"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Putus Hubungan dan Menikah
******
...Sean......
...Maaf baru bisa ngabarin kamu. Aku udah berkali-kali ngetik pesan ini, tapi selalu aku hapus lagi karena aku nggak tahu harus mulai dari mana....
...Sean... hubungan kita berhenti sampai di sini ya. Kali ini benar-benar selesai. Aku minta maaf karena nggak bisa menepati semua janji yang pernah kita buat....
...Kak Kiara meninggal karena kecelakaan minggu lalu. Dan... keluarga memutuskan aku akan menggantikan kakakku menikah dengan tunangannya....
...Iya... Aku akan menikah dengan Elio. Aku tahu ini terdengar gila. Bahkan sampai sekarang aku sendiri masih sulit mempercayainya....
...Aku sudah mencoba menolak, tapi aku nggak bisa mengubah keputusan keluarga....
...Sean... Terima kasih karena pernah menjadi tempat pulang terbaik selama ini. Terima kasih sudah mencintaiku dengan begitu tulus....
...Aku nggak pernah menyesal mengenalmu. Maaf karena akhirnya yang harus mengakhiri semuanya justru aku....
...Setelah pesan ini, jangan hubungi aku lagi ya. Anggap saja... kita memang nggak ditakdirkan berjalan sampai akhir....
...Kamu pernah bilang kalau suatu hari nanti kamu ingin mengajakku melihat salju pertama di Inggris....
...Sepertinya keinginan itu nggak akan pernah jadi kenyataan.Semoga nanti kamu menemukan perempuan yang bisa menemanimu sampai tua....
...Yang bisa membalas semua cinta yang selama ini kamu kasih ke aku.Terima kasih untuk semuanya, Sean. Selamat tinggal....
Kaia menatap pesan itu sekali lagi. Membacanya ulang, lalu dengan tangan bergetar, menekan tombol kirim.
Ia menutup mata perlahan, mencoba memejam kannya, namun bukan mimpi yang ia gapai. Tapi tangis yang menyesakkan di kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi Elio dan Kiara akhirnya tetap datang.
Namun takdir mengubah segalanya. Tidak ada lagi Kiara Luvena Hadinata yang duduk di pelaminan.
Yang kini berada di sisi Elio adalah Kaia Asha Hadinata. Adik kandung perempuan yang selama ini hanya ia anggap sebagai calon adik iparnya.
Balutan kebaya putih membuat Kaia terlihat begitu anggun. Sigar paes menghiasi kepalanya, sementara untaian bunga melati menjuntai lembut hingga melewati bahunya.
Riasan wajah yang seharusnya mempercantik seorang pengantin justru gagal menyembunyikan sembab di kedua matanya.
Sejak tadi ia lebih sering menundukkan kepala. Ia bahkan tak sanggup menatap kursi yang kini ia duduki dalam benaknya.
Kursi yang... seharusnya ditempati Kiara.
Tangannya menggenggam ujung kebaya begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Berkali-kali ia menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang nyaris jatuh merusak riasan wajahnya.
Maaf, Kak... Harusnya hari ini kamu yang duduk di sini... bukan aku.
Di sampingnya, Elio duduk tegak mengenakan beskap putih lengkap dengan blangkon. Wajahnya terlalu datar namun tampak lebih menyedihkan.
Tatapannya kosong mengarah lurus ke depan, seolah seluruh rangkaian acara berlangsung tanpa benar-benar ia sadari.
Suara MC menggema memenuhi ballroom hotel.
"Selanjutnya prosesi akad nikah akan segera dimulai...."
Perlahan para tamu menghentikan percakapan mereka. Fotografer mulai mengambil posisi terbaik.
Keluarga besar Hadinata dan Meganthara ikut menahan napas. Suasana yang semula ramai berubah hening. Bahkan suara pendingin ruangan terasa begitu jelas.
Penghulu membuka berkas di hadapannya, lalu menatap Elio dengan senyum tipis.
"Apakah Saudara Elio Altair Meganthara sudah siap melaksanakan akad nikah?"
Elio mengangguk pelan. "Insyaallah... Saya siap."
Penghulu kemudian mempersilakan Fadlan duduk berhadapan dengan calon menantunya. Fadlan menarik napas panjang. Matanya sempat memerah ketika menatap wajah Elio.
Di benaknya, wajah Kiara kembali terbayang. Namun prosesi harus tetap berjalan.
Dengan tangan sedikit bergetar, ia menggenggam tangan Elio.Jabatannya sangat erat.Penghulu mulai membimbing. "Silakan ikuti ijab kabul."
Ruangan kembali sunyi.
Seluruh tamu menatap ke arah keduanya. Bahkan Kaia tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.Ia tak sanggup mengangkat kepala.Fadlan mengucapkan kalimat Ijab dengan tenang, meski dadanya bergemuruh.
Penghulu mengangguk pelan. "Silakan mas Elio."
