Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : KERJA SAMA YANG MULAI BERMASALAH
Pagi hari menyelimuti gedung Varell Corporation dengan kesibukan yang lebih padat dari biasanya. Para karyawan berlalu-lalang membawa dokumen, beberapa manajer terlihat terburu-buru menuju ruang rapat, sementara bagian keuangan dan teknologi sibuk memeriksa laporan yang masuk sejak pagi.
Sejak Valdren International memutuskan untuk menarik sebagian besar keterlibatannya dari Varell Corporation, suasana perusahaan perlahan berubah.
Namun, Adrian Varell sudah mengambil langkah untuk mengatasi keadaan tersebut.
Kerja sama dengan Exco telah mulai berjalan.
Pada awalnya, keputusan itu dianggap sebagai solusi. Exco memiliki kemampuan teknologi dan jaringan bisnis yang cukup besar untuk membantu Varell melanjutkan beberapa proyek yang sebelumnya mendapat dukungan dari Valdren International.
Sayangnya, pagi itu Adrian menerima laporan yang membuatnya tidak bisa begitu saja menganggap semuanya baik-baik saja.
Di ruang rapat lantai paling atas, beberapa direktur sudah duduk mengelilingi meja panjang. Adrian berada di ujung meja sambil memperhatikan sebuah laporan yang baru saja diberikan kepadanya.
“Bagaimana perkembangan proyek yang dialihkan kepada Exco?” tanya Adrian sambil mengangkat pandangannya.
Seorang direktur bagian teknologi membuka dokumen di hadapannya sebelum menjawab, “Untuk beberapa proyek masih berjalan, Pak. Namun, ada beberapa bagian yang mengalami keterlambatan.”
Adrian mengerutkan kening.“Seberapa parah?”
“Belum sampai menghentikan proyek. Tetapi jadwal yang sudah ditentukan kemungkinan besar akan mundur.” Jawab direktur tersebut.
Salah satu direktur lainnya ikut menjelaskan bahwa masalah utama berada pada penyesuaian sistem dan sumber daya. Exco memang mampu mengambil sebagian pekerjaan yang sebelumnya ditangani bersama Valdren, tetapi kecepatan dan jaringan yang dimiliki Exco belum sepenuhnya sama.
Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Bukankah sebelum kerja sama dimulai mereka sudah menyatakan sanggup memenuhi kebutuhan kita?”
“Benar, Pak,” jawab direktur teknologi tersebut. “Tetapi setelah masuk ke tahap pelaksanaan, ada beberapa hal yang ternyata membutuhkan waktu lebih lama.”
Ruangan menjadi hening.
Adrian mengambil satu dokumen lagi dan membacanya dengan teliti. Tidak ada masalah yang benar-benar besar, tetapi beberapa keterlambatan kecil bisa menjadi persoalan jika terus menumpuk.
“Bagaimana dengan proyek yang paling besar?” tanya Adrian.
“Untuk proyek utama masih berjalan sesuai target, tetapi tim kita harus memberikan pengawasan lebih banyak kepada pihak Exco.”
Adrian mengangguk perlahan. dia tidak ingin langsung menyalahkan Exco.
Kerja sama baru memang membutuhkan penyesuaian, dan tidak semua masalah berarti sebuah perusahaan gagal menjalankan tanggung jawabnya. Namun, Adrian juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa posisi Varell sekarang jauh berbeda dibandingkan ketika Valdren International masih menjadi salah satu mitra utamanya.
“Periksa semua proyek yang sedang berjalan,” kata Adrian akhirnya. “Aku ingin laporan lengkap mengenai mana yang terlambat, penyebabnya, dan apa yang harus dilakukan untuk mengejar kembali jadwal.”
“Baik, Pak Adrian.”
Adrian menatap seluruh direktur di hadapannya.“Dan satu lagi. Jangan mengambil keputusan sepihak terhadap Exco. Kalau ada masalah, bicarakan terlebih dahulu dengan mereka.”
“Baik, Pak.”
Rapat kembali dilanjutkan.
Mereka membahas berbagai persoalan perusahaan, mulai dari investasi, perkembangan proyek, sampai hubungan dengan para mitra bisnis lainnya. Namun, satu hal terus berada di pikiran Adrian.
Valdren International.
Adrian tidak bisa menyangkal bahwa sejak Valdren menarik diri, tekanan terhadap Varell mulai terasa.
Bukan karena Valdren menghentikan semua kerja sama secara mendadak. Justru sebaliknya. Hero tetap menjalankan kontrak yang sudah disepakati dan hanya menghentikan kerja sama baru serta menarik investasi yang memang bisa ditarik sesuai perjanjian.
Semuanya dilakukan secara teratur. Itulah yang membuat Adrian semakin sulit mencari celah. Hero tidak menyerang Varell. Dia hanya memilih untuk pergi. Dan sekarang Varell harus menghadapi akibat dari keputusan tersebut.
Setelah rapat selesai, para direktur mulai meninggalkan ruangan. Adrian masih berada di tempatnya ketika sekretarisnya masuk membawa sebuah tablet.
“Pak Adrian, ada laporan tambahan dari bagian keuangan.”
Adrian menerima tablet tersebut.
“Investor lain mulai menanyakan kondisi kerja sama kita dengan Valdren,” jelas sekretarisnya. “Mereka ingin memastikan apakah penarikan investasi tersebut akan memengaruhi proyek-proyek Varell dalam jangka panjang.”
Adrian membaca laporan itu beberapa saat.
“Jawab bahwa seluruh kontrak yang masih aktif berjalan sesuai kesepakatan,” kata Adrian. “Jangan membuat pernyataan yang tidak perlu.”
“Baik, Pak.”
