Kisah cinta antara Dafa Artanegara dan Risma Anggraini, mereka di pertemukan dalam sebuah kecelakaan, karena rasa bersalah, Dafa menikahi Risma yang hanya seorang yang biasa saja.
Dari pernikahan yang di dasari rasa bersalah itulah,Dafa akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan sosok Risma yang sederhana dan baik hati, tapi bagaimana jika Risma tahu siapa Dafa yang sesungguhnya, Apa lagi Dafa yang mempunyai sisi gelap dan tidak di ketahui oleh Risma.
Yuk mari silahkan di baca jika ingin tahu kisah cinta mereka yang penuh dengan emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama kali ke kantor
Selama Perjalanan menuju ke hotel, salah satu tangan Dafa terus menggenggam jemari tangan Risma. Risma hanya diam saja dan melihat keluar jendela.
"Sweety, kamu ikut ke kantor aja ya," kata Dafa memecah keheningan. Risma pun menoleh.
"Kenapa begitu?" tanya Risma heran.
"Memangnya harus ada alasan untuk mengajak istri ke kantor?" tanya balik Dafa kepada Risma.
"Ya, tidak begitu juga. Hanya saja, tidak biasanya mau mengajakku ke kantor," kata Risma masih dengan raut muka keheranan.
"Tidak setiap tindakan yang kita lakukan itu punya alasan kan," kata Dafa lalu dia mencium punggung tangan Risma.
"Hmmm, ya ya. Terserah Mas sajalah," ucap Risma pasrah.
Lalu Dafa melajukan mobil menuju ke kantornya. Setelah sampai di lobby kantornya, semua karyawan menyambut kedatangannya dengan menunduk hormat. Setelah Dafa melewati mereka, para karyawan berbisik-bisik tentang siapa wanita yang tadi di gandeng oleh bosnya itu.
Sesampainya di dalam ruangan, Dafa duduk di kursi kebesarannya, Dafa meminta Risma duduk di sofa. Untuk mengusir kebosanannya, Risma melihat-lihat rak buku yang tertata rapi dan mengambil salah satu buku di sana untuk di bacanya.
Sampai akhirnya seseorang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Daf, sebenarnya untuk apa kamu menyuruhku datang ke sini?" kata orang yang baru masuk itu dan membuat keduanya spontan melihat ke arah sumber suara.
"Ada tugas penting buatmu.Tidak usah banyak protes," ucap Dafa selanjutnya.
"Eh, Risma. Kamu di sini juga?" tanya orang tersebut setelah menyadari ada Risma di sana.
"Hmm, mas Dafa memaksaku ke sini," jawab Risma sambil dagunya menunjuk ke Dafa.
"Jangan heran, Ris. Dia memang begitu orangnya, suka seenaknya sendiri," ucap orang itu lagi.
"Jangan pengaruhi istriku yang bukan-bukan kamu, Yo," kata Dafa. Ya memang benar, orang yang barusan datang itu adalah Ryo, tangan kanan Dafa.
"Cie, yang sudah punya istri. Kapan nih, aku bisa gendong ponakan?" tanya Ryo yang bermaksud meledek Dafa.
Dafa dan Risma saling pandang dan sama-sama memerah mukanya mendengar candaan Ryo. Tidak lama kemudian, Ryo tertawa terbahak-bahak melihat keduanya.
"Hahaha, woy, kalian seperti pengantin baru saja. Masih malu-malu begitu," ledek Ryo kembali.
"Hmm, hmm. Nih tugas baru kamu sekarang. Aku tidak mau kita kalah dalam tender ini," kata Dafa mengalihkan pembicaraan.
"Beres bos. Ya sudah, aku kembali ke ruanganku dulu, biar aku mempelajari dulu dokumen ini," jawab Ryo tanpa melihat isi dokumen itu.
"Ya sudah sana," usir Dafa.
Lalu Ryo keluar dari ruangan Dafa. Dan Dafa pun kembali di sibukkan dengan dokumen-dokumen. Matanya tidak pernah lepas dari komputer yang berada di depannya.
Risma yang melihat Dafa sedang serius menghadap ke komputernya itu, Risma merasa seperti bukan Dafa yang notabene suaminya. Ya karena yang Risma tahu Dafa itu orang yang selalu memperlakukan dia seperti di dalam penjara, kemana-mana harus di kawal oleh bodyguard.
Risma tersenyum dan dia kembali melanjutkan membaca buku yang sedari tadi di pegangnya.
"Sweety, kalo kamu capek, istirahat aja di kamar sebelah," ucap Dafa setelah melirik ke Risma.
"Hmmm," jawab Risma.
