalu menemanimu," Gara tersenyum.
"Kamu menyakiti hati wanita lain, Sagara." Ucap Hila tiba-tiba.
"Aku memang menyakiti Bianca, tapi dia tak akan begitu terluka karena aku pergi. Dia harus memaklumi, bahwa ada seorang wanita yang begitu membutuhkan aku. Aku lebih memilihmu, karena kamulah wanita yang selama ini aku cari, Hil. Walau Bianca menemani hari-hariku, tapi hati kecilku tetap mengingatmu. Mungkin karena ada ikatan batin diantara kita. Dan kamu, jangan lagi memikirkan apapun, Hila. Walau bagaimanapun, walau aku harus kehilangan tahta dan jabatan ku, aku tak akan meninggalkanmu. Aku sudah putuskan, untuk tetap hidup denganmu. Karena apa? Karena hidupku adalah dirimu. Kebahagiaanmu, adalah kebahagiaanku juga. Aku cukup menyesali kepergian anakku, jangan sampai aku menyesal untuk yang kedua kali, jika aku tak bisa bersamamu. Maafkan aku, yang dulu terlalu pengecut dan tak bisa bertindak tegas. Setelah kehilangan bayi kita, aku baru sadar Hil. Bahwa, cinta itu adalah perjuangan dan pengorbanan. Ada yang harus kita korbankan untuk mencintai. Ada juga hal yang harus kita perjuangkan untuk mendapatkan cinta. Aku harus memilih, dan aku memilih untuk mengorbankan apapun demi cintaku, dan apapun akan aku perjuangkan, Hil. Aku janji, kamu tak akan bersedih lagi. Karena ada aku, yang akan menjagamu, selamanya." Mata Gara berkaca-kaca, karena ia teramat tulus mengatakannya.
"Entahlah, aku tak terenyuh sedikitpun mendengar perkataan mu. Entah mengapa, hatiku rasanya mati, Gara. Aku tak bisa merasakan ketulusan mu. Aku hanya merasa, bahwa aku menjalani hidup ini tanpa arah dan tujuan. Aku merasa, ingin sekali mengikuti anakku. Selalu itu saja yang ada didalam benakku." Ucap Hila dengan tatapan kosong.
"Aku memahami perasaanmu. Kamu begitu terluka, Hila. Tidak apa, karena ini juga merupakan bagian dari perjuangan cintaku untuk mengembalikan hatimu seutuhnya. Aku akan berusaha semampuku, agar kamu bisa merasakan cintaku. Aku tak akan menyerah, Hila. Tetaplah di sampingku, karena aku akan selalu ada untukmu."
"Terima kasih, telah mengerti." Hila tersenyum.
"Hil, semoga kamu cepat sembuh. Aku sudah tak sabar, ingin memetik kebahagiaan baru denganmu. Aku akan membuktikan pada orang tuamu, bahwa kamu bahagia bersamaku. Aku akan buktikan pada mereka, bahwa mereka salah telah membuang berlian berharga sepertimu. Kamu wanita baik-baik, hanya saja kecelakaan di malam itu membuat kamu terkesan menjadi wanita yang buruk. Itu semua karena kesalahan kita, dan aku berjanji, akan menghapus kesalahan itu, sehingga nama kita bersih kembali. Kuharap, kamu akan selalu bahagia bersamaku, walau sampai saat ini, kita masih belum ada hubungan apapun," ucap Gara. Ia pun mengambil minum karena tenggorokannya mulai kering.
"Kamu tak mengajakku menjalin hubungan, pantas saja sampai saat ini kita belum ada hubungan apa-apa,"
"Uhuk, uhuk ..." Gara tiba-tiba tersedak.
"Apa, Hil? Maksudmu?"
"Tidak, aku hanya bercanda. Lupakan saja," Hila tersenyum.
"Apa kamu akan menerimaku jika aku meminta saat ini kita menjalin hubungan?" tanya Gara serius.
"Enggak! Gak akan aku terima." Hila mulai melebarkan senyumnya.
Gara cemberut, "Tuh kan, kamu gitu Hil,"
Hila hanya membalas dengan senyuman ketika Gara cemberut karena ulahnya.
Terima kasih, atas senyuman indahmu itu, Hila. Aku bersyukur, kamu masih bisa tersenyum, disaat hatimu masih begitu terluka. Semoga saja, secepatnya aku bisa mengobati luka itu, sampai kamu sembuh dan perlahan melupakan rasa sakit itu.
*Bersambung*