Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Piknik...
"Ra, besok Om Adam ngajak kita piknik, gimana?" Yuni berharap putrinya tidak akan setuju.
"Oke." Ternyata dugaan Yuni meleset.
Yuni dan Rara keluar dari kontrakan menunggu taksi. Tidak berapa lama, sebuah mobil berhenti di depan mereka. "Morning Girl." Yuni tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mantan suaminya.
"Morning Pa." Jawab Rara yang langsung masuk ke dalam mobilnya. Yuni masih berdiri mematung. "Ma, mama gak ikut?" Rara menurunkan kaca mobil di sampingnya.
"Mama naik taksi aja ya, ada yang mau Mama cari. Gak pa-pa kan?"
"Oke. Yok Pa."
"Ok my girl."
Yuni bernafas lega setelah mobil Dimas berlalu tapi hanya sesaat.
Tin...tin...
Mobil berikutnya tepat berhenti di depan Yuni saat ini. "Pagi Buk Yuni! Ayo bareng saya aja."
"Makasih Pak, saya naik taksi saja." Jawab Yuni dengan senyum yang dipaksakan. Baru juga selesai dengan Dimas langsung datang makhluk satu lagi.
"Ayolah Buk, atau Ibu mau saya bukakan pintu?" Goda Adam kembali.
Yuni yang melihat taksi dari belakang langsung berlari menghentikan taksinya. "Cepat Pak, saya sudah terlambat." Pinta Yuni pada pak supir.
"Itu Bapaknya gak pa-pa buk ditinggal?"
"Gak Pak, siapa yang mau sama orang seperti dia."
"Eh, si Ibu, suami cakep kayak gitu ditinggal Jaman sekarang pelakor dimana-mana. Hati-hati aja Buk. Orang kayak saya saja masih ada yang ganggu apalagi ganteng kayak bapak itu."
"Dia bukan suami saya Pak, ngapain saya mikirin pelakor."
"Ouh maaf Buk, saya pikir suami ibu."
"Saya jadi penasaran, memang benar ya kalo jaman sekarang banyak pelakor?" Yuni sedikit penasaran dengan kata pelakor yang makin merebak.
"Iya Buk, sekarang istri-istri tuh waspada tingkat tinggi terhadap pelakor. Saya aja sebentar-bentar di vidio call sama istri." Pak Supir terkekeh sendiri dengan kisahnya.
"Pelokor sekarang banyak tipu muslihatnya. Jadi para istri-istri juga makin cerdik juga ngebaca tingkah suami." Sambung pak supir kembali.
Dari wajahnya Yuni memang terlihat sedikit garang, ditambah dengan tatapan mata yang tajam. Tapi bibirnya yang ranum penuh dengan senyuman menampakkan sisi kelembutan disana.
Begitu sampai, Yuni bergegas menuju ruangannya. Sementara Adam terlihat kesal dengan kejadian tadi pagi. Dia bergegas ke ruangnya menekan kontak Yuni di ponselnya.
"Kenapa aku kesal ya? Bukannya dia memang seperti itu. Tapi dia terlihat menggemaskan saat digoda. Ahhhh." Adam tampak frustasi dengan dirinya sendiri.
Siang harinya...
Seperti biasa Yuni menghabiskan jam makan siangnya di restoran hotel. "Yun." Sapa Dimas.
Dimas langsung duduk di depan Yuni dengan tatapan penuh intimidasi. "Kamu masih berhutang penjelasan padaku Yun."
Yuni menghela nafas secara kasar diliputi perasaan kesal. "Tidak ada yang perlu dijelaskan jika tidak menyangkut Rara. Bukankah hubungan kita sekarang hanya tentang anak?"
"Aku ingin mengajak kalian jalan-jalan besok."
"Aku tanya Rara dulu."
"Dia sudah setuju." Jawab Dimas cepat.
Dalam perjalanan mengantar Rara tadi pagi, Dimas sudah terlebih dahulu membicarakan rencana jalan-jalan hari sabtu esok.
"Oke, aku tunggu di rumah!"
Selesai makan siang, Yuni langsung keluar dari restoran dengan tersenyum penuh kemenangan.
Sabtu pagi yang begitu cerah...
Tok...tok....
"Pagi Pa. Masuk dulu yok."