Memang di dalam ruang kerja Dafa, ada sebuah kamar yang digunakan Dafa untuk beristirahat jika Dafa lembur. Atau kalau Dafa tidak pulang. Di kamar itu juga ada beberapa pakaian Dafa, mulai kemeja, jas, celana, sepatu atau pun jam tangan. Kamar yang di desain lengkap dengan kamar mandi.
Saking seriusnya membaca, Risma tidak menyadari kalau Dafa sudah duduk di sampingnya. Dan ikut melihat isi buku yang di baca oleh istrinya tersebut. Setelah Dafa merangkulkan tangannya, Risma baru sadar bahwa ada Dafa duduk di sampingnya.
"Serius bener bacanya," kata Dafa.
"Bagus isinya. Dulu aku juga kuliah di jurusan desain soalnya," jawab Risma.
"Oh benarkah? Kenapa aku tidak tau," kata Dafa.
"Ish, memangnya apa yang Mas tahu tentang diriku? kan selama ini Mas selalu sibuk dengan kerjaan Mas," ucap ketus Risma menimpali kata-kata Dafa.
"Ya ya, aku tahu selama ini aku salah. Jadi bisakah kita mulai semua dari awal?" pinta Dafa kepada Risma.
"Mana bisa seperti itu," kata Risma.
Mendengar itu Dafa mengerutkan dahi, sambil sedikit memiringkan kepalanya dengan tatapan mata seakan-akan bertanya memangnya mengapa?
Risma yang melihat ekspresi penasaran suaminya itu, melanjutkan kata-katanya.
"Masa iya setelah Mas melakukan hal itu semalam, masih bilang mau mulai dari awal sih," kata Risma begitu polosnya. Seketika tawa Dafa pecah mendengar penuturan istrinya.
"Hahaha, kamu benar. Kita tinggal melanjutkan apa yang sudah dimulai semalam," goda Dafa sambil memajukan wajahnya ke arah Risma.
"Maksud Mas apa? Jangan salah artikan maksud dari kata-kataku," ucap Risma sambil mencubit lengan Dafa.
"Salah arti bagaimana? Aku tidak mengartikan apa-apa kok," kata Dafa mengelak dari cubitan Risma yan berikutnya.
"Ya siapa tahu saja kan. Kadang Mas tuh ada mesum-mesumnya gitu," elak Risma.
"Masa?" kata Dafa masih menggoda Risma.
"Kalau begini, apa di sebut mesum juga, Sweety?" tanya Dafa berbisik lalu dia mendekat ke arah wajah Risma dan mencium bibir Risma. Karena terlihat ada penolakan dari Risma, spontan tangan Dafa memegang tengkuk Risma. Menekannya ke depan supaya Dafa bisa memperdalam ciumannya. Lum*tan-lum*tan lembut itu membuat Risma kuawalah. Kemudian Dafa memegang tangan Risma dan mengalungkannya di lehernya. Tanpa Risma sadari, desahan kecil lolos dari bibir mungil Risma. Nafas keduanya tampak saling memburu.
Tok..tok..tok...
Ketukan pintu menyadarkan aksi mereka. "Owh, damn it, siapa yang berani menggangguku? Awas saja kalau tidak ada yang penting," kata Dafa sambil mengumpat kesal.
Risma pun hanya tersenyum melihat tingkah Dafa. Dan setelah merapikan rambut dan pakaiannya, Risma kembali membaca buku.
"Masuk," teriak Dafa mempersilakan masuk.
"Maaf Tuan, sebentar lagi ada rapat pemegang saham," kata sekretaris Dafa mengingatkan jadwal Dafa saat itu.
"Oke, saya langsung ke sana. Kamu siapkan semua dokumen yang saya minta kemarin," kata Dafa.
"Baik Tuan, saya permisi," kata sekreteris Dafa.
"Ya," jawab Dafa dengan ketus.
Sekretaris Dafa keluar dari ruangan. Kekesalan masih tampak di raut wajah Dafa. Dia pun berjalan ke arah Risma yang masih asyik membaca.
"Sweety, aku rapat dulu. Kamu tunggu di sini ya," kata Dafa kepada Risma.
"Iya mas, pergilah," sahut Risma.
Cup, kembali Dafa mencium sekilas bibir Risma, hal itu seperti memberikan energi buat Dafa.
"Nanti kita lanjutkan lagi. Aku menginginkanmu," bisik Dafa di telinga Risma sebelum keluar ruangannya. Risma terpaku mendengar kata Dafa barusan.
"Heh, apa tadi yang Mas Dafa bilang? Dia tidak serius kan?" gumam Risma.
Lalu Risma melanjutkan membaca buku, ternyata lama juga rapat yang di lakukan Dafa. Setelah di rasa capek membaca buku-buku di hadapannya yang kini sudah ada tiga buku, lalu Risma memilih untuk tidur di sofa tersebut.
Bersambung...
kebetulan baru baca di hari senin, langsung kasih vote 👍🏻🤭