Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015: Vanessa Pulang Kampung
Wajah Vanessa menghitam seperti dasar wajan.
Tetapi ia tidak berani membanting sumpit.
Di meja makan rumah Lim, semua orang sekarang tahu satu hal: kalau Margaret sudah menetapkan aturan, melawan terang-terangan hanya membuat diri sendiri malu. Maka Vanessa menahan marah sambil melihat Ryan menatap paha ayam dengan mata berkaca-kaca.
Kevin, adiknya, ikut menarik lengan baju Vanessa.
"Mama, besok kita ke rumah Ama Tong saja, ya? Di sana biasanya ada ayam."
Kalimat anak kecil itu seperti jarum. Bukan karena Vanessa kasihan. Ia marah karena merasa kalah di rumah sendiri.
Keesokan paginya, tanpa membawa apa pun selain tas kecil berisi pakaian anak, Vanessa membawa Ryan dan Kevin pulang ke rumah Tong di pinggiran Semarang.
Ia pikir di rumah ibunya, ia masih anak perempuan yang bisa mengeluh, bisa dimanjakan, bisa mendapat dukungan.
Begitu sampai, dua ipar perempuannya sedang duduk di teras memilah sayur.
Salah satunya melihat tangan kosong Vanessa dan langsung tersenyum miring.
"Wah, Cici datang. Kok tidak bawa apa-apa? Biasanya orang pulang ke rumah orang tua bawa buah."
Ipar yang lain menambahkan, "Mungkin di rumah Lim sekarang susah. Dengar-dengar mertuanya pegang semua uang."
Wajah Vanessa panas.
"Aku datang bawa cucu untuk Mama. Itu kurang?"
Mama Vanessa keluar dari dalam rumah, bukannya memeluk cucu, malah menatap tas kecil di tangan putrinya.
"Kamu tidak bawa uang?"
Vanessa hampir tersedak. "Ma, aku baru datang."
"Adikmu mau menikah. Kami butuh Rp 3.000.000. Kamu kan menantu keluarga Lim, masa tidak bisa bantu?"
Ryan dan Kevin sudah berlari masuk mencari sepupu mereka. Vanessa menahan suara agar tidak terdengar anak-anak.
"Aku tidak punya uang."
Mama Vanessa mendecak. "Jangan pelit pada keluarga sendiri."
"Buku tabunganku disita Mama mertuaku."
Begitu kalimat itu keluar, wajah dua iparnya berubah. Ada puas, ada mengejek, ada rasa ingin tahu.
"Disita?" salah satu ipar tertawa. "Katanya Cici paling pintar atur rumah. Kok bisa kalah?"
Vanessa menggenggam tali tas.
Di rumah Lim, ia kalah. Di rumah Tong, ia juga ditertawakan.
Rasa malu itu berubah menjadi keinginan jahat yang cepat sekali menyala.
"Kalau Mama mau uang," kata Vanessa pada ibunya, "jangan cuma minta padaku. Cari di rumah ini. Coba lihat lemari ipar-iparku. Jangan-jangan mereka juga punya buku tabungan sendiri."
Dua iparnya langsung berdiri.
"Cici ngomong apa?"
Vanessa tertawa pendek. "Kenapa takut? Kalau bersih, buka saja."
Mama Vanessa menyipitkan mata. Ucapan itu masuk ke telinganya seperti minyak masuk api.
"Benar juga," katanya pelan. "Selama ini uang belanja aku kasih, tapi rumah tetap bilang kurang."
"Ma!" kedua ipar itu berseru bersamaan.
Vanessa merasakan kepuasan kecil.
Ia tidak sadar api yang ia nyalakan tidak memilih siapa yang akan terbakar.
Dari halaman belakang, tiba-tiba terdengar tangisan.
"Mama!"
Vanessa berlari.
Di dekat kandang ayam, Ryan terduduk di tanah, pipinya merah. Kevin menangis sambil memegang lengannya. Beberapa anak laki-laki sepupu mereka berdiri tidak jauh, wajah keras kepala dan takut tertangkap.
"Kenapa ini?" Vanessa berteriak.
