NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perempuan yang Selalu Menunggu

Kafe di lantai dasar rumah sakit tidak terlalu ramai sore itu.

Hanya ada beberapa keluarga pasien yang duduk dalam diam, sebagian memegang gelas kopi, sebagian lagi sibuk menatap ponsel dengan wajah cemas. Aroma kopi bercampur dengan bau antiseptik dari lorong rumah sakit, menciptakan suasana yang aneh—hangat, tetapi tetap dingin di saat yang sama.

Arga melihat Keisya duduk di meja pojok dekat kaca.

Perempuan itu mengenakan blouse putih dan rok hitam, rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi. Dari kejauhan, Keisya masih tampak sama seperti yang Arga kenal bertahun-tahun lalu: cantik, percaya diri, dan selalu tahu bagaimana membuat dirinya terlihat tenang.

Namun ketika Arga mendekat, ia melihat mata Keisya sedikit sembap.

“Kamu akhirnya datang,” ujar Keisya.

Arga menarik kursi di depannya. “Kamu seharusnya tidak datang ke sini.”

“Aku sudah telepon kamu berkali-kali.”

“Aku sedang menemani Alya.”

“Dan kamu memilih mengabaikan aku.”

Arga menatap perempuan itu dalam diam.

Dulu, ia mungkin akan langsung meminta maaf. Ia mungkin menjelaskan bahwa ada rapat mendadak atau urusan keluarga. Ia akan mencari kata-kata untuk membuat Keisya tenang.

Namun hari ini, ia terlalu lelah.

“Keisya, Alya sedang dirawat,” katanya akhirnya. “Aku tidak bisa meninggalkannya hanya karena kamu memanggil.”

Keisya tersenyum kecil, tetapi senyumnya terasa pahit. “Dulu kamu bisa.”

Kalimat itu membuat Arga terdiam.

Keisya benar.

Dulu, Arga selalu bisa datang kapan pun perempuan itu membutuhkan. Bahkan ketika Alya sedang menunggu makan malam di rumah. Bahkan ketika istrinya demam. Bahkan ketika ia seharusnya pulang lebih cepat demi menemani Alya menghadiri acara keluarga.

Ia selalu memilih Keisya.

Karena Keisya adalah cinta yang ia kenal sebelum pernikahan.

Karena Alya datang sebagai kewajiban.

Karena selama ini ia percaya bahwa perasaan lamanya jauh lebih penting daripada ikatan yang tidak pernah ia minta.

“Ada apa?” tanya Arga, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Keisya menatapnya tajam. “Jadi itu saja? Kamu tidak mau menanyakan kenapa aku panik dan terus menghubungi kamu?”

“Kalau memang ada masalah penting, bilang.”

Perempuan itu terdiam beberapa detik.

Lalu ia mengeluarkan sebuah map tipis dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. “Investor dari Singapura minta revisi proposal. Mereka ingin kepastian siapa yang akan menjadi penanggung jawab proyek ini sampai selesai. Mereka dengar isu tentang kerja sama kita dengan perusahaan Pramesti.”

Arga menatap map itu.

“Isu apa?”

“Mereka mendengar kamu dan Alya sedang tidak baik-baik saja.” Keisya menyandarkan tubuh ke kursi. “Mungkin dari orang dalam. Mungkin dari salah satu keluarga investor yang hadir di acara minggu lalu. Aku tidak tahu.”

Arga mengernyit.

“Dan?”

“Dan mereka khawatir hubungan dua keluarga akan memengaruhi proyek.” Keisya berhenti sejenak. “Aku sudah menenangkan mereka. Tapi kamu harus hadir pada rapat besok.”

“Aku lihat kondisi Alya dulu.”

Keisya tertawa kecil tanpa humor. “Lihat? Itu yang membuatku datang ke sini, Arga. Kamu berubah.”

“Apa salahnya berubah?”

“Karena kamu berubah bukan karena kamu sadar, tapi karena kamu takut.” Tatapan Keisya melembut, tetapi ada luka di sana. “Kamu takut kehilangan Alya sekarang karena dia sakit.”

Arga mengatupkan rahang.

“Jangan bicara seolah kamu tahu semuanya.”

“Aku tahu kamu.” Keisya menatapnya lurus-lurus. “Aku tahu kamu tidak pernah mencintai Alya. Kamu bahkan selalu bilang pernikahan itu cuma urusan keluarga. Kamu bilang dia baik, terlalu baik malah, tapi bukan perempuan yang kamu pilih.”

“Aku pernah bilang begitu.”

“Pernah?” Keisya mengulang kata itu pelan. “Jadi sekarang tidak?”

