“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Suasana kantor Permana terasa berbeda.
Biasanya para pegawai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suara ketikan komputer, dering telepon, dan langkah kaki terdengar bersahutan dari berbagai sudut ruangan. Namun pagi itu, hampir semua perhatian tertuju kepada satu orang.
Tiara.
Wanita itu baru saja tiba di kantor bersama Permana.
Senyumnya terlihat lebih lembut dari biasanya. Wajahnya juga tampak berseri-seri. Meski berusaha menyembunyikan kebahagiaan, ada sesuatu yang sulit ditutupi dari sorot matanya.
Permana justru terlihat jauh lebih bersemangat.
Begitu masuk ke area utama kantor, pria itu langsung menepuk tangannya.
“Semua kumpul sebentar!”
Para pegawai yang mendengar suara sang pimpinan segera menghentikan pekerjaan. Mereka berdiri atau mendekat dengan wajah penasaran.
“Ada kabar penting yang ingin saya sampaikan.”
Tiara langsung menoleh kepada Permana.
“Mas…”
Permana hanya tersenyum.
“Kenapa?” tanyanya santai.
Tiara sudah bisa menebak apa yang hendak dilakukan suaminya.
“Jangan bilang…”
“Kenapa harus malu?” Permana memotong sambil tertawa kecil.
Beberapa pegawai mulai saling pandang.
Permana kemudian berdiri di tengah ruangan.
“Saya ingin membagikan kabar bahagia.”
Seketika suasana menjadi hening.
“Kalian semua pasti tahu Bu Tiara.”
“Tahu, Pak!” jawab beberapa pegawai hampir bersamaan.
Permana tersenyum lebar.
“Mulai hari ini, kalian boleh memanggilnya calon ibu.”
Mata para pegawai langsung membesar.
“Serius, Pak?”
“Bu Tiara hamil?”
“Wah, selamat, Bu!”
Suasana kantor yang tadinya tenang langsung berubah riuh.
Tiara menundukkan wajah karena malu. Pipinya memerah.
Permana malah semakin lebar tersenyum.
“Betul. Tiara sedang mengandung anak kami.”
Tepuk tangan terdengar dari berbagai arah.
“Selamat, Bu Tiara!”
“Selamat, Pak!”
“Wah, akhirnya!”
“Semoga ibu dan bayinya sehat!”
Tiara hanya mampu tersenyum sambil mengangguk.
Ia sebenarnya sedikit tersanjung.
Bukan karena Permana mengumumkan kehamilannya kepada seluruh pegawai, tetapi karena pria itu terlihat begitu bahagia dengan kabar tersebut. Seolah-olah kehadiran seorang anak adalah hadiah terbesar yang pernah diterimanya.
Permana kemudian mengangkat tangannya.
“Karena hari ini saya sedang sangat bahagia, makan siang untuk seluruh pegawai saya traktir.”
Sorakan kembali terdengar.
“Selain itu,” lanjut Permana, “saya akan memberikan bonus akhir bulan lebih besar dari biasanya.”
“Serius, Pak?”
“Serius.”
“Wah, panjang umur Pak Permana!”
Tawa memenuhi ruangan.
Permana ikut tertawa.
“Anggap saja ini tanda syukur saya. Kalian sudah bekerja keras selama ini. Saya ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian.”
Seorang pegawai perempuan mendekati Tiara.
“Bu, selamat, ya.”
“Terima kasih.”
Pegawai itu tersenyum tulus.
“Kalau boleh jujur, saya tidak heran.”
Tiara mengernyitkan dahi.
“Tidak heran?”
“Iya. Ini buah dari kesabaran Ibu Tiara.”
Ucapan itu membuat Tiara terdiam.
Pegawai lain yang berdiri di dekat mereka langsung ikut menyahut.
“Benar. Saya masih ingat gosip tentang Bu Tiara dengan suami pertama dulu. Dia tidak memperlakukan ibu dengan baik.”
“Apalagi setelah bercerai.”
“Bu Tiara tetap tersenyum.”
“Tidak pernah terlihat menyimpan dendam.”
Tiara tersenyum tipis.
Namun, percakapan itu kemudian bergeser ke cerita tentang Haikal.
“Kalian tahu tidak?” bisik seorang pegawai.
