Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Rian menatap Nadia dengan raut terkejut yang tak mampu ditutupinya. Keningnya berkerut dalam, mencoba mencerna keputusan mendadak yang baru saja diucapkan oleh istrinya.
"Galeri?" ulang Rian dengan nada tak percaya. "Nadia, sejak kapan kamu merencanakan ini? Kenapa baru bilang sekarang?"
"Sejak aku sadar kalau berdiam diri di rumah ini sama saja membunuh kewarasanku perlahan-lahan, Mas," jawab Nadia tegas, menatap lurus ke dalam mata suaminya tanpa ada keraguan sedikit pun. "Setiap kali kamu berangkat kerja, rumah ini berubah jadi neraka kecil buat aku. Ibu tidak pernah berhenti menyindirku sekarang di tambah Sarah yang tinggal disini. Mereka berdua sangat kompak. Mereka bilang aku pemalas, cuma bisa numpang hidup, dan tidak berguna."
"Tapi kamu tidak perlu bekerja, Nad. Aku mampu menafkahi kamu lebih dari cukup," bujuk Rian, melangkah mendekat dan berusaha menggenggam kedua tangan Nadia. "Kalau kamu takut bosan, kamu bisa melukis di kamar. Nanti aku buatkan studio kecil di lantai atas."
Nadia menarik tangannya pelan, menggelengkan kepala. "Ini bukan cuma soal bosan, Mas. Ini soal harga diri. Lagipula, di rumah ini sudah ada Bi Inah yang mengurus semuanya. Kalau aku cuma berdiam diri di kamar, ibumu akan makin liar melempar kata-kata pedasnya. Aku butuh ruang untuk bernapas. Aku mau menyibukkan diri dengan hal yang aku sukai dan menghasilkan karyaku sendiri."
Rian membisu. Ucapan Nadia menggoyahkan pertahanan egonya. Ia membayangkan bagaimana rasanya menjadi Nadia—tinggal seharian di rumah bersama ibu mertua yang terus-menerus menyudutkannya, ditambah kehadiran Sarah yang kerap memprovokasi suasana. Rian tahu betul tabiat ibunya, selama ia bekerja di kantor, tak ada yang bisa menjamin keselamatan mental istrinya di rumah ini.
Desahan napas berat lolos dari bibir Rian. Matanya menatap Nadia dengan penyesalan dan mencoba mengerti apa yang dirasakan istrinya.
"Baiklah..." ujar Rian akhirnya, suaranya melunak pasrah. "Kalau itu memang bisa bikin kamu merasa lebih tenang dan bahagia, aku izinkan. Aku sadar, aku tidak bisa menjaga kamu dua puluh empat jam di rumah ini dari ucapan Ibu."
Nadia tersenyum tipis, merasa lega karena Rian mau mengerti perasaannya. "Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk bekerja di luar."
"Tapi janji sama aku," Rian merengkuh wajah Nadia lembut dengan kedua telapak tangannya. "Jangan terlalu lelah. Kalau ada apa-apa di galeri, kamu harus langsung cerita sama aku. Dan ingat, kesehatanmu tetap yang utama."
"Iya, Mas. Aku janji. Aku akan mengatakan padamu apapun itu."
Saat makan malam tiba, suasana di meja makan kembali dipenuhi ketegangan. Bu Ratna dan Sarah duduk berdampingan dengan senyum penuh kemenangan, menyangka bahwa Rian telah habis-habisan memarahi Nadia di atas.
Namun, harapan mereka sirna begitu Rian membuka suara di tengah-tengah makan malam.
"Bu," panggil Rian tenang seraya meletakkan sendoknya. "Aku mau menyampaikan sesuatu."
"Ada apa Rian, katakan saja."
Mulai besok, Nadia akan mulai sibuk bekerja."
Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong. Bu Ratna langsung tersedak makanannya, sementara Sarah membelalakkan mata tak percaya.
"Apa?! Bekerja?!" seru Bu Ratna dengan suara melengking. "Rian, kamu ini sudah gila ya?! Mau taruh mana muka keluarga kita kalau menantu di rumah ini malah keluyuran kerja di luar? Apa kata orang nanti? Mereka bakal mikir kamu tidak sanggup menafkahi istrimu!"
