Dhini Apriani seorang gadis cantik yang merasa dirinya titisan dewi kuan'in, bertemu dengan seorang pangeran tampan yang kadar ketampanannya diatas rata-rata lelaki pada umumnya.
Pertemuan mereka yang terjadi karena sebuah kesalahan kecil, membuat keduanya semakin hari semakin dekat.
Davin Aditya Pratama, putra seorang pengusaha sukses yang menjalin kasih dengannya. Namun sayangnya, orang tuanya telah menjodohkan dirinya dengan anak dari temannya.
Lantas bagaimana kisah cinta antara dua makhluk kasat mata itu ?
cekidot....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade The_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKAH ?
Udara pagi yang sejuk, setelah lima hari dirawat Dhini meminta Davin membawanya keluar kamar. Dia ingin menghirup udara segar di taman rumah sakit. Davin yang sudah lebih sehat karena lukanya yang memang tidaklah terlalu parah, kini membawanya dengan kursi roda.
"hmmmm... Ya Allah... terimakasih karena masih memberikan kesempatan aku untuk merasakan udara segar ini lagi." ucap Dhini sembari menarik nafasnya dari hidung dan membuangnya perlahan dari mulutnya. Menikmati udara sejuk di pagi hari, setelah lama terbaring.
"Bang, abang ga masuk kerja apa ? Kok masih disini, ntar kerjaan abang berantakan gimana ?" tiba-tiba Dhini teringat bahwa sudah cukup lama Davin selalu bersamanya di rumah sakit.
"Abang masih nungguin proses hukumnya si monyong itu. Kamu inget nggak kejadian di bioskop itu. Nah ternyata dia tuh dalang dari kejadian ini sayang" jawab Davin sembari mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman disebelah Dhini
"Haaah..." dengan mata melotot mulut menganga Dhini kaget.
"He'em, abang juga gak nyangka ternyata dia masih nyimpen dendam sama abang. Maafin abang ya Dhin, gara-gara abang jadi kamu yang kena imbasnya. "
"Apaan sih bang, bukan karena abang juga kok. Ini udah takdir dari Tuhan bang. Setiap manusia pasti mendapat cobaan dalam hidupnya. Tergantung kitanya masing-masing, bagaimana cara mengatasinya." kembali mama Dedeh bertausiah.
Davin tersenyum membelai rambut Dhini "waduuuh... udah pinter ceramah ini sayangnya abang. Kayaknya akibat kecelakaan kepala kamu ini bikin kamu tambah dewasa deh. Gimana kalo besok kita nikah ?"
"WHAT ? , NIKAH ? kayaknya akibat kecelakaan ini abang jadi tambah aneh deh" jawab Dhini.
Davin malah tertawa mendengar ucapan Dhini, padahal yang sebenarnya dia ingin segera menikahi Dhini. Dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Mengingat betapa sedihnya dia saat kecelakaan malam itu, dia bahkan tak bisa berbuat apa-apa.
"Abang kan pengen cepet-cepet halalin kamu, biar bisa anu..." ucap Davin menautkan ujung-ujung jari telunjuknya.
"Hiiii... abang jadi mesum gini, mulai gak beres nih. Mesti di periksa nih, jangan-jangan akibat kecelakaan juga ini. Dhini jadi takut, hiiii..." Dhini memutar roda pada kursi rodanya menjauh dari Davin.
"Eh, kamu mau kemana ?" kejar Davin
"Balik ke kamar ah, udah panas ini ntar aku hitam" jawab Dhini menghentikan tangannya, karena sudah di ambil alih oleh Davin.
Davin memutar arah kursi rodanya " kalo mau balik ke kamar, kamu salah jalan. Kesana malah kamu mau ke parkiran sepeda motor itu." tawa Davin
...****************...
Hari ini tepat seminggu Dhini di rawat, dan dia sudah bisa kembali pulang ke rumah. Papi Adit dan Mami Evelyn sudah kembali ke Jakarta, karena Davin belum bisa kembali bekerja maka papi Adit kembali turun tangan.
Mama Miranda sudah menyiapkan semua perlengkapan Dhini yang akan dibawa pulang. Sedang Davin tetap setia menemani Pujaan hatinya itu. Mereka kembali ke rumah Dhini dengan mobil yang sudah disediakan papi Adit.
"Ma... papa udah balik ke Jakarta ya ? tanya Dhini yang tampak tak bersemangat.
"Iya sayang, papa kamu udah kelamaan liburnya. Gak enak sama bosnya, jatah cutinya juga udah habis. Lagian kamu kan sudah sehat sekarang, ada mama sama Davin juga kan..." jawab mama tersenyum.
"Ayo ma" Davin membukakan pintu untuk Dhini dan mama Miranda masuk. Davin lalu memasukkan semua barang-barang bawaan ke bagasi belakang.
Sesampainya di rumah, Davin langsung memapah Dhini masuk ke kamarnya. "Aku bisa jalan sendiri kok bang, tadi juga aku jalan sendiri waktu di rumah sakit" ucap Dhini saat Davin terus membantunya hingga ke kamar.
"Udah nggak apa-apa, abang cuma mau mastiin kamu sampe ke kamar dengan selamat." Alasan yang sungguh tak berbobot sebenarnya.
"Abang lusa mau balik ke Jakarta, kamu mau ikut abang nggak ?" tanya Davin
"Aku kan kuliah bang, lagian itu kafe juga udah lama gak aku lihat. Kata mbak Sari si Barbie sama Batman nanyain aku terus. Kenapa sih mereka gak di bolehin jenguk aku di rumah sakit ?" tuturnya panjang.
"Gak usah, mereka itu berisik sayang. Ntar yang ada malah buat kamu tambah sakit. Si gagang sapu itu lagi, mau cari-cari kesempatan itu sama kamu." jawabnya sembari menaikkan kaki Dhini dan menutupi kakinya dengan selimut.
"Ntar kalo abang di Jakarta, kamu jangan terlalu deket sama si gagang sapu itu ya. Awas kalo abang tau kamu ketempelan sama dia." kembali protektif.
"Namanya Amir bang, bukan gagang sapu. Batman lah bilang kalo abang gak tau namanya. Dia kan cuma temen aku bang, masak aku gak boleh temenan sih." Dhini memanyunkan bibirnya, malas menatap ke arah Davin karena dia mulai ngambek.
"Uluh-uluuuh ngambek dianya..." Davin menarik dagu Dhini menghadapkan ke arahnya.
"Iya boleh temenan, tapi jangan mau di rangkul-rangkul si... itulah..." Davin malas menyebutkan namanya ataupun gelarnya sebagai Batman. Mana ada Batman kurus kering gitu.
Bersambung...
...🙏🙏🙏🙏...
...Terimakasih...
ceritanya beneran mirip sama dunia real😂
jadi g mungkin belajar
malah nonton🤦🏻♀️
tapi yang penting jangan ke hal yg negatif 👍
penulisannya rapi tanpa ada typo
karakter cwo yang tampannya diatas rata-rata