WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBALASAN ALLUNA
Saat ini Alfin sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap tepatnya ruang VVIP atas perintah Alluna
Mereka mulai masuk bergantian dengan di awali bi Asih
"Nak apa yang terjadi padamu sampai kamu seperti ini" ucap lirih bi asih yang memegang erat tangan Alfin yang belum sadarkan diri
Beberapa menit setelah itu bi Asih keluar dengan wajah sembab yang tidak lepas dari pandangan Alluna
"Terimakasih bi sudah menyayangi adikku setulus ini" batin Alluna
"Bu mau Rey antar pulang untuk mengambil barang‑barang ibu dan Alfin?" Tanya Rey yang mengetahui pasti kakaknya ingin melihat keadaan Alfin di dalam
"Apakah tidak merepotkan nak Rey?" Tanya bi Asih yang sebenarnya sudah tidak enak merepotkan mereka semua
"Tidak sama sekali bu, Alfin sahabat saya jadi saya harus memastikan dia terawat dengan baik lagian disini ada kakak saya dan pacarnya yang jagain Alfin iya kan kak?" jawab Rey tersenyum tipis membuat Alluna menatapnya tajam namun segera menganggukkan kepalanya sedangkan langit sudah tersenyum tipis mendengar itu
"Baiklah terimakasih kalian sudah membantu ibu menjaga Alfin, nak luna dan nak langit ibu titip alfin yah" ucap bi Asih lembut
"Iya bu, Kami akan jaga Alfin sampai ibu kembali" jawab Langit
Rey dan bi Asih pulang kerumah untuk mengambil barang‑barang mereka
"Masuk bareng gue" ujar langit yang menyambar tangan Alluna untuk di gandengnya saat Alluna hendak memasuki ruangan Alfin
Alluna duduk di sebuah kursi samping ranjang Alfin yang sedang terbaring tak berdaya dengan tangan yang di perban dan banyaknya luka lebam di wajah dan lengannya
"Anggap gue gak ada" ucap Langit yang langsung memakai earphone nya saat melihat Alluna menahan dirinya tanpa Alluna sadari langit tidak mendengar musik apapun saat ini
"Maafin kakak yah dek, kakak gak becus jagain kamu, maafin kakak juga belum bisa berada disamping kamu, dan maafin kakak atas semuanya hiks, kakak sayang kamu pangeran kecil " ucap Alluna lirih bahkan badannya bergetar menahan isakannya, tangannya juga tidak melepaskan tangan Alfin yang dia genggam
Langit hanya memperhatikan Alluna dari belakang karena posisinya yang duduk di sofa, belakang tempat Alluna duduk
"Kenapa gue selalu sesak lihat lo rapuh seperti ini lun, gue gak suka lihat lo nangis kaya gini, gue ingin meluk lo dan nenangin lo sekarang" batin Langit
Setelah merasa tenang Alluna keluar dari ruangan Alfin karena sebentar lagi bi asih akan muncul, dia tidak ingin bi Asih makin curiga dengannya
Alluna dan langit duduk di depan ruangan Alfin
"Hei lo baik‑baik aja hm" tanya Langit yang membenarkan rambut halus Alluna yang menutupi wajahnya
"Gue gak pernah baik dan gak tau rasanya baik‑baik aja" jawab Alluna membiarkan langit menyingkirkan rambutnya dia sedang lelah untuk berdebat saat ini
"Istirahat setelah baikan gue antar lo pulang" ucap Langit yang membawa kepala Alluna bersandar di bahunya
Alluna tidak menjawab namun tidak menolak juga dia memilih memejamkan matanya, sungguh dia sangat lelah sekarang
Alluna tertidur dengan bersandar di bahu langit tidak lama dari itu bi Asih dan Rey sudah berada bersama mereka
"Ka luna tidur?" Tanya Rey setengah berbisik ke langit
"Hm, baru beberapa menit" jawab langit
"Sepertinya kak luna kelelahan, gue titip bentar yah ada yang harus gue urus setelah itu gue akan bawa dia pulang" ucap Rey pada langit
"Biar gue aja yang nganter ini sudah larut malam, lo selesaikan saja urusan lo, bokap lo juga yang nyuruh gue nganter luna pulang " jawab langit
"Lo mau antar kak luna gimana lo kan naik motor" tanya Rey
"Gue pinjam mobil lo dulu nanti lo pakai motor gue kita tukaran besok di sekolah, gimana?" Tanya langit