Elio menarik napas panjang.Dadanya terasa sesak. Dalam kepalanya masih terbayang senyum Kiara saat mereka memilih dekorasi pernikahan beberapa minggu lalu sebelum kecelakaan.
"Aku maunya bunga putih ya, El...."
"Nanti jangan gugup waktu akad."
Bayangan itu terasa begitu nyata. Hingga tanpa sadar bibirnya bergerak. "Saya terima nikah dan kawinnya..." Ia berhenti sepersekian detik. "...Kiara Luvena Hadinata binti Fadlan Hadinata..."
Deg.
Seisi ruangan membeku. Tidak ada suara.
Tidak ada tepuk tangan.Bahkan fotografer yang sejak tadi sibuk memotret ikut menurunkan kameranya perlahan.
Kaia memejamkan mata.Dadanya seperti diremas. Nama itu... Nama yang seharusnya memang berada di pelaminan hari ini.
Farida langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.Air matanya jatuh begitu saja. Di sampingnya, Maika memejamkan mata sambil menarik napas panjang, berusaha menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu.
Yama tetap duduk tenang. Namun sorot matanya tak lepas mengawasi putranya. Ada kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan.
Di barisan keluarga Meganthara lainnya, Sienna ikut menundukkan kepala. Jari-jarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan.
Tak ada seorang pun yang menyalahkan Elio. Semua memahami. Luka itu masih terlalu baru.
Penghulu tersenyum tipis penuh pengertian. "Tarik napas dulu, Nak. Tidak apa-apa. Kita ulang kembali ya."
Elio menutup kedua matanya, rahangnya mengeras.Baru saat itu ia benar-benar menyadari nama yang baru saja keluar dari bibirnya.
Rasa bersalah menghantam dadanya begitu keras. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Maaf...."
Penghulu kembali mengulang lafaz ijab. Kali ini Elio memejamkan mata beberapa detik sebelum menjawab.
Dengan suara yang lebih mantap ia mengucapkannya. "Saya terima nikah dan kawinnya Kaia Asha Hadinata binti Fadlan Hadinata dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."
"Sah." Suara para saksi terdengar hampir bersamaan.
"Sah!"
Alhamdulillah.... Napas lega terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Farida menangis sambil memeluk Hardja. Maika akhirnya mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.
Sementara Kaia... Ia hanya menundukkan kepala semakin dalam. Bukan karena bahagia. Melainkan karena ia sadar, sejak detik itu hidupnya benar-benar berubah dalam sekejap.
Ia kini resmi menjadi istri Elio Altair Meganthara.Sementara bagi Elio, kata itu justru seperti garis penutup atas kisah cintanya bersama Kiara.
Suara pembawa acara kembali terdengar. "Baik, selanjutnya prosesi tukar cincin."
Seorang bridesmaid membawa kotak beludru hitam ke hadapan mereka. Elio memandang kotak itu beberapa detik tanpa bergerak.
Tangannya perlahan membuka tutupnya. Dua cincin emas putih dengan berlian kecil berkilau di bawah sorot lampu.
Cincin yang sejak berbulan-bulan lalu ia pilih bersama Kiara. Dulu... Ia membayangkan cincin itu akan melingkar di jari manis perempuan yang dicintainya. Bukan... Kaia, calon adik iparnya.
Rahang Elio mengeras.Jemarinya sempat berhenti sesaat sebelum akhirnya mengambil cincin itu.
Tangannya terulur."Jemarimu." Suara Elio datar.
Kaia menatap telapak tangannya sendiri beberapa detik. Jari-jari itu terasa dingin.
Perlahan ia mengulurkan tangan kirinya.
Sentuhan jemari Elio membuat tubuhnya menegang.
Tanpa sepatah kata, pria itu menyematkan cincin ke jari manis Kaia.Pas. Cincin itu kini melingkar indah. Namun tidak membawa kebahagiaan bagi keduanya. Kaia menunduk.
Matanya kembali memanas.Dalam benaknya hanya ada satu pikiran.
Cincin itu seharusnya menjadi milik Kak Kiara... bukan aku.Ia menggigit bibir pelan agar air matanya tidak kembali jatuh. Kini gilirannya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kaia mengambil cincin satunya.
Ia meraih tangan kiri Elio. Jari pria itu dingin, sama dinginnya dengan tatapan yang sejak tadi tidak pernah benar-benar menatap dirinya. Perlahan cincin itu ia sematkan.
Fotografer segera meminta mereka berdiri. "Sedikit lebih dekat, Mas... Mbak..."
Keduanya berdiri berdampingan. Namun jarak di hati mereka terasa sejauh langit dan bumi.
Prosesi foto bersama keluarga pun dimulai. Sienna menjadi orang pertama yang menghampiri.
Dokter muda yang merupakan saudara kembar Elio itu langsung memeluk Kaia hangat. "Selamat ya, Kaia." Ia menggenggam kedua tangan adik iparnya. "Selamat datang di keluarga Meganthara."
