Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Arisan RT
Pagi itu hari Jumat. Andira bangun jam 5.
Biasanya kalau hari Jumat dia selalu masak lebih. Buat sedekah ke mushola. Dulu Renaldi yang suka nganterin. Sekarang dia berangkat sendiri naik motor.
Sepulang dari mushola, ada amplop coklat nyelip di pagar. Tulisan tangannya rapi.
"Undangan Arisan RT 05. Hari Minggu jam 2 siang. Di rumah Bu RT. Wajib hadir semua ibu-ibu."
Andira narik napas. Arisan. Tempat paling rawan gosip se-Karang Teduh.
Dia masukin amplop itu ke laci. Nggak mau mikirin dulu.
Siangnya pas jam istirahat, Intan nyamperin.
"And, kamu dateng kan arisan Minggu?"
Andira manggut. "Iya. Masa nggak. Nanti dibilang sombong lagi."
"Bagus. Aku temenin. Tenang aja," kata Intan sambil nepuk bahu Andira.
Andira senyum. Tapi di dalam deg-degan.
Malamnya dia nggak bisa tidur. Bolak-balik. Jam 11 HP bunyi.
Aditia: _"Ndir, udah tidur?"_
Andira: _"Belum. Mikirin arisan Minggu."_
Aditia: _"Emang kenapa arisannya?"_
Andira: _"Takut digosipin lagi, Dit. Kayak waktu di warung dulu."_
Lama nggak dibales. 5 menit kemudian.
Aditia: _"Gini. Minggu aku nggak akan deket-deket kamu. Aku cuma jagain dari jauh. Kalau ada apa-apa, chat aku. Aku siap dateng 5 menit."_
Andira baca itu sambil senyum. Bodoh. Tapi anget.
_Hari Minggu, jam 1.30 siang_
Rumah Bu RT udah rame. Ibu-ibu pada bawa rantang. Ada yang pake daster baru, ada yang pake gamis.
Andira dateng jam 2 pas. Pakai gamis navy sama jilbab krem. Sederhana. Dia duduk di pojokan, deket Intan.
Belum 10 menit, suara itu muncul.
"Eh, itu kan janda nya Mas Renaldi?"
Andira pura-pura nggak denger. Fokus ngaduk teh.
"Katanya udah deket sama laki-laki lain. Tiap malem ada motor nongkrong di depan rumahnya," lanjut suara lain. Kali ini lebih kenceng. Suaranya Bu Yati, temennya Imel.
Dada Andira panas. Tangannya gemetar.
Intan langsung nyaut. "Bu, kalau nggak tau ceritanya jangan ngomong sembarangan. Itu temennya Bu Andira. Niatnya nolongin pas mati lampu."
"Oh nolongin? Nolongin apa? Nolongin ke pelaminan?" Bu Yati ketawa. Beberapa ibu-ibu ikut ketawa kecil.
Andira nunduk. Air matanya udah di pelupuk.
Tiba-tiba pintu kebuka.
Imel masuk. Bawa tas branded. Pake heels. Wangi parfumnya nyengat satu ruangan.
"Assalamualaikum ibu-ibu," sapa Imel manis.
"Waalaikumsalam," jawab kompak.
Imel duduk pas di depan Andira. Senyumnya lebar banget. "Lama nggak ketemu, Ndir. Sehat?"
Andira jawab pelan. "Alhamdulillah, sehat Kak."
"Nah gitu dong. Harus sehat. Biar bisa cari pengganti cepet," kata Imel. Nadanya setengah bercanda, setengah nusuk.
Suasana langsung hening.
Bu RT batuk. "Udah-udah. Kita arisan ya. Jangan bahas yang nggak-nggak."
Arisan jalan. Tapi suasana nggak enak. Andira makan seadanya. Tenggorokan seret.
Pas giliran narik arisan, nama Andira disebut. Dia dapet 1,5 juta.
"Alhamdulillah," ucap Andira pelan.
Imel langsung nyelutuk. "Wah rezeki janda ya. Dapet arisan, dapet perhatian juga."
