NovelToon NovelToon
Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20. Terbelalak

"Tiga puluh gaun?!" Gia membelalak kaget. "Tante... itu terlalu banyak."

"Sama sekali tidak banyak untuk calon permaisuri VK Group," sela Tuan Ardiansyah terkekeh hangat. "Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, Gia. Segala penderitaanmu saat menyamar di rumah keluarga miskin itu sudah berakhir. Mulai malam ini, dunia akan tahu siapa kamu sebenarnya."

Gia merasakan dadanya bergetar hebat. Rasa haru yang membuncah perlahan menyapu sisa-sisa trauma masa lalunya. Di meja makan yang megah ini, di antara dua keluarga terkaya di negeri ini, ia tidak lagi harus menyembunyikan identitasnya atau berpura-pura menjadi wanita lemah.

Elkan menggenggam jemari Gia makin erat di bawah meja, menyalurkan kehangatan yang tak terbatas. "Siap untuk babak baru kehidupan kita, Nona Gia?"

Gia menatap mata cokelat gelap Elkan, lalu menyunggingkan senyum paling indah dan tulus yang pernah ia miliki. "Selama kamu ada di sampingku, Presdir Vance... aku siap untuk apa pun."

Namun, tepat saat jamuan makan malam itu ditutup dengan kehangatan, sebuah pesan terenkripsi masuk ke ponsel pribadi Gia dari nomor yang tidak dikenal.

Gia menggeser layarnya secara diam-diam di bawah meja.

[Pesan Tak Dikenal]

‘Gia... kamu pikir kamu sudah menang setelah memenjarakan aku dan ibuku? Kamu lupa siapa yang memegang sertifikat tanah asli milik almarhum ayahmu di desa? Pencetakan dokumen itu ada padaku. Kalau kamu mau tanah warisan ayahmu selamat, datang sendiri ke dermaga tua jam dua malam ini tanpa Elkan!’

Napas Gia tertahan kaku. Kilat mata cantiknya mendadak mendingin seketika. Serangan Aldo di media mungkin gagal total, tapi pria itu rupanya masih memegang kartu AS terakhir yang sangat berharga bagi kenangan almarhum ayahnya.

Ruang tamu utama kediaman Kirana yang tadinya hangat mendadak diselimuti atmosfer dingin yang tajam. Layar tablet di tangan Gia menampilkan transkrip ancaman dari Aldo yang disiarkan lewat pengacara bayaran murahan di luar lapas.

"Dia benar-benar putus asa," ujar Tuan Ardiansyah datar, menyesap teh hangatnya dengan tenang. "Mengancam lewat koridor penjara kelas teri. Cara yang sangat murahan."

"Aldo tidak pernah cerdas, Ayah," sahut Elkan dingin, manik matanya memancarkan amarah yang tertahan. "Dia cuma pion yang digerakkan oleh kepanikan. Tapi kalau dibiarkan, suaranya bisa jadi gangguan kecil untuk proses akreditasi konsorsium minggu depan."

Gia meletakkan tablet itu di atas meja marmer dengan gerakan santai. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang sangat mematikan.

"Gak usah dikhawatirkan," ucap Gia tenang. Ia menoleh menatap pengawal pribadi ibunya. "Katakan pada kepala lapas tempat Aldo ditahan... beri dia fasilitas istimewa di sel isolasi khusus."

Pengawal itu mengangguk paham. "Baik, Nona Gia. Perintah segera dilaksanakan."

"Fasilitas istimewa?" tanya Nyonya Sophia penasaran dengan senyum geli.

"Tentu saja," balas Gia manis. "Sel isolasi kedap suara tanpa cahaya matahari, tanpa kasur, dan tanpa kontak dengan dunia luar. Kalau dia mau berteriak mengancam, biarkan dia berteriak sepuasnya pada dinding sel sampai pita suaranya habis."

Semua orang di ruangan itu tersenyum puas. Cara Gia menangani musuh memang selalu elegan namun menghancurkan mental secara total.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari gedung pencakar langit *VK Group*. Suasana di lantai eksekutif tampak sibuk. Para petinggi bersiap menyambut audit tahunan gabungan dari konsorsium investor internasional.

Gia melangkah keluar dari lift khusus dengan setelan jas putih gading yang sangat anggun, dipadukan dengan riasan wajah natural ala Korea berpadu *glass skin* dan *ombre glossy lips* yang memukau. Aura kuasanya terpancar sempurna di setiap ketukan *heels*-nya.

Elkan yang sudah menunggu di depan ruang kerjanya langsung menyambut dengan tatapan penuh kekaguman.

"Pagi, Bos Besar," sapa Elkan lembut, merapikan sehelai rambut Gia yang sedikit tertiup angin pendingin ruangan. "Auditor dari konsorsium sudah menunggu di ruang rapat utama."

"Bagus," balas Gia tersenyum tipis. "Mari kita selesaikan babak terakhir ini."

Di dalam ruang rapat utama, puluhan investor dari berbagai negara duduk rapi. Di ujung meja, pengacara bayaran Aldo yang tadinya berniat datang untuk membuat keributan mendadak membeku di tempat duduknya.