Untuk pertama kalinya Dimas memasuki rumah sang mantan istri. "Rumah yang nyaman." Ucap Dimas pada putrinya.
"Kayak gak tau Mama gimana. Papa mau minum?"
Dimas menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Rara sangat hafal dengan kebiasaan papanya, sehingga tidak perlu lagi bertanya.
"Inu Pa, minum dulu. Itu kue aku buat semalam. Coba icip dulu."
"Papa tau kemampuan kamu tidak perlu diragukan lagi," Dimas mengambil sepotong memasukkan ke mulutnya.
"Ra, kamu udah siap?" Tanya Yuni yang baru keluar dari kamarnya.
Dimas tertegun dengan pemandangan di depannya saat ini. Sementara Rara hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tampilan mamanya seperti gadis remaja. "Apa mama gak salah?" Tanya Rara sambil menatap Yuni dari kepala hingga kaki.
"Kenapa? Temanya kan pantai, jadi harus sesuai dong, Sayang." Jawab Yuni tidak kalah santai. Sementara Dimas dari tadi hanya menyimak obrolan dari sang mantan istri yang hari ini terlihat begitu cantik dan seksi.
Yuni tampil dengan dres panjang motif dengan model kimono ditambah dengan rok panjang yang terbelah sampai ke paha membuat si pemilik kaki jenjang semakin seksi terkena terpaan angin pantai.
Dimas menelan salivanya, mantan istrinya saat ini begitu menggoda.
Tin....tin....
"Nah, itu mereka sudah sampai. Yok!" Ajak Yuni seraya menyerahkan keranjang makanan yang sudah disiapkan kepada Dimas. "Tolong masuin dalam bagasi mobil Adam ya." Pinta Yuni sambil tersenyum.
Mereka keluar, Adam langsung turun dari mobil ketika melihat Dimas bersama mereka. "Hai bro, apa kabar?" Adam langsung memeluk sahabatnya itu. "Seperti yang kau lihat. Putramu mana?" Tanya Dimas setelah Adam melepaskan pelukannya.
Adam yang ingin memanggil Dika dikejutkan dengan putranya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Dika, kenalin ini Om Dimas teman Ayah dulu. Juga papanya Rara."
Dika bersalaman dengan Dimas. "Ayolah nanti lanjut ngobrolnya." Ajak Yuni yang sudah naik di bangku belakang bersama Rara.
Tidak ada rasa canggung dari kedua bapak tersebut, karena mereka memang teman dari dahulu. Di dalam mobil kedua bapak-bapak tampan terus saja bercerita. Yuni yang masih kesal dengan Adam tampak tidak memperdulikan ataupun berniat ikut dalam obrolan para lelaki tersebut.
Sesekali Adam melirik Yuni dari kaca spionnya. "Cantik".
Mereka tiba di pantai yang tidak terlalu ramai karena hari sabtu. "Ah, sejuknya." Ucap Yuni saat keluar dari mobil yang sudah berhenti tidak jauh dari pantai. "Mama kayak gak pernah ke pantai aja." Sahut Rara yang jengah melihat tingkah mamanya.
Kedua lelaki dewasa membawa kerangjang makanan, sementara Yuni dan kedua bocah sudah lebih dahulu pergi ke area pantai. "Ra, fotoin Mama ya." Mau tidak mau Rara menuruti mamanya kali ini. "Tante, foto sama aku." Dika langsung menghampiri Yuni."
Yuni berpose centil ke arah Dika, jangan tanya bagaimana raut wajah sang fotographer. Rara terlihat kesal dengan tingkah mamanya. "Gantian." Dika mengambil kamera kemudian menyuruh Rara untuk berdiri dengan mamanya.
Benar saja, tingkah mamanya kembali menjadi saat berfoto dengan Rara. Berbagai pose centil yang Yuni buat berbanding terbalik dengan pose Rara yang berdiri sambil bersedekap kedua tangan di dadanya. "Ra, senyum dikit napa? Jutek amat." Goda Dika.
Rara memang hobi motret, tapi dia tidak suka menjadikan dirinya objek. Dia tidak suka di foto. Sementara kedua bapak-bapak memperhatikan tingkah mereka bertiga dengan pikiran masing-masing.
"Apa kamu masih mencintainya?"
***
Like...
Komen...
Vote...
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