"Oke deh lo emang calon kakak ipar gue" jawab Rey mengedipkan sebelah matanya pada langit
Langit menggendong Alluna ala bridalstyle setelah itu mendekati tempat bi asih duduk
"Bu aku sama luna pamit dulu, nanti kami akan menjenguk Alfin lagi" ucap langit pelan yang tidak ingin mengganggu tidur luna
"Iya nak terimakasih sudah menjaga Alfin dan sampaikan rasa terimakasih ibu ke nak Luna yah", jawab bi Asih lembut yang di balas Anggukan oleh langit
Langit membawa Alluna menuju mobil dan mendudukannya dengan perlahan dikursi depan setelah itu langit menuju ke kursi pengemudi
Sebelum menjalankan mobillnya langit terlebih dahulu memakaikan seatbelt Alluna, wajah langit sangat dekat dengan wajah Alluna bahkan dia bisa merasakan nafas teratur Alluna
Langit memandangi wajah tidur Alluna dia juga menyingkirkan rambut halus yang sedikit menutupi wajah Alluna
"Cantik, selalu cantik" ucap Langit pelan bahkan tanpa sadar tersenyum melihat Alluna
"eunghh" gumam Alluna yang membuat langit terkejut dengan cepat menjauhkan wajahnya sampai tidak sengaja terbentur dengan kaca spion yang berada dalam mobil itu
"Akh sh!t" ujar langit pelan sambil mengelus dahinya yang terbentur
Langit yang melihat alluna merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya , segera menurunkan kursinya agar Alluna bisa berbaring
Setelah itu langit mengantarkan Alluna pulang dengan sangat hati‑hati dia bahkan berusaha menghindari lobang sekecil apapun agar Alluna tidak terbangun
Langit sampai di depan gerbang mension Alluna, satpam yang melihat mobil Rey segera membukakan gerbangnya, langit membuka kaca mobilnya dan meminta tolong kepada satpam untuk membukakan pintu mension karna dia akan membawa Alluna yang sedang tertidur
"Apa dia tertidur?" Tanya mama melani yang melihat Alluna dalam gendongan langit
"Iya tante sepertinya luna sangat kelelahan" jawab langit
Melani yang mengetahui semua yang terjadi hari ini hanya menganggukkan kepalanya dia tahu putrinya saat ini pasti sedang banyak fikiran sampai membuatnya sangat lelah bahkan dia tidak terganggu dalam tidurnya padahal Alluna merupakan orang yang sensitif saat tidur, dia mudah bangun hanya dengan suara ataupun gerakan kecil
"Sebenarnya Alluna tidak suka jika seseorang memasuki kamarnya tapi karna papanya dan Rey belum pulang, tante minta tolong bawa dia ke kamarnya yah nak" ucap mama melani
"baik tante" jawab langit terseyum setelah itu mama melani menunjukkan kamarnya dan kembali ke dapur karna suaminya yang akan pulang dan memintanya untuk memasakkan dia makanan,karna jika sudah larut malam mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahat para maidnya
Langit memasuki kamar Alluna, kamar Alluna di dominasi warna hitam dan abu‑abu namun tidak terlihat menyeramkan justru sangat rapi dan bersih kamar itu bahkan di penuhi dengan Aroma bunga sama seperti aroma yang tercium dari tubuh Alluna sangat manis
Langit membaringkan Alluna dengan pelan,dia juga membukakan sepatu dan kaos kaki Alluna
"Gue pulang yah,selamat tidur cantik" ucap langit tersenyum tipis setelah itu mencium kening Alluna lembut
Langit pamit terlebih dahulu pada mama melani setelah itu dia pulang menuju rumahnya dengan menggunakan mobil Rey
"Loh sayang kamu baru pulang" tanya bunda langit
" Eh iya bun,ayah mana? Dan bunda kok belum tidur?" Tanya langit beruntun pada bundanya
"Satu‑satu nanya nya sayang" gemas bunda
"Hehehe maaf bun" jawab langit terkekeh
"Ayah kamu sudah tidur,bunda tadi dari dapur sekarang mau ke kamar, kamu juga bersih‑bersih gih habis itu tidur jangan main game lagi besok kamu sekolah" peringat bunda
