Follow IG @rr_maesa
Dilamar pria tampan super tajir, dengan rumah mewah dan perhiasan satu koper, mau? Mau dong! Tapi bagaimana kalau prianya ternyata memiliki gangguan kejiwaan? Masih mau?
Jack Delmar adalah pria tampan kaya raya keturunan bangsawan Perancis, yang mengalami hal buruk di masa kecil yang membuatnya depresi dan terpaksa dirawat di RSJ.
Arasi Mayang, seorang gadis yang menerima lamarannya Jack karena dikejar target menikah tanpa tahu kalau Jack dalam masa pengobatan. Apa yang terjadi ketika Ara baru mengetahui kondisi Jack setelah menikah?
Yuk ikutin kisah cintanya Jack dan Ara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-32 Aku tidak akan meninggalkan Jack
Ara segera menghampiri ibunya.
“Ada apa Bu? Kenapa ibu melepas sepatunya?” tanya Ara.
“Mertuamu mengatakan keluarga kita gila! Dia tidak tahu kalau ibu bisa mematahkan lehernya hanya dalam beberapa menit!” jawab Ibunya Ara sambil menarik gaunnya keatas.
Ara menoleh pada Ny.Inez yang tersenyum sinis, lalu pada ibunya.
“Sudahlah Bu, ayo masuk!” kata Ara, mengulurkan tangannya pada Ibunya.
“Awas kau ya! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti putriku!” maki Ibunya Ara, lalu mengambil kedua sepatunya yang tergeletak dilantai dan mengikuti Ara menaiki tangga.
“Sayang, apa Ibu mertuamu menyakitimu? Katakan pada Ibu, biar ibu kasih pelajaran dia!” kata Ibunya Ara.
“Tidak Bu,” jawab Ara, tidak mau memperpanjang masalah.
“Kau jangan berbohong! Sepertinya ibunya Tuan Jack itu sangat membahayakan!” ucap Ibunya Ara.
Ara masih tidak menjawab, dia terus berjalan menuju kamarnya.
“Sayang, rumahnya sangat luas! Dimana kamarmu?” kata Ibunya Ara.
“Ini kamarku,” jawab Ara, berdiri dipintu tapi tidak langsung membuka pintunya, malah menatap Ibunya.
“Ada apa?” tanya Ibunya Ara.
Ara merasa bingung apa reaksi Ibunya kalau tahu Jack seperti itu?
“Ada yang kau sembunyikan pada Ibu?” tanya Ibunya.
Ara tidak menjawab, tangannya membuka gagang pintu perlahan.
“Masuklah Bu, Jack ada di dalam,” ucap Ara.
“Baiklah,” jawab ibunya, lalu masuk ke dalam kamar diikuti Ara yang kembali menutup pintu.
Ibunya Ara mengedarkan pandangannya keruangan yang luas itu. Reaksi awal ibunya Ara merasa senang melihat ruangan yang begitu mewah itu, dia merasa senang putrinya hidup berkecukupan.
Lalu dilihatnya seseorang yang duduk bersandar ditempat tidur dengan memeluk kedua lututnya. Sesekali dia menutup kedua telinganya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tuan Jack!” panggil Ibunya Ara, dengan hati yang bingung karena reaksi Jack seperti itu.
“Tuan Jack, ah sepertinya aku tidak perlu memanggilmu Tuan, kau kan sudah menjadi menantuku, aku akan memanggilmu Jack saja, tidak apa-apa kan?” kata Ibunya Ara mendekati tempat tidur.
“Bagaimana kabarmu? Kau lebih baik sekarang?” tanya Ibunya Ara.
Dilihatnya Jack hanya menunduk mendekatkan wajahnya ke kedua lutut sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
“Nak Jack, ibu mertuamu datang menjengukmu! Ibu membawakan ramuan tradisional dan madu supaya kau cepat sembuh!” kata Ibunya Ara, mengeluarkan dua botol jamu jamuan dari dalam tasnya.
“Nak Jack!” panggil Ibunya Ara.
Tapi Jack sama sekali tidak melihat kearahnya.
Ibunya Ara menjadi curiga melihat Jack yang seperti itu, malah menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.
“Apa ini? Kenapa Jack begini?” tanyanya pada Ara, menatap putrinya itu dengan tatapan yang keheranan.
“Apa ini sayang? Jack sakit apa?” tanya Ibunya lagi.
Ara menatap mata ibunya.
“Jack mengalami Depresi Bu,” jawab Ara membuat Ibunya terkejut, menatap Ara tidak percaya dan mundur beberapa langkah, lalu menoleh pada Jack.
“Apa? Jack Depresi? Apa maksudmu?” tanya Ibunya.
Ara duduk dipinggir tempat tidur dan menatap Ibunya.
