Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.
Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.
Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Kali Melihat
Bergegas kembali ke unit apartemennya, Nuno menenteng banyak makanan yang dibelinya di sebuah cafe yang tersedia di lantai dasar, dia belum bisa meninggalkan Aruna terlalu lama, khawatirnya terus mendera, Aruna seperti tertekan hingga semalam dia harus memberikannya obat penenang agar bisa beristirahat dan tertidur pulas.
Keluar dari pintu lift, Nuno dibuat tertegun, Aryo berdiri dengan seorang wanita cantik yang membuatnya geram semakin membenci, bukan tidak tahu, hanya dia harus bersikap seolah tidak tahu.
"Pak Aryo, anda disini?" Nuno bertanya dengan mimik wajah yang dibuat sewajar mungkin, tidak menunjukan gelagat yang bisa membuat Aryo curiga.
"Pak Nuno...."Sapa Aryo yang sepertinya sangat terkejut, tak menyangka kalau Nuno memiliki unit apartemen yang sama juga dengannya, dilihat dari penampilan Nuno yang santai, kaos hitam yang dipadukan dengan celana jeans, bukan seseorang yang hendak bertamu kepada salah satu penghuni apartemen yang ada disini. Apalagi dengan makanan cafe yang dijinjingnya, membuat dia semakin yakin kalau Nuno juga sedang menginap disini.
"Pak Aryo memiliki apartemen disini juga?" Tanya Nuno yang membuyarkan lamunan Aryo.
"Iya Pak." Jawabnya ragu, nama baiknya seakan tercoreng, dipergoki partner bisnisnya sedang bersama dengan wanita yang bukan istrinya.
"Kebetulan sekali ya.... emmm, ini siapa?" Tatapnya pada wanita yang bergelayut manja di tangan Aryo.
"Ini...."
"Saya Ranti, calon istrinya Mas Aryo." Ranti memperkenalkan diri sebelum Aryo menyangkal dengan menyebut dirinya hanyalah seorang teman atau lebih parahnya lagi sepupu, seperti pertemuannya dengan beberapa kolega Aryo sebelumnya.
Tangan Nuno mengepal, ingin rasanya dia menghajar, mematahkan kedua tangan yang sudah memberikan banyak luka di pipi Aruna, tapi bukan hanya itu saja, dia juga ingin sekali meremukan seluruh tubuh Aryo yang sudah dengan tega menjamah, meninggalkan tanda keunguan di tubuh Aruna tanpa sedikitpun rasa iba.
"Apa Pak Nuno ini putra dari Pak Aditya Presdirnya Wirrbell?" Tanya Ranti yang seperti sangat penasaran.
"Iya betul."
Ranti antusias, ternyata kabar angin memang benar, putra sulung perusahaan ternama yang sudah menjadi buah bibir di kalangan pengusaha dan pejabat ini sungguh sangat tampan, berkharisma dan tentunya memiliki nilai di atas rata-rata.,"Saya tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan anda disni, senang sekali rasanya....Nanti datang ya ke pernikahan kamu, kemungkinan tidak akan lama lagi akan kami langsungkan." Lanjut Ranti percaya diri.
Balas tersenyum tipis, Nuno beralih melihat Aryo yang lebih banyak diam," Pasti.... jika Pak Aryo sendiri yang mengundang saya."
Aryo terkesiap, tatapan Nuno yang teramat tajam membuatnya terintimidasi.
"Pasti akan kami undang, bukan begitu Mas?" Sela Ranti dengan melirik Aryo yang malah membisu.
"Ya, ya tentu saja." Timpal Aryo.
"Kalau begitu kami permisi dulu Pak Nuno." Ujar Ranti setelah pintu lift terbuka, menunggu mereka untuk masuk.
"Oh iya silahkan.... semoga lancar sampai hari pernikahannya, PAK ARYO." Tekannya diakhir kalimat.
Entah apa yang dirasakan Aryo, kata ujaran yang Nuno keluarkan terasa berdengung di pendengarannya,"Terima kasih."
Nuno berderap sebelum lift itu menenggelamkan kedua tubuh yang membuatnya terasa jijik. Demi Aruna dia harus bisa mengendalikan amarah, terlebih lagi dia tidak bisa berbuat banyak, Aruna membentengi diri perihal masalah rumah tangganya yang sampai sekarang dia tutupi darinya.
Namun berbekal penyelidikan orang suruhannya, Nuno bisa mengetahui segalanya. Kedekatan Aryo dan Ranti yang sudah berjalan hampir satu tahun, yang kemudian berlanjut dengan hubungan terlarang yang rapat mereka lakukan selama hampir lima bulan.
Nuno mendengus, dan sekarang dia bisa mengetahui fakta itu dengan mata kepalanya sendiri, dan itu membuatnya semakin yakin untuk menarik Aruna dari lumpurnya hitam penderitaan.
Sampai di kamar apartemen, Nuno tak mendapati Aruna di kamarnya,"Arun...." tak ada sautan apapun.
"Aruna...." Panggilnya lebih keras. Ketakutan Nuno semakin menjadi, dibukanya pintu yang mengarah ke balkon, namun tak ada siapapun. Lekas dia pun berderap menuju kamar mandi, membuka pintu tanpa dipikir lebih dulu. dan saat itu juga matanya membelalak, jantungnya berdetak kencang, tubuh telanjang yang sedang diguyur air shower, berdiri membelakanginya. Nuno terkesiap, ditutupnya kembali pintu itu sebelum Aruna mengetahui keberadaannya, membawa kaki untuk melangkah lebar, menduduki kursi makan dari gemerutuk lutut yang bergetar terasa lemas.
"Kenapa Arun tidak menguncinya."