"Iya bunda langit ke kamar yah selamat malam" jawab langit tidak lupa menyium pipi bundanya
Langit memang terkenal dengan badboy dan sikap dinginnya di sekolah ataupun luar sekolah,dia juga terkenal sangat bengis dan kejam dengan lawannya tapi tidak saat berada di rumah sikapnya berubah 180 drajat dia sangat manja dan sayang dengan orangtuanya terutama dengan satu‑satunya adik perempuannya yang bernama Bintang berumur 7 tahun,dan sifat langit itu turunan dari sang ayah yang juga pernah mengggeluti dunia gelap
Langit memasuki kamarnya dan segera membersihkan dirinya setelah itu dia memilih berbaring di ranjang kingsize nya dengan menatap langit- langit kamarnya
"Sial gue ngapain tadi pake nyium kening alluna segala sih,bahkan sampai sekarang jantung gue jadi gak normal lagi kan arghhh" ujar frustasi Langit yang terus memegangi dadanya yang berdebar
Paginya pukul 06:00…
Alluna terbangun dari tidurnya, dan mendudukan dirinya
"Kenapa gue bisa di kamar,apa rey yang membawaku" ujar Alluna yang melihat dirinya sudah berada di kamar lengkap dengan pakaian tidur
Alluna memilih bersiap‑siap karna dia akan ke sekolah hari ini
"Pagi mah,pah" sapa Alluna masih dengan nada datarnya
"Pagi sayang,cepet sarapan jangan sampai telat" ucap mama
"Kamu yang bawa kakak ke kamar" tanya Alluna pada Rey
"Nggak kak aku aja pulang larut bangettt hampir pagi malah karena papa nyuruh aku cari tahu tentang orang‑orang yang gebukin Alfin" sindir Rey ke papanya yang sudah membuat dirinya harus tidur hanya 2 jam
"Langit yang bawa kamu ke kamar , mama mau minta tolong ke papa dan rey tapi mereka gak ada jadi mama nyuruh langit bawa kamu ke kamar, baju kamu mama yang gantiin tapi sepatu kamu sepertinya langit yang bukain" ucap mamanya dengan senyum menyebalkan
"Hmm ya udah" jawab Alluna dia kesal karna orang lain memasuki kamarnya tapi dia tidak bisa marah pada mamanya
"Boy apa yang kamu dapatkan dari pencarian kamu?" Tanya Alexander pada Rey yang membuat Alluna juga menatap Rey seolah meminta penjelasan
"Sampai sekarang mereka tidak mengakui siapa dalangnya, data‑data mereka juga tertutup rapat yang Rey tau mereka anak buah dari salah satu pengusaha sukses di kota ini tapi tidak tertera nama dari pengusaha itu pah" jawab Rey
"Tapi tenang aja Rey masih mencoba menyelidikinya bahkan Rey juga di bantu dengan beberapa orang kepercayaan Rey yang emang sangat ahli dalam meretas data" ucap Rey bangga
"Hm,temukan mereka dengan cepat maka aku bisa melanjutkan sisanya" ucap Alluna dingin bahkan aura hangat sekitar mereka tiba‑tiba berubah mencekam
Alluna berangkat ke sekolah dengan motor sport miliknya,, dan seperti biasanya Alluna selalu menjadi topik hangat di sekolah itu karna kecantikan dan juga gayanya yang terkesan bad girl
Hari ini Alluna menjalani sekolahnya seperti biasa dengan selalu adanya gangguan dari langit ataupun aldo untuk mencari perhatiannya sampai jam pulang sekolah tiba Alluna yang tadinya bosan menjadi lebih semangat karna hari ini dia akan bersenang‑senang
"Lo mau ke tempat kerja?" Tanya Alluna pada lisa yang saat ini sedang membereskan buku‑bukunya
"Iya,lo mau pulang atau ke tempat alfin,kalau ke tempat alfin gue ikut gue ingin lihat keadaannya" ujar lisa
"Besok aja gimana hari ini gue harus menyelesaikan sesuatu" ucap luna tersenyum miring yang terlihat mengerikan
Lisa paham maksud Alluna karna sebelumnya Alluna juga sudah menjelaskan semuanya kepada lisa tentang Alfin dan juga tentang Allana jiwa lain yang bersemayam didalam tubuhnya
"Kapan‑kapan kenalin gue ke Allana yah gue mau kursus bela diri" jawab lisa dengan cengengesan
Tuk
"Akhh luna lo kenapa sentil jidat gue sih" aduh Lisa kesal
"Ngapain mau belajar dari Allana mau jadi sikopet lo" jawab Alluna sinis
