Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.
Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?
Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: BANYAK MUSIK
DORIAN CERVANTES
Dia menatapku dengan penuh amarah, dan itu sama sekali tak menggangguku—malah amat menghiburku. Kata orang, rekonsiliasi terbaik terjadi di ranjang, dan itulah sebabnya. Aku tak keberatan berperang terus-menerus asal di sisiku ada betina multi-org*sme seperti dia, yang punya energi begitu besar untuk mengimbangi ritmeku.
Selain hal yang sudah jelas, dia adalah kecantikan alami yang gemar merasa ditundukkan, meski dia sendiri belum menyadarinya. Kalau dia menyukai jenis permainan seperti ini, dengan senang hati kuikat dia, kuborgol, dan segala macamnya.
"Kamu tak suka?" Dia berbalik dan memunggungiku.
Dia terbungkus selimut, tapi aku tahu dia tak mengenakan apa pun, dan melihatnya membelakangiku membangkitkan banyak kenangan.
"Biarkan aku tidur, dan lebih baik buang saja bonbon-bonbon itu ke tempat sampah," sarannya sambil tetap menatap dinding.
"Kurasa kamu takkan bisa tidur malam ini." Kutangkap kedua tangannya dan kuikat di belakang punggungnya, membuatnya terkejut.
"Apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan? Lepaskan aku, Dorian, ini tak lucu," pintanya sambil meronta, tapi kubaringkan dia telungkup di atas perutnya.
"Ssst, rileks saja, atau kalau tidak aku bisa menyetel musik—aku berani bertaruh kamu bakal suka Shakira."
"Apa lagi yang kamu bicarakan sekarang?"
"Kamu berakhir melolong seperti serigala betina, dan itu yang kusukai darimu. Bukankah begitu yang dilakukan para serigala betina?" Aku pernah dengar dia kadang-kadang memutar berbagai lagu.
"Akan kubunuh kamu, dasar keparat." Tawa lepas begitu saja dariku tanpa bisa kutahan.
"Kalau begitu lebih baik kunikmati kamu sekarang selagi hidupku tinggal sedikit—lebih baik mati dalam keadaan puas," aku kembali tertawa.
Aku berhenti menggubris semua umpatan, hinaan, kutukan, dan hal-hal lain yang dia lontarkan padaku, karena meski di dalam hatinya dia marah, sebenarnya dia sedang mendidih—tapi oleh hasrat.
Aku membuka kedua kakinya tanpa kelembutan dan membiarkannya sepenuhnya terpampang untukku. Pertama-tama kutampar b*kongnya, membuatnya kembali memakiku. Setelah itu kubelai dia.
"Kamu tahu sesuatu? Waktu kita melakukannya, kubuat kamu seperti ini, tapi juga begini," aku meremas pinggulnya sehingga b*kongnya terangkat, lalu kutumpangkan tubuhku sepenuhnya.
"Aku tak ingat," hanya itu yang dia katakan.
"Akan kubuat kamu ingat, lalu kamu akan menonton videonya untuk memilih versi mana yang menurutmu paling nikmat." Kususuri liptan-liptannya dengan jari.
Kubaringkan dia lagi sambil menyentuhnya dengan cara yang kutahu dia sukai, tanpa menyisakan satu senti pun tak tersentuh. Aku bisa merasakan c*iran tubuhnya hanya terus bertambah.
"Kapan kamu akan mengakui bahwa kamu menyukainya?" Kumasukkan satu jari sambil menyentuh titiknya yang paling sensitif.
"Cuma gara-gara obat itu; tanpa obat kamu tak sanggup jadi seberani ini." Aku tertawa geli.
"Akan kubuat kamu menelan kembali kata-katamu, sama seperti bagian dalammu menelanku," aku terus memasukkan dan mengeluarkan ja*iku.
Dia berhenti bicara dan setelah itu hanya menikmati seiring dia mendekat ke pelepasannya.
Kuangkat pinggulnya dan kumasuki dia perlahan, dengan tenang, dan kurasakan beberapa gerakan darinya yang mencari sensasi lebih. Dia yang katanya tak menginginkanku justru menuntut-nuntut lebih, menggelikan.
Kulepaskan kedua tangannya, dan dia hanya menumpukannya di kedua sisi kepalanya, tak berusaha kabur atau apa pun. Dia hanya bekerja sama dengan rileks dan sangat, sangat pa*as.
"Bertumpu pada kedua tangan dan bangkitlah," perintahku agar dia bertumpu pada tangan dan lutut.
Dia melakukan apa yang kuminta tanpa berkata sepatah kata pun soal itu.
"Bergeraklah," kubiarkan dia mengiringiku dengan gerakannya sendiri.
Betapa dia begitu penurut, dan itu kusukai—untuk apa menyangkalnya?
Setelah itu kudorong dia hingga berbaring sepenuhnya sementara aku terus keluar-masuk. Aku tak bisa menentukan mana yang lebih dia sukai; dia sudah benar-benar rileks dan kalah dalam pertempuran, sekaligus dalam peperangan.
Kubalikkan tubuhnya, dan sambil berlutut dengan kuat kutangkap kedua kakinya sehingga seluruh punggung bawah dan b*kongnya terangkat dari kasur. Itu disukainya waktu dia hanyut dalam efek obat di malam pertama; kini saat hanya ada sedikit sisa obat di tubuhnya, dia sangat menikmatinya.
Ketika dia mencapai puncak beberapa kali, kurasa dia sudah cukup rileks, jadi kuperlakukan dia lebih perlahan. Aku tak mengulang persis malam pertama, tapi kulakukan beberapa hal yang sama.
Perlahan, pelan, dan sangat da*am aku bergerak sambil menciuminya. Kubaringkan dia sepenuhnya dan kubuat jauh lebih lembut. Meski begitu, menautkan jari-jariku dengan jari-jarinya lalu meletakkannya di atas kepalanya membuatnya makin rileks.
"Kamu suka?" tanyaku.
"Iya, mmm." Setidaknya saat hanyut dalam keni*matan dia jujur.
"Besok kamu akan jadi milikku tanpa obat," itu sebuah pernyataan.
"Dorian... mmm," dia sudah lebih dari sekadar dekat.
"Katakan besok kamu akan jadi milikku tanpa obat kalau kamu mau mencapai puncak."
"Iya, aku akan jadi milikmu, tapi kumohon..." Sekalipun besok dia menyangkalnya, aku punya rekamannya dan dia takkan bisa menyangkal apa pun.
Sekian kali kejadian itu berlangsung membuatnya kelelahan, tapi besok dia akan kembali menjadi milikku sepenuhnya. Aku akan melakukan apa pun agar dia tak bisa menolak, sekaligus menunjukkan padanya betapa rela dia menerimanya.
Karena jadi pemeras, aku akan berakhir di neraka—tapi selama dia terus membuka kedua kakinya untuk membawaku ke surga, aku tak keberatan soal itu.