"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.25 Cemburu(2)
Pagi hari di meja makan. Daren, Nadia, dan Nenek Lusi sedang menikmati sarapan bersama. Suasana kembali dipenuhi sandiwara mesra antara Daren dan Nadia demi menyenangkan sang Nenek. Daren dengan perhatian mengambilkan minum untuk Nadia.
"Ini sayang minumnya," ucap Daren sambil meletakkan gelas yang berisi air putih itu di hadapan Nadia yang duduk di sebelahnya.
"Iya mas terimakasih," Nadia tersenyum mesra pada Daren.
Lagi-lagi Nenek Lusi tersenyum melihat kemesraan yang di tunjukkan oleh Daren pada Nadia cucu mantunya itu.
Nenek Lusi kembali menyendok makanannya dan menikmati sarapan pagi ini.
Tiba-tiba, ponsel Nadia yang diletakkan di atas meja berdering. Layarnya menyala dan menampilkan nama panggilan "Dokter Adrian". Daren yang melihat nama itu langsung tersedak kopinya sendiri, sementara Nadia dengan tenang meminta izin untuk mengangkat telepon tersebut.
"Permisi Nek, saya angkat telepon dulu," ijin Nadia dengan sopan pada nenek Lusi yang duduk di hadapannya itu.
"Ya, Silahkan," ucap Nenek Lusi pada Nadia.
Kemudian Nadia mengangkat panggilan telepon itu dan mulai berbincang dengan orang yang sedang menelponnya.
Nadia berbicara di telepon dengan sangat ramah dan lembut, membahas jadwal kontrol kakinya nanti siang. Setelah menutup telepon, Nenek Lusi yang penasaran pun bertanya siapa yang tadi menelpon Nadia dan Nadia pun menjelaskan dengan jujur kalau yang menelpon dirinya adalah Dokter Adrian
"Halo selamat pagi Non Nadia," sapa Dokter Adrian dengan lembut pada Nadia saat Nadia sudah menerima telepon darinya.
"Pagi Dokter," jawab Nadia ramah pada dokter Adrian.
"Oh ya, sekedar mengingatkan saja untuk kontrol nanti siang jangan lupa."
"Iya Dok, saya tidak lupa, Nanti siang saya akan ke sana," balas Nadia pada Dokter Adrian.
"Baiklah kalau begitu nanti siang saya tunggu Nona Nadia, Maaf kalau saya menganggu acara sarapan pagi Non Nadia," ucap Dokter Adrian sungkan.
"Oh tidak, Tidak mengganggu kok Dok. Saya yang harusnya berterima kasih pada Dokter karena selalu mengingatkan saya untuk minum obat dan jadwal kontrol, Terimakasih Dok."
"Sama-sama." Kemudian pembicaraan itupun di akhiri oleh Dokter Adrian.
Nenek Lusi melihat ke arah Nadia sambil mengerutkan keningnya "Siapa yang menelpon Nadia?" tanya Nenek Lusi penasaran karena Nadia tadi berbicara dengan sangat ramah dan lembut.
"Oh tadi, Itu Dokter Adrian Nek, Dia mengingatkan Nadia tentang jadwal kontrol untuk nanti siang," jawab Nadia jujur pada Nenek Lusi.
Bukannya curiga, Nenek Lusi malah memuji, "Oh, Dokter Adrian yang tampan dan ramah itu? Nenek tahu dia! Dia anak dari pemilik rumah sakit itu, kan? Pemuda yang sangat sopan dan mapan. Beruntung sekali kamu ditangani oleh dokter sehebat dia, Nadia." Mendengar pujian Nenek Lusi untuk rivalnya, wajah Daren langsung mendung dan seketika berubah masam.
"Apaan sih Nenek ini, mulai lagi memuji si Adrian brengsek itu," umpat Daren dalam hatinya mendengar Neneknya lagi-lagi memuji Dokter muda itu.
"Iya Nek, Dokter Adrian memang baik orangnya," ucap Nadia membuat darah Daren mulai naik ke ubun-ubun.
Daren sengaja meletakan cangkir kopi yang masih dia pegang dengan agak kasar ke tatakannya membuat Nadia dan Nenek Lusi menghentikan pembicaraan tentang dokter Adrian dan menatap Daren secara bersamaan.
Daren menipiskan bibirnya melihat dua wanita itu sedang menatap dirinya " Sudah selesai pujiannya untuk Dokter Adrian? Kalau begitu silahkan di lanjut lagi sarapannya," perintah Daren sambil menyendok makanannya tanpa rasa bersalah karena sudah menghentikan pembicaraan Nenek Lusi dengan Nadia tadi.