Nuno menjambak rambutnya yang terasa berdenyut, pikirannya malah liar, bagaimana pun dia adalah pria dewasa yang memiliki libido tinggi, disuguhi tubuh polos tak berbalut, membangunkan sesuatu yang panjang di bawah sana. Tubuh perempuan dewasa yang baru kali ini dia lihat secara langsung, lekukan itu nampak indah dan sangat... Ah... segera Nuno membasuh wajahnya yang terasa panas, bayangan itu terus berjejal dan berkeliaran.
"Nuno...."
Nuno yang terkejut, seketika menjatuhkan gelas yang berada disisi tangan sebelah kiri, Praang... Aruna berjinjit kaget.
"Maaf-maaf." Nuno segera memungut pecahan beling itu.
"Biar aku bantu." Aruna berjongkok, ikut memunguti pecahan beling yang tercerai, dikumpulkan dalam satu gundukan.
Nuno tertegun, lagi-lagi matanya menangkap sesuatu yang membuat matanya lupa berkedip. Kemeja kancing yang terlepas menyibak sebuah garis lurus yang tercipta karena tekanan dua belah gundukan yang saling berhimpitan, Nuno menelan saliva yang mengucur deras di dinding pipi bagian dalamnya.
Tanpa disangka Aruna mendongak, memergoki Nuno yang melihatnya terlalu lekat, Nuno semakin salah tingkah,"Aku ambil sapu dulu."
"No...." Aruna ikut beranjak,"... maaf aku memakai kemeja mu, setelah baju ku kering aku akan mencuci kemeja mu ini." Ternyata Aruna tidak berburuk sangka.
Nuno tercekat, penampilan Aruna yang ala kadarnya memancing gairah kelelakiannya yang kembali menggeliat. Kemeja putih yang kebesaran mempertontonkan sebagian paha mulus tanpa bulu, rambutnya yang basah dia sisir asal dan dibiarkan tergerai.
"Gimana kalau aku buatkan sarapan sebelum kamu berangkat kerja... kamu punya bahan makanan apa saja?" melirik lemari es yang tak jauh darinya.
Nuno yang terus diam, membuat Aruna menjadi kebingungan,"Aku buatkan sekarang ya?" Tukasnya dengan sejumput senyuman, seraya melangkah, melupakan pecahan beling yang masih bersisa di lantai.
"Awas...!" Ditariknya tangan aruna yang hampir saja menginjak satu beling yang berukuran sedang.
Aruna terhenyak, waktu seolah berhenti detik itu juga. Tubuhnya kini bersandar di dada Nuno. Aruna membatu, degupan jantungnya seketika bergemuruh.
Entah keberanian dari mana, aroma menyegarkan dari rambut Aruna membuat Nuno terhanyut, tangan satu yang semula diam, perlahan ikut merapat, bersatu dengan tangan lain yang lebih dulu memegang erat jemari Aruna, dibuatnya naik untuk bersatu di atas perut, melingkari pinggang ramping yang ternyata menurut. Rambut Aruna yang menempel di pipinya dia biarkan semakin rekat, didekapnya tanpa ragu.
Aruna seakan terhipnotis, tangan kekar yang membelit tubuhnya dengan arogan, memercikan sebuah kehangatan yang membuatnya terasa nyaman.
drrrrtttt.... drrrrtttt.....
Keduanya terlonjak, bangun dari keberadaan yang tak seharusnya mereka lakukan, terbawa perasaan yang belum bisa mereka pastikan.
"Ada telepon."
Aruna menjauh,"Aku buatkan sarapan." Ucapnya gagap.
"Jangan, aku sudah beli tadi.... disimpan di meja dekat TV."
"Oh.... emm, aku siapkan dulu kalau begitu."
Selepas kepergian Aruna, dirogohnya ponsel yang sedari tadi bergetar. Tertera nama Jino dilayar yang terus berkelip. Nuno membuang nafas, lagi-lagi Jino menjadi alarm hidup, membangunkan dia dari kejadian indah yang kembali dia lewatkan untuk kedua kalinya.
"Ya Jino, ada apa?"
"Mas lagi apa sih, lama banget angkat teleponnya."
"Tadi lagi di kamar mandi." Dustanya.
"Kamar mandi mana?"
"Apartemen."
"Jadi Mas nginep di sana, tumben."
"Semalam mau ujan, jadi Mas pulang kesini aja, yang lebih deket."
"Seriously?"
Nuno berdecak, beginilah rasanya mempunyai adik tengil yang selalu ingin tahu, tak bisa langsung percaya jika belum diberi bukti akurat yang membungkam mulutnya yang terlalu banyak bicara.
"Ada apa telepon pagi-pagi?"
"Nasib motor aku gimana, aku ada les nih."
Nuno meringis, dia melupakan itu,"Pakai mobil Mas aja."
"Nggak boleh sama Mama."
"Ya udah naik taxi."
"Ogah, males banget."
"Ya terus mau gimana?"
"Aku kesana bawa motornya."
"Jangan...." Seketika Nuno membekap mulutnya yang hampir saja berteriak,"... maksudnya jangan diambil, nanti Mas ke kantor naik apa kalau motornya kamu bawa."
"Tenang.... aku kesana bawa mobilnya Mas, dianter sama sopirnya Mama, oke."
"Tapi.... " tiba-tiba sambungan terputus,"....Jin... Jinooo." Sambungan benar-benar terputus, Nuno mencelos. Sepertinya dia memang tidak bisa merahasiakan apapun dari Jino, semuanya pasti akan terbongkar jika sudah berkaitan dengan Jino. Dan sekarang dia harus menyiapkan isi dompet yang sebentar lagi akan terkikis, dan akhirnya terkuras habis.
🥀
🥀
🥀
_ Bersambung _
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...