Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alethea Senang
Usai sarapan, Satoru meminta izin pada kedua orangtuanya untuk mengajak Alethea jalan-jalan keliling London. Satoru mengeluarkan mobil mini Cooper nya yang ada di garasi dan mereka pun pergi keluar dari rumah yang indah itu.
"Aku kasih lihat ya. Itu rumah sepupuku, Erhan Tudor. Rumah orang tuanya sih, Oom Billy dan Tante Eléonore. Oh, opanya Erhan itu Opa Charles McGregor," ucap Satoru saat menunjukkan sebuah rumah yang cukup besar dekat rumah keluarga Shinoda.
"Serius? Pembalap legendaris F1 dari McClaren?" tanya Alethea.
"Yup. Opa Charles dan Opa Radhi Blair itu musuh bebuyutan di track F1 tapi jodohnya malah macam tertukar. Opa Charles jatuh cinta dengan Oma Raine, saudara kembar Opa Radhi. Eh, Opa Radhi malah jatuh cinta sama adiknya Opa Charles, Charlotte. Bisa dibilang, kami dan keluarga McGregor adalah saudara jauh."
"Bagaimana bisa?" Alethea semakin penasaran dengan keluarga besar Satoru.
"Dulu, generasi kedua kayaknya, Opa Edward Blair adalah asisten dari Opa Duncan McGregor, mafia Skotlandia atau Irlandia. Eniwaiii, intinya Opa Duncan punya anak bernama Opa Mike yang menikah dengan Oma Nabila Pratomo. Opa Edward menikah dengan sepupu Oma Nabila, Oma Yuna Pratomo," jawab Satoru. "Jadi setelah sekian lama, nama McGregor dan Blair bersama lagi."
Alethea mengangguk. "Aku pernah mendengar nama Yuna Pratomo. Dia kurator juga kan?"
"Yup. Bahkan Opa Edward bertemu dengan Oma Yuna juga karena soal lukisan."
"Seperti kita?" kerling Alethea.
"Seperti kita," jawab Satoru. "Di area Chelsea ini banyak keluarga aku yang tinggal. Selain rumahku dan rumah keluarga McGregor, ada rumah keluarga McCloud juga. Tahu kan RR's Meals? Nah, rumah pemiliknya di sini."
Alethea melihat rumah dengan nuansa khas Inggris itu. "Ini rumahnya?" tanyanya saat melihat rumah model townhouse klasik bewarna putih.
"Ini rumah mereka yang baru. Rumah lama mereka sudah dijual karena terlalu besar. Rumah lama mereka dulu di area pinggiran kota London. Sekarang memilih ke Central London karena keponakan aku sekolah di area sini." Satoru membawa mobil iconic itu menuju ke sebuah museum London.
"Kita kemana ini?" tanya Alethea.
"Bertemu dengan seseorang. Ayo turun." Satoru keluar dari mobil dan membukakan pintu Alethea.
Wanita itu tampak bingung dan semangat masuk ke dalam museum itu. Satoru menggandeng tangannya dan masuk ke dalam.
Alethea melihat bagaimana indahnya Art National Museum London. Dia menatap sekelilingnya dengan mata berbinar.
"Kamu suka?" bisik Satoru.
"Kalau kamu memang niat kemari untuk mengajak aku kencan, this is the perfect place! Ini tempat yang tepat untuk aku ... kita," senyum Alethea.
"Kencan bersamamu tidak akan pernah jauh dari karya seni dan itu jauh lebih mudah kan?" ujar Satoru. Tiba-tiba matanya melihat seseorang di belakang Alethea membuat wanita itu menoleh.
Tampak seorang wanita berambut pirang, dengan sanggul ala Perancis, bermata biru, berusia sekitar empat puluhan akhir, berjalan anggun. Gaunnya yang bewarna pink pucat dipadukan dengan outer warna fuschia dan sepatu pink.
Alethea terpesona dengan kecantikan dan keanggunan wanita itu. "Siapa itu Toru?"
"Tanteku. Eléonore McGregor Gallagher." Satoru lalu menghampiri wanita itu dan salim. Eléonore memeluk Satoru dan mencium pipinya.
"Apa kabar Toru. Sama siapa?" tanya Eléonore dengan aksen London yang terdengar seperti irama lagu di telinga Alethea.
"Sama Alethea. Dia juga kurator lho," jawab Satoru sambil menunjuk ke arah Alethea yang membungkuk sopan.