Ryan menangis tersedu. "Mereka bilang kita anak pelit. Katanya Mama tidak mau kasih uang buat nikahan Om. Mereka dorong Lisa!"
Kevin menunjukkan siku yang lecet.
Darah Vanessa naik ke kepala.
Ia memarahi anak-anak itu, tetapi ipar-iparnya datang membela anak masing-masing. Dalam beberapa menit, halaman belakang rumah Tong berubah menjadi pasar ribut. Mama Vanessa malah berkata anak-anak berkelahi itu biasa, jangan dibesar-besarkan.
Baru saat itu Vanessa merasakan sesuatu yang aneh.
Di rumah Lim, seburuk apa pun Margaret memarahinya, anak-anak Adrian tidak pernah dibiarkan dipukul orang luar.
Di rumah Tong, anaknya sendiri menjadi alat untuk menusuknya.
Vanessa pulang sore itu dengan dua anak yang menangis dan hati yang lebih panas daripada saat berangkat.
Begitu masuk rumah Lim, Adrian melihat pipi Ryan dan siku Kevin.
"Apa ini?"
Vanessa ingin menjawab ringan, tetapi Adrian sudah berjongkok di depan anak-anak.
"Siapa yang pukul?"
Ryan menunjuk ibunya sambil menangis, bukan karena Vanessa memukulnya, tetapi karena anak itu tahu semua bermula dari kepulangan ke rumah Tong.
"Mama bawa kami ke rumah Ama Tong..."
Wajah Adrian berubah gelap.
Keributan itu menarik semua orang. Jason keluar dari kamar, Oscar dari dapur, Daniel dari teras. Margaret muncul terakhir.
Ia melihat pipi Ryan, siku Kevin, lalu wajah Vanessa.
"Puas?"
Vanessa membeku.
"Aku tidak tahu akan jadi begini."
"Orang yang menyalakan api selalu bilang begitu saat rumah sendiri ikut terbakar."
Adrian berdiri. "Vanessa, kamu bawa anak-anak ke sana untuk apa?"
Vanessa akhirnya menangis. "Aku cuma ingin mereka makan ayam. Aku cuma..."
"Kamu cuma ingin membuktikan rumah ibumu lebih baik," kata Margaret. "Sekarang lihat baik-baik."
Tidak ada yang membela Vanessa.
Margaret tidak memarahinya lagi. Ia berbalik mengambil kotak obat, membasahi kapas dengan obat merah, lalu membersihkan siku Kevin lebih dulu. Anak itu meringis, maka gerakan Margaret melambat.
"Laki-laki boleh nangis kalau sakit," katanya.
Kevin tertegun, lalu tangisnya keluar lebih deras.
Margaret memeriksa wajah Ryan. Setelah yakin hanya merah dan tidak terluka, ia menyelipkan dua butir gula batu ke tangan dua cucunya.
"Ingat," katanya pada dua cucu itu. "Kalau ada orang pukul kalian, pulang bilang. Jangan diam karena takut orang dewasa ribut."
Vanessa berdiri di dekat pintu, melihat ibu mertuanya berjongkok di depan anak-anaknya. Pada saat itu, ia tiba-tiba tidak tahu harus membenci atau merasa malu.
Malamnya, setelah anak-anak diberi obat merah dan tidur, Margaret duduk bersama Daniel di ruang tengah.
Vanessa menangis di kamar. Adrian tidak membujuknya.
Daniel menghela napas. "Kamu mau marahi dia lagi?"
Margaret menuang teh.
"Biarkan dia menangis dulu. Kalau sudah cukup sakit, baru dia bisa mendengar."
"Lalu?"
Margaret tersenyum tipis.
"Biarkan dia ribut. Pada akhirnya dia akan tahu, di rumah ini hanya orang yang berjalan bersamaku yang bisa hidup baik."
Daniel menatapnya. "Kamu masih memikirkan sesuatu."
"Keluarga Tong lama pernah pinjam uang dari kita."
Daniel mengerutkan kening.
"Berapa?"
"Rp 1.770.000."
Margaret meletakkan cangkir.
"Besok pagi kita hitung dengan bunganya."
"Sudah waktunya ditagih."