Begitu pengacara itu melihat Gia masuk didampingi Elkan dan jajaran direksi utama—disusul berita kilat di layar bahwa Aldo dipindahkan ke sel isolasi ketat tanpa akses komunikasi—wajah sang pengacara langsung memucat pasih. Tas kerjanya ditutup cepat, dan ia buru-buru kabur meninggalkan ruangan sebelum sempat melontarkan satu kata pun ancaman.

Gia duduk di kursi utama, menatap seisi ruangan dengan senyum percaya diri yang memancarkan kekuatan mutlak.

"Selamat pagi, Tuan-Tuan dan Nyonya," sapa Gia dengan suara jernih dan fasih berbahasa Inggris, membuka jalannya rapat audit dengan sangat memukau.

Di luar gedung, jauh dari kemewahan lantai lima puluh, Aldo meringkuk kedinginan di dalam sel isolasi yang gelap gulita. Tidak ada lagi gawai, tidak ada lagi pengacara, dan tidak ada lagi Siska yang memuji kesombongannya. Yang tersisa hanya gema penyesalan mendalam dan jeritan putus asa yang sia-sia di balik dinding besi.

Sandiwara masa lalu resmi ditutup. Kerajaan bisnis Gia kini berdiri kokoh tanpa ada satu pun duri yang tersisa.

Rapat audit tahunan berjalan tanpa hambatan sedikit pun. Ketegasan Gia dalam memaparkan strategi ekspansi VK Group dan akuisisi Kirana Group memukau seluruh jajaran investor asing. Tepuk tangan riuh bergema di ruang rapat utama begitu dokumen kerja sama bernilai puluhan triliun rupiah tersebut resmi ditandatangani oleh Gia dan Elkan.

Usai acara penandatanganan, para investor beranjak keluar sambil memberikan ucapan selamat. Elkan mengantar rombongan perwakilan konsorsium hingga ke pintu ruang rapat, sebelum akhirnya berbalik dan menghampiri Gia yang sedang merapikan dokumen di meja utama.

"Luar biasa, Komisaris Utama," puji Elkan dengan suara rendah yang penuh kehangatan. Pria itu menyandarkan kedua tangannya di tepi meja, menatap Gia yang baru saja menghela napas lega. "Presentasi tadi malam dan penanganan audit pagi ini benar-benar tidak memberi celah untuk para penentang."

Gia mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang mempesona. "Semua berkat eksekusi cepat tim hukum dan pengamanan mu. Kalau pengacara bayaran Aldo tadi sempat membuka suara, suasana mungkin tidak akan tenang ini."

"Pria itu bahkan tidak layak berdiri di lorong lantai ini," balas Elkan santai. Jemari panjangnya terulur mengusap lembut punggung tangan Gia. "Sekarang, agenda terpenting kita tinggal satu."

Gia menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura bingung. "Agenda apa? Jadwal rapat minggu depan?"

Elkan terkekeh renyah, condong sedikit ke depan hingga jarak wajah mereka hanya beberapa jengkal. "Fitting gaun pertunangan, Sayang. Mama Victoria dan Ibumu sudah menelepon lima kali sejak sejam yang lalu. Tiga puluh opsi gaun mewah rancangan istana sudah sampai di kediaman Kirana."

Pipi Gia seketika merona merah mendengar panggilan manis yang terlontar santai dari bibir Elkan. "Elkan... ini masih di lingkungan kantor."

"Kantor ini milik kita, Nona Kirana," bisik Elkan dengan pendar mata yang amat intens. "Dan mulai dua minggu lagi, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita."

Gia menatap dalam-dalam ke dalam manik mata cokelat gelap Elkan. Kehangatan dan kepastian yang terpancar di sana meruntuhkan sisa-sisa trauma kehancuran rumah tangganya di masa lalu. Bersama Elkan, ia tahu ia tidak akan lagi dipandang rendah atau dimanfaatkan. Ia dicintai dan dihargai sebagai dirinya sendiri.

"Baiklah, Presdir Vance," kekeh Gia pelan, membalas genggaman tangan Elkan dengan erat. "Ayo kita pulang dan pilih gaun terbaiknya."

Sementara itu, di lorong dingin penjara kota, hening yang mencekam memeluk sel isolasi tempat Aldo dikurung. Tanpa pencahayaan sedikit pun, Aldo hanya bisa mendengar gema detak napasnya sendiri yang memburu ketakutan.

"Gia... tolong aku... Gia..." ratap Aldo lirik dengan suara serak yang mulai habis, memukuli dinding semen dingin dengan kepalan tangannya yang berdarah.

Namun, tidak ada jawaban. Tidak ada pertolongan. Kerajaan palsu yang dulu ia banggakan bersama ibunya kini hancur berkeping-keping. Pria yang dulu menyia-nyiakan harta berharga bernama Gia itu kini harus menanggung akibatnya seumur hidup dalam kegelapan mutlak.

Di atas puncak kejayaan kota, Gia dan Elkan berjalan bergandengan tangan menembus selasar megah VK Group, siap menyambut masa depan baru yang dipenuhi kejayaan dan cinta yang tak tergoyahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!