Menikahi Majikan Ibu — Season 2
Genre : Komedi Romantis
Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.
Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.
Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.
Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.
Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?
Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Ayah sempurna
"Pram, tolong sampaikan pada istrimu. Jangan membuat hubunganku dengan Bella berantakan!" cerocos Bara ketika panggilannya tersambung dengan si pemilik RD Group.
"Hah!" Pram terkejut. Ia baru saja selesai meeting dengan para stafnya saat Bara menghubunginya.
"Apa maksudmu, Bar?" tanya Pram bingung.
"Kailla-mu itu mengirim masalah ke rumahku setiap hari."
"Bagaimana bisa, Bar?" tanya Pram, memindahkan ponsel dari telinga kiri ke telinga kanannya.
"Kamu tahu, Kailla sengaja mengirim Ricko untuk menggoda istriku. Padahal ia tahu kalau Ricko itu dulunya menyukai Bella."
"Tunggu! Jelaskan perlahan. Apa maksud ucapanmu, Bar. Aku belum paham."
"Ricko, asisten istrimu yang wajahnya terlalu tampan itu." Bara menjelaskan.
Pram mencoba mencerna. “Oh ... aku baru tahu sekarang. Jadi kamu sengaja mengirim Ricko padaku supaya dia tidak menggoda istrimu. Dan ganti menggoda istriku. Begitu maksudmu, Bar. Kelewatan kamu, Bar." Pram menuduh.
"Bukan begitu, Pram. Waktu itu Ricko datang ke rumahku mencari Bella. Datang dari Surabaya, tidak memiliki pekerjaan. Tidak memiliki saudara juga. Kebetulan kamu bercerita membutuhkan asisten tambahan untuk Kailla, jadi aku merekomendasikannya padamu." Bara menjelaskan.
"Kalau kamu keberatan, kamu bisa menolaknya, kan? Kenapa kamu menerimanya? Sudah tahu ia terlalu tampan." Bara membela diri.
"Masalahnya ketika Ricko datang ke kantorku untuk diwawancara, Kailla langsung menerimanya tanpa banyak bertanya. Aku bisa apa?” Pram menjelaskan dari seberang telepon.
“Nah, itu jelas masalahnya di dirimu. Kamu tidak bisa menyalahkanku untuk masalah ini,” ucap Bara mengelak sembari tergelak.
Bara menghela napas kasar. "Sekarang aku menyesal mengirimnya ke rumahmu. Kalau dia tidak menjadi asisten Kailla, tidak mungkin sekarang menemui Bella setiap hari. Pakai alasan membawa makanan lagi.”
"Mas, sudah. Jangan seperti ini. Aku tidak enak dengan Kailla dan Om Pram. Masalah rumah tangga kita jangan sampai diumbar, Mas." Bella membujuk. Ibu muda itu menyela pembicaraan suaminya di telepon.
"Sstt ... diam saja! Pram ini bukan orang lain lagi." Bara mengarahkan telunjuk di bibir, meminta Bella diam.
"Jadi ... maksudmu bagaimana, Bar?" tanya Pram lagi.
"Kailla sengaja meminta Ricko ke rumahku untuk bertemu Bella! Dan aku tidak mau rumah tanggaku berantakan karena Ricko."
Pram tertegun, mencerna kata demi kata yang diucapkan sahabatnya.
"Tunggu ... kalau Ricko menyukai Bella dan Kailla juga mengirim Ricko ke rumah Bella. Berarti istriku aman. Kailla tidak menyukai Ricko dan sebaliknya Ricko juga tidak memiliki perasaan ke istriku. Ya sudah, biar ini menjadi urusan Bara saja. Yang penting istriku aman." Pram berkata dalam hati. Senyum mengembang di bibir pria 44 tahun itu.
"Pram! Kamu masih mendengarku?" tanya Bara.
"Ya-ya, nanti aku akan memarahi istriku." Pram memutuskan panggilannya dengan wajah bahagia. Selama ini, ia juga menyimpan prasangka buruk pada Ricko dan Kailla, tetapi hari ini terjawab sudah. Kalau Kailla tidak ada hubungan apa-apa. Ia tidak tahu harus berterima kasih pada Bara dengan cara apa lagi. Yang jelas, demi berita bahagia ini, ia rela diomeli Bara.
***
Rania dan Issabell sembari menggandeng Real berdiri di depan pintu kamar orang tuanya. Sesekali gadis yang beranjak remaja itu menempelkan telinga di daun pintu, berusaha menguping apa yang terjadi di dalam kamar.
Ia baru saja pulang, seragam putih abu-abunya belum diganti. Bahkan tas sekolah masih mengantung indah di pundaknya. Begitu masuk ke dalam rumah, melihat daddynya menyeret mommy masuk ke dalam kamar. Sebagai putri tertua Bara, ia sudah bisa membaca apa yang akan terjadi.
