NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23: Jerat Sutra Di Akhir Pekan

Sabtu pagi di pinggiran kota Tangerang menyajikan ketenangan yang langka bagi Doni Salman.

Jauh dari kepulan asap solar Pelabuhan Tanjung Priok maupun ketegangan lantai marmer Menara Thamrin, pasar kaget di dekat kontrakan Zahra riuh oleh suara tawar-menawar ibu-ibu.

Bau harum dari gorengan hangat dan aroma kopi tubruk dari warung kaki lima memenuhi udara pagi yang masih sedikit berkabut.

Doni duduk di atas jok motor bebek tuanya yang terparkir di bawah pohon kersen, memperhatikan Zahra yang sedang memilih sayuran di salah satu lapak pedagang.

Wanita itu mengenakan kaos katun longgar berwarna kuning pudar dan celana kain hitam sederhana.

Rambutnya jepit asal-asalan, menyisakan beberapa anak rambut yang bergoyang lembut ditiup angin pagi.

Di mata Doni, kesederhanaan Zahra memancarkan kemurnian yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan miliaran rupiah di bursa efek.

"Mas Doni, lihat! Hari ini harga ayam potong lagi turun,"

Zahra berjalan mendekat sambil menjinjing kantong plastik hitam berisi belanjaan, wajahnya tampak begitu ceria.

"Nanti siang aku masakin ayam balado kesukaan Mas, ya?"

"Sebagai perayaan karena Mas Doni sudah jadi Asisten Manajer sekarang."

Doni turun dari motornya, mengambil alih kantong plastik dari tangan Zahra dengan gerakan yang protektif.

"Apapun yang kamu masak, Ra, selalu jadi makanan termewah buatku,"

 jawab Doni, senyumannya begitu tulus hingga membuat pipi Zahra merona kemerahan.

Mereka berjalan beriringan menyusuri gang sempit menuju rumah kontrakan sederhana berukuran empat kali empat meter yang dihuni Zahra bersama ibunya.

Di kehidupan pertamanya, Doni sering merasa rendah diri saat berjalan di gang ini karena dompetnya yang selalu kempis.

Namun kini, dengan jiwa seorang konglomerat, ia melangkah dengan kepala tegak.

Gang sempit ini bukan lagi simbol kemiskinan, melainkan benteng suci yang harus ia lindungi dengan seluruh nyawa dan kekuatan finansialnya.

"Mas Doni,"

panggil Zahra pelan saat mereka hampir sampai di depan pintu kayu kontrakannya.

Langkah kakinya melambat.

"Kemarin... ada mobil bagus banget berhenti di depan gang."

"Ada perempuan cantik, tinggi, pakai baju mahal banget nanya-nanya soal Mas Doni ke warung mpok Siti."

Gerakan tangan Doni yang hendak meletakkan belanjaan di atas bangku bambu depan rumah seketika terhenti.

Sepasang mata sumur tuanya menyipit tajam.

"Perempuan cantik? Ciri-cirinya bagaimana, Ra?"

"Rambutnya panjang bergelombang diwarnai cokelat pirang, pakai kacamata hitam besar, dan baunya wangi sekali seperti parfum mall mewah,"

jawab Zahra, ada nada kecemasan yang samar di dalam suaranya.

"Mpok Siti bilang, perempuan itu nanya apakah Mas Doni sering ke sini dan apa hubungan Mas Doni denganku."

"Mas... dia siapa? Apa dia orang dari kantor pusat yang tidak suka dengan pekerjaan Mas Doni?"

Doni merasakan sepercik hawa sedingin es menjalar di punggung mudanya. Amanda Santoso, desis batin Doni.

Skenario masa lalu mulai tumpang tindih dengan lini masa yang baru.

Di kehidupan pertamanya, Amanda baru muncul setelah Zahra tewas untuk berpura-pura menjadi penyelamat jiwanya yang hancur.

Namun sekarang, karena efisiensi gila dua puluh empat persen yang Doni ciptakan di Sektor Utara telah mengancam kepemilikan saham keluarga Santoso, Amanda bergerak lebih cepat.

Wanita iblis itu mulai mengendus kehidupan pribadinya, mencari titik lemah yang bisa digunakan untuk menghancurkan fokus atau memeras mental Doni.

Doni membalikkan tubuhnya, memegang kedua bahu Zahra dengan lembut namun sangat kokoh. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata teduh kekasihnya, menyalurkan rasa aman yang mutlak.

"Zahra, dengarkan aku," kata Doni,

 suaranya rendah, berat, dan penuh penekanan yang tidak boleh dibantah.

"Perempuan itu adalah bagian dari persaingan bisnis di kantor pusat."

"Mereka tidak suka melihat kinerjaku yang terlalu bagus di lapangan."

"Mulai hari ini, jika perempuan itu atau orang asing mana pun datang lagi dan bertanya tentangku, jangan pernah jawab sepatah kata pun."

