Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Penghinaan Paling Elegan
Urat di pelipis Pangeran Julian berdenyut keras, menonjol di balik kulitnya yang seputih pualam. Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, sang Putra Mahkota Kekaisaran yang selalu diagungkan itu kehilangan kata-kata. Matanya yang biasa memancarkan otoritas kini diselimuti kabut amarah yang nyaris tak tertahankan.
Di sekeliling kami, keheningan masih mencekik. Para bangsawan menahan napas, takut salah bereaksi. Mengakui kemenanganku sama saja dengan mempermalukan Pangeran dan pahlawan kesayangannya, Leon. Tapi mengabaikan kristal hitam B+ yang berdenyut memancarkan kekuatan mengerikan di atas nampan perak itu... adalah kebodohan.
Pangeran Julian menarik napas panjang. Sebagai calon raja yang dilatih sejak lahir untuk menyembunyikan emosi, ia berhasil memaksa raut wajahnya kembali tenang, meski senyum yang ia ukir terlihat sangat kaku.
"Tuan Muda Pendelton..." Julian memulai, suaranya terdengar sedikit bergetar karena dipaksakan. "...sebuah kejutan yang sungguh di luar dugaan. Kekaisaran tidak pernah tahu bahwa Anda menyembunyikan kekuatan sebesar ini di balik gelar... yang selama ini menempel pada Anda."
"Gelar 'Sampah', maksud Anda, Yang Mulia?" potongku santai, tanpa beban.
Beberapa bangsawan wanita tersedak kaget mendengar kelancanganku memotong ucapan Pangeran.
Aku tersenyum tipis, menatap lurus ke mata Julian. "Terkadang, menjadi 'sampah' di mata dunia adalah bentuk kamuflase terbaik untuk menghindari perhatian orang-orang yang ingin menjatuhkan kita. Bukankah begitu, Yang Mulia?"
Mata biru Julian menyipit tajam. Ia mengerti sindiranku. Ia tahu aku menyadari bahwa dialah yang mengirim Serigala Bayangan itu. Tapi ia tidak bisa menuduhku, karena itu sama saja dengan membongkar kejahatannya sendiri di depan publik.
"Benar sekali," desis Julian, suaranya sedingin es. Ia menoleh ke arah Kepala Juri. "Umumkan hasilnya. Jangan buat Tuan Pendelton menunggu hadiahnya."
Kepala Juri yang malang itu buru-buru menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan, lalu berdeham keras.
"D-Dengan ini... pemenang Pesta Perburuan Musim Gugur tahun ini adalah Tuan Muda Arthur Pendelton! Beliau berhak mendapatkan hadiah utama, Pedang Mythril Suci dari perbendaharaan Istana!"
Dua Ksatria melangkah maju membawa sebuah kotak panjang berlapis beludru merah. Mereka membukanya, memperlihatkan sebilah pedang panjang yang memancarkan pendaran cahaya keperakan. Bilahnya sangat tipis, elegan, dan dihiasi rune suci yang dirancang untuk mengalirkan elemen api atau cahaya dengan sempurna.
Senjata yang sangat luar biasa. Tentu saja, karena di dalam novel, senjata ini dirancang khusus oleh penulis sebagai upgrade pertama untuk Leon sang protagonis.
Aku mengangkat pedang itu dari kotaknya. Bobotnya sangat ringan, hampir terasa seperti tidak memegang apa-apa. Namun, saat telapak tanganku bersentuhan dengan gagangnya, pusaran Mana Core gelap di dadaku bergolak jijik. Elemen suci di dalam pedang ini menolak elemen kegelapanku, begitu pula sebaliknya. Jika aku memaksakan mana-ku ke dalamnya, pedang ini akan hancur berkeping-keping.
"Senjata yang indah," ucapku pelan, memutar pedang itu di tanganku agar memantulkan cahaya senja.
Leon, yang berdiri tak jauh dari Pangeran Julian, menatap pedang itu dengan raut wajah penuh kerinduan sekaligus kekecewaan. Ia telah berjuang keras melawan Beruang Api tingkat C+ hari ini demi mendapatkan pedang tersebut, hanya untuk dipecundangi di detik terakhir oleh orang yang paling ia benci.
Aku melirik ke arah Leon. Sebuah ide licik melintas di kepalaku.
Menyakiti fisik seorang pahlawan tidak akan meninggalkan bekas yang lama karena mereka memiliki tekad baja. Tapi menghancurkan harga diri dan kebanggaan mereka? Itu adalah racun yang akan membusuk perlahan.
"Tapi sayangnya..." Aku melangkah mendekati Leon. Suasana kembali menegang. Para Ksatria di sekitar Pangeran secara refleks meletakkan tangan di gagang pedang mereka, berjaga-jaga jika aku melakukan penyerangan.
Aku berhenti tepat satu meter di depan Leon. Sang protagonis menatapku dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang gemetar.
"...pedang ini terlalu ringan untuk seleraku," lanjutku dengan nada santai yang dibuat-buat. "Dan warna peraknya tidak cocok dengan pakaianku."
Tanpa peringatan, aku melemparkan Pedang Mythril Suci itu ke udara, tepat ke arah Leon.
Secara refleks, Leon menangkap gagang pedang itu. Ia tertegun. Matanya membelalak menatapku dengan penuh kebingungan. Seluruh bangsawan di perkemahan tersentak kaget.
"Ambillah, Leon," ucapku dengan senyum merendahkan yang sangat khas milik bangsawan arogan. "Aku dengar pedang kayumu patah saat kau diserang oleh pembunuh amatiran di Hutan Merah semalam. Sebagai sesama murid Akademi Solaria, anggap saja pedang ini sebagai bentuk... donasi sosial dari keluarga Pendelton untuk murid beasiswa yang kurang mampu."
Jleb.
Kata-kataku menghujam tepat di pusat harga diri Leon. Wajah pemuda berambut merah itu langsung berubah merah padam. Ia adalah orang yang menjunjung tinggi keadilan, kerja keras, dan kemandirian. Dikasihani dan diberi sedekah oleh musuh bebuyutannya di depan seluruh bangsawan Kekaisaran adalah penghinaan paling brutal yang bisa ia terima.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu, Arthur!" geram Leon, urat di lehernya menonjol. Ia maju selangkah, berniat mengembalikan pedang itu.
Aku mengangkat sebelah tangan, menghentikan langkahnya. "Jangan salah paham. Itu bukan belas kasihan. Itu adalah investasi. Pastikan kau berlatih keras dengan pedang itu, Leon. Karena akan sangat membosankan jika ujian pertarungan pertengahan semester bulan depan, kau gugur di babak pertama."
Aku membalikkan badan, memunggungi Leon yang mematung, lalu membungkuk sedikit ke arah Pangeran Julian yang wajahnya kini pucat pasi karena menahan murka.
"Terima kasih atas pesta perburuannya yang 'menyenangkan', Yang Mulia. Sayangnya, saya harus segera pamit. Hawa di perkemahan ini tiba-tiba terasa terlalu... murah untuk saya hirup."
Tanpa menunggu balasan dari sang Pangeran, aku berjalan santai meninggalkan area paviliun, membelah kerumunan bangsawan yang langsung membuka jalan untukku dengan pandangan penuh ketakutan.
Saat aku melangkah menuju kereta kudaku yang sedang disiapkan oleh Barnaby, udara di sebelahku sedikit beriak. Tawa renyah yang transparan dan hanya bisa didengar oleh telingaku bergema di udara.
"Astaga, Penjahat Kecil," bisik Nox, yang rupanya mengikuti dalam bentuk bayangan. "Kau benar-benar tahu cara menginjak hati manusia. Pangeran Pirang itu pasti sedang merencanakan hukuman pancung untukmu malam ini, dan si Pahlawan Api itu mungkin tidak akan bisa tidur tenang selama seminggu."
"Aku hanya memacu motivasi belajar mereka, Nox," balasku berbisik sambil tersenyum tipis, naik ke dalam kereta. "Jika mereka ingin membunuhku, mereka harus bekerja lebih keras dari ini."
Kereta kuda keluarga Pendelton mulai bergerak meninggalkan Hutan Emerald. Misi bertahan hidup di babak pertama telah kuselesaikan dengan sempurna. Kematian dari Serigala Bayangan berhasil dihindari, dan reputasiku sebagai 'sampah' perlahan mulai tergantikan dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: ancaman yang tidak bisa ditebak.
Namun, permainan baru saja dimulai.
Aku memejamkan mata, memusatkan perhatian pada inti Mana Core di dadaku yang berdenyut hangat berkat kekuatan baru dari monster B+. Ujian pertengahan semester tinggal dua minggu lagi. Di sanalah, seluruh murid Akademi Solaria—termasuk Leon dan Cecilia—akan menunjukkan taring mereka.
Jika mereka ingin berperang melawanku di atas arena resmi, maka aku harus memastikan bahwa Tuan Muda Arthur Pendelton memiliki cukup banyak trik kotor di balik jubah akademinya. Besok, aku harus mengunjungi tempat yang paling kubenci di ibu kota Asosiasi Alkimia Bawah Tanah.