"Kenalan doang elah cemburuan bangett cihh sahabat aku" ujar lisa mencubit kedua pipi alluna dengan tingkah sok imutnya dimata Alluna
"Untung lo lis kalau orang lain gue pastiin tinggal nama deh lo" jawab Alluna berusaha menakuti namun yang di dapatnya selalu tingkah Lisa yang sangat diluar nalar
"Kan lo sayang banget sama gue sahabat terbaik dan terimut lo ini, nanti gue harus lihat allana bermain pisau lagi gue penasaran banget dia tuh keren tau" jawab Lisa antusias
"Jangan banyak ngomong cepet gue antar ke tempat kerja" ujar Alluna yang sedikit lelah dengan sikap absurd lisa padahal saat pertama kali bertemu dia pikir lisa adalah orang yang pendiam nyatanya itu diluar ekspektasinya
"Siap bos" jawab lisa yang langsung mengekori alluna yang jalan lebih dulu
Saat ini Alluna dan lisa sedang berada di parkiran namun yg bikin mereka terkejut adalah ban motor Alluna yang sudah kempes sangat kempes
"Lun motor lo" ucap Lisa terkejoettt
"Sial siapa yang berani nyentuh motor gue" ucap Alluna dingin bahkan orang‑orang yang berada dekat dengan Alluna bisa merasakan aura mencekam
"Ada apa?" Tanya langit yang tiba‑tiba muncul bersama arga dan david entah dari mana
"Ban motornya kempes" bukan suara Alluna yang menjawab melainkan arga yang melihat ke arah ban motor Alluna
"Yaudah lo ikut gue, biar gue anter" ucap langit
"Gak" jawab luna singkat
Langit yang mendengar jawaban Alluna, mencondongkan wajahnya tepat di samping telinga Alluna
"Ingat kan perjanjian kemarin,,apa seorang Alluna selalu tidak menepati janji hm" bisik Langit yang hanya di dengar oleh alluna dan mampu membuat Alluna mendeceh kesal
"Gue harus antar lisa ke tempat kerja" ucap alluna singkat
"Biar arga yang antar,lo gak keberatan kan ga?' tanya langit
"Hm, kalau gitu gue antar lisa sekarang,gue duluan" pamit Arga yang menarik tangan lisa untuk ikut bersamanya sedangkan lisa yang masih cengo dengan keadaan ini hanya mengikuti langkah arga saja karna tangannya yang tidak dilepaskan oleh arga
"Yaudah ayo balik" ucap langit menarik tangan Alluna menuju motornya meninggalkan david yang masih diam seperti orang beg*
"Sial gini amat nasib babang david yang tampan yah selalu ditinggal" ucap david mendramatisir
Langit memakaikan helem pada Alluna karna melihat alluna yang masih enggan mengenakannya tidak lupa juga langit membuka jaketnya dan mengikatnya di pinggang Alluna membuat alluna mengangkat sebelah alisnya,dan itu semua tidak lepas dari pandangan siswa siswi yang masih berada di sekolah termasuk Naumi and the geng yang merasa rencananya untuk mengerjai Alluna gagal,,yah Naumi dan anak buahnya yang sudah membuat ban Alluna kempes
"Buat apa" tanya Alluna
"Nutupin paha lo,rok lo akan semakin pendek saat duduk di motor gue" jawab langit
"Gue pakai short" jawab Alluna lagi
"Masih kependekan,jangan bawel ayo naik" ujar langit sambil mencubit pipi alluna gemas dan langsung mendapatkan tatapan tajam Alluna namun langit hanya santai dan tersenyum manis
"Mau langsung pulang atau ada tujuan lo yang lain?" Tanya langit dimana posisi mereka sekarang sudah Berada di atas motor namun belum jalan
"Antar gue ke suatu tempat nanti gue tunjukin jalan aja dulu" jawab Alluna
"Oke,pegangan nanti jatuh" ujar Langit lagi
"Gak usah modus lo" jawab Alluna datar yang di balas kekehan langit
Motor langit berhenti di sebuah rumah besar dengan pagar yang menjulang tinggi serta banyaknya penjaga yang menjaga tempat ini
Bahkan pagar tersebut sudah terbuka saat Alluna berdiri di depannya
"Rumah siapa lun"tanya langit yang penasaran
"Lo bisa balik"jawab Alluna lebih tepatnya mengabaikan pertanyaan langit
"Gue temenin lo" ucap mutlak langit dengan nada datarnya.
