"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Runtuhnya Tiga Pahlawan
Melihat seluruh sahabat karibnya berada di ujung kematian, Kaguya tidak dapat menahan dirinya lagi. logika dan kewaspadaannya luluh lantak, digantikan dengan Amara ya g membakar dada. Pikirannya kosong, hanya ada satu dorongan yang tersisa; menyelamatkan mereka atau mati bersama di tempat terkutuk ini.
Tanpa memedulikan keselamatan dirinya yang sudah compang-camping, ia maju dengan sangat membabi buta. Ia mengerahkan seluruh sisa energi spiritual yang ada di dalam tubuhnya untuk memancing elemen api tingkat tinggi yang tersimpan di dalam cincin pemberian Itsuki.
dan dalam waktu hitungan detik sebuah elemen api bersuhu tinggi meletup dari jari jemarinya, membentuk gelombang ombak api yang mencoba membakar dinding-dinding tentakel yang mengepung mereka dari segala penjuru. Hawa panas sempat merekah di udara malam yang dingin, namun itu tidak cukup.
takdir tidak mendukung semangat mentalnya malam itu.
Kekuatan monster dari dasar sumur itu terlalu masif dan mustahil untuk di kalahkan dengan api biasa. Hanya perlu satu sapuan dari tentakel utamanya yang setebal batang pohon beringin, pertahanan api Kaguya pecah berkeping-keping. Kaguya kalah telah, tubuhnya terlempar jauh ratusan meter kebelakang akibat tekanan angin yang di hasilkan kibasan tersebut .
Ia menghantam bebatuan cadas dengan keras hingga memuntahkan darah segar dari mulutnya, rasa sakit pun menjalar di sepanjang tulang rusuk nya. Meski demikian, semangat baja di dalam tubuhnya tetap tidak goyah sedikitpun. Dengan tubuh yang bergetar hebat dan darah yang terus menetes membasahi tanah kering. Ia mencengkram tanah, memaksa kedua kakinya untuk kembali berdiri tegak.
"Dasar makhluk tidak bermarwah!" teriak Kaguya dengan suara parau yang sarat akan dendam, matanya memerah menatap Monster itu, "Mau sampai setetes darah terakhir pun yang mengalir di tubuh ini aku tidak akan pernah mundur!.... Walaupun aku harus mempertaruhkan nyawaku sekalipun di tanah kutukan ini!"....
Ia kembali menerjang kedepan dengan sisa tenaganya, menyerang dengan sangat membabi buta tanpa taktik, Purni di gerakan dengan kepanikan. Namun, pertempuran itu berjalan begitu berat sebelah. Tubuh Kaguya berkali-kali terhempas, terpelanting, dan terlempar kebelakang bagaikan daun kering yang terkoyak di tengah badai topan.
Ajaibnya, setiap tubuhnya menghantam tanah dan menciptakan memar baru, ia selalu memaksa otot-ototnya yang muali lumpuh untuk kembali bangkit. Ia terus maju, didorong dengan rasa takut yang mencekam akan kehilangan teman-temannya yang kini tak berdaya.
Hingga akhirnya, di saat energi di dalam garis meridian tubuhnya benar-benar mulai habis dan pandangannya mulai kabur tertutup Bayang-Bayang hitam, Kaguya pun ambruk, kakinya benar-benar lemas dan tidak mampu lagi menopang berat badannya sendiri, dengan sisa-sisa kesadaran yang kian menipis di ambang batas pingsan, ia merangkak di atas tanah dengan berlumuran darah sendiri.
Matanya yang menangkap keberadaan pistol milik roy yang sempat terlempar di bongkahan batu. Dengan tangan yang bergetar hebat dan jari yang mati rasa, ia menyambar senjata itu. Tanpa pembidik dengan benar, ia langsung menembakan nya secara bertubi-tubi ke arah kerumunan warga sipil yang terkena kutukan yang sedang mengerumuni dan memegangi roy, tetapi naas, usaha keras dan pengorbanan itu sudah terlambat.
Sebelum peluru Kaguya sempat membubarkan atau melumpuhkan kerumunan padat itu, tubuh Roy telah di di lemparkan dan di uncal dengan kasar kedalam lubang sumur maut tersebut. Saat terlempar, tubuh Roy menghantam bibir sumur batu dengan keras, membuat baju besi pelindung tingkat tingginya hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam tak berguna.
Detik berikutnya, suara jeritan Roy terputus seiring tubuh sang penembak jitu leyap, tenggelam masuk kedalam dasar sumur yang gelap gulita, dingin, dan mematikan.
"ROYYYY!" jeritan Kaguya menggema pilu, memecah kesunyian malam yang memecah kesunyian malam yang mencekam di area pegunungan itu.
Di tengah-tengah kepasrahan total dan rasa kehilangan yang teramat sangat, sesuatu di dalam jiwa Kaguya mendadak pecah, dorongan adrenalin, amarah yang memuncak, dan keputusan yang mendalam memicu sebuah energi yang terlarang di dalam jiwanya. Tiba-tiba, aura Kaguya berubah menjadi hitam keunguan, Kaguya bangkit berdiri dengan hentakan kekuatan yang sangat dahsyat hingga membuat tanah di radius sepuluh meter retak.
