Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teritori dan Tahta
Bangsal anak lantai empat Rumah Sakit Medika Adiwijaya selalu memiliki atmosfernya sendiri. Di saat lorong-lorong lain didominasi warna putih yang kaku dan aroma antiseptik yang pekat, tempat ini dipenuhi mural warna-warni dan aroma bedak bayi. Bagi dr. Nayla Kartikasari, Sp.A, bangsal ini adalah dunianya. Tempat di mana ia bisa menjadi apa saja demi membuat pasien kecilnya tersenyum—mulai dari menjadi pesulap amatir hingga pendongeng.
Namun, kedamaian siang itu mendadak koyak oleh suara tangisan melengking dari Kamar 302. Itu suara Kiki, pasien usia lima tahun yang baru kemarin menjalani operasi usus buntu.
Nayla yang sedang menulis rekam medis di meja perawat langsung meletakkan penanya. Dengan langkah bergegas, ia mendorong pintu Kamar 302 dan seketika terpaku oleh pemandangan di dalamnya.
Kiki sedang meringkuk ketakutan di sudut ranjang, menyembunyikan wajahnya di balik selimut bermotif pahlawan super sambil menangis histeris. Sementara itu, di samping ranjang, berdiri seorang pria jangkung yang memancarkan aura luar biasa intimidatif. Pria itu mengenakan jas dokter putih yang potongannya sangat sempurna—terlihat jelas bukan jas konveksi standar rumah sakit, melainkan hasil jahitan custom dari bahan premium yang tidak berkerut sedikit pun. Postur tubuhnya tegak dengan bahu lebar yang dominan. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, namun ekspresinya sedingin es saat menatap papan rekam medis di tangannya.
Insting protektif Nayla sebagai dokter anak seketika menyala. Tanpa memedulikan siapa pria itu, Nayla melangkah maju dan pasang badan di depan ranjang Kiki, memutus tatapan dingin pria itu dari pasiennya.
"Maaf, Dokter," tegur Nayla dengan nada rendah namun menuntut, berusaha meredam kekesalannya agar tidak membuat Kiki makin panik. "Kalau Anda berniat memeriksa pasien anak-anak, tolong turunkan ego Anda, gunakan hati, dan tersenyumlah. Bukan berdiri tegak seperti sedang menginterogasi tersangka kriminal. Anda tidak lihat pasien saya sampai ketakutan setengah mati?"
Ruangan itu mendadak hening. Dua perawat yang berjaga di luar pintu bahkan menahan napas. Baru kali ini ada yang berani berbicara dengan nada seperti itu kepada pria di depan Nayla.
Pria itu tidak berkedip. Pasangan mata elangnya yang kelam menatap Nayla dengan tatapan menilai yang kosong dari emosi. Ia menurunkan papan rekam medisnya perlahan, sebuah gerakan yang sangat tenang namun entah kenapa membuat atmosfer ruangan terasa makin berat. Bukannya mendebat atau meminta maaf, pria itu hanya mengangkat tangan kirinya, lalu dengan ujung telunjuknya yang jemarinya panjang dan bersih, ia mengetuk ringan papan nama kuningan yang tersemat di dada jasnya.
Mata Nayla tanpa sadar mengikuti arah ketukan itu. Di sana, terukir grafir emas dengan nama yang membuat seluruh sendi di lutut Nayla mendadak lemas dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B.
Narendra Adiwijaya. Spesialis Bedah. Dan yang paling mengerikan... nama belakangnya sama dengan nama yang tertera di papan nama besar di gerbang depan rumah sakit ini. Dia adalah putra mahkota keluarga konglomerat pemilik Adiwijaya Healthcare Group.
Napas Nayla tercekat. Panas menjalar dengan cepat dari leher hingga ke kedua pipinya. Di dunia medis, seorang residen atau dokter spesialis baru dilarang keras menyinggung konsulen senior, apalagi seseorang yang secara harfiah "memiliki" gedung tempatnya bekerja.