"Nih cowo cepat banget berubahnya apa dia berkepribadian ganda juga"batin Alluna yang masih menatap datar langit
"Jangan bilang lo gak percaya dengan gue," tebak langit
"maybe" jawab Alluna dengan smirknya yang terlihat jelas
"Kalo lo gak ngizinin, gue maksa, dan lo harus mau atau gue akan gangguin lo trus" ancam langit
"Serah lo asal lo jangan pernah coba berhentiin apa yang gue lakukan nanti" ucap alluna
Alluna berfikir tidak masalah jika langit mengetahui apa yang dia lakukan justru itu akan baik untuk Alluna karna langit bisa menjauh darinya dan kalaupun langit membongkar tentang dirinya dia akan bersenang‑senang lagi dengan menghabisi semua keluarga langit,, pikir Alluna saat ini
"Ikuti gue" ujar Alluna yang saat ini berjalan memasuki rumah besar itu, bahkan seluruh orang yang bertugas menjaga di halaman rumah itu menunduk hormat saat Alluna akan melewati mereka
"Selamat datang nona muda"
"Nona muda?" Batin langit yang melihat kearah Alluna yang berjalan dengan wajah datarnya
Sambutan yang selalu langit dengar saat mereka pertama kali memasuki pekarangan rumah ini
Alluna memasuki rumah tersebut yang membuat langit merasa tambah bingung adalah terdapat banyak pria didalam rumah itu dan hanya beberapa wanita saja mereka semua mengenakan baju serbah hitam,mereka menunduk hormat pada Alluna
"Dimana mereka" tanya Alluna dengan dingin
"Di sel 07 nona muda" jawab salah satu dari mereka yang langit tebak dia adalah ketua dari para sekumpulan orang itu
"Lo mau ikut gue atau tunggu disini?" Tanya Alluna yang ditujukan pada langit
"Gue ikut" jawab langit santai namun membuat dirinya jadi tatapan orang‑orang disitu kecuali Alluna
"Ini markas gue dan mereka orang‑orang yang bekerja untuk gue" ucap Alluna saat berjalan melewati sebuah lorong dalam rumah itu seolah mengetahui isi kepala langit
"Keren juga lo" balas langit dengan senyum miringnya yang tidak terlihat oleh Alluna
"Jangan menyesal,karna gue sudah memperingatkan lo tadi" ucap Alluna lagi
"Hmm santai aja" jawab Langit santai
Alluna dan langit sampai dalam ruangan yang penuh sel itu ada beberapa sel yang sudah terisi bahkan ruangan itu penuh teriakan memohon dan frustasi mereka yang meminta untuk dilepaskan
"Sepertinya seru" ucap langit pelan yang tidak di dengar oleh Alluna,kalian harus ingat guys ayah langit pernah menduduki dunia gelap dan bermain dengan senjata yang akan mengantarkan orang‑orang dalam kematian dan itu menjadi hal yang biasa untuknya jadi dalam tubuh langit sudah ada darah dari seorang pembunuh bukan
Alluna berdiri tepat di depan sel nomor 7 dimana dalam sel itu terdapat 6 orang yang sedang terikat dalam keadaan duduk di sebuah kursi kayu sedangkan langit berdiri tepat di belakang Alluna hanya memandang punggung Alluna
Alluna berbalik ke arah langit dengan wajah datarnya
"Lo akan lihat Allana sebentar lagi, dan gue harap lo gak akan hentiin apa yang dia lakukan karna itu keinginan gue,dan kalau gue udah benar‑benar kehilangan kendali,menjauh dari gue dan kunci pintu ruangan ini dari luar,lo paham?" Ucap alluna panjang lebar
"Kalo gue gabung boleh?" Tanya langit santai
"Maksud lo?" Tanya alluna balik
"Gabung dengan apa yang lo lakuin" tanya langit lagi
"Tanya itu pada Allana" jawab Alluna setelah itu dia memejamkan matanya sejenak
"Lan gantiin gue dan habisin mereka dengan rasa sakit melebihi apa yang Alfin rasain,gue bebasin lo saat ini" batin Alluna
