"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jihan Fayda Malaika, Namanya 32.
Keheningan di dalam kabin mobil malam itu terasa mencekik. Arga tidak menyalakan mesin. Dia hanya bersandar pada kemudi, matanya lurus menatap Naya yang kini mematung. Jari-jari Naya yang tadinya lincah merapikan rambut, mendadak kaku memegangi cermin kecilnya.
"Kak Arga ngomong apa sih? Naya nggak paham," suara Naya mencicit, mencoba memunculkan nada defensif yang biasanya selalu berhasil memicu rasa iba.
Arga terkekeh, tapi itu adalah suara paling tidak bahagia yang pernah Naya dengar. "Gue selalu mikir lu itu korban, Nay. Kita semua di rumah memperlakukan lu kayak vas bunga retak yang bisa hancur kapan aja. Tapi barusan? Orang dari masa lalu lu di Jakarta datang dan ngasih tahu kalau vas itu sebenarnya udah ditempel lem besi sejak setahun lalu. Lu cuma sengaja pura-pura retak biar semua orang takut nyakitin lu."
"Siapa? Siapa yang ngomong gitu?!" Suara Naya naik satu oktav. Ada kepanikan nyata di matanya. Ego yang selama ini dia bangun dengan rapi mulai runtuh di sudut-sudutnya.
"Nggak penting siapa," potong Arga dingin, akhirnya memutar kunci kontak. Mesin mobil menderu pelan. "Yang penting adalah gue sekarang tahu. Dan mulai detik ini, jangan harap gue bakal jadi tameng lu lagi kalau lu bikin masalah sama cowok bodoh yang di luar tadi. Selesaikan drama lu sendiri."
Mobil itu melaju membelah malam, meninggalkan Naya yang tenggelam dalam ketakutan terbesarnya: kehilangan kendali atas narasi yang diciptakannya sendiri.
**
Satu minggu berlalu setelah malam yang merubah segalanya bagi Arga dan Naya.
Akhir pekan itu terasa lebih panjang karena adanya hari libur nasional di hari Jumat.
Tiga hari libur berturut-turut dimanfaatkan oleh sebagian besar murid SMA Veteran untuk berlibur atau sekadar bermalas-malasan.
Namun, bagi gadis berdarah dingin berjaket abu-abu yang mengonfrontasi Naya malam itu, tiga hari tersebut adalah sebuah misi personal.
Jumat pagi, di saat stasiun Bandung masih diselimuti kabut tipis, dia sudah duduk di dalam kereta eksekutif menuju Jakarta.
Tujuannya hanya satu— sebuah klinik psikologi swasta di kawasan Kemayoran.
Bagi orang lain, mengorbankan waktu libur demi mengurusi urusan orang lain adalah hal yang konyol. Tapi tidak bagi gadis ini. Dia tahu persis bagaimana rasanya menjadi korban manipulasi. Dia pernah melihat lingkaran pertemanannya hancur di Jakarta hanya karena satu orang yang pandai memainkan peran sebagai 'korban'. Dia tidak akan membiarkan cowok naif seperti Timy di Bandung mengalami hal yang sama.
Mengambil rekam medis di Indonesia bukanlah perkara mudah jika bukan keluarga inti.
Namun, dengan kecerdikannya memanfaatkan relasi lama—seorang resepsionis klinik yang dulu sering dia temani mengobrol saat dia sendiri masih menjadi pasien pasca-trauma— Gadis itu berhasil mendapatkan salinan surat keterangan akhir observasi psikologis atas nama Naya.
Sebuah dokumen resmi ber-kop surat klinik, lengkap dengan tanda tangan psikolog dan cap basah yang menyatakan,
Pasien dinyatakan pulih total dari generalized anxiety disorder dan trauma duka, serta adaptif terhadap lingkungan baru.
**
Minggu malam, dia kembali ke Bandung dengan sebuah amplop cokelat tebal di dalam tas ransel nya.
Lelah secara fisik, namun pikirannya terasa sangat jernih.
Senin pagi di SMA Veteran selalu riuh. Koridor sekolah dipenuhi murid-murid yang mengeluh karena harus kembali berhadapan dengan tugas dan upacara bendera.