Eléonore pun mengangguk. "Kenapa jadi gaya Jepang Toru?"
"Almarhum suaminya orang Jepang jadi terbiasa," jawab Satoru.
"Begitu. Dia yang kamu lamar kemarin?" tanya Eléonore. "Sudah yakin?"
Aleteha tahu, keluarga Satoru pasti semuanya hendak memastikan dan dia tidak salah pilih.
"Sudah Tante. Thea ...." Satoru meraih tangan Alethea. "Aku perkenalkan, Tante Eléonore Gallagher. Dia kepala museum ini dan juga kurator nomor satu di London."
Alethea mengulurkan tangannya ke Eléonore. "Senang bertemu dengan Anda, Mrs Gallagher."
"Senang bertemu dengan wanita yang dicari Satoru. Oh, panggil saja Tante Elle. So, apa pekerjaan kamu?" tanya Eléonore.
"Saya kurator di sebuah museum di Washington DC." Alethea menceritakan tempatnya bekerja dan Eléonore mengernyitkan keningnya.
"Boss kamu ... Jennifer Lawrence?" tanya Eléonore.
"Benar Tante Elle. Bagaimana Anda tahu?" jawab Alethea bingung.
"Apakah dia masih sok ngebossy?" goda Eléonore.
Alethea tertawa kecil. "Sayangnya ... masih."
Eléonore tertawa. "Tapi dia wanita yang tangguh, Thea. Dan cerdas. Minusnya satu, dia sering tidak sabaran dalam mengkurator suatu karya seni."
"Itu memang benar," timpal Alethea.
"Jadi, bagaimana jika kita sama-sama memeriksa karya seni yang baru datang. Aku ingin tahu bagaimana pendapat kamu." Eléonore menggamit lengan Alethea. "Toru, Tante pinjam dulu tunangan kamu ya?"
Satoru melongo. "Lha?"
Namun Eléonore sudah mengajak Aleteha ke ruang kerjanya yang berada di belakang. Satoru menggaruk kepalanya.
"Kok jadi begini sih?" gerutunya.
***
Ruang Kurator
Eléonore berdiri di hadapan sebuah patung kuno dari India, ditemani Alethea yang tampak begitu antusias mengamati setiap detail ukirannya.
“Menurutmu, patung ini lebih cocok ditempatkan di galeri utama atau di ruang pameran khusus?” tanya Eléonore sambil menunjuk bagian alas patung.
Alethea mengamati patung itu sejenak sebelum menjawab, “Ruang pameran khusus. Kita bisa menonjolkan nilai sejarah dan filosofi di baliknya tanpa terganggu karya lain.”
Mata Eléonore berbinar. “Persis! Aku senang sekali akhirnya menemukan seseorang yang memahami cara berpikirku.”
Keduanya pun larut dalam diskusi mengenai pencahayaan, tata letak, hingga informasi sejarah yang harus disertakan dalam pameran.
Sementara itu, Satoru yang duduk tak jauh dari mereka mulai kehilangan kesabaran. Sejak tadi, Alethea bahkan nyaris tidak meliriknya, sementara tantenya sendiri tampak lebih tertarik mengobrol dengan sang kekasih.
“Aku ini sebenarnya datang sebagai apa?” gumam Satoru dengan nada kesal.
Alethea menoleh sekilas. “Hm? Kamu bilang sesuatu, Satoru?”
“Tidak,” jawabnya pendek. Pria itu tampak manyun.
Eléonore melirik keponakannya dengan senyum geli. “Kalau bosan, kamu boleh pulang, Sayang. Kami masih punya banyak hal untuk dibicarakan.”
Satoru menatap tantenya tidak percaya. Bahkan Eléonore ikut mengusirnya secara halus!
Dia menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di dada, lalu bergumam kesal, “Hebat. Hebat sekali! Aku kalah saing dengan sebuah patung dari India.”
Alethea menahan tawa, tetapi segera kembali berdiskusi dengan Eléonore, membuat Satoru semakin merengut sepanjang pagi menjelang siang.
***
Yuhuuuu up pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Apa kabar aku yang ga pintar masak dan kalah enak sama masakan suami 😄
Thea bukan tipe perempuan sat set sat set ,terlalu banyak pemikirannya
nantinya Thea bisa bekerja di museum yang sama dengan tante Elle kan😊😊
walaupun antimainstream tapi tetep asikk kan😅😅😅
Kuatkan mentalmu aja Thea kalau sudah kumpul keluarga Satoru mode bully 😄😄