NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 22

Di dalam ruang kerja kediaman Tachibana, ponsel di atas meja milik Ren bergetar.

Ren meletakkan dokumen yang sedang dibacanya, lalu meraih ponsel tersebut. Sepasang matanya membaca pesan dari Daichi dengan ekspresi yang tetap datar.

Jemari Ren bergerak membalas pesan tersebut.

[Jangan bertindak gegabah. Selidiki latar belakang Nakamura Seian dan seluruh keluarganya malam ini. Pastikan dia bukan bagian dari mata-mata Kaito atau klan musuh. Jika dia bersih, biarkan saja. Aiko butuh interaksi normal agar ia tetap waras.]

Ren meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, lalu bersandar pada kursi kebesarannya. Matanya menatap lurus ke depan, kembali fokus pada rencana penghancuran pamannya.

Seminggu berlalu sejak Aiko kembali berkuliah. Kehidupan kampus yang normal, candaan Hana, dan obrolan ringan di kantin perlahan-lahan mulai menjadi pelarian bagi Aiko. setidaknya ia bisa melupakan sejenak tentang rahasia ayahnya yang menghantuinya setiap malam.

**

Malam hari, di ruang kerja kediaman Tachibana, Daichi berdiri di hadapan Ren dengan setumpuk berkas.

"Sudah saya selidiki semuanya, Bos," ujar Daichi, dengan nada serius. "Nakamura Seian bersih. Dia mahasiswa beasiswa, anak dari keluarga akademisi di Nagano, tidak ada jejak hubungan dengan klan Kaito maupun faksi mana pun. Dia benar-benar hanya... mahasiswa biasa yang pintar."

Ren, yang sedang meneliti kontrak wilayah baru, hanya mengangguk tanpa menoleh. "Bagus. Pastikan dia tidak menyadari siapa kau sebenarnya."

Daichi menyeringai tipis. "Tentu, saja Bos. Tapi... ada satu hal. Dia cukup gigih. Hampir setiap hari dia memastikan Nyonya Muda tidak kesulitan dengan materi kuliahnya. saya rasa dia cukup perhatian."

Ren terdiam. Jemarinya yang memegang pena berhenti bergerak selama sepersekian detik. Wajahnya tetap terlihat datar. "Itu bukan urusanku. Selama dia tidak membahayakan nyawa Aiko, biarkan saja."

"Baik, Bos," jawab Daichi, lalu segera pamit pergi.

**

Satu jam kemudian, Ren masuk ke kamar utama. Kamar itu terasa hening, hanya diterangi lampu meja yang terlihat temaram. Aiko sedang duduk di balik meja belajar, fokus menatap buku catatan yang diberikan Seian. Wajahnya tampak tenang, dengan sesekali ia menarik garis bibirnya membentuk senyum tipis yang belum pernah Ren lihat sebelumnya.

Ren berjalan menuju sofa di sudut kamar, mengambil laporan klan, namun matanya secara tidak sadar sering mencuri pandang ke arah meja belajar Aiko.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel Aiko di atas meja bergetar panjang.

Aiko meraih ponselnya dengan cepat. Begitu melihat nama di layar, matanya berbinar kecil. Ia mengetik sesuatu dengan jemarinya, lalu tertawa kecil saat membacanya.

Ren, yang seharusnya tenggelam dalam laporannya, justru merasa setiap gerakan kecil Aiko seperti gangguan untuknya.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel itu kembali bergetar. Aiko membalas lagi, senyumnya semakin lebar.

"Seian benar-benar lucu..." gumam Aiko pelan.

Ren menutup dokumen di tangannya yang sengaja diperkeras. Suara itu membuat Aiko tersentak dan langsung memutar kursi belajarnya.

"Ren? Ada apa?" tanya Aiko dengan raut wajah yang berubah menjadi cemas.

Ren berdiri. Ia melangkah mendekat ke arah meja belajar Aiko, Ia berhenti tepat di belakang kursi Aiko.

"Ini hampir tengah malam, Aiko," ucap Ren dengan nada rendah.

Aiko menelan ludah. "Iya, aku tahu. Aku hanya... sedang menyelesaikan catatan kuliah agar besok tidak tertinggal."

"Catatan?" Ren menatap layar ponsel Aiko yang masih menyala. "Atau sedang membalas pesan dari temanmu itu?"

Aiko terpaku. Ada sesuatu dalam nada bicara Ren yang terasa tidak biasa. "Dia hanya menanyakan apakah aku kesulitan memahami bab tentang struktur sosial. Dia ketua angkatan, Ren, dia hanya ingin membantu."

Ren tidak menjawab. Ia justru membungkuk, tangannya yang besar terulur untuk mengambil ponsel Aiko dari meja. Aiko sempat panik, namun ia tidak berani merebutnya.

Ren menatap layar ponsel itu sejenak sebelum meletakkannya kembali dengan layar terbalik di atas meja.

"Batasi komunikasimu dengan orang luar saat berada di dalam kamarku," ucap Ren menekan setiap kata. "Aku tidak suka ada gangguan saat aku mencoba fokus dengan pekerjaanku. Itu mengganggu."