“Iya Bu, Jack Depresi. Sebenarnya dia sudah pernah dirawat di RSJ sejak dia kecil,” jawab Ara, membuat Ibunya Ara ingin pingsan rasanya.
“Apa? Dirawat di RSJ?” tanyanya hampir berteriak, dan suara tingginya membuat Jack menutup kedua telinganya.
“Sayang kau tidak sedang bercanda kan?” tanya Ibunya Ara.
“Aku serius Bu, Jack masih dalam pengobatan, kemarin dia tiba –tiba jadi seperti ini,” jawab Ara.
“Apa maksudmu kau menikahi pria gila?” tanya Ibunya Ara.
“Jack tidak gila Bu, dia depresi karena waktu kecil telah menyebabkan ayahnya dan teman kecilnya meninggal terbawa arus laut,” jawab Ara.
Ibunya Ara semakin shok saja, dia tidak menyangka menantu kebanggaannya ternyata seorang pria yang depresi. Diapun menoleh kearah Jack, yang kini duduk bersandar memeluk kedua lututnya menatap kedepan dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba mata Ibunya Ara memerah dan diapun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sayang, kau harus keluar dari rumah ini, kau harus meninggalkan Jack, kau harus pulang!” kata Ibunya Ara, lalu menatap Ara.
“Tidak Bu, aku tidak bisa meninggalkan Jack, dia suamiku,” ucap Ara.
“Tapi dia sakit Nak, kau tidak mungkin menghabiskan waktumu hanya untuk menemani orang sakit jiwa!” kata Ibunya Ara.
“Tidak Bu, aku akan berusaha supaya Jack sembuh,” kata Ara.
“Tidak bisa! Kau harus pulang! Ibu lebih baik mengembalikan rumah dan perhiasan itu daripada menikahkanmu dengan pria yang gila!” ujar Ibunya Ara, sambil menarik tangannya Ara.
“Tidak Bu, jangan begitu, Jack sudah menjadi suamiku sekarang, aku tidak bisa meninggalkannya!” kata Ara, kini matanya sudah mulai memerah menahan tangis.
“Sayang, ibu memang ingin cepat-cepat kau menikah dan mendapatkan jodohmu, tapi tidak dengan pria yang gila ini!” teriak Ibunya Ara.
“Tidak Bu, Jack tidak gila, nanti juga dia sembuh,” ucap Ara.
“Sampai kapan? Jangan sia-siakan hidupmu! Kau punya hak untuk bahagia! Tinggalkan Jack, ibu kembalikan rumah dan perhiasannya, pulang sekarang juga!” kata Ibunya Ara, kembali menarik tangannya Ara.
Ara memegang tangan ibunya.
“Tidak Bu, aku tidak bisa meninggalkan Jack! Dia suamiku,” ucap Ara, menatap Ibunya yang juga menatapnya.
Dilihatnya mata ibunya yang memerah tadi sudah mulai tergenang butiran-butiran air bening.
“Sayang, Ibu menyesal, Ibu tidak hati-hati menikahkanmu, ibu tidak berfikiran kenyataannya akan seperti ini! Kalau tahu dari awal Jack itu gila ibu tidak akan mau menikahkanmu dengan Jack!” kata Ibunya Ara.
Arapun terdiam.
“Bagimana kalau kau punya anak nanti? Bagaimana kalau anakmu juga seperti ayahnya? Tidak sayang, ibu tidak bisa membayangkan itu semua!” ucap Ibunya Ara kini airmata itu menetes dipipinya.
“Tenanglah Bu, semua tidak seburuk yang ibu bayangkan, Jack kemarin baik-baik saja, meskipun masih harus minum obat, dan control pada Dokter jiwa,” ucap Ara.
“Apa? Dia masih minum obat dan control pada Dokter jiwa? Itu sama saja dia masih sakit, Ara! Pokoknya kau harus pulang sekarang!” teriak Ibunya, menarik tangan Ara dengan Paksa.
“Tidak, Bu, aku minta maaf, aku tidak bisa meninggalkan Jack, aku harus menemaninya sampai sembuh,” ucap Ara.
“Semua itu buang-buang waktu saja! Pokoknya kau harus pulang sekarang juga!” teriak Ibunya.
“Tidak Bu, aku tidak bisa!” tolak Ara, tapi tarikan tangan ibunya sangat kuat membuat dirinya bangun dari duduknya. Dia tidak berani menarik tangan ibunya dengan kasar.
Kemudian ibunya Ara menatapnya.
“Apa kau, kau sudah diapa-apakan Jack?” tanya ibunya Ara.
“Apa? Apa maksud ibu” tanya Ara.
“Apa kalian sudah berhubungan suami istri?” tanya ibunya lagi.