“Apa?”
“Mantan suami Bu Tiara yang dulu menyia-nyiakan beliau sekarang justru bangkrut.”
“Serius?”
“Iya. Kabarnya dia juga sedang sakit parah.”
“Kasihan juga.”
“Kasihan, sih. Tapi bukankah dulu dia sendiri yang menyia-nyiakan Bu Tiara?”
Beberapa orang mengangguk.
Seorang pegawai lainnya kemudian berkata dengan nada penuh keterkejutan.
“Bahkan pabriknya sekarang dibeli oleh Pak Permana.”
Mata semua orang langsung tertuju kepada Permana.
Pria itu hanya tersenyum santai.
“Jadi benar, Pak?”
Permana mengangguk.
“Benar.”
Ruangan kembali dipenuhi bisikan.
Tiara yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya menoleh kepada Permana.
Tatapan mereka bertemu.
Ada sesuatu yang membuat Tiara merasa penasaran.
Ia kemudian menarik lengan Permana pelan.
“Mas, ikut aku sebentar.”
Permana mengikutinya.
Mereka masuk ke ruang pribadi yang biasa digunakan Permana untuk beristirahat dan berbicara tanpa gangguan.
Begitu pintu tertutup, Tiara langsung menatap suaminya.
“Aku mau bertanya sesuatu.”
“Tanya saja.”
“Yang mereka katakan tadi benar?”
“Yang mana?”
“Pabrik Haikal.”
Permana diam sebentar.
“Benar.”
Tiara menghela napas.
“Kamu benar-benar membeli pabriknya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Permana berjalan mendekat.
“Karena pabrik itu sedang dalam masalah. Haikal tidak mampu melunasi kewajibannya.”
Tiara menatapnya lekat-lekat.
“Lalu kamu datang sebagai pembeli?”
Permana mengangguk.
“Bukan cuma sebagai pembeli.”
Tiara mengernyit.
“Maksudmu?”
Permana tersenyum.
“Pabrik itu aku beli untukmu.”
Tiara membelalakkan mata.
“Untukku?”
“Iya.”
“Mas, aku tidak pernah meminta.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
Permana menatap wajah istrinya.
“Karena dulu kamu kehilangan banyak hal setelah pernikahanmu berakhir. Kamu kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan rasa percaya kepada orang lain.”
Tiara terdiam.
“Aku tidak bisa mengembalikan masa lalu,” lanjut Permana. “Tapi aku bisa memastikan masa depanmu jauh lebih baik.”
Tiara menggeleng pelan.
“Kamu niat sekali membalas dendam.”
Permana tertawa kecil.
“Kalau aku ingin membalas dendam, caranya tidak akan seperti ini.”
“Lalu ini apa?”
“Menurutku, ini hanya membuat sesuatu yang pernah merendahkanmu menjadi sesuatu yang justru berada di bawah kendalimu.”
Tiara menatap Permana tanpa berkedip.
“Jadi sekarang pabrik itu milikku?”
“Kalau kamu mau.”
“Dan kalau aku tidak mau?”
“Aku tetap akan mengurusnya.”
Tiara menghela napas panjang.
“Kamu benar-benar sulit dimengerti.”
Permana mendekat, kemudian menggenggam tangan Tiara.
“Aku cuma ingin kamu tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku tidak menikahimu karena kasihan.”
Tiara terdiam.
“Aku juga tidak membantumu karena ingin membuat Haikal menyesal.”
Permana mengusap punggung tangan istrinya.
“Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu.”
Mata Tiara perlahan berkaca-kaca.
Ia tersenyum.
“Kalau begitu, jangan terlalu berlebihan.”
“Kenapa?”
“Aku takut anak kita nanti lahir dan sudah punya perusahaan.”
Permana tertawa.
“Kalau itu keinginannya, tidak masalah.”
“Mas!”
Tawa keduanya pecah di dalam ruangan.
Di luar, para pegawai masih sibuk membicarakan kabar bahagia itu.
Hari itu, kantor Permana bukan hanya dipenuhi makanan dan kegembiraan.
Tetapi juga sebuah cerita tentang seorang wanita yang pernah diremehkan, kemudian bangkit dengan caranya sendiri.
Bersambung....