Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Yang Di sembunyikan Mama Ino
Pagi itu kabut merah lebih tebal dari hari-hari sebelumnya. Jam sudah menunjukkan pukul enam, tapi matahari tidak terlihat sama sekali. Langgur seperti tenggelam di dalam air merah yang keruh. Bau asap semakin menyengat.
Ara terbangun dengan tubuh masih lemas, tapi demamnya sudah turun sedikit. Di sampingnya, Mama Ino sudah tidak ada. Tikarnya sudah digulung rapi. Dari dapur terdengar suara piring beradu.
Ara langsung teringat kejadian semalam. Ember besi, pohon mangga yang tiba-tiba tumbuh, dan pesan Revan. Dengan cepat dia berlari ke halaman belakang, tidak peduli kakinya masih gemetar.
Pohon mangga kecil itu masih ada. Tidak hilang. Daunnya hijau segar, batangnya setinggi lutut, tumbuh tepat di tanah yang semalam disiram Revan. Tanah di sekitarnya masih basah. Ember besi yang kosong juga masih tergeletak di sana.
Jadi semalam bukan mimpi. Revan benar-benar datang.
"Mama!" panggil Ara dengan suara keras.
Mama Ino keluar dari dapur sambil membawa baskom cucian. Wajahnya terlihat kaget melihat Ara berdiri di belakang dekat pohon itu.
"Kamu ngapain di situ pagi-pagi? Masih demam kok sudah di luar!" omel Mama Ino.
"Mama tahu di mana Revan?" tanya Ara langsung, tanpa basa-basi. Dadanya berdebar kencang.
Wajah Mama Ino langsung pucat. Baskom di tangannya hampir jatuh. Dia terdiam lama, matanya menghindari tatapan Ara.
"Mama, Revan pulang semalam. Dia menyiram tanah ini. Dia bilang Mama tahu di mana dia," desak Ara. Air matanya mulai mengalir lagi.
Mama Ino meletakkan baskom dengan tangan gemetar. Dia menarik napas panjang, lalu duduk di bale-bale bambu di samping sumur belakang. Sumur yang ditutup seng karatan itu.
Mama Ino menatap sumur itu lama, lalu berkata pelan, "Ara, Mama minta maaf."
"Maaf kenapa?"
"Lima tahun lalu, sebelum Revan hilang, dia datang ke Mama malam-malam. Dia bilang ada orang dari kota datang mau beli tanah kita. Tanah depan dan belakang ini. Mereka mau bangun penginapan besar untuk turis. Mereka kasih uang banyak," cerita Mama Ino dengan suara bergetar.
Ara terdiam, mencoba mencerna.
"Revan menolak. Dia bilang tanah ini tanah leluhur, tidak bisa dijual. Tanah ini yang kasih kita makan selama ini. Tapi orang kota itu marah. Mereka bilang kalau tidak dijual, mereka akan bikin kita menyesal," lanjut Mama Ino.
"Mama terus?"
"Malam sebelum Revan melaut, dia bertengkar dengan dua orang laki-laki di depan rumah. Mama lihat dari jendela. Mereka dorong-dorongan. Salah satu orang itu bawa kayu. Revan jatuh, kepalanya berdarah. Terus mereka seret Revan ke arah perahu. Mama takut, Ara. Mama takut mereka bunuh kita kalau Mama teriak. Jadi Mama diam. Mama pikir Revan cuma dipukul dan akan pulang besoknya."
Mama Ino menangis. Bahunya naik turun.
"Tapi besoknya perahu Revan ditemukan hancur. Orang-orang bilang dia tenggelam karena ombak. Padahal Mama tahu, Revan tidak tenggelam. Dia dibunuh. Dan jasadnya mereka sembunyikan di bawah pohon mangga itu."
Ara merasa dunianya runtuh. Lututnya lemas dan dia jatuh terduduk di tanah basah. Jadi selama ini pohon mangga itu bukan mati karena hama. Pohon itu mati karena di bawahnya ada jasad Revan.
"Kenapa Mama tidak lapor polisi?"
"Mama sudah coba. Tapi orang kota itu punya uang banyak. Polisi bilang tidak ada bukti. Mama takut, Ara. Mama cuma punya kamu. Kalau Mama lapor terus mereka bunuh kamu juga gimana?" Mama Ino memeluk Ara erat.
Ara menangis keras di pelukan ibunya. Bau tanah basah dan bau kayu putih bercampur.
"Terus kenapa Revan bisa pulang sekarang, Ma? Kenapa dia nyiram tanah?"
Mama Ino mengusap air mata Ara. "Karena tanah itu haus darah, Ara. Orang Kei bilang, kalau orang mati tidak dikubur dengan benar, arwahnya tidak tenang. Dia akan jaga tanahnya sendiri. Selama lima tahun ini, tiap kabut merah datang, itu tanda Revan mau pulang. Dia siram tanahnya biar tetap hidup, biar orang kota itu tidak bisa ambil."
Tiba-tiba, dari arah sumur belakang, terdengar suara gemericik air yang keras. Air di dalam sumur itu bergejolak sendiri, padahal tidak ada angin. Airnya yang tadinya keruh dan asin, perlahan berubah menjadi merah, sama merahnya seperti langit Langgur.
Mama Ino langsung berdiri panik.
"Mereka sudah menaruh racun di sumur! Seperti yang Revan bilang! Jangan minum airnya!" teriak Mama Ino.
Ara menatap sumur itu dengan marah. Lima tahun keluarganya hidup dalam ketakutan, hidup dalam kemiskinan, karena orang kota yang serakah.
Dari dalam kabut merah yang tebal di ujung kebun, siluet Revan muncul lagi. Kali ini dia tidak sendirian. Di belakangnya, ada beberapa siluet lain yang juga memakai jaket hitam, berdiri berjajar. Mereka semua menatap ke arah sumur yang airnya bergejolak merah.
Revan mengangkat tangannya, menunjuk ke arah sumur, lalu menunjuk ke arah rumah orang kota yang baru dibangun megah di ujung desa.
Ara mengerti. Sudah waktunya membalas.
"Kita bongkar sumur itu, Ma. Kita kasih tahu semua orang di Langgur apa yang mereka lakukan," kata Ara dengan suara tegas, meski air matanya masih mengalir.
Mama Ino mengangguk. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, matanya tidak lagi terlihat takut.