"Langsung masuk ke dalam rumah dan kunci pintu. Paham, Ra?"

Zahra menatap Doni dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca, terkejut dengan perubahan nada suara Doni yang mendadak begitu serius dan protektif.

Namun, melihat kilatan tekad baja di mata kekasihnya, ia mengangguk perlahan.

"Iya, Mas. Aku paham. Aku percaya padamu."

Doni menarik Zahra ke dalam pelukannya sebentar, mengelus rambut hitam wanita itu dengan penuh rasa bersalah sekaligus luapan emosi protektif yang masif.

Di dalam hatinya, Doni membuat sumpah baru yang lebih kejam.

"Amanda... kamu baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu dengan menginjakkan kakimu di gang ini."

"Kamu mengira bisa menggunakan Zahra sebagai sandera psikologis untuk menghentikan langkahku?"

"Kamu tidak tahu bahwa dengan mendekati wanita ini, kamu baru saja mempercepat waktu eksekusi hukuman mati untuk karier dan nama besar keluargamu."

Malam harinya, di sebuah kafe remang-remang di kawasan pelabuhan yang dipenuhi aroma asap rokok murah dan alkohol lokal, Andreas duduk di sudut ruangan yang paling gelap.

Di hadapannya, berdiri seorang pria bertubuh gempal dengan tato ular naga yang menjalar dari leher hingga ke lengan kanannya Suryo, alias si Jago, salah satu pentolan preman bayaran wilayah barat yang terkenal kejam dan licik.

Andreas menggeser sebuah amplop cokelat tebal yang tampak padat di atas meja kayu yang lengket.

"Di dalam itu ada lima puluh juta rupiah."

"Uang muka untukmu dan anak-anak buahmu," bisik Andreas, matanya melirik ke sekeliling dengan waspada.

Suryo membuka sedikit ujung amplop, melihat tumpukan uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih baru, lalu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang kuning berkarat.

"Apa yang harus kami lakukan dengan uang sebanyak ini, Pak Bos?"

"Membakar gudang atau membuat seseorang pincang?"

"Senin subuh, pukul tiga pagi,"

Andreas memajukan tubuhnya, suaranya berubah menjadi desisan yang penuh racun.

"Doni Salman akan memimpin konvoi armada truk fuso bermuatan semen curah dan besi baja melewati jalur alternatif timur Kampung Bahari."

"Aku ingin kamu dan minimal tiga puluh orangmu memblokade jalan setapak di tengah rawa sepi itu."

Andreas mengetukkan jarinya ke meja dengan ritme yang penuh kebencian.

"Hancurkan kaca-kaca truk itu, bocorkan tangki solarnya, dan buat kerusuhan massal hingga para sopir ketakutan dan mogok jalan selama tiga hari penuh."

"Ingat, jangan sampai ada satu truk pun yang lolos ke lokasi proyek Marunda sebelum empat puluh delapan jam."

"Dan jika kamu berhasil menemukan Doni Salman di sana... patahkan tangan kanannya agar dia tidak bisa lagi menandatangani laporan efisiensi sialan itu."

Suryo terkekeh rendah, mengantongi amplop cokelat itu ke dalam jaket kulit usangnya.

"Mudah sekali, Pak Bos."

"Di tengah rawa sepi itu, teriakan minta tolong pun hanya akan didengar oleh nyamuk."

"Senin subuh, jalur timur itu akan berubah menjadi kuburan untuk proyek anak muda itu."

Andreas berdiri, merapikan letak kerah kemeja mahalnya, lalu melangkah keluar dari kafe remang-remang dengan perasaan puas yang meluap-luap.

Jerat sutra sabotase telah ia pasang di kegelapan, dan ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah hancur Doni Salman saat didepak dari Menara Thamrin pada hari Senin nanti akibat pasal gagal performa.

Namun, baik Andreas, Amanda, maupun kelompok preman bayaran itu tidak pernah menyadari bahwa di dalam sebuah mobil sewaan yang terparkir seratus meter dari kafe tersebut,

Joko duduk diam memegang sebuah alat perekam suara digital mini yang mikrofonnya terhubung langsung dengan alat penyadap frekuensi radio amatir yang Doni pasang di bawah meja kafe beberapa jam sebelumnya.

Joko menekan tombol stop pada alat perekam tersebut, menatap indikator lampu merah yang padam dengan tangan yang sedikit gemetar karena tegang.

Ia segera menyalakan mesin mobilnya, memacu kendaraan itu menembus malam Jakarta untuk mengantarkan rekaman suara berharga tersebut ke tangan sang master catur yang sedang menunggu di pos kontainer Marunda.

Perangkap musuh telah resmi tercatat, dan Doni Salman telah siap membalikkan jerat sutra itu menjadi tali gantungan yang akan menjerat leher Andreas sendiri di hari Senin subuh nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!