Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperdalam Ilmu Bela Diri 2
Pengorbanan hari ini pastilah akan mendapatkan balasan yang setimpal, dengan apa yang telah di korbankan.
Kita tidak pernah tahu kapan, dimana dan bagaimana semua itu bisa terjadi. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah terus berjuang hingga akhir.
Riri juga terus berjuang untuk bisa menyatukan keluarga nya lagi. Maka dari itu dia ingin mengasah kemampuan dirinya.
Agar kelak, bisa membantunya saat ia akan mencari ayahnya.
Hari ini adalah hari pertama dia bertemu dengan seseorang. Seseorang yang ingin membantunya dalam memperdalam ilmu bela dirinya yaitu Silat.
Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah seseorang yang ingin mengajarinya itu. Menurutnya rupa itu tidaklah penting. Hal yang terpenting adalah niat dan tekad yang kuat, itu saja.
Perkenalan mereka di mulai ketika Riri membuka satu akun medsos yang selalu mengunggah tentang ilmu bela diri yaitu silat.
Akhirnya, dia tertarik untuk mengikuti saran-saran yang sering di berikan oleh pria itu melalui akun medsosnya.
"Hem, sepertinya boleh di coba, nih. Jika karate di gabung dengan silat, mungkin aku dapat mengkombinasikan ke duanya. Semoga saja orang ini mau mengajariku!" ujarnya pada diri sendiri.
Riri mengirimkan pesan pada akun medsos pria itu.
Bisakah kita bertemu? Aku ingin tanyakan banyak hal pada Anda. Lalu, bagaimana cara untuk menjadi murid, Anda?
Lalu, dia mengirimkan pesan itu. Dia terus menunggu balasan pesan dari si pria.
"Duh, kenapa lama banget, ya? Apa dia tidak akan membalas pesanku? Atau mungkin dia sudah menolak untuk mengajariku?" Riri terus menerus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja ponsel yang ada di genggamannya berbunyi.
"Hah, akhirnya berbunyi juga. Semoga dari dia!" Perlahan-lahan dia membuka matanya satu persatu.
Benar saja, pesan itu memang dari pria di medsos itu.
Baiklah, kita bertemu di tepi pantai Kepulauan Seribu pada pukul 17.00 wib. Aku tidak suka orang yang telat. Jadi, berusahalah agar tidak terlambat! kata si pria dalam medsosnya.
Riri segera membalasnya.
Ok, saya akan berusaha untuk tidak telat. Semoga hari Anda menyenangkan! Terima kasih! balas Riri pada pria yang tidak jelas siapa namanya.
Tanpa Nama, itulah nama akun si pria itu. Dia benar-benar menyembunyikan identitas dirinya.
***
Berlari tanpa henti, itulah yang kini di lakukan oleh Riri. Dia tidak ingin, mengecewakan orang yang sudah memberikannya kesempatan yang begitu berharga.
Dia menghentikan taksi yang lewat menghampiri dirinya. Lalu, dia segera memanggilnya.
"Taksi, Pak tolong antar kan saya ke pantai Kepulauan Seribu!" pintanya pada sang supir.
"Baik, Mbak!" jawab si supir.
"Pak, tolong lebih cepat lagi, bisa tidak, Pak?!" katanya memerintah si supir taksi.
"Duh, Mbak sepertinya macet nih, Mbak. Gimana, nih Mbak?" balas si supir.
"Duh, gimana, ya, Pak? Saya nggak boleh telat, Pak. Kalau ke pantai masih jauh nggak Pak dari sini?" tanyanya pada si supir.
"Kalau dari sini, nggak jauh lagi kok, Mbak. Jika, Mbaknya lari mungkin akan lebih cepat sampai. Dari pada nunggu macet ini berhenti, Mbak!" saran si supir pada Riri.
"Gitu, ya Pak! Ya, udah deh. Kalau gitu saya turun disini. Makasih, ya Pak!" balasnya pada si supir taksi.