Arga tidak menjawab.

Keisya memalingkan wajah ke arah jendela. Di luar, beberapa orang berjalan cepat menuju unit gawat darurat. Ada seorang anak kecil yang menggenggam tangan ibunya sambil menangis. Ada lelaki tua yang duduk sendirian di bangku koridor dengan wajah kosong.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” tanya Keisya tanpa menoleh. “Bukan karena kamu sedang menemani istrimu. Aku tahu Alya sakit, dan aku bukan orang jahat yang ingin kamu meninggalkannya. Tapi selama ini, kamu selalu membuatku percaya bahwa pada akhirnya kamu akan memilih aku.”

Arga menunduk.

Ia tidak bisa menyangkal itu.

Selama tiga tahun, ia memang terus mempertahankan Keisya dalam hidupnya. Ia tidak pernah benar-benar memutuskan hubungan mereka. Ia membiarkan perempuan itu berharap, sama seperti ia membiarkan Alya menunggu.

Tanpa sadar, ia telah menyakiti dua perempuan sekaligus.

“Aku minta maaf,” katanya.

Keisya tersenyum getir. “Kamu mulai sering bilang itu sekarang.”

“Karena aku baru sadar banyak hal yang aku lakukan salah.”

“Dan kamu mau memperbaikinya dengan Alya?”

“Aku tidak tahu.”

Jawaban jujur itu membuat Keisya menatapnya kembali.

“Aku tidak tahu perasaan aku apa sekarang,” lanjut Arga. “Tapi aku tahu aku tidak bisa terus memperlakukan Alya seperti selama ini.”

“Karena dia sakit.”

“Bukan cuma karena itu.”

“Lalu karena apa?”

Arga tidak mampu menjawab dengan segera.

Karena apa?

Karena semalam ia melihat Alya tidur dengan tangan dingin di atas selimut rumah sakit?

Karena ia mendengar istrinya berkata bahwa ia terbiasa menghadapi sakit dan menangis sendirian?

Karena rumah mereka terasa kosong ketika Alya jatuh pingsan di lorong?

Atau karena untuk pertama kalinya ia benar-benar membayangkan hidup tanpa perempuan yang selalu menunggunya pulang?

“Karena aku mulai sadar dia selama ini ada,” ujar Arga pelan.

Keisya terdiam.

Kalimat itu tidak terdengar seperti pengakuan cinta.

Namun justru terasa lebih menyakitkan.

“Dia selalu ada,” kata Keisya. “Dan kamu baru melihatnya saat mungkin sudah terlambat.”

Arga mengangkat wajah.

Keisya menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kalau kamu memang mau kembali kepadaku, jangan lakukan karena kasihan. Jangan menjadikan Alya alasan untuk menunda-nunda. Tapi kalau kamu mau memilih dia, jangan juga membuat aku terus berdiri di antara kalian.”

Kata-kata itu mengena tepat di dada Arga.

Selama ini, ia tidak pernah benar-benar membuat pilihan. Ia hanya menjalani hidup dengan cara yang paling nyaman untuk dirinya sendiri. Memiliki Alya sebagai istri yang selalu setia di rumah. Memiliki Keisya sebagai perempuan yang dicintainya di luar rumah.

Ia tidak pernah memikirkan betapa kejamnya posisi itu bagi keduanya.

“Aku perlu waktu,” katanya akhirnya.

Keisya tertawa pendek, lalu menggeleng.

“Kamu selalu minta waktu, Arga.”

Ia memasukkan map ke dalam tasnya. Gerakannya tenang, tetapi tangan perempuan itu sedikit gemetar.

“Besok aku akan tangani rapatnya sendiri,” lanjut Keisya. “Kalau kamu datang, bagus. Kalau tidak, aku akan tetap bekerja seperti biasa.”

“Keisya—”

“Aku tidak akan memaksa kamu memilih hari ini.” Ia berdiri dari kursi. “Tapi jangan berharap aku bisa terus menunggu selagi kamu belajar menjadi suami yang seharusnya.”

Arga ikut berdiri.

Keisya menatapnya untuk terakhir kali. “Alya mungkin masih menunggu kamu. Tapi aku tidak tahu sampai kapan.”

Setelah itu, Keisya berbalik dan pergi.

Arga tetap berdiri di dekat meja kafe, memandangi punggung perempuan yang selama ini ia pikir adalah satu-satunya orang yang benar-benar ia cintai.

Namun anehnya, ketika Keisya menghilang dari pandangan, pikiran Arga tidak sepenuhnya mengikuti perempuan itu.