Berbeda dengan Elio, senyum Sienna selalu hangat.Tatapannya pun tidak menunjukkan sedikit pun penolakan.
Kaia membalas senyum kecil. "Terima kasih... Kak Nena."
Pelukan singkat itu sedikit menghangatkan hati Kaia yang sejak pagi dipenuhi rasa takut.
Setidaknya... Masih ada seseorang yang menerimanya tanpa menghakimi.
Tak lama kemudian Hardja dan Farida ikut naik ke pelaminan. Hardja menepuk pelan bahu Elio.
"Elio..." Suara lelaki tua itu terdengar tenang. "Kakek tahu... ini bukan pernikahan yang kalian impikan. Namun Kiara bukan anak yang sembarangan mengambil keputusan."
Hardja menarik napas pelan. "Kalau sebelum pergi dia meminta kalian menikah... mungkin ada alasan yang tidak sempat ia sampaikan."
Elio hanya mengangguk tipis. "Iya, Kek." Jawaban itu terdengar sopan. Namun matanya tetap kosong.
Farida tak kuasa menahan haru. Ia menggenggam tangan Kaia erat. "Jaga dirimu baik-baik ya, Nak."
Kaia hanya mampu mengangguk. "Insyaallah, Nek."
Beberapa saat kemudian pasangan lanjut usia berdarah Korea ikut naik ke pelaminan.
Lee Yoon Ji dan Radhika.
Meski usia keduanya telah senja, wajah mereka masih memancarkan kewibawaan. Radhika menepuk pundak cucunya.
"Selamat, Elio." Tatapannya teduh. "Ingat... Pernikahan bukan garis akhir. Ini adalah awal dari tanggung jawabmu sebagai seorang suami."
Ia menatap lurus ke mata Elio. "Jangan pernah menyakiti hati perempuan yang Allah titipkan kepadamu."
Kalimat itu sederhana.Namun entah mengapa terdengar begitu berat di telinga Elio.
Lee Yoon Ji lalu maju memeluk cucunya. "Cucu Oma... " Matanya berkaca-kaca. "Rasanya baru kemarin Oma menggendong mu. Sekarang kamu sudah menjadi seorang suami."
Ia mengusap pipi Elio penuh kasih. Lalu berpaling kepada Kaia. Perempuan tua itu tersenyum lembut.
"Kita memang baru pertama kali bertemu." Ucapnya dengan logat Korea."Tapi sejak melihatmu... Oma percaya kamu gadis yang baik."
Kaia membungkukkan kepala sopan. "Terima kasih, Oma."
Setelah seluruh sesi foto keluarga selesai, Maika naik ke pelaminan. Wanita itu mengenakan kebaya krem dengan jarik cokelat yang membuatnya tampak anggun.
Ia memandang kedua anak muda di hadapannya dengan mata yang dipenuhi rasa iba.
"Sayang... Kalian istirahat dulu ya. Nanti malam kita masih ada resepsi."
Elio mengembuskan napas panjang. Baginya semua rangkaian ini terasa seperti sandiwara yang belum selesai.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berbalik turun dari pelaminan. Langkahnya cepat, tidak sekalipun ia menoleh ke belakang.
Kaia yang masih mengenakan kebaya dan kain panjang hanya mampu berjalan pelan mengikuti dari belakang.
Jarak beberapa meter di antara mereka terasa begitu mencolok. Bagaikan dua orang asing yang dipaksa berjalan di jalan yang sama.
Maika memperhatikan punggung putranya dengan napas berat. Kemudian ia mendekati Kaia. Mengusap lembut lengan gadis itu.
"Kaia... Sabar ya. Elio hanya sedang sangat terluka."
Kaia tersenyum tipis.Senyum yang lebih mirip usaha agar dirinya tidak menangis di depan banyak orang.
"Iya, Mom." Dalam hati ia hanya bertanya...
Kalau Elio sedang terluka...lalu bagaimana denganku? Bukankah ia juga kehilangan kakak yang paling ia cintai? Bukankah hidupnya juga berubah dalam satu malam? Dari bangku tamu, Fadlan memandangi putrinya yang berjalan mengejar langkah Elio. Punggung kecil itu tampak rapuh di balik kebaya putih yang indah.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Selama bertahun-tahun ia selalu menyalahkan Kaia. Melampiaskan kemarahannya atas kematian Ivanka kepada anak yang bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan.
Kini... Ia kembali memaksa putrinya menjalani hidup yang tidak pernah dipilihnya. Jemarinya mengepal di atas paha.
Ada penyesalan yang perlahan mengetuk hati. Namun harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta maaf.
Yang mampu ia lakukan hanya memandangi punggung Kaia yang semakin menjauh... seraya berharap, dalam hidup putrinya itu, takdir akan berbaik hati kepadanya.
...****************...
*Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih 🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