Sekretaris itu hendak pergi, tetapi Adrian kembali memanggilnya.“Dan jangan membawa nama pribadi Hero Valdren dalam laporan kepada investor.”
Sekretarisnya mengangguk.“Baik, Pak.”
Setelah sekretarisnya keluar, Adrian berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela.
Dari lantai tinggi itu, seluruh kawasan bisnis terlihat sibuk. Adrian mengingat kembali pertemuannya dengan Hero beberapa waktu lalu.
Hero tidak pernah menunjukkan kemarahan ketika membicarakan Varell. Tidak ada ancaman berlebihan. Tidak ada tindakan yang terlihat seperti balas dendam.
Dia hanya mengatakan bahwa Valdren International akan menarik diri. Sekarang Adrian mulai memahami satu hal. Hero memang tidak perlu mengancam siapa pun.
Keputusan bisnis saja sudah cukup untuk memberikan tekanan.
Sementara itu, di gedung Valdren International, suasana justru jauh lebih tenang. Hero sedang duduk di ruang kerjanya sambil membaca laporan yang diberikan Valen.
“Bagaimana perkembangan Varell?” tanya Hero tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen.
Valen berdiri di depan meja sambil membuka tabletnya.“Kerja sama mereka dengan Exco sudah berjalan, Tuan. Namun ada beberapa proyek yang mengalami keterlambatan.”
Hero membalik halaman laporan.“Masalah besar?”
“Belum. Sebagian besar masih bisa diperbaiki. Tetapi mereka harus menambah pengawasan dan sumber daya.” jelas Valen ke arah Hero.
Hero mengangguk.“Biarkan.”
Valen terdiam sebentar sebelum bertanya, “Tuan tidak ingin melakukan apa pun?”
Hero mengangkat wajahnya.“Tidak.”
Jawaban itu sederhana, tetapi tegas.
“Varell sudah memilih mitra mereka sendiri,” lanjut Hero. “Itu keputusan mereka. Kita tidak perlu mencampuri.”
Valen mengangguk. Namun, Hero kembali memberikan instruksi.“Pastikan semua kewajiban Valdren terhadap kontrak lama tetap dipenuhi.”
“Tentu, Tuan.”
“Aku tidak ingin ada masalah hukum hanya karena mereka memilih bekerja sama dengan perusahaan lain.”
Valen tersenyum tipis.“Saya mengerti. Jadi kita hanya menarik investasi dan menghentikan kerja sama baru sesuai perjanjian.”
“Benar.” jawab Hero tegas.
Hero kemudian menyandarkan tubuhnya.“Kalau Varell bisa berkembang dengan Exco, itu urusan mereka. Kalau mereka gagal, itu juga akibat keputusan mereka sendiri.”
Valen mengangguk.“Baik, Tuan.”
Sebelum Valen meninggalkan ruangan, Hero kembali berkata, “Dan jangan biarkan masalah bisnis ini mendekati Laura.”
Valen menatap Hero.“Saya akan memastikan tidak ada pihak yang membawa nama Nona Laura dalam urusan perusahaan.”
Hero mengangguk puas.“Bagus.”
Setelah Valen keluar, Hero mengambil ponselnya. Wajah seriusnya perlahan berubah ketika melihat sebuah pesan dari Laura.
Laura: Kamu sudah makan?
Hero tersenyum kecil. Pria yang beberapa saat lalu sedang membahas perusahaan bernilai besar itu langsung mengetik balasan.
Hero: Belum. Kamu sudah makan?
Beberapa saat kemudian, balasan Laura muncul.
Laura: Aku juga belum. Hari ini kelas sampai siang.
Hero melihat jam di pergelangan tangannya.
Dia kemudian berdiri dan mengambil jasnya.
Tidak peduli seberapa banyak urusan yang menunggunya di kantor, ada satu hal yang selalu membuatnya ingin meninggalkan meja kerja lebih cepat.
Laura.
Hero baru saja hendak keluar ketika Valen kembali masuk.“Tuan, ada beberapa dokumen yang masih membutuhkan tanda tangan.”
Hero berhenti di depan pintu.“Letakkan di meja. Aku akan tanda tangani setelah menjemput Laura.”
Valen hanya bisa menghela napas kecil.“Baik, Tuan.”
Hero kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Di sisi lain, Adrian masih berada di ruangannya. Sebuah laporan terbaru muncul di layar komputernya.
Dia membukanya dan membaca perkembangan kerja sama dengan Exco. Beberapa angka menunjukkan peningkatan biaya operasional karena Varell harus menambah sumber daya untuk mengatasi keterlambatan.
Adrian mengusap dagunya.“Ini baru awal,” gumamnya.
Dia kemudian menutup laporan tersebut.
Varell Corporation belum berada dalam masalah besar. Namun, Adrian tahu perusahaan sebesar miliknya tidak boleh mengabaikan masalah kecil.
Karena masalah kecil yang dibiarkan terlalu lama bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Adrian berdiri dan menatap keluar jendela. Di luar sana, dunia bisnis tetap berjalan seperti biasa.
Namun, tanpa mereka sadari, keputusan Valdren International untuk mundur telah mengubah keseimbangan beberapa perusahaan.
Dan kerja sama Varell dengan Exco yang awalnya dianggap sebagai solusi mulai menunjukkan celah-celah kecil.
Celah yang mungkin belum terlihat berbahaya sekarang. Tetapi bisa menjadi masalah besar di kemudian hari.
Dan untuk pertama kalinya, Adrian mulai bertanya-tanya apakah keputusan bekerja sama dengan Exco benar-benar akan menjadi jalan keluar bagi Varell Corporation.
Bersambung ....
suka ceritanya jangan lupa like dan komen ya !