Aiko menundukkan kepala, "Maaf, Ren. Aku mengerti."

Ren tidak langsung berbalik pergi. Pria itu melangkah lebih maju, membuat bayangan tubuhnya yang tinggi mengurung Aiko yang masih duduk di kursi belajarnya.

Dengan gerakan lambat Ren mengulurkan tangan, menyelipkan jemarinya di bawah dagu Aiko lalu mengangkatnya perlahan. Ia memaksa gadis itu untuk kembali menatap lurus ke arahnya.

"Nakamura Seian mungkin hanya seorang mahasiswa biasa yang tidak tahu apa-apa saat ini," ucap Ren dengan nada rendah, "Tapi ingat, Aiko. Di dunia kita, satu senyuman bisa menjadi umpan, dan satu kebaikan bisa menjadi jerat. Musuh-musuhku tidak akan peduli apakah dia orang asing atau bukan jika mereka tahu dia bisa digunakan untuk berniat buruk kepadaku atau kepadamu."

Cengkeraman jemari Ren di dagu Aiko sedikit mengerat, dengan pandangan matanya yang tajam.

"Jika suatu hari pria itu melewati batas dan membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh orang-orang Kaito atau musuhku aku sendiri yang akan memastikan dia menghilang tanpa sisa," lanjut Ren, "Jangan buat aku harus mengotori tanganku hanya untuk membersihkan lingkungan pertemananmu."

Aiko menahan napas, dengan dadanya yang bergemuruh. Di mata Ren, nyawa manusia biasa tampak begitu murah.

Tepat saat ketegangan di antara mereka semakin tinggi, lampu di dalam kamar mendadak berkedip.

Bzzz.

Hawa dingin menyergap secara tiba-tiba, bahkan wangi parfum milik Ren seketika kalah oleh aroma anyir darah yang memuakkan.

Jantung Aiko seakan berhenti berdetak saat melihat udara di belakang bahu Ren menjadi gumpalan kabut hitam, hingga sesosok arwah pria muncul dengan posisi leher yang terkulai patah ke samping. Matanya melotot keluar, dipenuhi darah, dan bibirnya yang membiru bergerak-gerak cepat, membisikkan sesuatu kepada Aiko.

"Pengkhianat... ruang interogasi... Kaito memiliki mata-mata di dalam kediaman ini..."

Penglihatan Aiko seketika mengabur, di susul rasa pening menyerang kepalanya, dengan napas yang terasa tercekat.

"Ah..." Aiko mengerang lirih. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, melemas, dan merosot jatuh dari kursi belajar.

Sebelum tubuh Aiko menyentuh lantai, lengan Ren bergerak cepat, menangkap pinggangnya. Ren memotong jarak di antara mereka dalam sekejap, menarik tubuh Aiko yang gemetar ke dalam dekapan tubuhnya.

Ren mencengkeram bahu Aiko, menahan tubuh gadis itu yang bersandar padanya. Ekspresi kejam di wajah Ren berganti menjadi kepanikan yang samar saat ia merasakan betapa dinginnya kulit Aiko dengan detak jantung yang berpacu cepat.

"Aiko? Hei, lihat aku," ia menundukkan kepala, mencoba mencari fokus di mata Aiko yang bergerak liar.. "Apa yang kau lihat? Sialan... Aiko, tetap sadar!"

Aiko tidak menjawab. Dengan sisa kesadarannya yang semakin menghilang, jemari tangannya yang dingin mencengkeram kain kemeja Ren di bagian dada.

1
PrettyDuck
bagusss ❤️❤️
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
PrettyDuck
isss, ini mah ren emang niat ngepublish hubungan mereka gak sih. terlalu mencolok ommm /Facepalm/
PrettyDuck
potoin. biar ren cemburu wkwk
PrettyDuck
wkwk lu ngekorin aiko mulu soalnyaaa.
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
PrettyDuck
naksir beneran dong diaa /Facepalm/
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren
PrettyDuck
kok sok ikrib gini dia? kayaknya biasanya kayak kanebo deh 🥴
PrettyDuck
ngerasa bersalah pasti aiko 🥲
Lenny Utami
iya aku jga penasaran
Lenny Utami
wahhh bagus nih nasehatnya
Lenny Utami
skip skip skip serem tor... aku GK mau baca lebih yang ini..😭
SANG
Maaf, hadiahnya ditunda dulu. Poinku tidak cukup ya Thor/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/😄😄🤣🤣🤣
Lenny Utami
Halah nanti juga ujungnya klepek² itu..
SANG
Lanjut thor💪👍💪👍
Lenny Utami
otak ku tolong jangan ngeres
Lenny Utami
pertanyaan Aiko lucu..
SANG
Kenapa begitu, justru aku yang tidak senang...
SANG
Kamu tanya saya...
SANG
Iklan untukmu thor👍💪👍
Lenny Utami
abot Iki semangat Aiko
SANG
Apakah benar seperti itu, kabar dari mana itu datangnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!