Di tengah keramaian itu, sosok berjaket abu-abu berjalan dengan langkah tenang.
Hari ini dia sengaja memakai seragam sekolahnya dengan rapi, melebur bersama ratusan murid lainnya agar tidak menarik perhatian.
Dia berjalan menuju deretan loker yang terletak di koridor dekat laboratorium biologi.
Lorong itu masih sepi karena sebagian besar murid berkumpul di lapangan atau di kantin belakang. Matanya menyisir nomor-nomor di pintu loker logam yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian.
Loker 11... 12... 13... Loker 14.
Gadis itu berhenti tepat di depan loker nomor 14. Ada stiker logo klub motor kecil yang sudah robek tertempel di sudut atasnya—khas Timy. Menggunakan sebatang kawat kecil yang sudah dia siapkan dari rumah, dia memasukkannya ke dalam lubang kunci loker.
Sebagai anak yang sering kehilangan kunci loker sendiri di masa lalu, keahlian kecil ini ternyata ada gunanya.
Klik.
Pintu loker terbuka dengan suara gesekan besi yang pelan. Di dalamnya berantakan. Ada sepatu basket yang sudah agak bau, beberapa buku cetak matematika yang sudutnya terlipat, dan sebuah jersey olahraga.
Tanpa membuang waktu, gadis itu merogoh tasnya, mengeluarkan amplop cokelat yang sudah dilipat dua, lalu menyelipkannya di antara buku matematika dan jersey olahraga Timy.
Posisinya sengaja dibuat agar langsung terlihat begitu pintu loker dibuka.
Dia menutup kembali pintu loker itu, menekannya hingga mengunci dengan bunyi klik yang tegas. Selesai.
Tugasnya selesai.
Sekarang, biarkan realitas yang mengambil alih.
Saat dia berbalik untuk bergegas pergi sebelum koridor ramai, langkahnya yang terburu-buru berpapasan dengan rombongan siswi yang baru saja datang dari arah tangga.
Untuk menghindari tabrakan, gadis itu bergeser cepat ke samping, namun tas ranselnya yang resletingnya tidak tertutup sempurna berayun kasar.
Sebuah kotak pensil berbahan kaleng dengan motif retro tergelincir keluar dari dalam tas dan jatuh ke lantai keramik dengan suara dentangan yang cukup keras.
Pang!
Beberapa pulpen dan penggaris besi di dalamnya ikut berserakan di lantai.
Suara itu menarik perhatian beberapa orang yang lewat, termasuk dua orang siswi yang langsung menoleh.
Gadis itu mendesah pelan, sedikit kesal pada kecerobohannya sendiri.
Dia langsung berlutut, dengan cepat mengumpulkan pulpen-pulpen yang berserakan dan memasukkannya kembali ke dalam kotak kaleng tersebut.
Saat dia meraih kotak pensilnya yang posisinya agak jauh di dekat kaki loker, bagian bawah kotak kaleng itu menghadap ke atas.
Di sana, tertempel sebuah stiker label nama transparan dengan tulisan tangan yang rapi menggunakan spidol permanen hitam.
Sebuah nama yang selama satu minggu ini tersembunyi di balik tudung jaket abu-abu dan tatapan dinginnya di parkiran.
Jihan Fayda Malaika.
Kelas XII C
Kelas sebelah Timy, Nawang, dan Naya di kelas XII B.
Jihan mencengkeram kotak pensilnya, memasukkannya kembali ke dalam tas, lalu berdiri. Dia merapikan rok seragamnya, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan pergi meninggalkan koridor loker tanpa menoleh lagi.
Di ujung koridor, dari arah yang berlawanan, dia melihat Timy sedang berjalan gontai sambil menguap lebar, memegang sebuah botol minuman dingin di tangannya, menuju lurus ke arah Loker 14.
Jihan melewatinya begitu saja, seperti dua orang asing yang tidak saling kenal di tengah keramaian kota. Pertunjukan yang sebenarnya baru saja akan dimulai, dan Jihan sudah menyiapkan kursi paling depan untuk Timy agar cowok itu bisa melihat kebenaran dengan matanya sendiri.
**
Visual tokoh baru, Jihan— Aku perlihatkan ya.
......................
...****************...
Tbc,