"Nadia bekerja bukan karena aku tidak mampu menafkahi, Bu," potong Rian dingin, menatap ibunya lurus. "Nadia bekerja untuk mengisi harinya. Aku sudah memberi izin penuh. Jadi, Aku harap Ibu tidak lagi membuat tuduhan atau kata-kata yang memicu salah paham tentang Nadia."
Bu Ratna meradang, wajahnya langsung memerah kesal bercampur marsh. "Kamu ini makin lama makin keterlaluan, Rian! Dulu dia sangat malas dan bisa berjam-jam memandangi ponsel, sekarang mau sok-sokan jadi wanita karier! Mau jadi apa rumah tangga kalian kalau begini? Kami juga suami nggak tegas sama sekali menghadapi istrimu!"
"Ini keputusan kami berdua, Bu. Dan Aku mohon Ibu hargai itu, Nadia istriku, dan aku hanya ingin melihat dis bahagia. " balas Rian dengan keputusan yang tak bisa diganggu gugat.
Melihat Bu Ratna yang tak berkutik karena ketegasan Rian, Sarah yang duduk di sebelah Bu Ratna mendadak mengubah taktiknya. Wanita itu memajukan tubuhnya, memasang raut wajah manja seraya menatap Rian penuh harap.
"Wah, hebat banget Mbak Nadia sudah punya kegiatan..." puji Sarah dengan nada dibuat-buat, lalu dengan berani menggoyangkan lengan baju Rian. "Mas Rian... kalau Mbak Nadia boleh kerja, aku juga mau dong segera kerja. Kan aku jauh-jauh dari kemari memang niatnya mau cari pekerjaan dan pengalaman."
Rian menarik lengannya pelan dari genggaman Sarah, merasa sangat risih. "Ya bagus kalau kamu mau kerja, Sarah. Kamu bisa cari lowongan di internet atau lewat agen penyalur kerja."
"Yah, Mas Rian kok gitu sih..." rengek Sarah seraya mengedipkan matanya manja. "Kenapa aku harus repot-repot cari di luar kalau Mas Rian punya perusahaan besar? Maksud ku, bagaimana kalau aku kerja di perusahaan mas Rian. Masukan aku ke perusahaan Mas Rian aja dong. Jadi sekretaris pribadi Mas Rian juga aku mau banget, biar bisa bantu-bantu Mas Rian setiap hari."
Nadia yang duduk di samping Rian hanya menaikkan satu alisnya, menikmati santai keagresifan Sarah yang tanpa malu-malu menunjukkan niat terselubungnya.
Rian menatap Sarah dengan raut wajah datar dan dingin. Tanpa ragu sedikit pun, ia menjawab menolak mentah-mentah permintaan sepupunya itu.
"Tidak bisa, Sarah," jawab Rian tegas tanpa kompromi. "Perusahaanku punya standar rekrutmen yang sangat ketat dan profesional. Posisi sekretaris di kantorku sudah terisi oleh orang yang sangat kompeten. Dan aku tidak pernah menerima karyawan berdasarkan jalur kekeluargaan."
Wajah Sarah seketika membeku. Penolakan mentah-mentah dari Rian di hadapan Nadia dan Bu Ratna terasa bagaikan tamparan keras di pipinya.
"Tapi kan aku sepupumu, mas Rian!" sela Bu Ratna membela Sarah. "Masa bantu saudara sendiri saja tidak mau?!"
"Bisnis adalah bisnis, Bu," sahut Rian santai seraya berdiri dari kursinya. Ia memegang pundak Nadia lembut. "Kami sudah selesai makan malamnya. Kami permisi masuk ke kamar duluan."
Rian menggandeng tangan Nadia dengan erat, menuntun istrinya masuk kedalam kamar. Di belakang mereka, Sarah mengepalkan tangannya rapat-rapat dengan wajah memerah menahan malu dan amarah, sementara Bu Ratna menatap kepergian menantu dan anaknya dengan kekecewaan yang makin membakar dada.