"Sama- sama, Mbak. Hati-hati, Mbak!"
"Ya, Pak!" jawab Riri.
Lari, lari dan berlari. Kini, Riri hanya bisa berharap keajaiban waktu dapat terjadi. Dia berharap, waktu berjalan jauh lebih lamban dari biasanya. Kendati pun itu tidaklah mungkin.
Tapi, dia masih ingin itu dapat terjadi, bahkan jika mungkin sepuluh kali lebih lambat dari biasanya.
Helaan napas yang panjang, berhembus berebut keluar dari mulut Riri.
"Huh ... huh ... huh ... semoga ... aku masih belum terlambat! Ya, Tuhan tolonglah hamba!" ucapnya berat, karena terlalu lelah berlari.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Riri terus berlari menuju tepi pantai. Seperti yang telah di janjikan.
Dia merasa sangat lega, karena pria itu belum tiba di tempat itu. Dia benar-benar bersyukur.
"Hah, terima kasih, ya Allah! Terima kasih!"
Tepat setelah dia berkata seperti itu, ada seorang pria yang tengah berjalan ke tepi pantai.
Riri yang melihat itu segera berlari kembali.
"Celaka! Jangan-jangan itu dia, aku harus cepat!" katanya sambil berlari.
Ketika sampai, dia mengatur napas terlebih dulu.
"Hah ... huh ... hah ... maaf! Apakah, Bapak yang akan mengajari saya silat?" tanya Riri ragu.
Pria yang memakai celana levis hitam, kaca mata hitam serta topi dan juga lengkap dengan masker di wajahnya. Sudah terlihat seperti seorang penjahat profesional saja.
"Pak, saya tidak terlambat, 'kan? Tadi, saya benar-benar telah melihat Bapak dari kejauhan sana." kata Riri membela diri.
"Memangnya, saya setua itu, ya?" kata pria itu.
"Maaf, lalu saya harus panggil apa pada Anda?" tanya Riri.
"Perkenalkan, saya Sanjaya!" kata pria itu.
"Saya Riri Permata Wijaya!" jawab Riri.
"Nama yang bagus, semoga orangnya juga sebagus namanya!" tukas pria itu.
"Ya, saya juga berharapnya begitu." ucap Riri lesu.
Perkenalan singkat pun, telah selesai mereka lakoni. Riri merasa, seakan pernah mengenal orang ini sebelumnya.
Tapi, sungguh sayang dia tidak bisa memastikan itu. Hal itu karena penampilannya, sungguh sangat di rahasiakan.
Sehingga, membuat Riri tidak bisa begitu jelas melihat wajahnya. Tertangkap sedang melihatnya, membuat Riri merasa malu.
"Apa yang kamu lihat?" kata Sanjaya padanya.
"Oh, bukan apa-apa! Saya pikir, kamu mungkin mirip dengan seseorang yang saya kenal. Itu saja, kok!" katanya malu-malu.
"Oh, begitu! Ok, saya akan jelaskan tentang peraturan untuk kamu menjadi murid saya." terang Sanjaya.
"Pertama, kamu harus selalu on time. Ke-dua, kamu harus selalu fokus saat latihan dan yang ke-tiga, kamu harus selalu jujur! Oh, satu lagi yang harus kamu tahu. Cuma kamu yang akan menjadi murid saya, karena saya tidak punya niat untuk menjadi seorang guru silat." jelas Sanjaya panjang lebar pada Riri.
Mendengar itu, Riri sempat terheran-heran.
"Lalu, kenapa mau menjadi guru silat bagi saya?" tanyanya pada Sanjaya.
"Terkadang, kita tidak butuh alasan untuk melakukan sesuatu!" jawabnya dengan sangat lugas.
Riri bergumam dalam hatinya.