"Gue pastiin mereka mati dengan sadis di tangan gue karna sudah melukai adik kita" jawab Allana
Langit melihat Alluna yang memejamkan matanya tidak lama dari itu Alluna tersenyum miring bersamaan dengan matanya yang terbuka dan itu tidak luput dari pandangan langit
"Haiii boy" ucap Allana dengan senyum mengembang
"Hai gue langit" jawab langit terseyum
"Gue rasa lo udah tau siapa gue kan,mau lihat pertunjukan gue yah" ucap Allana dengan girang
"Hmm gue mau lihat sesuatu yang menarik dan menantang " jawab langit dengan mencondongkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Allana
"Semoga lo suka " jawab allana lagi dengan girang dan segera memerintahkan penjaga yang menjaga dalam ruangan itu untuk membuka sel di depannya
"Lo siapa anak kecil lepasin kita semua" teriak salah satu dari mereka
"Hihihi kan lana belum mulai kok minta lepas sih" jawab Allana dengan tertawa kecil seperti bocah yang mendapatkan ice cream kesukaannya
Allana memilih benda‑benda tanjam seperti pisau dengan berbagai ukuran,kapak,cutter,katana kesayangannya dan juga beberapa pistol yang sudah di siapkan
"Umm kita mulai dari siapa yah" ucap Allana yang seolah berpikir
"Lo mau ngapain sialan ha" teriak mereka yang melihat Allana memegang sebuah cutter
"Mauuu main sama kalian hehehe" tawa Allana tanpa dosa
"Ah gue punya ide gimana kalau kita mulai dari lo, kelihatannya lo lebih tua dari mereka dan yang mudah harus ngalah kan hihihi" girang Allana
Allana mendekatkan cutter itu ke wajah pria yang pertama akan dia bunuh
Sretttt
Akkkhhhhhh
"Ups sorry lana gak tau kalau cutter nya sedeket itu dengan wajah lo" ucap Allana yang menjengkelkan untuk di dengar
Bagaimana pria itu tidak kesakitan jika wajahnya baru saja di gores panjang dengan cutter yang Allana pegang sehingga darah segar berlomba untuk keluar dari robekan daging itu
"L‑lepaskan sa‑saya,saya mohon maafkan sa‑saya" ucap pria itu kesakitan bahkan yang lainnya bergidik ngeri melihat Kesadisan Allana
"Umm gimana yah" Allana berbalik melihat langit yang berada di belakangnya sedang duduk santai di atas sebuah meja
"Menurut lo gimana?" Tanya Allana yang sebenarnya ingin melihat respon langit
"Terusin aja lah, sayang tuh mubazir atau mau gue gantiin" tawar langit dengan smirknya yang membuat Allana tersenyum miring
"Hihi dia menarik" ucap Allana pelan tanpa di dengar langit
Allana berbalik kembali untuk menyelesaikan korbannya
Saat Allana mendekatkan lagi cutter nya pada wajah pria itu tiba‑tiba tangannya terhenti karna Suara yang mengganggunya
"Cepett lan gue capek dan gak usah bawa laki‑laki menyebalkan itu (langit) dalam urusan ini" keluh Alluna
"Iya iya bawel, sabar kek baru juga gue minjem tubuh lo ini kan lo yang minta bunuh mereka dengan sadis beg* " kesal Allana yang terlihat seperti berbicara sendiri
Yang membuat mereka yang terikat disana berfikir perempuan di depannya memiliki kelainan jiwa
"Harusnya lo berterimakasih ke gue karna gue biarin lo mati dengan cepat uh menyebalkan dia selalu saja mengganggu kesenangan ku" ucap Allana dan setelahnya
Jlebbb
Jlebbb
Srettt
Allana tepat menusuk jantung pria yang telah dia robek wajahnya hingga mati di tempat tidak hanya itu bahkan pada tusukan terakhir dia dengan sengaja menarik cutter itu ke bawah sehingga ada robekkan panjang di dada sampai perut pria itu,,bahkan darah pria itu mengenai wajah cantik allana
"Nah sekarang siapa lagi yah" ucap Allana seolah berpikir membuat mereka yang disana memohon mohon ampun untuk minta di lepaskan.