"Jahitannya bagus, kering, dan tidak ada tanda-tanda infeksi sekunder," suara Narendra memecah keheningan. Suaranya berat, bariton yang seksi namun sangat datar, tanpa ada nada tersinggung ataupun marah. Namun, justru ketenangan itulah yang terasa dominan. Narendra memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku jas, menatap Nayla dari atas ke bawah sejenak sebelum menambahkan, "Lain kali, edukasi dokternya untuk membaca laporan operasi di sistem sebelum mulai menghakimi. Saya tidak punya waktu untuk tersenyum pada pasien yang jahitannya sudah aman."
Tanpa menunggu balasan dari Nayla yang masih membeku seperti patung, Narendra berbalik. Aroma parfum woody mahal yang maskulin berbaur dengan wangi kulit yang intimidatif tertinggal di udara saat pria itu melangkah keluar kamar dengan ritme yang konstan.
**
Nayla mengira insiden memalukan itu adalah akhir dari segalanya. Ia keliru. Takdir rumah sakit tampaknya senang melemparkannya kembali ke dalam pusaran Dokter Narendra.
Malam harinya, hujan badai mengguyur kota, memicu kecelakaan beruntun di jalan tol. Jam baru menunjukkan pukul dua dini hari ketika alarm merah IGD berbunyi. Seorang pasien anak laki-laki berusia tujuh tahun masuk dengan trauma toraks berat akibat benturan hebat. Kondisinya kritis, mengalami pendarahan dalam, dan mengalami gagal napas. Sebagai dokter anak yang bertugas malam itu, Nayla langsung melakukan resusitasi darurat, namun detak jantung pasien terus melemah. Pasien butuh operasi pembukaan rongga dada darurat dalam hitungan menit.
Nayla ikut mendorong brankar pasien menembus lorong-lorong sepi menuju Kamar Operasi Utama di lantai tiga. Saat pintu otomatis ruang operasi terbuka, suasana berubah menjadi tegang dan steril.
Di sana, di bawah sorot lampu operasi yang terang benderang, Narendra sudah bersiap. Pria itu telah berganti pakaian dengan scrubs—baju operasi katun tipis bermotif hijau tua yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang atletis dan tegap. Ia sedang membasuh tangannya di wastafel sensorik dengan gerakan yang sangat presisi, lalu membiarkan perawat instrumen memasangkan gaun operasi steril dan sarung tangan lateks ke tangannya.
Ketika Narendra berbalik dan melangkah mendekati meja operasi, aura dominan pria itu terasa berlipat ganda. Di dalam ruang operasi, dia bukan lagi sekadar dokter kaya; dia adalah seorang komandan perang. Semua asisten dokter, dokter spesialis anestesi, dan perawat instrumen bergerak dengan senyap dan patuh luar biasa, seolah pergerakan sekecil apa pun yang salah akan memicu amarah sang arsitek bedah.
Narendra melirik sekilas ke arah Nayla dari balik masker bedahnya. Tatapan matanya tajam, seolah mengunci pergerakan Nayla.
"Dokter Nayla," panggil Narendra. Suaranya terdengar meredam di balik masker, namun terdengar mutlak dan tak terbantahkan di seluruh penjuru ruangan. "Berdiri di zona aman di belakang dokter anestesi. Amankan tanda-tanda vital pasien dari sisi pediatri. Dan jangan mengalihkan fokus saya atau mengeluarkan suara yang tidak perlu selama tiga jam ke depan. Paham?"
Nayla refleks menelan ludah, menunduk patuh, dan mundur dua langkah menuju posisinya. "Paham, Dokter."
Tiga jam berikutnya adalah demonstrasi kegeniusan yang mutlak. Nayla menyaksikan sendiri bagaimana jari-jari Narendra yang biasanya memegang pulpen mewah kini menari dengan luar biasa cepat dan akurat di antara pembuluh darah yang pecah. Pria itu tidak pernah ragu, tidak pernah panik bahkan saat monitor hemodinamik berbunyi nyaring menandakan tekanan darah pasien anjlok. Narendra hanya memberikan instruksi satu-dua kata yang tenang namun tegas, dan seluruh tim mengeksekusinya dalam hitungan detik. Dia memegang kendali penuh atas hidup dan mati di atas meja itu.
Haiii guyss, welcomeee di cerita pertama akuu semoga kalian sukakkk
yang punya kritik dan saran boleh disampaikan baik baik yaa, thankyou guyss loppp