Nenek Lusi yang tahu kalau cucunya sedang cemburu itu hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya begitu juga dengan Nadia, Dia hanya menghela napas melihat sikap Daren yang tidak suka kalau Dia dan Nenek Lusi membicarakan Dokter Adrian lagi.
...----------------...
Nadia berpamitan kepada Nenek Lusi untuk pergi kontrol ke rumah sakit siang ini menggunakan taksi. Daren yang tidak rela istrinya bertemu dengan dokter tampan itu sendirian langsung berdiri dari kursinya. "Nenek, kebetulan siang ini jadwalku agak longgar. Biar aku saja yang mengantar Nadia ke rumah sakit," potong Daren cepat.
Nenek Lusi memiringkan kepalanya perlahan menatap Daren keheranan " Katanya sekarang kamu lagi ada janji ketemuan sama orang dari group Rajawali?" Tanya Nenek Lusi.
"Nanti aku atur ulang lagi Nek, mengantarkan Nadia ke rumah sakit lebih penting dari semuanya," kata Daren sambil menatap Nadia.
Nenek Lusi tersenyum puas dan langsung mendukung, "Nah, begitu dong! Suami siaga harusnya memang seperti itu. Nadia, kamu pergi diantar Daren saja, ya." Nadia yang tidak bisa menolak di depan Nenek Lusi akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah, meskipun dalam hati dia tahu suaminya ini pasti punya niat terselubung.
Sesampainya di rumah sakit, Daren dengan sengaja menggandeng tangan Nadia dengan sangat erat saat masuk ke ruang praktik Dokter Adrian, seolah ingin memamerkan bahwa Nadia adalah miliknya.
"Tumben Tuan Daren menemani Nona Nadia kontrol?" sindir Dokter Adrian pada Daren yang sedang duduk saat menunggu Nadia di periksa.
"Ya, mulai hari ini saya akan selalu menemani istri saya ke rumah sakit, terutama saat dia kontrol," ucap Daren dingin.
Dokter Adrian tersenyum mendengar ucapan Daren kemudian Dokter Adrian menyuruh Nadia untuk naik ke atas tempat tidur pasien "Silahkan naik ke atas tempat tidur Non Nadia."
Nadia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah ranjang pasien.
Dokter Adrian mendekati ranjang pasien itu lalu Dia pun mulai memeriksa kaki Nadia yang luka itu.
Dengan lembut dan perlahan Dokter Adrian mulai membuka perban yang membungkus luka di kaki Nadia.
Perkembangan kaki Nona Nadia sangat bagus. Sepertinya Tuan Daren mulai mendengarkan saran saya kemarin untuk menjaga istri Anda dengan baik, bukan membuat beliau stres?"
Daren mati kutu, rahangnya mengeras menahan dongkol karena disindir telak di depan Nadia. Sementara Nadia diam-diam menahan senyum melihat wajah suaminya yang sudah merah padam seperti kepiting rebus akibat cemburu.
"Brengsek kamu Adrian, sengaja kamu berkata begitu di depan Nadia untuk menyindir aku," gumam Daren dalam hati sambil mengepalkan tangannya dari balik meja kerja Dokter Adrian.
Setelah menyelesaikan pemeriksaannya pada kaki Nadia, Dokter Adrian kembali duduk di belakang meja kerjanya sambil menuliskan resep obat yang harus di tebus oleh Nadia.
Nadia pun bangun dari ranjang pasien dan duduk kembali di samping Daren yang duduk berhadapan dengan Dokter Adrian.
"Ini untuk resep obat yang perlu di minum secara rutin oleh Nona Nadia," Dokter Adrian menyerahkan secarik kertas itu pada Nadia tapi dengan sigap Daren menyambar kertas yang berisi resep Dokter itu.
"Oke Dokter kalau begitu kita permisi," kata Daren sambil memegang kertas resep itu.
"Ayo Nadia," Daren memegang lengan Nadia dan mengajaknya keluar dari ruangan Dokter Adrian.
"Terimakasih Dokter Adrian," ucap Nadia sopan. Sebelum Dia dan Daren beranjak dari ruang praktik Dokter Adrian itu.
"Sama-sama Nona Nadia, Jangan lupa untuk selalu rutin minum obatnya ya," pesan Dokter Adrian pada Nadia sambil tersenyum sopan.
Daren yang melihat pembicaraan dua orang itu dan melihat Nadia mengulurkan senyum manisnya pada Adrian mendadak menjadi emosi "Sudah ngomongnya?" tanya Daren dengan nada dan wajah kesal pada Nadia.
Karena tidak mau terjadi keributan di ruang praktik Dokter Adrian akhirnya Nadia pun segera melangkah keluar dari ruangan Dokter Adrian sambil di gandeng oleh Daren.
🤦
be smart don't be stupid alias i d i o t🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang