Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman pertama
Suasana kafe yang tadinya riuh oleh sorak-sorai perlahan kembali normal. Para pengunjung lain mulai kembali pada aktivitas masing-masing, meski sesekali masih terdengar bisik-bisik kagum dari meja-meja sekitar. Reynan kembali duduk di kursinya, namun matanya tak henti-hentinya tertuju pada cincin yang kini melingkar sempurna di jari manisnya, berkilau lembut diterpa cahaya lampu kafe.
"Nggak nyangka ya, sekarang kita udah tunangan," gumam Reynan pelan. Tersenyum tipis sambil terus memandangi cincin itu, seolah masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Ia lalu meraih tangan Haruna, mengangkatnya perlahan, dan mengecup punggung tangan itu dengan lembut. "Makasih udah mau terima lamaran aku, Sayang."
Haruna tersipu malu, pipinya kembali merona merah. Namun rasa malunya semakin menjadi begitu menyadari betapa banyak pasang mata yang masih diam-diam memperhatikan mereka berdua dari berbagai sudut kafe. Beberapa bahkan masih sibuk berbisik-bisik sambil sesekali tersenyum ke arah mereka.
"Rey," bisik Haruna pelan, mendekatkan wajahnya, "Haruna malu, dari tadi diperhatiin terus."
Menyadari kegelisahan kekasihnya, Reynan segera bangkit dari kursinya, menggenggam tangan Haruna dengan lembut. "Ayo, kita ke ruangan aku aja."
Ia membimbing Haruna menuju sebuah ruangan khusus di lantai atas kafe, sebuah ruang kerja pribadi yang biasa ia gunakan untuk mengatur berbagai urusan bisnis, jauh dari keramaian dan tatapan orang-orang di bawah.
Begitu pintu tertutup, Haruna menghela napas lega, suasana yang jauh lebih tenang membuatnya merasa lebih nyaman.
"Di sini lebih enak, ya," ucap Haruna, duduk di sofa empuk yang tersedia di sudut ruangan.
Reynan duduk di sampingnya. Namun matanya kini tertuju lekat pada wajah Haruna, terutama pada bibir tipisnya yang berwarna merah muda alami, tanpa sentuhan lipstik apa pun.
Sesuatu di dalam dadanya bergejolak, sebuah keinginan yang selama ini selalu ia tahan setiap kali berdekatan dengan kekasihnya.
"Sayang," panggil Reynan pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Ya?" Haruna menoleh, menatap balik mata Reynan yang terlihat begitu serius.
Reynan mendekatkan wajahnya perlahan, jantungnya berdegup begitu kencang. "Boleh... boleh aku cium kamu?"
Pertanyaan itu membuat wajah Haruna seketika memerah padam, jantungnya ikut berdegup tak karuan.
Selama ini, hubungan mereka hanya sebatas genggaman tangan dan pelukan hangat, belum pernah sekali pun mereka melangkah lebih jauh dari itu.
Dengan gugup Haruna mengangguk pelan, matanya menunduk malu.
Perlahan, Reynan mendekatkan wajahnya lebih jauh, hingga akhirnya bibir mereka bersentuhan lembut.
Ini adalah pengalaman pertama bagi Reynan, ciuman pertamanya kepada seorang wanita, dan wanita itu adalah gadis yang telah mengubah seluruh hidupnya menjadi begitu berarti.
Ciuman lembut itu berlangsung beberapa saat. Hingga akhirnya Haruna melepaskan diri, wajahnya memerah padam, napasnya sedikit tersengal. "Rey... Haruna hampir kehabisan napas," ucapnya malu-malu, bibirnya terasa kebas namun juga begitu manis.
Reynan tersenyum puas, menatap bibir Haruna yang masih sedikit basah. "Bibir kamu manis banget, sayang," pujinya, "aku mau lagi."
Belum sempat Haruna merespons. Reynan sudah kembali mendekatkan wajahnya, kali ini dengan gerakan yang jauh lebih berani. Mengunci bibir Haruna dalam ciuman yang lebih dalam dan penuh perasaan.
Haruna sempat terkejut, namun akhirnya membiarkan dirinya larut dalam momen intim itu, merasakan ketulusan cinta yang begitu besar dari setiap sentuhan lembut Reynan.
Namun di tengah momen romantis itu, ponsel Reynan yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar keras, memecah suasana. Dengan enggan, Reynan melepaskan ciumannya, meraih ponsel itu dan mendapati nama Papa tertera di layar.
"Halo, Pah?" jawab Reynan, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit tak beraturan.
"Reynan, kamu di mana? Cepat pulang sekarang juga!" suara Bagas terdengar begitu tegas dan marah dari seberang telepon, membuat Reynan mengernyit heran.
"Reynan lagi di luar, Pah. Ada apa sih, mendadak banget?" tanya Reynan bingung.
"Nggak usah banyak tanya, pulang sekarang!" bentak Bagas sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak.
Reynan menatap ponselnya dengan kening berkerut. Tak mengerti kenapa ayahnya tiba-tiba begitu marah dan mendesaknya untuk pulang secepat itu.
Namun menyadari waktu memang sudah cukup larut dan malam semakin dingin, ia akhirnya menghela napas, menoleh kembali ke arah Haruna.
"Kayaknya kita harus buru-buru, deh. Papa nyuruh aku pulang sekarang," ucap Reynan, meski nada suaranya sedikit kecewa harus mengakhiri momen indah itu lebih cepat.
"Iya, lagian udah malem juga. Haruna juga harus balik ke asrama," jawab Haruna, mengerti situasi itu.
Namun sebelum benar-benar beranjak dari ruangan itu, Reynan tak bisa menahan diri. Sekali lagi mendekatkan wajahnya, mencium bibir Haruna dengan lembut namun penuh kerinduan, seolah tak ingin momen berharga itu berakhir begitu saja.
"Ayo," ajak Reynan akhirnya, menggenggam tangan Haruna erat, membimbingnya keluar dari kafe menuju motor yang terparkir di depan.
Sepanjang perjalanan menuju asrama, suasana hati Reynan masih dipenuhi kebahagiaan yang meluap-luap. Sesekali ia tersenyum sendiri mengingat momen ciuman pertama mereka, meski di sudut lain pikirannya, rasa penasaran akan kemarahan mendadak sang ayah terus mengganggunya.
Sesampainya di depan gerbang asrama, Reynan menghentikan motornya, menatap Haruna dengan senyum hangat. "Sampai sini dulu ya, Sayang. Hati-hati masuknya."
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan," jawab Haruna, turun dari motor sambil melepas helmnya.
Seperti biasa, Reynan tetap menunggu hingga Haruna benar-benar melangkah masuk ke dalam gedung asrama. Memastikan kekasihnya aman sebelum akhirnya menstarter motornya, melaju pulang menuju rumah mewah keluarganya.
Namun begitu ia sampai di depan gerbang rumah, suasana yang menyambutnya terasa begitu berbeda dari biasanya. Lampu-lampu di ruang tamu menyala terang, dan sosok kedua orangtuanya sudah duduk menunggu di sana, dengan raut wajah yang begitu tegang.
Reynan melangkah masuk dengan perasaan sedikit was-was, menyadari sesuatu yang tidak beres dari ekspresi wajah ayahnya yang begitu keras, matanya menyala penuh amarah yang jarang sekali ia lihat sebelumnya.
Larasati duduk di samping suaminya, wajahnya pucat pasi, tangannya meremas ujung baju dengan gelisah.
"Pah, Ma, ada apa? Kenapa mukanya pada tegang gitu?" tanya Reynan bingung, duduk di kursi seberang mereka.
Bagas tidak langsung menjawab, matanya menatap tajam ke arah putranya, rahangnya mengeras menahan emosi yang begitu besar.
Beberapa saat kemudian, ia meraih ponselnya, memutar sebuah video yang tadi sempat viral di media sosial, video lamaran Reynan kepada Haruna yang begitu menghebohkan itu.
"Ini apa-apaan, Reynan!" bentak Bagas, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu, menyodorkan layar ponsel itu tepat ke wajah putranya. "Kamu lamar cewek ini tanpa sepengetahuan Papa?"
Jantung Reynan berdegup kencang melihat kemarahan yang begitu meluap dari sang ayah. Namun ia tetap berusaha mempertahankan sikapnya. "Iya Pah itu Haruna, calon istri Reynan."
"Calon istri!" Bagas tertawa sinis, matanya menyala penuh amarah yang tak terbendung. "Reynan, dengar baik-baik. Mulai malam ini juga, kamu harus putusin hubungan kamu sama cewek itu! Papa nggak akan pernah izinin kamu nikah sama dia, apalagi sampai jadi menantu Papa!"
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,