Yang terbayang justru Alya.

Alya yang menyiapkan makan malam meski ia selalu pulang terlambat.

Alya yang meminta dengan suara kecil agar ia tidak meninggalkannya saat pemeriksaan.

Alya yang berkata, *Aku cuma sudah terbiasa Mas pergi.*

Kalimat itu terus mengendap di kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa dirinya sangat kecil.

***

Di lantai tujuh, Dinda duduk di kursi dekat ranjang Alya sambil mengupas apel.

Alya menatap sahabatnya tanpa semangat. Tubuhnya terasa lelah, tetapi ia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Arga yang keluar untuk bertemu Keisya kembali muncul.

Dinda memotong apel menjadi bagian-bagian kecil, lalu meletakkannya di wadah plastik.

“Makan sedikit,” katanya.

“Aku nggak lapar.”

“Semua orang sakit bilang begitu.”

Alya tersenyum tipis. “Aku memang sakit.”

“Karena itu kamu harus makan.”

Dinda menyodorkan satu potong apel ke arah Alya. Perempuan itu akhirnya menerimanya, lalu menggigitnya perlahan. Rasanya manis, tetapi tidak cukup untuk mengusir rasa pahit yang sejak tadi memenuhi mulutnya.

“Dia belum balik?” tanya Dinda.

Alya menggeleng.

“Sudah berapa lama?”

“Aku nggak tahu.”

Dinda melirik jam. “Hampir satu jam.”

Alya tidak menjawab.

Ia tahu Dinda ingin marah. Ia tahu sahabatnya ingin berkata bahwa Arga tidak pantas diberi kesempatan. Tetapi Dinda memilih diam karena melihat Alya sudah cukup hancur.

“Din,” panggil Alya pelan.

“Hm?”

“Kalau seseorang baru mulai baik sama kita setelah kita sakit, itu tulus atau cuma takut merasa bersalah?”

Dinda berhenti mengupas apel.

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.

“Bisa dua-duanya,” katanya akhirnya. “Tapi yang menentukan bukan kata-katanya. Yang menentukan itu apa yang dia lakukan setelah kamu mulai membaik.”

Alya mengangguk.

“Kalau dia cuma ada saat kamu lemah, lalu pergi lagi ketika kamu sudah bisa berdiri, berarti itu bukan cinta,” lanjut Dinda. “Itu rasa bersalah.”

Alya memandangi jendela.

Di luar, awan mulai gelap. Hujan sepertinya akan turun lagi.

“Aku nggak ingin dia tinggal karena kasihan,” bisiknya.

“Kamu berhak menginginkan lebih dari sekadar dikasihani.”

Alya tersenyum kecil.

Mungkin Dinda benar.

Namun bagian paling menyedihkan dari dirinya adalah: bahkan setelah semua luka, ia masih berharap Arga akan kembali ke kamar itu. Ia masih berharap lelaki itu memilih duduk di sisi ranjangnya daripada berlama-lama bersama Keisya.

Ketukan pintu terdengar.

Alya langsung menoleh.

Arga masuk.

Wajahnya tampak jauh lebih lelah daripada saat keluar tadi. Di tangannya tidak ada apa-apa. Tidak ada kopi, tidak ada ponsel yang dipegang erat, tidak ada ekspresi tergesa-gesa untuk segera pergi lagi.

Dinda memandangnya tajam.

Arga berhenti beberapa langkah dari ranjang Alya.

“Aku sudah selesai bicara,” katanya.

Alya mengangguk. “Oh.”

Hanya itu.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada, *Apa kata Keisya?*

Tidak ada, *Mas mau ke mana setelah ini?*

Ketidakpedulian yang dipaksakan itu justru membuat Arga tidak nyaman.

“Aku akan tetap di sini malam ini,” katanya.

Dinda mendengus pelan, tetapi tidak berbicara.

Alya menatap suaminya. “Mas nggak ada kerja?”

“Ada.”

“Mas nggak ada urusan lain?”

Arga tahu maksud pertanyaan itu.

“Ada.” Ia menarik napas. “Tapi kamu juga urusan aku.”

Alya menunduk.

Kalimat itu tidak terdengar romantis. Namun ada usaha di sana. Usaha yang belum sempurna, belum cukup, dan mungkin masih terlambat.

Dinda berdiri. “Aku ambil kopi dulu.”

Alya menatap sahabatnya. “Din, kamu nggak perlu—”

“Aku cuma ke luar sebentar.” Dinda menatap Arga sesaat sebelum berjalan menuju pintu. “Jaga dia.”

Nada suaranya bukan permohonan.

