Krystal, gadis berusia 22 tahun terpaksa menikah dengan kakak iparnya sendiri karena sebuah surat wasiat, yang kakak kandungnya tinggalkan satu hari sebelum dia meninggal.
Mau tidak mau, Krystal menerimanya meski sebenarnya hatinya menolak.
“Berpura-pura lah menjadi istriku. Dan tanda tangani surat perjanjian kontrak ini. Tapi, kamu harus ingat, jangan sampai jatuh cinta padaku.” Bara Alfredo.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Jangan sampai kamu tergoda dan jatuh cinta padaku, Kakak Ipar.” Krystal Alexander.
Akan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka yang tidak di dasari dengan perasaan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 014
“Kamu bisa ‘kan membawa Lio pulang?” tanya Bara pada Liam, dimana asisten pribadinya itu sedang membopong Lio sambil duduk di bangku kemudi.
Liam menghela nafas berulang kali. Ingin rasanya menolak dan mengatakan tidak. Namun, tidak dia lakukan. Liam sangat tahu apa maksud ucapan Bara yang meminta dirinya untuk membawa Lio pulang seorang diri.
“Kenapa diam? Ada masalah, hum?” tanya Bara lagi, kesal tak mendapat jawaban dari Liam.
“Biarkan saja Lio ikut bersama kita. Lagipula dia tidak pernah merepotkan. Dia penurut dan–”
“Diam!” sentak Bara melirik tajam ke arah Krystal. “Aku tidak menanyakan pendapatmu tentang hal ini. Masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul nanti,” tegasnya meminta Krystal untuk masuk ke dalam butik yang langganan Anaya.
“Tidak bisa, Kak. Aku yang mengantar Lio ke rumah sakit jadi aku juga yang harus mengantarnya pulang. Bagaimana kalau Lio mencari ku,” ucap Krystal hendak masuk ke dalam mobil, tapi ditahan oleh Bara.
“Atau kamu mau aku mengubungi papa dan mama sekarang juga? Dan menceritakan pada mereka kalau putrinya ini selingkuh setelah dua hari menikah?” ancam Bara merogoh ponselnya dan siap menelpon Noah.
Krystal berdecak kesal dengan kedua tangan terkepal. Dia lalu berbalik dan berjalan menuju ke butik. Di sana sudah ada dua orang yang menunggunya.
Setelah Krystal masuk Bara kembali bicara pada Liam. “Bilang pada mereka, aku akan pulang terlambat. Satu lagi, urus soal keributan yang terjadi di cafe tadi. Bungkam awak media. Jangan sampai ada berita aneh-aneh yang menjelek-jelekkan istriku. Jika itu terjadi, hancurkan mereka!” titahnya tegas.
Liam menelan ludahnya dengan susah payah. Untuk pertama kalinya, Bara meminta dirinya membungkam media. Padahal biasanya, pria itu sama sekali tidak peduli dengan pemberitaan mengenai dirinya.
“Mengerti, Liam?”
“Ya, Tuan. Saya mengerti.”
“Bagus.” Bara menepuk pundak Liam. Tatapannya kini tertuju pada Lio yang sedang tertidur lelap. Lalu tanpa mengatakan apapun, Bara menyusul Krystal yang sudah ada di butik.
“Kasian sekali tuan muda. Padahal dia sangat tampan dan menggemaskan. Kenapa ayahnya malah bersikap dingin begitu,” gumam Liam melajukan mobilnya menuju ke rumah utama.
*
*
Hampir satu jam lamanya, Krystal dibuat kesal dengan tingkah Bara yang amat sangat menyebalkan. Ini adalah gaun ke sepuluh yang sudah dia coba dan Bara memintanya untuk mencoba gaun yang lain.
“Bagaimana dengan gaun ini?” tanya Krystal.
“Tidak! Sangat jelek dan tidak cocok kamu pakai.”
“Tapi–”
“Aku bilang tidak cocok ya tidak! Cepat ganti sana!”
Krystal menjejakkan kakinya berulang kali di lantai. Lalu masuk ke ruang ganti. Sungguh, rasanya dia ingin sekali menjerit dan menjambak rambut Bara.
“Dasar sinting! Gaun ini begitu berat dan sesak. Dia bahkan mengucapkan kalimat tidak cocok tanpa melihat gaun yang kupakai. Sebenarnya apa yang dia mau, sih.”
Krystal menggerutu sambil melepaskan zipper bagian belakangnya dengan sedikit kesusahan. Dan berakhir dengan punggungnya yang terluka.
“Argh... apes sekali nasibku.” Dia meringis, menggigit bibir bawahnya sendiri menahan sakit.
Hingga tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh punggungnya dan membantu Krystal menurunkan zipper itu.
“Kenapa tidak dari tadi membantuku. Lihat, kamu membuat punggungku terluka. Mau dipotong gajimu?” Krystal bicara dengan wajah menunduk tanpa tahu siapa yang saat ini ada di belakangnya.
“Seharusnya kamu memanggilku. Jangan diam saja.” suara berat terdengar, membuat seluruh tubuh Krystal meremang seketika. Apalagi aroma parfum woody yang sangat dia kenali.
Krystal hendak berbalik, namun ditahan oleh pria itu.
“Mau berdandan secantik apapun, bahkan jika kamu telan-jang di hadapanku sekalipun, aku tidak akan pernah tertarik pada tubuh yang sudah disentuh banyak pria ini,” ucap Bara dingin. Menurunkan zipper nya kebawah hingga batas pinggang.
Krystal bisa melihat itu di pantulan cermin, raut datar Bara saat dia mengucapkannya bahkan menatapnya penuh dengan kebencian.
“Apa salahku, kenapa kamu selalu selalu bersikap seakan-akan aku ini wanita gampangan,” Krystal meremas ujung gaunnya, menahan air mata yang sudah menggenang.
“Salahmu karena kamu mau menandatangani berkas pernikahan itu dan menikah denganku. Karena sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah menjadi nyonya Alfredo! Camkan itu!”
Bara menegakkan tubuhnya dan merapikan jasnya, lalu meninggalkan Krystal seorang diri.
Bertepatan dengan keluarnya Bara, butiran bening yang sejak tadi Krystal tahan lolos begitu saja membasahi pipinya.
“Tahan, Krys! Air matamu terlalu berharga untuk pria seperti Bara!”