"Ca, di dalam sana. Kamu berceloteh sepuasnya. Jangan memberi kesempatan Daddy mengusir kita. Real, kita harus membuat Daddy dan Mommy berbaikan. Kamu biasanya paling pintar mengambil hati Daddy," pinta Rania pada si kecil Real.
Kedua adik Rania itu mengangguk. Kalau Issabell memang sudah paham apa yang disampaikan Rania, berbeda dengan Real yang hanya ikut-ikutan kedua kakaknya.
"Ssstt ...." Rania memberi kode agar Issabell dan Real menutup mulut, tak lama gadis itu berteriak di depan pintu kamar.
"Mom ...."
"Dad ...." panggil Rania yang diikuti oleh Issabell dan Real.
"Mom, Dad!" Issabell memanggil sambil mengetuk dengan suara manja mendayunya.
Lain kakaknya, lain pula Real. Anak laki-laki Bara itu berteriak sembari menggedor.
"DAD, BUKA PINTUNYA!" teriak Real kencang. Tangan mungilnya terkepal.
"DAD!" pekiknya lagi. Suaranya melengking, memekik telinga. Rikka yang berdiri di dekat ketiga anak itu hanya menggelengkan kepala.
"Onty, pergi sana!" usir Rania.
"Ini urusan keluargaku. Onty tidak ada hubungannya," lanjut Rania dengan sikap dewasa yang berlebihan.
Deg--
Rikka tersentak. Buru-buru berbalik badan. Ia tidak mau menabuh genderang perang dengan putri tertua Bara. Di antara ketiga anak Bella, Rania memang tidak seperti adik-adiknya. Gadis remaja itu selalu menjaga jarak dengannya. Bicara seperlunya, berinteraksi sebutuhnya saja.
Masa kecil Rania yang tidak memiliki orang tua lengkap, membuat gadis itu tumbuh dalam lingkungan tidak sehat. Belum lagi sewaktu kecil, ia sering disuguhkan pemandangan pertengkaran Bara dan mendiang mamanya, Brenda. Rania mungkin tidak mengingatnya lagi. Ia masih terlalu kecil saat menjadi saksi pertumpahan darah kedua orang tuanya pada saat itu, yang akhirnya berujung perceraian. Bara menghilang dan Brenda mulai dengan kehidupan bebasnya. Berganti-ganti pasangan setiap hari, tanpa ada kepastian.
Kehidupan Rania mulai membaik saat bertemu kembali dengan Bara. Pria yang selalu dikenalkan oleh Opa dan oma-nya melalui foto sebagai daddy-nya. Walau akhirnya ia mengetahui kalau Bara bukan Daddy kandungnya, rasa sayangnya tidak berubah. Karena memang hanya Baralah satu-satunya Daddy di dalam hidupnya. Ia tidak pernah tahu di mana ayah kandungnya.
"DAD!" Tangan Real terkepal, menggantung di udara saat pintu kamar terbuka.
"Bala bantuanmu datang, Bell. PBB sudah turun tangan. Mengirimkan pasukan perdamaian ke daerah konflik," celetuk Bara saat melihat satu per satu anak-anaknya masuk ke dalam kamar tidurnya.
Bella ikut tersenyum saat melihat putra-putrinya berjejer rapi. Ini bukan pertama kalinya. Hampir setiap berselisih dengan Bara, ketiga anaknya membuat mereka memutuskan menyudahi pertengkaran. Kehadiran ketiganya seolah mengingatkan tujuan awal pernikahan dan tujuan akhir dari rumah tangga mereka.
"Kenapa kalian kompak sekali hari ini?" Bella merunduk dengan tangan terbentang bersiap menyambut si bungsu, Real.
"Bell, jangan menggendong Real!" pekik Bara saat melihat Real sudah siap bergelayut manja pada Bella.
"Kamu sedang hamil, Sayang." Bara mengingatkan. Ia mengambil alih tubuh Real dari gendongan sang istri.
"Aku lupa, Mas. Lagipula Real tidak begitu berat." Bella membela diri.
"Jangan protes. Kita sudahi pertengkaran ini. Aku tidak mau anak-anak melihat kita bertengkar. Aku anggap masalah Ricko selesai sampai di sini. Jangan sampai terulang lagi," ungkap Bara segera bergabung dengan ketiga anaknya.
Dalam hidup Bara sekarang yang terpenting adalah anak-anaknya. Ia akan melakukan apa pun untuk membuat anak-anak itu nyaman, bahagia dan tidak kekurangan. Demi anak-anaknya, ia akan menurunkan egonya. Mungkin dia bukan suami yang sempurna untuk Bella, tetapi ia berjuang untuk menjadi ayah yang sempurna bagi Rania, Issabell dan Real.
***
TBC
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah
bara masih agak jauh dari perfeksionis seorang pimpinan dan kepala keluarga.