Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Pemeriksaan
"Mama, tolong bantu aku, aku ingin berpamitan pada Papa," pinta Salsabila.
"Nak, kamu harus istirahat total. Dokter sudah menyuruhmu begitu," ujar Marni.
"Mama, tolong panggil Papa agar datang. Dia tak boleh pergi tanpa memberi restunya padaku."
"Nak, jangan cemaskan itu. Dia menyayangimu."
"Mama, aku tak bersalah atas apa yang menimpaku. Papa kejam karena tak mau mengerti aku."
"Nak, beri dia waktu. Dia tak pernah menyangka hal itu akan terjadi padamu. Suatu hari nanti dia akan mengerti bahwa itu cuma kebetulan kamu berada di tempat itu."
"Hatiku sakit, Ma. Hidupku berubah selamanya gara-gara pria itu."
"Nak, istirahatlah. Nanti akan kusuruh dia datang untuk berpamitan."
Herman, kepala keluarga, kesal dan tersinggung oleh apa yang terjadi. Mulanya ia mengira putri kesayangannya menjalin hubungan dengan seorang pria lalu berbohong padanya. Kemudian ia tahu bahwa Salsabila diburu oleh sang iblis kota, dan di situ ia paham bahwa putrinya hanya berada di tempat yang salah. Meski begitu, menurutnya Salsabila sendiri yang mencari masalah, karena berada di larut malam di kawasan yang asing baginya.
Kepergiannya merantau ke negeri asing sudah di depan mata. Ia akan meninggalkan keluarga demi mencari masa depan yang lebih baik, dan berharap bisa bertemu mereka lagi dalam waktu tak lama.
Kerabatnya, wali baptis Salsabila, sudah menunggu di seberang sana. Dialah yang akan membantu Herman selama bulan-bulan pertama, sampai ia mapan secara ekonomi.
"Bila, Papa berangkat. Papa harap mulai sekarang kamu bertanggung jawab atas perbuatanmu. Jangan keluar rumah, ingat bahaya sedang mengintaimu," ucap Herman.
"Papa, akan kulakukan. Aku akan jadi anak yang patuh. Tapi ingatlah, aku tetap gadis yang sama seperti dulu, walau kesucianku telah direnggut," sahut Salsabila.
"Jaga diri kalian. Sampai jumpa, keluargaku."
Mereka semua berpelukan menjadi satu. Herman berangkat menuju negeri asing bersama anak keduanya.
Setiap siang dan malam, Salsabila berjuang melawan mimpi buruknya. Ia selalu bermimpi hal yang sama: sepasang mata yang membuatnya begitu takut, tangan besar yang mencengkeramnya dengan begitu kuat. Ia masih bisa merasakan sentuhan dan aroma pria itu.
Lebih dari sekali ia melihat orang-orang dekatnya lewat di depan rumah dalam keadaan babak belur. Ia tahu sebabnya: mereka diculik dan disiksa agar memberi informasi tentang dirinya. Tapi kesetiaan mereka semua begitu besar, hingga tak seorang pun buka mulut.
Sahabatnya, Gendis, malah dilarang berteman dengannya, meski Gendis kerap menyelinap untuk sesekali menemuinya.
Bulan demi bulan berlalu, dan Salsabila masih menjalani istirahat total. Devan, yang selalu menjenguknya dan terus mendesakkan sebuah hubungan, adalah orang yang memenuhi setiap keinginannya. Namun Salsabila kini wanita yang berbeda, dengan sayap yang patah. Ia takut pada kedekatan seorang pria; ia tak kunjung pulih dari apa yang terjadi.
"Bila, aku bawakan cokelat untukmu," ucap Devan.
"Terima kasih, Devan, tapi kamu tak usah repot-repot," sahut Salsabila.
"Kamu tahu kamu tak akan pernah jadi beban buatku. Sebaliknya, kamu akan selalu jadi pemilik hatiku."
"Kamu tahu aku tak bisa mencintaimu. Carilah gadis lain yang bisa membalas perasaanmu."
"Sesama lama pun waktu yang kaubutuhkan untuk sembuh, aku akan selalu menunggumu."