"Gimana kalo kita cobain pistol terbaru yang gue punya", ucap Allana mengambil pistol terbarunya
Dorrr
Arggghhhhhh
"Kaki lo bagus sih buat gue tertarik" ucap Allana pada pria yang dia tembak tepat di kakinya
"T‑tolong ma‑maafkan saya nona saya hanya disuruh t‑tolong am‑ampuni saya hiks" ucap pria itu bahkan dia tidak segan untuk menangis
"Emang siapa yang nyuruh lo hm" tanya Allana yang mendekatkan wajahnya pada pria itu bahkan dia sengaja membuat ujung pistol itu bersentuhan dengan kulit pipi pria itu
"Y‑yang me‑menyuruh s‑saya i‑itu umm i‑itu" ucap pria itu seolah ketakutan jika menyebut nama orang yang menyuruhnya karena itu akan membahayakan keluarganya,namun pria itu salah dengan menguji kesabaran Allana,yang hanya setipis tisu itu dan sudah tidak bisa di bendung
Dorrr
Pria itu mati mengenaskan dengan luka tembak tepat di kepalanya bahkan matanya terbuka lebar
"Hu masih ada 4 lagi, melelahkan" ujar Alluna dengan membunyikan tulang‑tulang tangannya
"Gini aja sekarang gue nanya siapa orang yang sudah menyuruh kalian untuk mencelakai Alfin adik saya" ucap Allana dingin
Mereka semua terdiam dan di fikiran Allana adalah ada sesuatu yang membuat mereka sulit untuk mengaku
"Gue hitung sampai 3 dan jika belum ada yang membuka suara maka gue akan tembak kalian satu persatu mulai dari ujung kanan" ujar Alluna tersenyum miring
1
2
3
Dan…..
Dorrrr
Salah satu dari mereka sudah menyusul menuju ajalnya dengan lubang peluru tepat di kepalanya
"Masih ingin diam hm?" Tanya Allana lagi
Allana menyimpan pistolnya dan beralih ke katana kesayangannya
"Maafin gue lun,gue pinjam anak kesayangan lo hihihi" ucap Allana yang memandang senang katana mengkilat itu
"Gue gak mau lama‑lama sekarang siapa yang akan membuka suara hm?" Tanya Allana lagi dengan mengetukkan jari‑jarinya di meja kayu yang ada di dekatnya
"Hmmm sepertinya sulit untuk bekerjasama dengan kalian,gimana kalau gue menebas kepala kalian masing‑masing dan mengirimnya ke bos kalian,sepertinya seru hihihi" girang Allana
"K‑kami a‑akan me‑mengaku tolong jangan b‑bunuh kami"
"I‑iya dia benar nona ampuni kami"
"A‑ampuni kami,kami akan menceritakannya"
Ucap mereka bertiga yang sudah sangat ketakutan sekarang
"10 menit" ucap Allana
"Y‑yang me‑membayar kami untuk membunuh alfin adalah tu‑tuan Brawijaya p‑pemilik Wijaya company " ujar salah satu dari mereka dengan badan yang bergetar
"Kenapa dia menyuruh kalian untuk membunuh alfin"tanya Allana yang sekarang sedang menahan keras emosinya rasanya dia ingin memutilasi ketiga orang di hadapannya ini
"K‑kami tidak tau sungguh d‑dia tidak memberitahu kami tentang i‑itu yang kami tahu hanya karena Alfin a‑anak dari seseorang y‑yang me‑memegang rahasia mereka" ucap mereka gemetar
"Jadi dia salah satu orang yang gue cari" ucap allana pelan dengan tangan yang terkepal kuat
"Thanks infonya,bukanya akan seru jika kepala kalian dilihat oleh bos kalian hm" ucap allana dengan mendekatkan wajahnya ke mereka bertiga
"K‑kami sudah Me‑memberitahu semuanya bukan kah anda akan mengampuni k‑kami n‑nona" ucap salah satu dari mereka
"Sayangnya belum ada tahanan gue yang keluar hidup‑hidup hihihi" tawa iblis Allana dan….