Ara tidak menjawab, Ibunya langsung saja menangis.
“Bagaimana ini? Bagaimana kalau kau hamil dan melahirkan bayi yang sakit jiwa juga? U hu uhu…hidupmu sudah hancur sayang!” ucap ibunya, kembali menghapus airmatanya yang langsung saja tumpah.
“Tidak Bu, tidak begitu aku..” Belum selesai Ara bicara, ibunya sudah memotong.
“Apa? Kau belum disentuh Jack? Bagus kalau begitu, berarti kau bisa cepat mendapatkan lagi pria yang lebih baik dari Jack,” kata Ibunya, kembali meraih tangannya Ara, yang lasngsung memegang tangan ibunya.
“Bu, tolong Bu, jangan begini,” ucap Ara.
“Jangan begini apa? Jangan sia-siakan hidupmu mendampingi pria gila!” kata Ibunya.
“Ibu tahu ibu juga ingin punya menantu yang kaya tapi tidak juga dengan kondisi seperti ini! Banyak yang kaya tapi tidak gila!” kata Ibunya Ara lagi, bersikeras.
“Tolonglah Bu, mengerti aku. Aku baru menikah dengan Jack kemarin, masa aku harus berpisah dengannya? Apa kata orang!” ujar Ara, membuat ibunya diam.
“Kau benar, apa kata orang kalau kau tiba-tiba pulang,” ucap ibunya.
“Iya kan malu Bu,” ucap Ara mencari-cari alasan dia juga tahu pasti ibunya akan bersikap seperti itu.
“Tapi ibu khawatir dengan keadaanmu disini bagaimana kalau Jack menyakitimu? Ibunya juga sangat menyeramkan, tidak akan ada yang membelamu disini,” kata Ibunya Ara.
Ara memegang tangan ibunya dan menatapnya.
“Tidak apa-apa Bu, aku bisa jaga diri,” ucap Ara.
“Sayang, mungkin sekarang kau tidak bisa pulang dengan Ibu, tapi beberapa hari lagi Ibu akan kesini menjemputku,” kata Ibunya Ara.
“Menjemputku untuk apa?” tanya Ara.
“Ya tentu saja untuk meninggalkan Jack! Ibu tidak mau kau bersuamikan pria yang sakit jiwa!” kata Ibunya Ara.
Ara menatap ibunya lagi.
“Aku akan menemani Jack selamanya,” ucap Ara, membuat Ibunya membelalakkan matanya.
“Apa? Kau akan menemani Jack selamanya? Kau jangan gegabah mengambil keputusan! Kalau Jack sembuhpun kau harus meninggalkannya, karena mungkin saja Jack itu akan sakit lagi,” ucap ibunya.
“Bu, aku mengerti perasaan Ibu , tapi aku juga kasihan pada Jack, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Tolong mengertilah Bu, beri dukungan padaku supaya Jack bisa sembuh,” kata Ara.
Ibunya Ara menatapnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan pemikiran putrinya.
“Tolonglah Bu, mengertilah!” pinta Ara, membuat ibunya Ara diam.
Dibalik pintu kamar itu, Ny.Inez berdiri dengan menempelkan telinganya ke pintu, mendengarkan percakapan Ara dengan ibunya. Diapun tersenyum senang.
“Baguslah kalau Ibunya Ara mengajak Ara pergi meninggalkan Jack, jadi tidak akan ada masalah lagi dirumah ini,” gumamnya, lalu meninggalkan tempat itu.
***********
Readers, ternyata banner rekomendasi tidak aktif sekarang. Padahal itu jalan satu-satunya bagi penulis kecil seperti aku yang sedikit pembaca untuk bisa diberanda rekomendasi meski hanya 2 hari.
Jika pembacanya tidak bertambah, kalau sudah banyak yang bosan akan semakin habis pembacanya.
Yang sudah penasaran dengan Jack, maaf ya masih harus bersabar…
Jangan lupa like dan vote ya..
*************
mana ada cowo gila romantis.. ada d tempat yang sama, sempet sempetnya kirim bunga
ibarat kalau pilih kiri (dikejar pria beristri)
pilih kanan dikejar pria autis (gangguan jiwa)
tp setidaknya jack itu ganteng, kaya raa.. pilih dia aja.. minus ny cuma atu, dia gila raa.. gapapa lah.. ketutup ama ketajiran ny.. anak semata golek kolongmerat..
dr pada pilih laki beristri..
mending setia.. bisa bisa nambah pasukan.. belum lagi anaknya banyak.. di unyeng2 istri tua.. haih...ibarat udah jatoh nyusruk ke selokan comberan itu mah.. dibahagiain kaga.. sengsara udah pasti
seneng bgt 🥰