"Terima kasih, Devan, atas persahabatanmu yang indah. Sekarang maafkan aku, aku harus ke rumah sakit bersama Mama."
"Mau kutemani?" tanya Devan.
"Tak usah, terima kasih."
Salsabila berangkat bersama ibunya, Bu Marni. Ini akan jadi pemeriksaan terakhirnya, dan ibunya selalu menemaninya.
Di rumah sakit, mereka menunggu giliran ketiga untuk dipanggil. Salsabila sangat lemah karena kondisinya.
"Silakan masuk," ujar dokter.
"Selamat sore, Dok. Bagaimana kabar Anda?" sapa Salsabila.
"Saya baik-baik saja. Tapi kamu? Ceritakan, bagaimana perasaanmu?"
"Saya merasa lebih baik, meski masih lemah."
"Ke kamar mandi, kenakan gaun periksanya, kamu sudah tahu sisanya."
Salsabila menjalani rutinitasnya seperti tiap bulan: masuk ruang periksa, mengganti pakaian dengan gaun periksa, lalu naik ke atas ranjang periksa tempat dokter melakukan USG.
"Sudah siap, silakan mulai," ucap Salsabila.
"Mari kita lihat keadaan si bayi. Tenang saja dan kerja sama, ya. Seperti sudah kita tahu, dia perempuan, ukurannya bagus dan beratnya pas. Tapi masalah jantungnya masih ada. Saya tak mau ambil risiko. Saya ingin kamu pulang ke rumah dan bersantai; kita akan lakukan operasi caesar dua hari lagi," ujar dokter.
"Apakah dia akan lahir sehat?" tanya Salsabila.
"Kita harus menunggu sampai dia lahir dan menjalani serangkaian pemeriksaan. Tapi saya jamin dia akan baik-baik saja. Itu janji saya."
Salsabila keluar dari rumah sakit dengan hati hancur. Ia sedang di bulan terakhir kehamilannya, dan sepanjang bulan-bulan sebelumnya ia habiskan berbaring di ranjang. Tubuhnya terlalu mungil untuk bayi sebesar itu. Ia beberapa kali mengalami ancaman keguguran, tapi berkat perawatan ibunya, kehamilannya bisa terus bertahan.
Ia sudah dijadwalkan operasi caesar; bayi harus dikeluarkan agar sekelompok dokter anak bisa menanganinya. Berkat kiriman uang dari ayahnya untuk membayar asuransi kesehatan, ia bisa menjalani semua pemeriksaan dan operasi caesar itu.
Ia sudah begitu banyak menangis selama bulan-bulan terakhir ini, sampai tak ada lagi air mata yang tersisa untuk ditumpahkan.
Di rumah, kesedihan menyelimuti seisi keluarga karena kepergian sang kepala keluarga. Tak peduli bagaimana caranya bayi itu hadir dalam hidup mereka; ia sebuah nyawa dan mengalir darah mereka semua. Mereka menyayanginya melebihi siapa pun. Meski para dokter telah melakukan banyak pemeriksaan, mereka belum tahu apakah masalah jantung itu keturunan. Kelahirannya akan membawa banyak kebahagiaan dalam hidup mereka.
Bayi itu mengalami masalah jantung sejak dalam kandungan; denyutnya naik turun. Salsabila harus terus istirahat total agar tak membuat si bayi terguncang.
"Mama, apa menurut Mama masalah jantung bayiku ini warisan dari ayahnya?" tanya Salsabila.
"Apa dia pria yang sudah tua?" tanya Marni.
"Mama, yang kuingat hanya bahwa dia pria yang tubuhnya sangat besar. Aku berjuang mati-matian untuk hidupku, sebab suatu saat dia menindihku dan aku merasa tercekik. Aku tak bisa memastikan dia muda atau tua."
"Nak, tak ada yang tahu wajah sang iblis, tapi dia sedang mencarimu. Mama yakin dialah ayah si bayi."
"Aku selalu takut dia menemukanku dan memutuskan mengakhiri hidupku serta hidup bayiku," ucap Salsabila.
"Itu tak akan pernah terjadi. Kami akan selalu ada untuk membelamu. Sekarang istirahatlah, hari-hari berat menanti kita."