Sreekkk slasshhh
2 kepala bergelinding mengenai kaki Allana menyisakan satu orang terakhir yang sekarang sedang terpaku dengan wajah yang sangat pucat bahkan bibirnya bergetar tanpa bisa berkata‑kata
"Hihihi lucu yah kepala mereka udah kaya bola" ucap Allana dengan wajah dan pakaian sekolahnya yang sudah berlumuran darah
Langit hanya diam memandang kesadisan wanita di depannya tidak ada rasa takut dalam dirinya hanya sedikit rasa terkejut melihat jiwa lain dari wanita di depannya yang seperti iblis
"Ahh tinggal satu lagi yah" ucap Allana girang
"T‑tolong a‑ampuni s‑saya,saya akan melakukan apapun untuk anda nona s‑saya janji" ucap pria itu dengan air mata yang tidak berhenti keluar
Alluna menyimpan katananya dan beralih mengambil kapak yang siapapun melihatnya akan tau setajam apa kapak itu
"Karna lo yang udah mukul tangan alfin dengan stik baseball gimana kalau sekarang gue memotong jari‑jari lo satu persatu" ucap allana dengan smirknya
"Tidak tidak saya mohon" teriak frustasi pria itu
Allana memanggil kedua anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk membantu memegang tahanannya dan membuat tangan tahanannya berada di salah satu meja
"Nah ini kan lebih muda,kita mulai yah hihhihi" girang Allana
Krekkk
Arghhhhhh
Satu jari putus dari tangan pria itu
Krekkkkk
Dua jarii terlepas
"Kelamaan gak sih langsung tangannya aja kali yah" ucap allana dan…
Kreekkkk slasshhhh
Aarrggghhhhhhhh
Teriakan pria itu dengan sangat sangat keras saat tangannya sudah terpisah dengan tubuhnya bahkan dia akan jatuh saking lemasnya jika tidak di tahan oleh anak buah Alluna
Allana mencengkram rahang pria itu
"Lo sudah salah dengan berani menyentuh adik gue bangs*t,dan sekarang lo nerima berkali‑kali lipat kesakitan dari apa yang adik gue rasakan hm" ucap allana menghempaskan kepala pria itu
"Kita akhiri dengan cepat hm" ucap allana dan selanjutnya kepala pria itu juga terlepas dari tubuhnya
"Huh melelahkan,bereskan mereka hias dan bungkus kepala mereka dengan cantik tuliskan bahwa kiriman itu dari anak sulung tuan Albertson dan kirimkan langsung kepada tuan Brawijaya" ucap allana tersenyum miring dan pergi mendekati langit yang sedang menghisap rokoknya
Saat allana sudah berada di dekatnya langit mematikan rokoknya dan berdiri di depan Allana yang sedikit lebih pendek darinya
"Sudah selesai hm?" Tanya langit
Allana tersenyum manis membuat langit ikut tersenyum ini hal yang langkah menurutnya karna allana berbeda dengan Alluna yang tidak akan tersenyum di depannya padahal senyum perempuan itu sangan manis dan membuat siapa pun akan jatuh hati padanya
"Umm sangat seru dan memuaskan,sampai ketemu lagi langit nanti kita berbincang lagi yah,luna udah lelah" ucap Allana yang segera memejamkan matanya dan tertunduk karna Alluna sudah sangat lelah
Saat mata alluna terbuka dia hampir saja terjatuh jika langit tidak menahan pinggangnya sehingga jarak langit dan alluna sangat dekat saat ini
"Sial kenapa di saat‑saat begini jantung gue gak bisa di ajak kompromi sih" batin langit
"Lelah hm?" Tanya langit yang menyingkirkan rambut Alluna yang menghalangi wajahnya bahkan dia tidak segan menghapus noda darah di wajah Alluna
Alluna menatap langit dalam tepat di mata pria itu
"Sh!t bahkan dengan wajah lo yang penuh darah aja gak ngurangin sedikitpun kecantikan lo malah nambah tau gak" batin langit
"lo gak takut dengan gue" tanya Alluna pelan pasalnya pria di depannya ini sama sekali tidak bereaksi apapun seperti di bayangannya
"Tidak" jawab langit tersenyum lembut
"Kenapa" tanya Alluna lagi
"Karna itu lo" jawab langit lembut
Alluna terdiam hanya menatap mata langit yang juga sedang menatapnya
"Mau pulang? " Tanya langit
"Hmm" jawab Alluna.