Lebih seperti peringatan.

Setelah Dinda keluar, Arga mendekat ke ranjang. Ia menarik kursi dan duduk. Untuk beberapa saat, ia tidak mengatakan apa-apa.

Alya juga diam.

Akhirnya Arga bertanya, “Kamu sudah makan?”

“Sedikit.”

“Demamnya?”

“Turun.”

“Masih pusing?”

“Kadang.”

Arga mengangguk. Percakapan mereka terasa canggung, seperti dua orang asing yang sedang belajar berbicara dengan hati-hati.

“Alya,” panggilnya kemudian.

“Iya?”

“Aku bertemu Keisya.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak mau tanya apa yang kami bicarakan?”

Alya tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana. “Kalau Mas mau cerita, Mas akan cerita. Kalau Mas nggak mau, aku tanya juga percuma.”

Arga menunduk.

Selama ini, ia selalu mengira Alya diam karena tidak peduli. Baru sekarang ia sadar, Alya diam karena terlalu sering tidak diberi ruang untuk didengar.

“Aku bilang ke dia kalau aku tidak bisa terus seperti ini,” katanya pelan.

Alya menatapnya.

“Aku bilang hubungan kita harus diselesaikan.”

Jantung Alya berdebar, tetapi wajahnya tetap tenang.

“Diselesaikan bagaimana?”

“Aku belum tahu.”

Alya kembali memalingkan wajah.

Tentu saja.

Masih belum tahu.

Masih membutuhkan waktu.

Arga melihat kekecewaan yang berusaha Alya sembunyikan. Lelaki itu merasa dadanya kembali sesak.

“Aku tidak mau memberi kamu janji besar,” lanjutnya. “Karena aku tahu selama ini kamu sudah terlalu sering dapat kata-kata tanpa bukti.” Ia berhenti sesaat. “Tapi aku ingin mencoba memperbaiki semuanya.”

Alya menatap suaminya lama.

“Mencoba itu melelahkan, Mas,” katanya. “Aku sudah mencoba selama tiga tahun.”

Arga menunduk.

“Aku tahu.”

“Tidak.” Alya menggeleng pelan. “Mas belum tahu. Kalau Mas tahu, Mas nggak akan membiarkan aku sampai merasa takut untuk bilang aku sakit. Mas nggak akan membuat aku merasa bersalah hanya karena ingin makan malam dengan suami sendiri. Mas nggak akan selalu memilih pergi saat aku minta Mas tinggal.”

Setiap kalimat yang diucapkan Alya terdengar tenang.

Namun justru ketenangan itu membuat Arga merasakan beratnya luka yang telah ia ciptakan.

“Aku nggak minta Mas berubah dalam sehari,” lanjut Alya. “Aku cuma mau Mas berhenti membuat aku berharap pada sesuatu yang Mas sendiri belum yakin bisa Mas beri.”

Arga tidak bisa langsung menjawab.

Karena Alya benar.

Ia belum tahu apakah mampu meninggalkan semua yang telah lama ia pertahankan bersama Keisya. Ia belum tahu apakah perasaannya kepada Alya adalah cinta, rasa bersalah, atau ketakutan kehilangan.

Namun ketika melihat Alya terbaring lemah di hadapannya, satu hal terasa sangat jelas.

Ia tidak ingin perempuan itu pergi.

Bukan hari ini.

Bukan besok.

Bukan selamanya.

“Aku akan belajar,” kata Arga akhirnya.

Alya menghela napas panjang.

“Kita lihat saja.”

Bukan jawaban yang hangat.

Bukan maaf.

Bukan juga penolakan.

Namun bagi Arga, itu adalah satu-satunya kesempatan yang masih tersisa.

Malam datang perlahan. Lampu kamar rumah sakit diredupkan. Dinda kembali membawa kopi, lalu duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya. Arga tetap berada di kursi dekat ranjang.

Alya memejamkan mata.

Sebelum tertidur, ia merasakan tangan Arga menyentuh jemarinya. Tidak menggenggam dengan kuat. Tidak memaksa. Hanya menyentuh, seolah lelaki itu sedang meminta izin untuk tetap berada di sana.

Alya tidak menarik tangannya.

Tetapi ia juga tidak membalas genggaman itu.

Di antara mereka, masih ada Keisya.

Masih ada tiga tahun kesepian.

Masih ada penyakit yang belum bernama.

Dan masih ada rumah besar yang, entah kapan, harus mereka putuskan: apakah akan menjadi tempat pulang, atau hanya tempat terakhir bagi Alya untuk belajar pergi.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!