Ia meloncat tinggi ke udara, meramal mantra kuno yang paling di haramkan dalam dunia sihir; membangkitkan ruh makhluk-makhluk kegelapan yang selama ini tersegel rapat di dimensi bawah, bumi bergetar hebat bagai di landa gempa tektonik.
Dari bayang-bayang hitam yang terhampar di sekitarnya, muncul perwujudan ruh-ruh raksasa yang mengerikan yang di baluti dengan kobaran api yang sangat dahsyat. Area kematian pekat langsung menyelimuti area pertempuran.
Kaguya maju memimpin pasukan tak kasat mata tersebut, menerjang kembali ke lautan musuh yang mengepungnya. hanya dalam hitungan detik, keadaan sempat berbalik . Kombinasi dari api terlarang dan energi kutukan dari mahkluk panggilan kaguya berhasil membuat mereka unggul.
energi kekuatan itu menghantam gelombang warga sipil, merobohkan mereka hingga mereka pingsan seketika dan membuat mereka terhempas dari kutukan jahat yang mengikat jiwa mereka semua.
Namun, kemenangan instan itu hanya fatamorgana yang bertahan sementara, jumlah makhluk yang bertentakel kecil mau besar yang merayap keluar dari sumur seolah tidak ada habisnya, mereka terlalu banyak dan ukuran monster utama terlalu besar untuk di lumpuhkan Leh ruh tingkat rendah.
pasukan ruh kegelapan yang di panggil oleh Kaguya mulai kewalahan, tercabik-cabik oleh duri-duri sang monster tersebut; Mala petaka baru datang ketika batas waktu mantra pemanggilan bantuan terlarang itu habis. Epek samping dari kekuatan tabu mulai menggerogoti Kaguya. Satu persatu, makhluk kegelapan itu melesat kembali lenyap dan terhisap masuk ke segel ke dalam batu cincin di tangan Kaguya.
Meninggalkan tubuhnya sendirian di dalam kondisi tubuh yang jauh lebih mendesak dan hancur. Dengan sisa tenaga terakhir yang tersisa di ambang batas kewarasannya, kaguya melakukan lompatan nekat.
Ia mengincar kembali pistol Roy yang sempat Terhempas ratusan meter jauh nya akibat benturan tentakel nya. Ia memeriksa bagasi mesinnya dengan napas terengah-engah; hanya ada dua peluru yang tersisa di dalamnya. dengan pokus mata yang berdarah tetapi terus di paksakan dan mengerahkan seluruh sisa stamina maksimalnya.
Kaguya menembakkan kedua peluru tersebut dengan cara beruntun ke arah itsuki yang terkapar jauh di sana, berharap energi murni dan peluru khusus milik roy bisa menetralkan racun jantung dan dan menyelamatkan nyawa Sovereign.
Akan tetapi, takdir malam itu benar-benar berbalik memunggungi mereka dengan kejam. Saat kedua peluru itu menghantam ke dadanya, tidak ada reaksi magis atau ledakan elemen dari tubuh itsuki, sang Sovereign telah sepenuhnya kaku, dingin dan membeku bagai mayat, dan tidak sadarkan diri di atas tanah yang bersumpah lava dingin. Racun mematikan dari tentakel monster itu telah menguasai seluruh aliran darah dan sistem organ tubuhnya, yang memadamkan api magma core miliknya.
Di saat genting, sunyi, dan hancur itulah, pertahanan Kaguya hancur sepenuhnya, tangisnya akhirnya tidak dapat di tahan lagi. Ia berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya di tengah Medan perang yang hancur, meratapi kenyataan pahit bahwa semua kekuatan terlarang yang ia gunakan, ia tetap gagal menyelamatkan kedua sahabat terbaiknya, Roy telah hilang di dasar sumur, dan Itsuki telah kaku dan membeku.
Namun, monster bertentakel dari dasar sumur itu tidak mengenal apa itu belas kasihan dan kedudukan manusia. Makhluk itu tidak memberikan sedikitpun celah bagi Kaguya untuk sekadar menarik napas atau sekadar meratapi nasib malangnya.
Dengan kecepatan kilat yang membelah udara, makhluk itu mengangkat salah satu tentakelnya yang berdiri tajam dan berlendir. Ujung tentakel tersebut mencengkram kasar tubuh kaguya yang sudah lemas dan tergeletak bersumpah darah di tanah.
Moster itu mengangkat tubuh Kaguya tinggi-tinggi ke udara, memamerkannya di bawah sinar bulan yang redup. kemudian tanpa ampun, membanting tubuh Kaguya ke permukaan bumi secara berturut-turut dengan kekuatan penuh, layaknya sebuah boneka rusak tak berharga yang di buang, lalu di ambil kembali untuk kembali di uncalkan ke tanah berulang kali.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh saraf Kaguya seiring tulang-tulang nya yang terdengar patah, hingga akhirnya kegelapan total merenggut kesadaran nya. Medan perang itu semakin berubah menjadi sangat sunyi, menyusahkan tiga pahlawan yang telah tumbang.
(Bersambung).