Beberapa ibu-ibu nahan ketawa.
Andira berdiri. "Permisi Bu RT, saya ke kamar mandi dulu."
Dia lari ke belakang. Di kamar mandi dia nangis. Nggak bersuara. Bahunya naik turun.
Tok tok.
"And? Kamu di dalam?" Itu suara Intan.
Andira buka pintu. Matanya merah.
"Udah, And. Jangan dengerin. Mereka emang gitu. Mulutnya ember," hibur Intan.
Andira geleng. "Aku capek, Ntan. Capek jadi bahan omongan."
Baru aja mau balik ke depan, HP Andira getar.
Nomor nggak dikenal.
"Assalamualaikum. Ini saya Pak RT. Maaf Bu Andira, bisa ke depan sebentar? Ada yang mau bicara."
Andira sama Intan saling liat.
Pas balik ke ruang tamu, semua mata langsung ke Andira.
Di tengah ruangan udah ada Aditia. Basah kuyup. Jaketnya masih netes.
Semua ibu-ibu melongo.
"Permisi," kata Aditia. Suaranya tenang. "Saya minta maaf kalau kedatangan saya nggak sopan. Tapi saya habis dari kantor kelurahan. Ada laporan masuk ke saya soal warga yang suka main hakim sendiri lewat gosip."
Orang-orang mulai bisik-bisik. "Lho itu kan yang suka nongkrong..."
Aditia lanjut. "Saya Aditia. Saya warga sini juga. Dan saya mau lurusin. Saya nggak ada hubungan apa-apa sama Bu Andira. Saya cuma tetangga yang kasihan. Karena tiap malem liat rumahnya gelap pas mati lampu. Saya cuma jagain dari jauh. Nggak pernah masuk. Nggak pernah pegang tangan."
Dia noleh ke Imel. "Kalau Ibu punya masalah pribadi sama Bu Andira, selesaikan baik-baik. Jangan bawa-bawa ke arisan. Ini tempat silaturahmi, bukan tempat gibah."
Imel mukanya merah padam. "Kamu siapa berani ngatur saya?!"
"Saya orang yang nggak tega liat perempuan disakitin," jawab Aditia datar. "Titik."
Bu RT langsung nengahin. "Udah ya. Cukup. Bu Yati, Bu Imel, tolong jaga omongan. Kita ini ibu-ibu. Harusnya saling jaga."
Imel berdiri. "Saya pamit." Dia jalan keluar sambil ngebanting pintu.
Aditia noleh ke Andira. "Ndir, kamu nggak apa-apa?"
Andira geleng. Air matanya jatuh juga. "Nggak apa-apa, Dit. Makasih."
"Udah. Pulang yuk. Aku anterin," kata Aditia pelan.
Andira ngangguk. Dia pamit ke Bu RT dulu.
Sepanjang jalan pulang mereka diem. Hujan udah reda.
Sampe di depan rumah Andira, Aditia matiin motor.
"Maaf ya kalau aku lancang tadi," kata Aditia.
Andira senyum. Pertama kalinya senyum beneran setelah sebulan. "Nggak lancang, Dit. Makasih udah ngebelain."
Aditia garuk kepala. "Aku nggak janji bisa ngadepin gosip tiap hari. Tapi aku janji bakal ada tiap kamu butuh."
Andira nunduk. "Aku nggak tau harus bales apa, Dit."
"Gausah bales apa-apa. Makan, tidur, kerja. Itu aja udah cukup buat aku," kata Aditia.
Andira masuk rumah. Tutup pintu pelan.
Di dalam dia nangis lagi. Tapi bukan karena sakit. Karena lega.
Jam 9 malam dia buka diary.
"Tuhan... ternyata nunggu itu nggak selalu sendiri. Ada orang yang mau kehujanan cuma buat bilang 'aku di sini'."
Di ujung gang, motor Aditia masih di situ 10 menit. Sebelum akhirnya pergi pelan.
Karena tugasnya udah selesai. Jagain.