"Kamu tidak tahu alasannya atau tidak mau mengatakannya padaku? Ah, entahlah. Terserah saja, yang terpenting sekarang dia sudah bersedia menjadi guruku."
"Hari ini kita tidak perlu langsung latihan. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu." ujar Sanjaya.
Riri hanya diam saja mendengarkan Sanjaya bicara.
"Apa kamu tidak keberatan, jika saya menanyai mu?" tanya Sanjaya pada Riri.
"Ya, silakan!" jawabnya singkat.
"Apa kamu ikut ilmu bela diri selain silat yang akan saya ajarkan padamu?" ujarnya pada Riri.
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Sanjaya, seakan mempertegas bahwa, dia seolah telah mengenal Riri sebelumnya.
Seingat Riri, hanya Ibu dan teman-temannya lah yang mengetahui hal ini. Oh, satu orang lagi yaitu Riko.
📜Flashback On📜
Pernah suatu hari, Riko ingin mengajak Riri untuk menemaninya pergi jalan-jalan. Tetapi, Riri menolaknya karena dia sibuk latihan karate.
"Riri, bisa temani aku pergi jalan-jalan nggak hari ini?" tanya Riko melalui via telpon.
"Ya, Ko. Maaf, ya aku nggak bisa. Soalnya, aku harus latihan karate hari ini." jawab Riri.
"Oh, begitu. Ya, udah deh lain kali aja!" balas Riko lagi.
"Ok, deh. Sekali lagi maaf, ya Ko!" kata Riri merasa tak enak pada Riko.
"Em, tidak apa-apa! Aku ngerti, kok! Kamu harus semangat, ya latihannya!" kata Riko menyemangati Riri. Walau sebenarnya dia sedikit kecewa.
"Ya, terima kasih!" jawab Riri, lalu telpon oun terputus.
📜Flashback Off📜
"Kenapa, kamu bisa tahu, kalau aku ikut ilmu bela diri yang lain juga?!" tanya Riri sedikit kaget karena ucapan Sanjaya padanya.
"Hanya menebak, apakah itu benar?" lanjut Sanjaya lagi.
"Ya, itu memang benar! Saya juga ikut karate. Tapi, saya akan berusaha agar tetap fokus pada ke duanya!" ujar Riri mempertegas pada Sanjaya, bahwa dia tidak akan mengecewakannya.
"Ok, bagiku tidak ada masalah! Asal kamu sanggup, kenapa tidak? Saran dariku, kamu harus menjaga kesehatanmu dan juga perkuat stamina tubuhmu!" ujar Sanjaya menasihati Riri.
"Baik, terima kasih atas sarannya. Saya akan mencoba yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin!" jawab Riri tegas.
"Sekarang, kamu boleh pulang!" kata Sanjaya mempersilahkan Riri untuk pulang.
"Lalu, kapan lagi kita akan bertemu untuk latihan dan dimana saya akan latihan?" tanya Riri.
"Mengenai hal itu, nanti saya akan kabari kamu! Kita akan latihan di tempat terbuka. Saya lebih suka seperti itu. Waktu dan tempatnya, saya akan cocok kan dengan jadwal senggang saya dan juga jadwal latihan kamu karate."
"Oh, begitu. Terima kasih atas pengertiannya!" balas Riri sambil menundukkan kepalanya pada Sanjaya.
"Tolong kamu kirimkan nanti jadwal latihan mu!" seru Sanjaya.
"Baik, nanti saya akan kirimkan. Eh, tapi saya belum punya nomor WA kamu?" ungkap Riri bingung.
"Berikan ponselmu!" pinta Sanjaya.
Lalu, Riri mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Sanjaya. Sanjaya pun mengetik nomornya dan menyimpannya di ponsel Riri.
"Ini, ponselmu!" Dia mengembalikan lagi ponsel Riri. Riri pun menerimanya.
Mereka berpisah di pantai itu dan pulang ke rumah masing-masing.
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya