NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Dua Garis Merah

Nezha menatap benda plastik di tangannya cukup lama, seolah dua garis merah itu bisa berubah kalau ia terus memandanginya.

Tapi percuma.

Dua garis itu tetap di sana.

Dia positif hamil.

Jari-jarinya perlahan kehilangan tenaga. Alat tes itu hampir terlepas sebelum akhirnya ia genggam lagi. Lututnya melemah dan punggungnya otomatis bersandar ke dinding kamar mandi yang dingin.

"Enggak..."

Suara itu keluar pelan, nyaris seperti bisikan.

"Ini pasti salah."

Dadanya naik turun lebih cepat. Ia menutup mata beberapa detik, mencoba mengatur napas, lalu membuka lagi hasil tes itu.

Tetap sama.

Dua garis merah.

Pikirannya mendadak terasa kosong.

Di dunianya, kehamilan alami bukan sekadar hal yang aneh. Itu kejahatan. Semua anak dilahirkan melalui laboratorium reproduksi negara. Cinta dianggap bentuk penyimpangan emosi, sementara hubungan seksual tanpa izin negara adalah tindak kriminal.

Dan sekarang...

Dia hamil.

Nezha mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Jemarinya terasa dingin. Napasnya kembali memburu.

"Aku harus gimana..."

Tubuhnya merosot. Bola matanya bergerak liar. Hingga akhirnya terkunci pada gelang perak di pergelangan tangan kiri.

Gelang itu wajib dipakai setiap warga. Fungsinya sederhana, mendeteksi lokasi pengguna dan data kesehatan dasar seperti denyut jantung juga suhu tubuh. Pemerintah tidak bisa melihat informasi pengguna begitu saja, tetapi setiap perubahan yang dianggap tidak wajar akan tercatat di pusat data.

Nezha menarik napas panjang.

Pelan.

Sekali lagi.

Dia memaksa detak jantungnya turun. Jangan panik. Jangan sampai gelang itu mencatat lonjakan yang mencurigakan.

Pikiran pertama yang muncul adalah Carson.

Dia harus memberi tahu Carson.

Nezha buru-buru mengambil ponsel yang tergeletak di wastafel, tetapi jemarinya berhenti sebelum menyentuh layar.

Tidak.

Dia tidak boleh menelepon.

Tidak boleh mengirim pesan.

Semua komunikasi digital dipantau. Tidak ada yang tahu seberapa sensitif sistem itu sekarang, dan Nezha tidak mau mengambil risiko. Salah langkah sedikit saja, fakta ini bisa langsung sampai ke telinga pemerintah. Sungguh rumit dan merepotkan.

Dia meletakkan ponsel itu kembali.

"Ayo pulang, Carson..."

Bisiknya lirih.

Nezha menunduk, memeluk dirinya sendiri. Tak peduli lagi dengan dirinya yang masih duduk di lantai kamar mandi.

Secara resmi, Nezha dan Carson hanyalah tetangga biasa. Apartemen Carson berada di sebelah apartemen Nezha. Di hadapan publik, mereka berlagak tak saling kenal. Tak pernah menyapa, apalagi berinteraksi. Mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan tinggal di lantai yang sama.

Bahkan ketika berpapasan di lorong apartemen atau di dalam lift yang sempit, Nezha hanya akan menatap lurus ke depan, sementara Carson sibuk dengan ponsel di tangannya. Tidak ada anggukan kepala, tidak ada senyum basa-basi. Di dunia tempat kedekatan antar individu dicurigai sebagai benih anomali, bersikap acuh tak acuh adalah cara terbaik untuk bertahan hidup.

Padahal di balik lemari baju Nezha yang menempel ke dinding pembatas, ada sebuah rahasia besar. Setahun lalu, Carson berhasil menjebol beton penyekat di antara apartemen mereka secara perlahan menggunakan alat pemotong laser portabel yang dia selundupkan dari kantor. Lubang itu pas seukuran tubuh manusia, tersembunyi dengan sempurna di belakang lemari pakaian mereka yang diletakkan saling memunggungi. Tujuannya sederhana, agar mereka bisa bertemu tanpa harus terekam kamera koridor.

Satu-satunya jalan aman menuju apartemen Carson.

Namun sekarang Carson masih bekerja.

Nezha hanya bisa menunggu.

Setiap menit terasa jauh lebih lama dari biasanya, sementara alat tes itu masih tergenggam di tangannya.

Jam di dinding kamar bergerak pelan.

Setiap bunyi detiknya membuat Nezha semakin gelisah.

Ia sudah berkali-kali berdiri, lalu duduk lagi. Berjalan keluar dari kamar mandi, kemudian kembali masuk hanya untuk memastikan alat tes itu masih menunjukkan hasil yang sama.

Dua garis merah.

Tidak ada yang berubah.

Nezha membuang napas panjang.

"Aku benar-benar hamil..."

Kalimat itu terdengar asing di telinganya sendiri.

Selama hidupnya, kata 'ibu' hanya muncul di buku sejarah. Generasinya dibesarkan oleh pusat pengasuhan negara, sementara proses kelahiran dilakukan di fasilitas bioteknologi. Kehamilan dianggap sesuatu yang primitif, sesuatu yang sudah dihapus dari peradaban.

Dan kini tubuhnya melakukan hal yang seharusnya sudah tidak terjadi lagi.

Ia memegang perutnya pelan.

Masih datar.

Tidak ada perubahan apa pun.

Sulit dipercaya bahwa di dalam sana mungkin sudah ada kehidupan yang mulai tumbuh.

Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.

Refleks ia melirik gelang di pergelangan tangan kirinya.

Sebuah titik kecil di permukaan logam itu berkedip pelan.

Nezha segera menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Tenang.

Tenang.

Jangan sampai sistem menganggap ada sesuatu yang tidak normal.

Ia berdiri, berjalan ke kamar tidurnya, lalu menyingkap pintu lemari pakaian di sudut ruangan.

Di balik deretan pakaian yang menggantung disana, terdapat panel kayu tipis yang warnanya sengaja disamakan dengan lemari.

Nezha menggesernya sedikit.

Sebuah lubang selebar bahu orang dewasa terlihat di baliknya.

Gelap.

Sunyi.

Di balik lubang sempit itu ada apartemen Carson.

Nezha menatap kegelapan di dalam lubang itu cukup lama. Sebuah lubang yang sempat disyukuri keberadaannya oleh Nezha. Namun sekarang, lubang beton yang compang-camping itu justru terlihat seperti bukti kejahatan yang nyata. Jika satu saja sensor pemerintah mendeteksi anomali di tubuhnya, rahasia di balik lemari ini juga akan ikut terbongkar. Dan Carson akan terseret bersamanya.

Nezha menarik jarinya dari panel kayu, tiba-tiba merasa ngeri sendiri.

"Aku takut."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Bukan takut pada rasa sakit.

Bukan juga takut menjadi seorang ibu.

Yang membuatnya gemetar adalah bayangan pintu apartemennya didobrak petugas, lalu dirinya digiring keluar sebagai pelanggar hukum hanya karena memilih mencintai seseorang.

Ia menutup panel kayu itu kembali dengan hati-hati.

Tidak ada yang bisa dilakukan sekarang selain menunggu.

Dan menunggu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, terasa seperti hukuman yang paling berat.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!